Prolog
"Satu hal yang tidak kamu ketahui Gina." Lelaki itu memancarkan pilu dari kelopak matanya, seakan luka telah lama tergores di sana.
"Saya mencintai kamu." Bibirnya bergetar, menahan gejolak emosi yang selama ini ditahan. "Jauh sebelum kita menikah selama 365 hari."
"Dan pernikahan 365 hari hanyalah alibi agar saya bisa hidup sama kamu setidaknya 365 hari." Setiap untaian katanya adalah tombak yang berhasil mengoyak hati Gina.
Surat perceraian di tangan Gina bergetar kala perasaannya bergejolak oleh masygul yang memberondongi diri. Lapisan air mata telah menggelegak kelopak matanya, dengan pupil bergetar menahan tangis.
"Makasih." Suara Gina melirih, menyimpan pilu begitu besar.
"Dan selama 365 hari, aku jadi cinta sama kamu." Kata-katanya dituturkan terlampau hati-hati. "Kamu memberikan apa yang belum pernah aku dapatkan. Tapi maaf...."
Nathan menunggu, menunggu kelanjutan ucapan Gina yang kelak menjadi masa depan rumah tangga mereka. Walau surat perceraian di tangan Gina sudah jelas menamparnya.
Dia tidak bisa memiliki Gina dalam waktu lama.
Hanya 365 hari. Setelah itu dia akan melepaskan Gina, seperti yang sudah tertulis di kontrak.
"Mentalku masih berantakan. Hubunganku sama keluargaku juga berantakan. Aku enggak yakin bisa hidup sama kamu saat aku sendiri masih belom damai sama diri sendiri." Suara Gina bergetar, oleh tangis yang mendesak.
"Aku juga pengen hidup lebih dari 365 hari sama kamu, pengen banget." Di ujung kata, Gina sematkan harapan yang selama ini tumbuh dalam diam.
"Tapi aku enggak bisa." Tangisnya telah meluruh, buat seluruh badan bergetar. "Aku enggak bisa hidup sama kamu saat aku sendiri masih berantakan. Aku mau menata hidupku sebelum memulai hidup baru sama orang lain."
"Aku terima." Akhirnya Nathan bersuara, dengan hati lapang dia pun berucap. "Aku lepasin kamu. Sekarang pergilah dengan tenang. Maaf, aku enggak bisa jadi suami sempurna buat kamu."
Segera Gina menggeleng, menyangkal pernyataan Nathan. "Kamu sempurna. Sempurna banget ... itu kenapa aku milih pisah karena aku enggak mau bebanin kamu."
Bibir Nathan menipis, sejenak dia palingkan wajah kala tangis semakin mendesak untuk dikeluarkan, tak tahan melihat sang dara melirihkan pilu teramat menyayat.
"Boleh aku peluk kamu?" Nathan bertanya hati-hati, sebelum Gina mengangguk.
"Aku cinta kamu, Gina." Suaranya mengalun lirih di sisi telinga Gina saat dekapan mereka menyatu. "Dan akan selalu begitu." Tangannya menyusuri surai Gina, selagi hidung membaui aroma tubuh sabg istri.
Yang beberapa menit lagi akan menjadi mantan istrinya.
"Aku akan selalu menunggu kamu." Perkataan Nathan meluruhkan isak tangis Gina.
Di sela getar tangis Gina menjawab, "Makasih."
"Aku ... mau cium kamu. Boleh?" Mata pria itu membinarkan harapan, sebelum disahuti anggukan.
Bibir mereka saling berlabuh, menautkan cinta yang selama ini tumbuh saat pernikahan mereka sendiri memiliki tenggat waktu 365 hari.
Tangis keduanya mengurai, membersamai rasa pilu dari lidah yang saling bertaut.
Surat perceraian di genggaman Gina nyaris koyak, kala emosi menyayat relung jiwa.
Pernikahan mereka telah tiba di penghujungnya, tak ada lagi ikatan yang menyatukan mereka. Namun, nyatanya, cinta menerobos tanpa permisi, membuat perpisahan yang seharusnya damai menjadi begitu menyakitkan.