Pernikahan Paksa
"Saya Terima nikah dan kawinnya Renata Febrianti binti almarhum Dimas Sasongko dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang senilai lima ratus juta dibayar tunai" ucap mempelai pria dengan satu kali tarikan nafas
"Bagaimana para saksi, sah ?"
"SAH... "
"Alhamdulillah"
jederr....
Bagaikan disambar petir Renata kini telah resmi menjadi seorang istri dari pria yang sangat amat ia benci. Tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain menangisi kenyataan pahit ini.
"Reyhan ayo cium kening istrimu" bisik Tante Isti yang berada di dekatnya
"Ayo nak Salim dulu tangan suamimu" bisik Bunda Lastri selaku orang tua dari Renata
Tanpa berlama-lama keduanya pun melaksanakan perintah walaupun dengan amat terpaksa.
Dilihatnya wajah Reyhan yang sedari tadi memandangnya dengan tatapan yang sulit diartikan dan sedikit senyuman smirk di bibirnya.
Renata yang melihat itu menjadi semakin tidak enak saja perasaannya. Walaupun begitu ia berusaha untuk tetap tenang dan seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mulai sekarang kamu resmi menjadi istriku, jangan harap kamu bisa lepas dari jeratan ku sayang" bisik Reyhan sesudahnya
Renata yang mendengar itu hanya melotot ke arah Reyhan dengan tatapan permusuhan yang mendalam, sedangkan Reyhan dengan wajah datarnya pun diam saja, tanpa Renata ketahui bahwa Reyhan sangat tertawa didalam hatinya karena berhasil mempersunting kelinci kecil ini.
flash back on
Satu bulan sebelumnya...
Siang itu di rumah yang Renata, gadis yang baru berusia dua puluh tahun itu tengah fokus mengetik guna membuat tugas yang begitu bejibun di laptopnya. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang berasal dari bundanya.
tok..tok...
"Sayang, bunda boleh masuk"
"Masuk aja bund, pintunya nggak Rena kunci" ucapnya
Bunda dari dari Renata itu pun memasuki kamar sang putri semata wayangnya. Begitu masuk alangkah terkejutnya dia melihat kamar yang beberapa jam lalu ia rapikan sudah seperti kapal pecah.
Bagaimana tidak, kasur yang semula rapi kini sudah tidak rapi lagi seprai berantakan selimut jatuh, dan berbagai buku yang semula tertata rapi sudah berantakan, siapa lagi pelakunya kalau bukan putri nya itu.
"Astaghfirullah, Rena ! sudah berapa kali bunda bilang jadi anak gadis itu yang rapi gitu loh "
"Jangan malas-malasan punya kamar bagus-bagus kok di buat kapak pecah gini sih !" ucapnya yang langsung membereskan beberapa tumpukan buku-buku di meja belajar putrinya itu.
Sudah menjadi hal yang biasa jika bundanya itu mengomel untuk pagi-pagi seperti ini. Sedangkan yang diomeli masih tetap fokus mengetik dengan jari jemarinya dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya.
"Rena, kamu denger nggak sih yang bunda bilang ?"
"Ah, oh iya bund Rena denger kok Rena denger" ucapnya yang begitu santuy
Sekitar sepuluh menit kemudian tugas Rena pun telah ia selesaikan
"Alhamdulillah kelar juga akhirnya, tinggal kirim lewat email ke dosennya"
"Sayang kamu tuh harus bisa merubah sikap kamu yang gini sayang jadi anak perempuan itu mbok ya yang rapi gitu,kamu it..."
"Iya, iya bund iya Rena tau kok Rena minta maaf ya Bund, habis ini Rena bersihin deh janji"
"Nggak usah"
"Loh kenapa bund ?"
"Kamu apa nggak lihat kamar kamu udah rapi gini"
Rena pun melihat sekitar kamarnya yang sudah begitu rapi lagi seperti awal saat ia masuk.
"Hehe... iya Deng, makasih yang bund udah dibersihin"
"Hem.. iya"
"Ya udah kamu kayaknya lagi repot gitu, bunda tinggal dulu ya, oh iya nanti sore ada tamu kamu temuin ya dan dandan yang cantik jangan lupa, oke sayang"
"Siapa bund ?"
"Ada deh nanti kamu tahu kok, jangan kabur oke mama tinggal ke dapur dulu ya nak" ucapnya yang langsung pergi tanpa menunggu ucapan dari Renata
"Hah, kabur ngapain juga aku kabur di rumah sendiri, bunda nih ada-ada aja"
Inilah kebiasaan anak dan ibu itu, Bunda Lastri adalah bunda dari Renata, bunda Lastri hanya mempunyai seorang putri yaitu Renata saja sejak kepergian suaminya dua tahun yang lalu karena penyakit kanker otak stadium akhir yang diderita, dan sejak saat itu dia hanya tinggal dengan puteri.
Sejak saat itu bunda Lastri pun tidak ada niatan untuk menikah lagi walaupun sang anak pernah menyuruhnya untuk menikah lagi, kerana cinta yang begitu amat dalam kepada almarhum sang suami.
Sore harinya Renata kini tengah berada di ruang tamu duduk bersebelahan dengan sang bunda dan di depannya ada seorang wanita yang kira-kira berusia hampir lima puluh tahun dan seorang pria berjas hitam lengkap dengan map ditangannya.
"Nah ini dia putriku mbak, sayang sini salam dulu sama Tante Isti"
"Oh iya, assalamualaikum Tante" ucapnya sembari mencium tangan Tante yang satu bulan lalu ia kenali
"Waalaikumsalam sayang, tambah cantik ya kamu" ucapnya sembari mengelus rambut panjang Renata sedangkan Renata hanya senyum tanpa curiga sedikitpun
"Makasih Tante, Tante juga nggak kalah cantik dari Rena" ucapnya yang merendah
Rena memang sudah mengenal Tante Isti beliau adalah salah satu teman dekat dengan bundanya oleh sebab itu dirinya pun tidak sungkan lagi menyapa.
Tidak ingin membuang waktu lelaki yang sedari tadi diam pun membuka berkas yang sudah ditangannya. Tapi sebelum itu seorang lelaki kembali menganggu konsentrasinya.
"Assalamualaikum, maaf saya telat" ucapnya yang langsung duduk disebelah Tante Isti
"Waalaikumsalam nggak papa kok ayo sini Rey " ucap bunda Lastri yang begitu semangat empat lima. Rena yang melihatnya itu menjadi tidak enak saja perasaannya
"Jadi gimana pak Reyhan ?" tanya seorang itu yang diketahui bernama Reyhan.
Reyhan Dewangga merupakan seorang lelaki yang berumur dua puluh tujuh tahun itu merupakan pemilik hotel yang berdiri di beberapa kota, salah satunya di kota Jakarta.
Reyhan merupakan anak tunggal dari pasangan Arya Perwira dan Rahayu Saputri. Namun sayangnya sejak lima tahun terakhir tepatnya diusia Reyhan dua puluh dua tahun itu keduanya meninggal karena sebuah kecelakaan tunggal yang harus merenggut nyawa keduanya.
Pada saat itu Reyhan pun turut ikut bersama keduanya bahkan Reyhan yang mengemudi namun kecelakaan itu tidak bisa dihindari, setelah liburan di puncak waktu itu tepat pukul lima sore ketiganya ingin pulang ke rumah mereka tetapi di tengah jalan sang mama ingin dibelikan buah di pedagang kaki lima. Saat itu Reyhan memilih untuk membelikannya dan memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
Tidak berapa lama sebuah truk tangki berisikan bahan bakar minyak melewati arah itu dengan ugal-ugalan dan bertepatan itu sebuah motor melaju dengan kecepatan maksimal memotong jalan itu. Sang sopir yang terkejut pun membanting setirnya ke kiri, dan sialnya pada saat yang sama mobil yang ditumpangi kedua orang tua Reyhan pun sedang terparkir dan berakhirlah mobil itu ditabrak.
Api dengan cepat menyebar karena terkejut Reyhan yang melihat itu segera berlari ingin menyelamatkan kedua orang tuanya namun sayang si jago merah begitu cepat menyebar dan menghanguskan mobil yang ditumpangi kedua orang tuanya.
Sejak saat itu Reyhan pun kehilangan kedua orangtuanya untuk selama-lamanya. Penyesalan yang dirasakan Reyhan pun begitu mendalam. Jika waktu bisa diputar, Reyhan tidak akan pernah meninggalkan kedua orang tuanya di mobil itu walau hanya sedetikpun.
Balik lagi ke kediaman Renata. Renata yang baru saja menoleh dan melihat sosok pria yang tidak asing menurutnya.
"Eh orang itu kayaknya aku pernah liat tapi dimana ya ?" batin Rena bertanya dan terus menatap Reyhan yang sedari tadi juga turu menatapnya namun dengan senyum yang menurutnya mengerikan.
"Ini orang kenapa sih pake senyum-senyum segala, sakit nih orang" batinnya lagi
"Akhirnya kutemukan juga kamu bocil, lihat aja tidak lama lagi apa yang aku inginkan pasti akan aku dapatkan"batin Reyhan yang sebenarnya sudah mengetahui tujuannya di rumah gadis cantik ini
"Lanjut pak" ucap Reyhan dengan santai
"Baik, sesuai dengan surat wasiat yang dituliskan oleh almarhum pak Arya Perwira dan almarhum pak Dimas Sasongko pernah membuat surat wasiat jika mbak Renata sudah berusia dua puluh tahun, beliau ingin menikahkan anaknya dengan anak sahabat nya yang tak lain adalah pak Reyhan" tunjuk pengecatan itu ke arah lelaki yang tepat duduk di hadapan Renata
"Apa ? menikah ?" pekik Renata yang membuat keempat orang tersebut terkejut hingga sang bunda mengelus dadanya sangking terkejutnya
"Bund, apa ini ? Kok Rena nggak tau ?" ucap Rena yang langsung berdiri bersamaan dengan keempat orang itu juga
"Maaf sayang sebenarnya bunda mau bilang sama kamu tapi bunda pasti tahu kalau kamu menolaknya"
"Tapi harusnya kan bunda tanya dulu sama Rena, ini.. ini menikah loh bund, bukan main-main pokoknya Rena nggak mau menikah sekarang Rena nggak mau" tegas Rena
"Loh tapi sayang, ini kemauan papa kamu loh sebelum ia pergi, apa kamu tega nggak mau memenuhi keinginan papa kamu ?"
"Bukan gitu Bund, tapi ini masalahnya nikah loh bukan pacaran terus... apakah harus secepat itu menikah, nggak Rena nggak bisa !" pekik Rena
"Nak..."
"Rena sayang Tante mohon ya sama kamu tolong penuhi keinginan almarhum papanya Reyhan ya nak, Tante minta tolong sekali sama kamu mau ya terima perjodohan ini"
Dikala ketiga perempuan itu tengah sibuk berdebat kedua orang lelaki itu yang tak lain adalah Reyhan dengan sang pengacara itu hanya bisa diam tanpa membantah sedikitpun.
Dibalik itu semua terselip rasa cemas jika saja Rena menolak pernikahan ini.
"Aduh gimana nih kalau sampai ni cewe nolak ? nggak, nggak bisa Rena harus aku dapatkan bagaimana pun caranya" batin Reyhan yang sebenarnya sudah lama mengincar gadis cantik ini. Selama ini dia tidak pernah gagal dalam mendapatkan apa yang dia inginkan. Oleh sebab itu pria dengan sejuta pesona ini pun berfikir keras untuk mendapatkan hati sang pujaan hati.
Namun tiba-tiba...
"Akh jantungku...ish... Rena tolong nak" pekik bunda Lastri bunda dari Renata
"BUNDA...!" teriak Renata yang menghampiri sang bunda setelah terjadi sedikit percekcokan
"Bunda kenapa bunda, bunda jangan bikin Rena panik, bunda bangun bunda" tangis Rena pun pecah saat melihat sang bunda tergeletak di bawah dinginnya lantai
"Astaghfirullah mbak, Mbak Lastri sadar mbak" ucap Tante Isti sang mengguncangkan bahu sahabatnya itu
"Kita bawa ke rumah sakit saja, sebentar biar saya siapkan mobil dulu" ucap Reyhan yang tak kalah paniknya yang langsung keluar menyiapkan mobil untuk ke rumah sakit
"Maaf nona biar saya bantu saja ibu nona" ucap sang pengacara yang masih di rumah itu
"Iya pak tolong bunda saya ya"
Pengacara itu pun mulai menggendong tubuh Lastri dan segera memasukkan nya ke dalam mobil yang sudah siap dikemudikan oleh Reyhan.
Reyhan mengemudikan mobilnya pun dengan penuh kecepatan maksimal jadi tidak sampai sepuluh menit Reyhan pun telah sampai di rumah sakit.
Saat sampai Lastri pun langsung ditangani oleh dokter dan keempat orang yang tak lain adalah Reyhan,Reina, Tante Isti dan pengacara yang turut ikut pun menunggu diluar dengan harap-harap cemas.
Beberapa saat kemudian dokter pun keluar dan membuka maskernya. Rena yang tak sabar pun segera mendatangi sang dokter dengan berbagai pertanyaan.
"Dokter, bagaimana keadaan bunda saya dokter, beliau baik-baik saja kan ? iya kan ?"
"Mbak ini keluarga pasien ya"
"Iya saya anaknya"
"Alhamdulillah keadaan pasien saat ini sudah tidak perlu di khawatirkan lagi, beruntung ibu anda cepat dibawa kesini, jika terlambat sedikit saja pasti sudah lain cerita"
"Em.. dokter sebenarnya apa yang terjadi sama Tante saya" tanya Reyhan
"Beliau ini mempunyai penyakit lemah jantung,jadi beliau disarankan tidak boleh stres karena itu dapat menganggu kesehatannya"
"Lemah jantung ?" tanya Reyhan lagi
"Iya mas"
"Oh iya saya titip pesan ya untuk sementara waktu, jangan bikin pasien stres ya, karena itu akan membuat kondisinya semakin buruk"
"Baik dok" ucap Renata yang masih sesenggukan. Dirinya tidak menyangka bahwa apa yang ia lakukan akan berdampak buruk bagi kondisi bundanya
"Kapan kakak saya bisa dijenguk dok ?" tanya Tante Isti
"Tunggu sebentar ya Bu setelah pasien kami pindahan ke ruang rawat ibu bisa menjenguknya"
"Baik dok, terimakasih"
"Sama-sama"
Beberapa saat kemudian Lastri pun telah dipindahkan ke ruang rawat, dan Lastri pun juga sudah siuman. Rena yang sedari tadi merasa takut sekaligus menyesal pun langsung ber hambur ke pelukan sang ibunda.
"Bunda hiks...hiks... maafin Rena, gara-gara Rena bunda jadi sakit gini hiks.. jangan tinggalin Rena bunda, Rena sayang bunda" ucapnya yang masih menangis sambil memeluk bundanya, dibelakangnya ada Tante Isti yang mengelus rambut panjang Rena
"Sayang bunda nggakpapa sudah jangan nangis lagi, bunda baik-baik aja kok" ucap bunda Lastri yang mengusap air mata sang anak
"Tapi bunda bisa disini gara-gara Rena, bunda Rena janji jadi anak yang baik apapun yang bunda mau Rena janji akan turutin tapi Rena mohon jangan tinggalin Rena, please"
"Kamu yakin mau nurutin apapun yang bunda mau ?"
Mendengar pertanyaan itu, tanpa pikir panjang Rena pun menganggukkan kepalanya. Sebelum itu bunda Lastri pun melihat kedua orang yang berada dibelakangnya yang sudah tersenyum penuh makna siapa lagi kalau bukan rehan dan Tante Isti.
"Menikahlah nak dengan Reyhan, Reyhan itu anak yang baik, bunda yakin kalau Rena menikah dengan Reyhan Rena pasti akan bahagia" ucapnya sembari mengelus pipi putih Renata
deg...
Spontan Rena pun menoleh ke arah belakang dimana kedua orang itu masih stay di sana. Reyhan yang merasa ditatap pun segera merubah mimik wajahnya yang semula senyum-senyum menjadi sedikit terkejut.
"Tapi bund..."
"Please sayang, ini permintaan papa dan bunda untuk yang terakhir kalinya" ucapnya dengan penuh drama
"Bund, jangan ngomong gitu huwa...bunda" tangis Rena kembali pecah malah semakin keras membuat Reyhan syok dan semakin pening saja kepalanya melihat tingkah bocil didepannya
"Astaga ini anak cengeng banget sih... untung sayang " gerutunya dalam hati
"Hush... cup cup cup nak jangan nangis, mau ya turutin kata bunda ya bunda akan berterimakasih sekali sama kamu nak, please mau ya sayang" bujuk Lastri sekali lagi
Rena pun bimbang harus berbuat apa di satu sisi sirinya tidak ingin menikah diusia yang masih muda namun disisi lain, dirinya pun tidak ingin kehilangan sosok bundanya orang yang paling berjasa di dalam hidupnya.
Setelah berpikir akhirnya Rena pun terpaksa menyetujui keinginan sang bundanya itu untuk menikah dengan lelaki dihadapannya ini. Raut bahagia dari ketiganya pun terpancar. Akhirnya tidak sia-sia usaha mereka dalam membujuk Rena.