"Mereka pergi dari rumah Herjunot, Tuan!" lapor salah satu anak buah via telpon. Zidan menaikkan sebelah alisnya. "Pergi? Kenapa?" "Mereka berselisih paham." "Lalu mereka pindah ke mana?" "Saat ini mereka masih dalam perjalanan, nanti akan saya kabari lagi." "Okelah!" Setelah sambungan telpon terputus, Zidan kembali menjalani aktivitas semula. Sebelah tangannya membenarkan posisi kacamata silinder yang melorot. Meneliti satu per satu dokumen perusahaan. Zidan menggeleng. Ia seperti kehilangan fokus. Pikirannya masih tertuju pada obrolan barusan, tentang kepergian Yas dari rumah pamannya itu. Karena berselisih paham katanya? Jika Yas pergi membawa adik-adiknya, maka ia juga pasti membawa .... Seketika sebuah seringai muncul di wajah tirus Zid

