Seperti biasa, Yoana akan menghabiskan kesendiriannya di balkon kamar dengan pandangan yang dia arahkan ke gerbang. Sungguh bodoh, dia masih berharap bisa mendapatkan jalan keluar dari gerbang itu meskipun hasilnya selalu nihil. Yoana menghela nafas yang terasa kian pendek. Kepalanya semakin berdenyut dan tubuhnya kian terasa demam. Belum lagi jari telunjuknya yang seperti membengkak dan cenat cenut. Yoana tidak kuat berdiri lama. Dia pun masuk ke dalam kamar dan mendudukkan dirinya di sofa. Punggungnya di rebahkan di penyangga sofa. Klak. Pintu kamar terbuka. Dari baliknya Tia dan Vera masuk dengan baki dalam genggaman yang di atasnya adalah mangkuk dan piring berisi makan siang. Mangkuk dan piring itu mereka taruh di atas meja di hadapan Yoana. "Silahkan disantap makan siangnya nona

