Episode 6

599 Kata
Setelah memakan habis ikan itu lalu bang Beri kembali masuk ke kamar. Dan aku buru- buru keluar dari persembunyian. Dan pergi ke rumah orangtuaku yang memang tidak jauh dari tempat tinggal ku. Sampai disitu. Aku menceritakan kejadian demi kejadian yang aku alami. Yang aku tahu dari kakek di rumah bude itu juga. Ayah dan ibuku tentu saja kaget mendengar ceritaku. "Ivon harus bagaimana ini yah, bu?" tanyaku panik. "Kamu coba ke tempat bude mu lagi aja. Coba tanyakan bagaimana harusnya kamu bertindak lagi." Usul ibuku. Dan gegas aku mengeluarkan motor segera menuju rumah bude. Berharap beliau ada di rumah. "Assalamu'alaikum bude... bude...." teriakku memanggil bude di rumahnya. "Wa'alaikum salam, ada apa si Von? Kok kelihatannya panik gitu? Mana wajahmu pucat banget." bude kaget melihatku. "Bude... apa yang diusulkan kakek tadi langsung aku praktekkan. Dan benar bude, ikan nya langsung dimakan sama bang Beri." ceritaku sambil terengah - engah. Dan mengatur nafasku kembali normal. "Ya Allah nduk... kie piye tho? Kok iso ngene kie dhadhine omah tanggamu? ( aduh nak, gimana sih ini, kok bisa gini rumah tanggamu?) " Bude kok ya jadi rasa menyesal sudah mengenalkan mu dengan Beri kalau begini." tutur bude ku menyesali pernihakahanku. "Jangan begitu bude, ini mungkin sudah takdir Ivon begini. Bude gak boleh menyesalinya. Aku nanti In sya Allah akan mencoba bertahan untuk rumah tanggaku ini." "Aku akan cari-cari tau bagaimana cara mengusir jin yang ada dalam tubuh bang Beri, bude." jawabku berharap rumah tanggaku akan baik-baik saja. Hari demi hari aku mencoba mencari bagaimana cara ruqyah mandiri. Karena aku belum begitu pasti apakah benar suamiku di rasuki jin. Dan memang semakin hari sifat dan tingkah laku bang Beri juga semakin berubah. Setiap pergi menggunakan motor. Kakinya yang sebelah pasti dia turunkan dan sebelah lagi menekan pedal gas. Dan wajahnya tidak ramah lagi. Seperti seringaian macan dengan wajah menekuk. Dan setiap baru beberapa meter dari keberangkatan pasti dia putar - putar dulu beberapa kali baru kemudian dia melanjutkan perjalanan nya. Sudah berkali - kali juga aku mendengar tetangga berkata untuk bercerai saja dari bang Beri. Jika memang dia tidak sehat seperti itu. Malam itu suami ku mengamuk - ngamuk seperti macan kelaparan di kamar. Aku yang awal nya panik dan kemudian membaca ayat Al Quran. Sambil jari ku menunjuk suamiku. Lama kelamaan suamiku tenang. Dan kemudian terdiam dan lemas. Aku ambil kepalanya dan ku rangkul dalam pelukanku sambil membaca ayat Al Quran tadi. Aku berdoa dan berharap dalam hati semoga Allah mengangkat jin yang bersarang dalam tubuh suamiku. Paginya aku menghubungi bude dan menceritakan apa yang aku alami semalam. Dan bude juga punya cerita kalau tadi di mesjid bu Kar seperti mencari - cari seseorang dari dalam mesjid. Dan begitu dia melihat suamiku. Langsung saja mendekatinya dan seperti orang memarahi bang Beri. Kelihatan dari mimik wajah nya dan tangannya yang mengayun - ayunkan ke tubuh suamiku yang juga anaknya. Dan tidak lama kemudian suamiku pergi bersama ibunya. Ntah kemana. Itu cerita bude yang menurutku benar - benar membuat aku pusing. Ada apa sebenarnya dengan mertuaku ini. Kenapa dia memarahi bang Beri? Apa karena bang Beri sudah lama tidak ke rumah ibunya lagi? Sungguh menjadi misteri bagiku saat ini. Dan kemudian di rumahku hampir setiap malam ada saja aroma tak sedap yang tercium. Aku mencari - cari asal aroma busuk itu. Tapi tidak aku temui. "Ivon... Ivon... " suara ayahku memanggilku. "Ada apa yah?" "Von... ini ayah dapat kabar, kalau Beri udah di berhentikan dari kerjaannya. Mulai besok dia tidak bekerja lagi. Karena setiap masuk kerja suamimu hanya melamun saja kata orang kantornya." ucapan ayahku sukses membuatku terdiam.... #kisah nyata yang dipermanis. Sambung nanti ya
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN