Mbak Mina, kayaknya mereka udah datang!" "Oke, Lintang. Ingat, fokus!" "Ya." Sambungan terputus. Bu Mina menggenggam erat handphone-nya. Perasaan tak tenang, beban yang besar, dan juga ketakutan, bercampur memenuhi pikiran dan hati. Takut bila saja mereka—orang-orang yang sudah bersedia bekerja sama—terancam keselamatannya. Berkali-kali ia hampir menyerah. Sungguh, ia takut. Namun mengingat semua perlakuan sang Suami, mengingat semua yang pernah menjadi korbannya, keberanian itu selalu kembali muncul dengan sendirinya. Sejatinya, sebuah keberanian adalah kemauan untuk melawan rasa takut itu sendiri. "Mbak Mina!" sapa seseorang bersuara barithone. "Yongki!" Bu Mina tersenyum padanya. "Aku mau berangkat sekarang. Mereka sudah menunggu," pamitnya.

