Dilarang Jatuh Cinta
"Aliza, cepat mana tehnya? Lelet banget!"
"Kamu cuci piring apa pingsan, sih?"
"Bisa lebih cepat sedikit enggak? Kepalaku pusing mau dipijat!"
Selalu begitu, pria berusia 30 tahun berteriak keras dari ruang tengah. Suaranya bahkan bisa memenuhi ruangan yang cukup luas dan tinggi. Aliza mendengus sebal, tubuh mungilnya harus bergerak cekatan ke sana sini agar mulut pria yang harus diakui suami diam.
Setelah menikah enam bulan lalu. Aliza harus siap menjalankan kehidupan barunya, menjadi istri sekaligus babu yang mengurusi keperluan suami, membersihkan rumah terlampau besar sampai menguras seluruh tenaga. Jangan tanya bagaimana lelah melanda seakan tulang mau remuk.
Cukup di situ penderitaannya? Tentu tidak, Gibran belum puas menyiksa adik kesayangan Zelina. Aliza merangkap menjadi tukang pijat, belum lagi mendengar omelan-omelan atau makian suaminya. Kalau sudah begitu, Aliza hanya menggerutu di belakang.
Gibran menikahi Aliza demi melampiaskan dendam pada Zelina yang merupakan kakak tiri Aliza. Perempuan itu memilih kabur menjelang pernikahan demi mengejar cita-cita sebagai model terkenal karena mendapat tawaran di New York. Tentu Zelina tidak akan membuang kesempatan di depan mata.
Meskipun saudara tiri, keduanya saling menyayangi. Apalagi semenjak mamanya Aliza meninggal dan diasuh Seno. Tentu perempuan itu merasa berhutang budi. Maka, saat Gibran memberi ancaman akan menghancurkan kehidupan Zelina sekaligus sang papa. Aliza langsung bersedia menggantikan posisi kakaknya.
"Aliza!" teriak Gibran lagi.
Gibran memejamkan mata sebentar, lalu mengusap wajah kasar. Dia merasa salah mengambil keputusan, alih-alih balas dendamnya berhasil justru dibuat frustrasi dengan kelakuan sang istri.
Aliza masih berkutat dengan cucian piring, dua tangan penuh busa di wastafel, sedangkan mulut mungilnya bersenandung kecil. Masa bodo dengan teriakan suami yang dianggap monster.
Mau tak mau, Gibran melangkah gontai ke pantry demi melihat gadis manis yang dinikahinya. "Kamu punya telinga?"
Aliza mengelap tangan dengan lap bersih setelah cucian piring kelar. Dia menoleh ke arah suaminya. "Kakak nggak lihat telinga aku masih utuh dua-duanya?"
"Kamu tidak bikin saya kesal sehari, bisa?"
"Kakak tidak perlu galak-galak. Aku cape, Kak." Aliza mendengus sebal, dikira robot yang tidak pernah kehabisan baterai.
Tanpa menunggu Gibran menyahut, gadis yang masih mengenakan kaus kedodoran bergambar beruang cute berjalan melewatinya dan mengambil teh kotak di kulkas sebelum meminum lewat sedotan.
Gibran terlihat emosional. Diam-diam Aliza mengamati ekspresi kesal di wajah tampan suaminya. Dia manyun menyayangkan kenapa pria menyebalkan seperti Gibran harus dianugerahi fisik tampan, keuangan oke, dan masa depan terjamin. Tentu menurut Aliza tidak adil.
"Kak, aku mau kuliah." Aliza bergerak mendekat, ia duduk di bar stool mengamati suaminya menakar bubuk kopi dan meracik sendiri.
Kalimat itu meluncur santai dari bibir tipis yang selalu berwarna merah ceri tanpa pulasan lipstik, dia mengatakan tanpa beban seakan minta tolong diambilkan gula di depan suaminya.
Tuh katanya mau teh, buatnya kopi.
Gadis itu sudah menduga kalau suaminya akan meminta bolak-balik mengganti minuman, untung dia sudah bandel tidak mendengar ocehan suaminya.
"Kamu lupa buat apa saya menikahi kamu?" Gerakan tangan Gibran berhenti, ia menatap tajam ke arah istrinya.
Aliza mengangguk seraya meletakkan teh kotak yang isinya habis ke tong di pojok. "Iya, nggak perlu diingatkan. Tapi aku berhak mendapat masa depan."
"Kamu sendiri sudah merelakan menukar masa depan kamu untuk membayar kesalahan Zelina." Gibran tersenyum sengit, setiap mengingat perempuan yang pernah setengah mati dicintai masih menimbulkan efek sedemikian rupa. Faktanya tidak mudah melupakan luka akibat keegoisan Zelina.
Aliza menghela napas panjang. "Ya, tapi aku mau melanjutkan kuliah. Aku ingin menjadi desainer, Kak."
Gibran menatap istrinya beberapa saat, lalu berjalan ke arah kamar tanpa mengatakan apa-apa.
Aliza mendengus sebal, ia meraih sepiring puding dari kulkas yang baru dibuatnya siang. Melahap rakus seakan tengah melahap habis suami angkuhnya.
"Dasar om-om egois," geramnya dengan menjejalkan puding ke mulut. "Percuma umur udah tua, masih aja pendendam. Aku yakin catatan amal buruknya kalau dibukukan sudah satu lemari."
Kadang-kadang Aliza berpikir akan kabur saja, toh papa tirinya masih sanggup menghidupi layak. Namun, ancaman Gibran tidak main-main untuk menghancurkan bisnis sang papa yang manis dibawah naungan Ferdinand grup, perusahaan milik keluarga Gibran.
***
Gibran masih memasang wajah datar ketika Aliza memasuki kamar. Pria itu menoleh sebentar lalu kembali menggulir gawainya sok serius. Aliza tidak peduli, ia tetap berjalan santai menuju kamar mandi untuk cuci muka, gosok gigi, berganti baju tidur. Kalau bisa ia ingin berendam menghirup aroma lavender sekadar mendinginkan kepala. Namun, niatnya buru-buru diurungkan melirik jarum pendek sudah menunjuk ke angka sepuluh.
Tinggal satu kamar tanpa bicara apa-apa, rasanya Aliza sedang berbagi udara dengan patung. Lebih baik patung sungguhan tidak perlu mengambil stok oksigen yang rasanya makin menipis gara-gara aura suram yang dipancarkan suami.
Kalau bukan demi rasa cintanya pada papa dan sang kakak. Tidak mungkin Aliza sudi mengorbankan masa depan di rumah suram ini. Selamat menikmati hidup di neraka!
Enam bulan hidup bersama, Aliza belum pernah melihat pria sok berkuasa itu tertawa. Dia seperti es batu, Aliza dongkol sendiri kalau mengajak suaminya bercerita.
Setelah keluar dari kamar mandi, Aliza bergerak pelan ke arah laci mengambil novel yang belum kelar dibaca. Lebih baik menghabiskan malam dengan bacaan novel daripada mengajak bicara patung di sebelah.
"Aliza."
"Iya," balasnya tanpa menoleh. Masih sibuk ke buku di tangannya.
"Besok tidak perlu masak makan malam, kita dinner."
Aliza melebarkan mata bulatnya, hampir meloncat dari tempatnya dan menggelinding ke bawah. Seriously, apa telinganya masih berfungsi dengan baik. Sejak kapan monster di sampingnya berbaik hati membebaskan ia dari tugas memasak makan malam?
"Kamu dengar?"
"Oh, oke." Aliza mengedikkan bahu, berusaha tidak ambil pusing. Ia lanjut membuka halaman kertas dan membaca cerita teenlit. Sebenarnya Feli, salah satu sahabatnya menyarankan ia mengganti bacaan. Pernah sekali menyodorkan novel berjudul 'My Husband'. Tentu gadis itu menolak mentah-mentah, toh tidak ada gunanya.
Gibran geram, lantas tangannya terulur merebut paksa novel bersampul cokelat di tangan sang istri dan melempar sembarang.
"Kak?" Aliza balik menatap kesal. Apa salah menikmati waktu santai sebentar, setelah seharian disibukkan pekerjaan rumah yang tiada habisnya.
"Kalau ada orang bicara, lihat ke sini!"
"Buat apa? Bukankah kakak malas melihat wajah aku?" Aliza tidak menampilkan ekspresi takut secuil pun, sekalipun jauh di dalam hatinya muncul berbagai ketakutan kalau monster di depannya akan mengamuk.
"Aliza!"
Gadis itu tertawa mengejek. "Kakak tidak terima?"
Dia sudah cukup mengalah, rela menikah dengan om-om. Tentu saja bukan selera Aliza yang masih imut-imut diusia delapan belas tahun. Aliza bertekad akan membangun tembok sekokoh baja agar tidak meleleh dengan tindakan manis suaminya yang semu, tentu saja hatinya milik perempuan lain. Cukup ia menderita menikah, jangan sampai makin terluka melibatkan perasaan. Sekalipun umur jauh lebih tua, boleh diakui Gibran sangat tampan.
***
Happy reading
Selamat jatuh cinta sama Aliza dan Gibran. Kalau suka ceritanya jangan lupa tap love ya pembaca tersayang.
Salam sayang.