Bab 8. Hari Pernikahan

1061 Kata
Hari pernikahan yang ditunggu-tunggu itu telah tiba. Pesta pernikahan diadakan di sebuah hotel mewah bintang lima. Keluarga Prasetya yang meminta agar acara sakral itu digelar di sana. Di dalam kamar, Delia sudah selesai di dandani. Gadis itu sangat cantik dengan gaun mewah berwarna putih yang dipenuhi pernak-pernik swarovski serta polesan make up natural. "Boleh aku masuk?" Seruan dari arah pintu menyadarkan Andin dari lamunannya. Ia menolehkan kepalanya ke sumber suara dan menemukan Raffi lah yang datang. "Bisa tolong tinggalkan kami sebentar?" Delia bicara pada para perias yang sedang menemaninya. Beberapa perias yang masih tinggal lantas pergi dari sana, meninggalkan dua orang itu untuk saling bicara. "Tadi itu siapa?" "Namanya Raffi, dia sahabat Delia. Sangat populer waktu di Universitas." "Dia tampan sekali, kira-kira sudah punya pacar belum ya?" Bisikan-bisikan bernada memuja itu memasuki pendengaran pria itu yang ditanggapinya dengan senyuman. Setelah hanya tersisa dia saja dan Delia, Raffi berjalan mendekat. Dia menarik kursi agar bisa lebih dekat menatap wajah cantik sahabatnya. "Aku malu kalau kau melihatku seperti itu." "Aku terpukau, Adelia. Kau cantik sekali hari ini." ucap Raffi berkata jujur. Ia begitu terpesona hingga berharap bahwa kecantikan wanita ini eksklusif hanya bisa dilihat olehnya saja. Tapi mungkin itu adalah keinginan yang mustahil. "Terima kasih pujiannya." balasnya tersipu malu. "Aku senang kau datang." Raffi terkekeh, suara tawanya membuat candu, "Kalau aku tidak datang, aku takut seseorang akan marah dan menangis di hari pernikahannya." "Memangnya kau pikir aku ini masih anak kecil?" Gerutu Delia tak terima diledek. Tawa itu kemudian menghilang, digantikan dengan tatapan serius, "Bolehkah aku bertanya sesuatu padamu?" Delia mengangguk, "Tanya saja, mengapa pula harus minta izin segala? Seperti bukan kau saja." "Apa kau bahagia?" Seharusnya, pertanyaan itu mudah sekali di jawab, tapi Delia malah membeku sebagai respons. Kedua mata itu saling menatap, saling mengukur satu sama lain, saling menanyakan apakah benar ini adalah jalan mereka? Tidak adakah jalan lain yang tidak mengharuskan mereka merasa tak nyaman dan bimbang satu sama lain? Dengan gugup, Delia berkata sedikit kesal, "Kenapa bertanya seperti itu? Tentu saja aku bahagia. Ini adalah hari pernikahanku tahu. Sebentar lagi aku akan menjadi seorang istri dari pria yang aku cinta. Selain itu, aku juga masih memiliki kau di sisiku." Raffi menganggukkan kepalanya, tanda mengerti, "Maka itu cukup. Selama kau merasa bahagia, itu sudah cukup bagiku." Dia tidak suka itu, tatapan layu seakan dunia runtuh yang di tunjukkan Raffi padanya. Rasanya, dia dapat merasakan sakitnya juga. Seolah-olah ikatan batin mereka begitu kuat sehingga dapat merasakan kegelisahan masing-masing, kesakitan masing-masing, ketidakrelaan masing-masing. "Aku berharap kau juga menemukan kebahagiaanmu." pinta Delia bersungguh-sungguh. Demi mencairkan suasana, Raffi memberikan jawaban konyol, "Sepertinya akan sulit. Mereka mungkin saja langsung mundur mendekati aku setelah mengetahui sifatku yang sebenarnya." "Apanya yang sulit? Kau terlalu menganggap remeh dirimu. Kau punya banyak hal baik yang dapat membuat wanita mana pun bertekuk lutut. Yeah, terkecuali meskipun kau orangnya tidak ada romantis-romantisnya sama sekali. Mungkin para wanita yang mendekatimu akan mengeluhkan itu suatu saat nanti." Delia berujar seraya tertawa. Membayangkan itu membuat dia belajar apa itu arti rela. "Hanya kau yang berpikir seperti itu tentangku." Timpal Raffi dengan pandangan hangat. Itu sebabnya kaulah yang aku cinta dan bukan wanita lain, lanjutnya lagi membatin dengan sedih. Raffi lantas berdiri. "Mau ke mana?" "Aku sudah selesai. Aku hanya ingin memastikan itu saja dan nampaknya aku bisa tenang meninggalkan kau di tangan Morgan." "Jangan pergi, temani aku lebih lama." katanya dengan nada memohon. Raffi menggelengkan kepalanya, "Itu tidak pantas. Orang-orang yang tidak mengenal kita dapat berpikiran buruk tentangmu apabila aku tinggal lama di sini, dan aku tak mau itu terjadi." Pria itu menangkup dagu Delia menggunakan kedua tangan, membuatnya menengadah, sedangkan ia memajukan wajahnya dan ciuman lama yang dipenuhi cinta disematkannya di kening, "Ini mungkin akan jadi terakhir kali aku bisa melakukan ini. Kau harus berjanji padaku agar senantiasa bahagia, karena hanya dengan begitu aku dapat merelakan mu sepenuhnya. Tidak perlu lagi khawatir tentangmu. Berjanjilah padaku untuk satu hal ini, Adelia?" Sebagai tanggapan, Delia memeluk pinggang pria itu erat, "Iya, iya aku janji akan bahagia terus. Supaya kau puas dan tidak khawatir apa pun." Disisi lain, di kamar pengantin pria, Morgan sedang berada di kamar mandi saat pintu yang mulanya tertutup terbuka dan seorang wanita ikut masuk ke dalam. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya terheran-heran. Ia mematikan keran, mengelap tangannya yang basah ke handuk yang digantung. Elsa melangkah mendekat, "Aku ingin melihat kau untuk yang terakhir kali. Ingin memastikan apakah benar sudah tak ada harapan lagi bagiku." "Kau tidak boleh berada di kamarku, Elsa. Bila sampai orang lain melihat, bakal runyam nantinya." "Aku berjanji akan pergi asal kau mengabulkan satu keinginanku." Morgan menaikkan satu alisnya, ragu-ragu antara mengiyakan permintaan itu atau tidak. "Sebutkan dulu permintaanmu, baru aku akan memberimu jawaban apakah bersedia atau tidak." "Aku hanya ingin makan malam bersamamu. Untuk yang terakhir kali. Anggap saja sebagai tanda perpisahan. Setelah ini, aku benar-benar melepasmu. Tidak akan lagi mengganggumu." Elsa berjanji dengan raut wajah bersungguh-sungguh. Seolah apa yang dikatakannya sekarang akan seperti itu. "Hanya makan malam?" Morgan bertanya lagi untuk meyakinkan. "Di tempat pertama kali kau mengajakku berkencan." lanjutnya menambahkan. Permintaan itu tidak sulit, pikir Morgan akhirnya. "Baiklah, kau bisa atur waktunya lalu beritahu aku." "Hanya kita berdua, Morgan. Tidak ada orang lain." Elsa mengingatkan yang kembali disetujui oleh pria itu. "Sekarang kau bisa keluar. Aku takut seseorang masuk kemari lalu menemukan kau berdua saja denganku di sini." Elsa melangkah lebih dekat, tatapannya penuh harap saat dia mengatakan dengan suara lemah seolah ingin menangis, "Boleh aku memelukmu? Untuk yang terakhir kali juga." Pria itu menghela napas, "Kemarilah." ujarnya seraya menerima pelukan mantan kekasihnya dengan erat. Tanpa disadarinya, adegan mesra itu terekam kamera tersembunyi yang diletakkan samar di lemari tumpukan handuk. Acara pernikahan itu berlangsung lancar dan damai. Kebahagiaan memancar di seluruh ruangan tatkala gelak tawa dan senyuman mengiringi sepasang pengantin baru menuju ke singgasananya. Tepuk tangan riuh lantas terdengar begitu kedua pasangan itu digoda oleh sang MC untuk melakukan beberapa hal. Morgan tersenyum lebar pada Delia saat melihat wanitanya tersipu malu dan kini menyembunyikan wajah tatkala dia menciumnya di depan umum. Banyak orang memberkati keduanya dengan doa baik, dengan harapan menjadi pasangan seumur hidup yang dikelilingi kebahagiaan. Elsa yang duduk tak jauh dari panggung, meminta pada pelayan agar menuangkan wine untuknya. Saat dia menenggak minuman itu, ia menyembunyikan sisi wajahnya yang mengerikan agar tidak terlihat oleh orang lain. "Kau tunggu saja, kebahagiaan yang kau rasakan ini, bagaimana mungkin aku membiarkan kau merasakannya lama?"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN