Keusilan Reyhan

1566 Kata
flashback end Satu bulan kemudian... Acara akad nikah yang dilaksanakan di rumah rena pun berjalan dengan lancar. Setelah selesai akad, Reyhan pun langsung membawa Rena ke hotel bintang lima milik reyhan untuk resepsi pernikahan nya. Acara ini dihadiri kerabat dekat dari Rena dan juga Reyhan, dan tak lupa teman-teman Reyhan dan juga Rena. Acara pun selesai pada pukul dua belas malam. Karena terlalu lelah setelah acara seharian keduanya pun menuju kamar hotel yang sebelumnya telah dipesan oleh Reyhan. Kamar di lantai 202 adalah kamar yang khusus digunakan oleh Reyhan jika dirinya tidak pulang ke mansion nya. Kebetulan kamar itu yang paling luas dan nyaman menurut Reyhan. Setelah acara selesai Tante Isti dan bunda Lastri pun memilih untuk pulang karena kata mereka tidak ingin menganggu acara malam pertama untuk pasangan yang baru saja beberapa jam lalu resmi menjadi sepasang suami istri itu. Ting... Pintu lift pun terbuka Rena dan Reyhan yang masih kaku pun hanya diam tak berbicara dan langsung menuju kamar mereka.Sesampai kamar Reyhan pun langsung membaringkan tubuhnya di atas kasur yang lumayan besar itu. "Hah nyamannya" ucap Reyhan sembari tidur terlentang di atas ranjang itu. Sedangkan Renata yang sedari tadi hanya diam mematung di depan pintu sambil melihat sekeliling kamar itu. Kamar yang luas itu disulap dengan berbagai hiasan taburan bunga mawar di setiap sudut kamar, dan juga terdapat tulisan berisi welcome my wife, sudah pasti si om-om satu ini yang menyiapkan itu semua. Reyhan yang tidak melihat kehadiran Rena di ranjangnya pun menoleh dan mendapati istrinya itu tengah berada di balkon kamar mereka. Dipandanginya penuh damba gadis yang selalu saja membuatnya kepikiran beberapa bulan terakhir itu dan kini ia resmi memilikinya sebagai istri. Rehan kemudian melangkahkan kakinya menuju balkon dimana tempat istrinya itu berada. "Akh..." pekik Rena saat menyadari bahwa ada sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang Rena yang terkejut spontan berbalik dan menendang pusaka reyhan bugh... "Akh...RENA...!" pekik Reyhan dikala rasa nyeri itu datang "Hah o..om Rey..Han" ucap Rena yang tak kalah terkejutnya "Kamu udah gila ? ini aset ku" ucap Reyhan yang meringis sambil memegang pusakanya "Om.. maaf om Rena nggak sengaja, Rena reflek" "Maaf-maaf kamu mau bunuh aset aku apa ? kalau ini sampe kenapa-napa nanti kita nggak bisa bikin Reyhan Junior dong, akh..." keluhnya sembari mengusap-usap pusakanya Sesaat Rena nge blank dengan pernyataan om-om dihadapannya ini. "Reyhan junior ?" gumamnya dan setelah itu dirinya pun tersadar dan segera membantah pernyataan Reyhan "Enggak mau om aku nggak mau" "Apanya yang nggak mau ?" tanya Reyhan "I..itu tadi" jawabnya lirih "Itu tadi apanya ?" tanya Reyhan dengan tatapan mautnya dan maju beberapa langkah berusaha menyudutkan Rena hingga Rena mundur disudut tembok. Saat ini Reyhan pun tengah mengunci pergerakan Rena agar gadis kecil itu tidak pergi kemana mana, membuat jantung Rena menjadi berdisko. "Aduh ni orang mau ngapain sih duh Gusti Allah tolong hambamu ini" batinnya sambil menutup matanya Sedangkan Reyhan yang sangat senang melihat ekspresi wajah Rena pun diam-diam tersenyum didalam hatinya. Baginya saat ini Rena terlihat begitu lucu dengan wajah ketakutannya itu. "Kamu harus tanggungjawab Rena !" ucap Reyhan yang membuat mata Rena kembali terbuka "Ma..maksud om a..apa ?" ucap Rena terbata "Jangan macam-macam om !" "Aku nggak macam-macam kok, cuma satu macam aja" jawabnya dengan smirk di bibirnya "Om nggak usah aneh-aneh om, om mau ngapain ?" tanya Rena yang mulai was-was saat Reyhan membuka dasi serta jas yang sedari tadi membalut tubuhnya sedangkan Rena pun menyilangkan kedua tangannya di depan aset berharganya "Om jawab mau ngapain ?" ucap Rena mundur dan dilihatnya sapu di sudut ruangan lantas Rena segera mengambilnya jaga-jaga jika om-om m***m dihadapannya berbuat yang tidak-tidak dengannya maka langung ia pukul saja kepalanya pikirnya. Biarlah dirinya dikira durhaka sama suami tapi untuk melindungi dirinya, Rena kira tidak masalah jika harus berbuat begitu. Namun Reyhan semakin dekat walau sapu itu akan melayang ke tubuhnya dengan cekatan Reyhan berhasil menjatuhkan sapu itu dan mengunci tangan Rena dengan membawanya ke atas kepala Rena. Rena yang kalah cepat pun demikian panik dibuatnya, ingin berlari tetapi tangan Reyhan begitu erat menyentuhnya. Ingin teriak tapi entah mengapa lidahnya menjadi kelu. Entah apa sebenarnya yang terjadi kepada dirinya itu. Rena pun tak tahu. Tiba-tiba... Cup Reyhan pun dengan mudah mencium bibir pink milik Rena itu. Bukan cuma sekali,melainkan berkali-kali dengan sesekali menghisapnya. Rena yang merasa bibirnya dicium pun mendadak diam seribu bahasa. "Astaga ciuman pertamaku, dasar om-om m***m, kurang ajar !" batinnya Rena yang diperlakukan seperti itu pun hanya bisa diam, hati dan pikirannya itu tengah berperang tetapi entah mengapa dirinya diam seperti patung di taman kota diam seribu bahasa. Tak berapa lama ciuman itu pun terlepas dan beralih ke arah kening Rena. Entah mengapa ada rasa yang aneh menjalar ditubuhnya sesaat Reyhan menciumnya. "Itu hukuman buat kamu sayang" bisiknya ditelinga Rena dan langung pergi menuju kamar mandi meninggalkan Rena yang masih terkejut luar biasa dengan perlakuan Reyhan barusan. "Emang dasar cowo gila akh..." teriak Rena sambil memaki-maki Reyhan Reyhan yang mendengarnya pun hanya tertawa terbahak-bahak dirinya yang masih mengingat kejadian beberapa menit yang lalu karena sudah berhasil mengerjai istri kecilnya itu. Sekitar setengah jam Reyhan membersihkan tubuhnya dia pun keluar dengan pakaian yang lebih santai kaos hitam serta celana pendek adalah pilihannya untuk malam ini. Namun tiba-tiba saja dirinya merasa aneh mengapa kamarnya menjadi sepi tanpa ada Rena di sana. Karena penasaran, Reyhan pun mencari kemana istrinya itu berada. Setelah sibuk mencari alangkah terkejutnya Reyhan yang menemukan Rena tengah tertidur di sofa panjang sambil tengkurap tanpa mengenakan bantal dan juga selimut. "Loh udah tidur ternyata, tidur disini lagi, aku pikir dia bakal tidur dikamar" Reyhan pun mendekati Rena yang tengah tertidur pulas itu. Dilihatnya wajah cantik, kulit putih mulus, serta ada tahi lalat di ujung pelipisnya. Reyhan juga membenarkan anak rambut yang menutupi kecantikan Rena. "Cantik" Kata itu yang Reyhan ucapkan saat membelai pipi mulus gadis itu. Sesaat dirinya merasa sedikit menyesal karena telah memaksa Reina untuk menikah diusia yang terbilang masih muda dua puluh tahun. Setelah puas menikmati keindahan di depan matanya Reyhan yang merasa tak tega melihat Renata tidur dengan posisi tengkurap langsung membopongnya dan membawa Rena ke kamar untuk ia baringkan di sana. "Nah gini kan enak nggak akan sakit badan nya besok" "Hah berat juga kamu ya keliatan kecil tapi kok antep juga kalau digendong" ucapnya sambil mencolek hidung Rena Setelah membaringkan tubuh mungil Rena pria dengan tinggi seratus tuju puluh centi meter itu pun beralih ke arah balkon untuk sekedar minum kopi dan menghisap barang dua atau tiga Putung rokok sebelum ia tidur malam. *-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-*-* Pagi harinya tepat pukul enam pagi sinar Surya mulai menyinari bumi, sudah saatnya untuk memulai aktivitas, tetapi sepertinya tidak berlaku untuk Renata gadis itu tampaknya masih nyaman dengan balutan selimut tebal di tubuhnya. Alih-alih tidur kembali, nyatanya Dewi Fortuna tidak berpihak kepadanya nada dering alarm di ponselnya terus saja berbunyi yang mengharuskan Rena untuk bangun. Rena pun mencoba untuk duduk dan mengumpulkan kesadarannya. Setelah dirasa cukup sadar dirinya pun segera melangkahkan kakinya menuju toilet guna membersihkan dirinya dan berganti pakaian, karena gaun itu masih terbalut di tubuhnya. Saat memasuki kamar mandi Rena pun langsung berteriak histeris dengan apa yang ia lihat. "Akh....!" "Akh... Renaa...!" spontan keduanya pun teriak dengan histeris. Bagaimana tidak, Reyhan yang tengah mandi itu pun terkejut dikala pintu tiba-tiba terbuka sontak pintu yang semula dibuka oleh Rena ditutup lagi dengan keras. Rena yang terkejut dengan apa yang ia lihat pun langung berlari ke kamarnya dan menutup kepalnya dengan selimut. "Astaghfirullah ngak..nggak aku nggak liat aku nggak liat hilang-hilang" ucapnya sambil mengusap-usap kepalanya berharap apa yang ia lihat tadi hilang secara tiba-tiba di dalam memori otaknya. Namun sepertinya itu sia-sia bagaimana tidak Rena tadi sudah melihat bentuk tubuh om-om walau dari belakang. "Astaghfirullah ini masih pagi loh, mimpi apa aku semalem sampe lihat yang begituan" gumamnya Lima menit kemudian terdengar pintu terbuka sudah dipastikan itu Reyhan yang baru saja selesai membersihkan tubuhnya. Namun anehnya walau begitu dirinya pun masih terlihat biasa saja selayaknya tidak terjadi apa-apa. Rena yang melihatnya pun menjadi bingung, tidak ingin ambil pusing Rena pun menyambar handuk kimono dan masuk untuk membersihkan tubuhnya. Sekitar sepuluh menit kemudian Rena pun telah usai membersihkan tubuhnya. Saat akan keluar betapa terkejutnya dia melihat Reyhan tepat didepan pintu dengan senyuman tengilnya. " Ngapain om senyam-senyum gitu ?" tanya Rena "Nggak papa "ucapnya dengan kedua tangan yang dilipat di perutnya. "Gimana ?" tanya Reyhan saat melihat Rena tengah menyisir rambutnya yang basah sehabis keramas "Gimana apanya om ?"tanya Rena yang berbalik menatap Reyhan "Yang tadi, kamu suka ? atau mau dilanjut Hem..Hem..." tanya Reyhan dengan menaik-turunkan kedua alisnya Rena yang langsung paham pun merasa malu kembali, bisa-bisanya om-om dihadapannya ini dengan frontal menyanyi hal seperti itu. "Apaan sih om, udah lah lupain aja, anggap aja nggak terjadi apa-apa" jawab Rena yang sedang memoles wajahnya tipis-tipis. Tapi dibalik itu semua sebenarnya jantung Rena sudah tak karuan "Yakin bisa lupa ? gimana punyaku oke kan Hem ?" Rena yang sudah tidak tahan dengan Reyhan pun mulai naik darah "Om nggak usah dibahas lah nggak penting juga" "Tapi ini penting bagi aku" "Udah stop please" "Nggak akan" "Stop om kalau om nggak berhenti ku lempar nih pake hairdryer ku" ancam Rena yang sudah memegang hairdryer nya "Coba aja kalau bisa" tantang Reyhan "Om aku lempar ya !" "Hahaha... dasar bocah bilang mau lempar padahal tangannya Tremor gitu" Tidak dipungkiri memang benar Renata saat ini benar benar Tremor dan itu membuatnya mengurungkan niatnya dan keluar dari kamar hotel itu tanpa peduli dengan panggilan dari Reyhan terus-menerus.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN