Kembali pada 2017. Suara tembakan pistol terdengar nyaring, sangat keras, memekakan telinga semua orang. Disusul dengan suara pistol lain dari para polisi yang terarah pada Zidan. Disusul juga dengan teriakan semua orang. Yas segera memejamkan matanya, bersiap menerima sakitnya hunusan peluru yang pasti akan segera menghilangkan nyawanya seketika. Satu-satunya yang Yas pikirkan sekarang adalah Namira. Semoga anak itu tetap bisa hidup dan tumbuh dengan baik meskipun tanpa dirinya. Beberapa saat berlalu. Terdengar pula letusan peluru. Namun Yas tak kunjung merasakan sakit sama sekali. Anehnya, semua orang masih berteriak histeris. Yas merasakan seseorang terjatuh memeluknya. Seketika Yas membuka mata. Seseorang yang tengah berada di sana, tersenyum padanya

