Suasana jalanan yang tadinya bising mendadak hening sejenak, sebelum akhirnya pecah oleh suara langkah kaki yang berlarian mendekat Bryan. "Astaga, Nak! Kamu tidak apa-apa?" Suara gemetar itu datang dari sang nenek yang tadi menyeberang sembarangan sehingga Bryan harus memilih menarik stang motornya kuat-kuat ke arah samping. Kini Nenek tadi berdiri di samping Bryan dengan wajah pucat pasi, kedua tangannya yang keriput tampak gemetar hebat karena syok. Bryan berusaha menjawab, tapi kepalanya terasa sangat berat. Dunia di matanya masih berputar seperti gasing. Ia hanya bisa mengerang pelan sambil memegangi lengan kanannya yang kini terasa panas dan berdenyut kencang. "Pelan-pelan, Mas. Jangan dipaksa bangun dulu," ujar seorang pria paruh baya, salah satu warga yang ikut berlari menolong.

