"Ayah tahu dari mana?"
"Kan ayah sudah bilang, orang kantor yang menelpon ayah langsung. Suamimu kerjanya udah gak beres lagi, sampai di kantor entah apa yang dia kerjakan. Karena mereka tidak tahu mau menelpon kemana lagi. Telepon ke nomor kamu tidak aktif. Dan lagi mereka kebanyakan teman-teman ayah. Makanya mereka langsung mengabari ayah tentang Beri."
"Kamu kalau ada masalah cerita lah nak. Jangan kamu tutup - tutupi. Kami diam bukan nya kami tidak memperhatikanmu. Apalagi bude mu juga pernah bercerita tentang mertuamu. Cuma karena kami lihat kamu tidak ada bercerita sama kami. Jadi kami anggap rumah tanggamu baik-baik saja." sambung ibuku.
Dan kemudian aku ceritakan lah semua keganjilan yang aku alami bersama mertua dan suamiku kepada orang tuaku.
"Jadi, kamu maunya bagaimana nak? Sudah satu tahun pernikahan kalian. Kamu gak pernah bercerita. Kalau sudah lama begini takutnya kan jadi rumit sayang." ucap ibuku lagi.
"Ivon masih mencintai bang Beri bu, Ivon akan coba bertahan. Semoga ada perubahan pada diri abang." jawabku penuh harap.
"Atau kamu coba main ke rumah bude mu. Ceritakan sama bude semuanya. Mana tau beliau ada solusinya." usul ayahku.
"Baik ayah. Nanti Ivon coba untuk membuat janji sama bude. Soalnya bude orang sibuk juga." jawabku.
"Assalamu'alaikum bude, Ivon mau ke rumah bude. Ada di rumah pagi ni bude?" ku kirim pesan melalui aplikasi hijau kepada bude.
"Ada nak, ke sinilah." jawab bude.
Sesampainya di rumah bude. Aku segera menekan tombol bel yang ada dinding samping pintu masuk.
"Sini Von, masuk nak, kebetulan ada kakek dari kampung nih." ajak bude ku sambil mengenalkan seorang pria paruh baya. Yang aku taksir umurnya lebih tua dari bude.
Ku salami punggung tangan pria yang di panggil kakek itu.
"Ada apa Ivon kesini pagi - pagi, tumben?"
"Ivon mau cerita bude."
"Sudah cerita aja sama bude, tidak apa - apa ada kakek. Biar kakek juga bisa menilai bagaimana ceritamu itu."
Dan kemudian semua yang aku alami aku ceritakan kembali. Aku perhatikan bude dan si kakek mendengar dan menyimak ceritaku tentang suami dan mertuaku.
"Sepertinya suamimu dirasuki jin berbentuk harimau. Karena hanya harimau yang jalan mondar mandir sambil mengangguk - angguk." ucap kakek itu setelah selesai mendengar aku bercerita.
"Jadi kalau seperti itu Ivon harus bagaimana kek?" tanyaku penasaran.
"Kalau dikampung zaman - zaman dulu tu. Kalau ada kejadian seperti ini. Coba kamu bakar ikan di besi. Dan besi itu juga harus panas. Kemudian kamu taruh ikan itu dilantai dalam rumahmu. Kalau dia makan berarti benar. Suamimu sudah dirasuki. Tapi kalau tidak yah gak tau juga kenapa suamimu."
"Baiklah kalau gitu kek. Nanti Ivon coba di rumah." ucapku. Jujur aku kaget mendengar apa yang diberitahu kakek itu.
"Ya udah kalau gitu bude Ivon pamit dulu." aku pamit.
"Baik Ivon, kalau ada apa - apa jangan sungkan untuk cerita sama bude." ujar bude lagi.
"Baik bude. Pamit ya bude dan kakek, Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam." jawab bude barengan dengan kakek
Sampai di rumah. Aku segera mencari ikan di kulkas. Dan segera kulakukan seperti yang di beritahu kakek.
Saat itu suami sedang berada di kamar.
Dan kemudian ikan dan besi panas itu aku taruh begitu saja di lantai dan kemudian aku sembunyi untuk mengintai apa yang akan terjadi selanjutnya.
Didalam persembunyian ku dalam hitungan detik saja. Aku lihat pintu kamar terbuka. Dan suamiku melahap ikan di besi panas tadi dengan lahapnya. Tanpa memperdulikan panasnya besi itu.
"Ya Allah.... Jadi benar suamiku dirasuki jin berwujud harimau?" tiba - tiba saja air mata ini menetes.
#sambung besok lagi ya..