Bab 7. Godaan Mantan Kekasih

1049 Kata
Delia selesai membuatkan teh hangat untuk Morgan dan membawanya ke ruang keluarga. "Kenapa dia belum turun juga?" tanyanya seraya melihat ke anak tangga, berharap menemukan sosok pria itu muncul dari sana. Dia masih dengan setia menunggu di sofa itu. Agar tidak membuatnya bosan dan mengantuk, dinyalakannya televisi. Dalam hatinya dia sudah meniatkan akan menyusul Morgan ke kamar apabila lelaki itu belum turun juga. Nyatanya, pria yang dikhawatirkan oleh Delia kini tengah menindih wanita lain dan sedang berciuman penuh gairah di atas tempat tidur. Sesekali erangan terdengar dan kecapan vulgar dari sepasang bibir yang sedang berciuman satu sama lain itu memenuhi ruangan. Disela pagutan intim itu, kedua tangan mereka saling menyentuh, saling membelai tubuh masing-masing seolah menyuarakan kerinduan yang telah lama terpendam. Elsa memukul d**a bidang pria itu keras, memberitahu kalau dia butuh bernapas. Morgan hanya menjauhkan wajahnya sedikit, memberi jarak dan jeda agar wanita di bawah tubuhnya dapat menarik napas. Sepasang mata itu dipenuhi gairah yang menyala-nyala, menginginkan lebih daripada apa yang sedang mereka lakukan sekarang. "Aku pasti gila!" desis pria itu frustasi dan disaat bersamaan merasa kalut. Bisa-bisanya dia mencium mantan kekasihnya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya? Di saat dia mengetahui bahwa calon istrinya tengah menunggunya di bawah sana, mungkin pula sedang mengkhawatirkan dirinya. "Dan aku sama gilanya sepertimu." balas Elsa seraya membelai rahang pria itu penuh kelembutan dan pandangan sayang. "Jangan menyalahkan dirimu karena hal ini. Dia lah yang harus mengerti, sedari awal aku yang kau cintai, bukan dia." Morgan langsung menjauhkan tubuhnya, berdiri di samping tempat tidur saat ia membenahi pakaiannya yang kusut akibat dipegang oleh Elsa. "Namun sayangnya pernikahan sudah ditetapkan." tukasnya mengingatkan mereka akan kenyataan kejam. "Aku tidak keberatan," pungkas Elsa turut bangun dan duduk. "Aku tidak keberatan menjadi wanita simpananmu." Pernyataan itu sungguh mengejutkan. Morgan bahkan berharap bahwa dia salah dengar. Dan apa yang dikatakan oleh baru saja hanyalah lelucon belaka, tidak serius. "Tidak!" "Kita masih saling cinta bukan? Atau bagaimana kalau kita beritahu kedua orang tua kita dan batalkan pernikahan ini?" Morgan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa melakukannya." katanya tegas yang membuat bingung Elsa bahkan. "Kenapa? Jangan bilang kalau kau mulai jatuh cinta pada Delia? Aku tidak percaya itu, cepat beritahu aku kalau kau hanya kasihan padanya dan itulah mengapa kau menolak saran dariku?" Elsa mendesak tak terima, mulai cemas karena tak menyangka Morgan menolak idenya. Dia bahkan sudah merelakan diri merendah, tapi Morgan tetap menolak. Selain alasan satu itu yang dapat dirinya pikirkan, dia tak percaya kala alasan pria ini menolak karena memikirkan hubungan keluarga mereka. Morgan bukanlah orang yang seperti itu, yang cukup peduli mendahului perasaan orang lain di atas perasaannya sendiri. "Pokoknya, aku tidak bisa melepaskannya." katanya lagi terdengar tegas. Dia tidak mungkin melepaskan Delia dan membiarkan si pria b******k itu mengambil Delia darinya. Dia mana rela membiarkan Raffi mendapatkan apa yang pria itu inginkan. Delia hanya bisa menjadi miliknya, tidak ada yang boleh memiliki wanita itu selain dia seorang saja. Hanya memikirkan mereka berdua saling bermesraan membuat dia marah. Dan kemarahan serta cemburu itu terpampang jelas di wajah Morgan. "Aku harus pergi. Dia mungkin sudah menungguku." katanya terdengar dingin. "Morgan, tunggu ... tunggu kubilang!" Elsa memanggil dengan keras, tapi diacuhkan oleh Morgan yang kini telah keluar dari kamar, meninggalkan dia terpaku sendirian. Begitu kamar itu kembali hening, Elsa mengamuk. Ia melempar bantal dan guling ke sembarang arah demi menyalurkan kemarahannya. "Delia, Delia ... wanita itu!" gumamnya penuh kebencian dengan pandangan membara ingin membunuh. Sepasang mata yang tadi diliputi kebahagiaan kini berubah sangat menakutkan. "Kau selalu saja merampas apa pun yang menjadi milikku!" "Aku tidak akan pernah membiarkan kau bahagia! Tidak, selagi aku masih hidup!" janjinya seolah sedang merapal mantra kematian. Delia yang telah lama menunggu pun nampak semakin khawatir. Ia akhirnya memilih menyusul Morgan ke kamar. Setibanya dia di sana, yang dilihatnya adalah Morgan sedang berbaring dengan lengannya sebagai penutup mata. Kancing teratas kemeja pria itu dibuka, memperlihatkan sedikit d**a bidangnya yang nampak berotot. "Ada apa? Kau masih merasa tak nyaman?" tanyanya khawatir seraya berjalan mendekat. Mendengar suara wanita yang dikenalnya, Morgan yang tadinya marah dan hampir gila atas apa yang telah dia perbuat, menurunkan lengannya untuk melihat wajah Delia. Rasa bersalah seketika langsung menghantamnya begitu mendapati raut khawatir sang calon istri. "Kemari, biar aku memelukmu sebentar." pintanya yang terdengar aneh untuk Andin. "Kau yang seperti ini malah membuatku semakin khawatir saja. Mau pergi ke rumah sakit? Periksa lebih teliti, takutnya terjadi sesuatu padamu." Morgan menarik pelan sepasang tangan putih nan lembut itu. Mendudukkan Delia, lalu disandarkannya dengan manja kepalanya di pundak sang wanita. "Tidak usah. Mungkin tadi waktu ketemu klien, aku salah makan sesuatu jadinya perutku terasa sakit." ucapnya berbohong. Sejujurnya, posisi mereka yang seperti itu membuat Delia merasa geli. Apalagi setiap kali Morgan bicara hembusan napasnya menggelitik tengkuknya. "Geli, jangan ditiup." Delia mengingatkan pria di belakangnya yang malah dengan sengaja meninggalkan kecupan demi kecupan seringan bulu di kulit tengkuknya. Cepat atau lambat, yang diterimanya dari sentuhan pria ini pastilah lebih daripada ini. Tetapi mengapa, sekarang dia merasa risih dan tak nyaman? "Kau masih se-sensitif ini." Morgan tersenyum. Ia menurut dan menghentikan tindakannya menggoda Delia lebih jauh. "Aku mencium sesuatu." ucap Delia sambil mengendus-endus kan hidungnya mencari sumber aroma harum tersebut. Morgan seketika menegang. Ia mengikuti Delia mengendus kemejanya. Wangi parfum Elsa tertinggal di sana. Mungkin karena mereka tadi berpelukan erat, itulah mengapa itu tertinggal. Mulai panik dan takut Delia menemukan sesuatu yang tak biasa, Morgan beringsut menjauh lalu bangkit. "Perutku sakit lagi." ujarnya tiba-tiba langsung masuk ke kamar mandi tanpa menunggu jawaban Delia. Kelakuannya yang aneh itu mendapat tatapan bingung dari Delia. Ia pun berjalan mendekati pintu kamar mandi, lalu berkata dengan suara yang agak keras supaya Morgan dapat mendengarnya. "Aku turun ke bawah sebentar." pamitnya seraya mengetuk pintu sekali. Ia lupa tidak membawa serta teh yang tadi telah dibuatnya. Terdengar jawaban persetujuan dari Morgan saat lelaki itu mendengar suara Delia. Delia keluar dari kamar, berpapasan dengan Elsa di tangga. Ada yang berbeda dari bagaimana adik tirinya itu kini menatapnya. Dia merasa seakan adiknya itu menatapnya dengan sorot benci yang cukup menakutkan. "Kenapa menatapku seperti itu? Aku tidak ingat sudah berbuat salah padamu." ucap Delia merasa tak nyaman karena ditatap dengan mata seperti itu. Elsa tidak menjawab. Wanita itu memalingkan muka dan pergi dari sana. Dalam hatinya banyak sekali makian yang ditujukannya pada Delia. "Kenapa dia jadi aneh sekali?" gumam Delia tak habis pikir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN