Zidan benar-benar menembak anak itu, cucunya sendiri. Tembakan itu mengenai tepat pada bagian tengah kening Namira. Zidan tertawa sangat keras. Kini tujuannya telah tercapai. Mimpinya baru saja menjadi kenyataan. Kali ini Yas benar-benar hancur. Zidan tak perlu bersusah payah untuk melenyapkan Yas lagi. Karena dengan kepergian Namira, lambat laun keponakannya itu akan lenyap dengan sendirinya. Kematian secara perlahan-lahan, akan terasa lebih menyakitkan, bukan? Bahana tawa Zidan tak bertahan lama. Zidan menelisik kembali targetnya. Ia mengamati semakin dekat. Kenapa tidak ada darah sama sekali? Dan lagi, orang-orang itu, Rega dan para polisi lain. Kenapa tidak ada reaksi berarti dari mereka? Zidan melirik Rega. Lelaki itu masih senantiasa mengarahkan pistol ke

