Saat Prilly memasuki kontrakannya, tatapan khawatir Renata menyambutnya yang langsung membantunya memapah tubuh Ali menuju kursi panjang yang terbuat dari kayu. Dia mendudukkan tubuh Ali di kursi dan hendak merebahkan tubuh Ali disana namun ditahan oleh Renata. Dia menatap adiknya itu penuh tanya. "Kenapa, Re?" "Kak, ini kursi kayu. Kalau Kak Ali direbahkan disini, yang ada punggungnya sakit. Sebentar, biar aku ambilkan selimut sama bantal, sekalian bawakan jaketku yang kebesaran biar Kak Ali tidak semakin parah dibalik baju basahnya yang mulai mengering." Prilly tersenyum. Senang rasanya melihat betapa perhatiannya Renata, layaknya adik yang begitu memperhatikan Kakaknya. Dia mengangguk dan memperhatikan punggung Renata yang mulai memasuki kamar. Dia memeluk tubuh Ali yang menggigil.

