Bab 1
Dua jam telah berlalu sejak Adrien McKenzie berdiri di depan altar, dengan hati yang semakin berat dan tatapan yang semakin kosong. Elena Sinclair, wanita yang seharusnya menjadi istrinya, belum juga datang. Di balik wajahnya yang tenang, kegelisahan mulai menggerogoti Adrien, pria berusia 30 tahun yang selama ini dikenal sebagai sosok yang tak tergoyahkan. Adrien, dengan segala kecemerlangannya, telah membangun kerajaan bisnis yang tak hanya menguasai tanah kelahirannya, tapi juga menjangkau hingga ke pelosok dunia. Keberhasilannya dalam menciptakan inovasi dan membaca pasar telah menjadikannya pilar ekonomi di selatan negaranya. Namun, semua pencapaian itu terasa hampa saat ia berdiri di altar yang kosong, tanpa kehadiran Elena di sisinya.
Di belakangnya, para tamu mulai resah. Bisik-bisik semakin nyaring, menciptakan riak kegelisahan yang tak bisa lagi diabaikan. Hubungan Adrien dan Elena sudah berjalan tiga tahun, sejak pertemuan mereka yang tak disengaja. Adrien masih ingat dengan jelas bagaimana ia, dalam pencariannya yang penuh harapan, mencari sosok wanita yang membuatnya jatuh hati pada malam kencan pertama mereka. Pencarian itu membawanya ke keluarga Sinclair, di mana ia pertama kali bertemu Valeria, putri keluarga itu, yang awalnya ia kira adalah wanita yang dicarinya.
Namun, seiring berjalannya waktu, Adrien menyadari bahwa Elena-lah wanita yang selama ini ia cari, bukan Valeria. Pertemuan mereka menjadi awal dari kisah cinta yang tampak sempurna. Tetapi sekarang, di hari pernikahan mereka, Elena menghilang begitu saja, meninggalkan Adrien di hadapan para tamu yang bingung dan cemas.
Valeria Richardson, yang juga hadir di acara itu, telah berulang kali mencoba menemukan Elena. Tiga kali ia kembali ke gereja dengan tangan kosong, tanpa kabar baik untuk Adrien. Setiap kali Valeria kembali, hatinya terasa semakin berat. Ingatannya melayang pada masa lalu—pada hubungan keluarganya dengan keluarga Sinclair yang dulu akrab, tapi kemudian hancur. Valeria dan Elena dulunya sahabat, tetapi persahabatan mereka memburuk seiring waktu, terutama sejak Adrien masuk dalam kehidupan mereka.
Valeria mengenang betapa hubungan mereka berubah ketika Adrien datang ke rumah Sinclair untuk mencari wanita yang pernah ia kencani. Adrien sebenarnya mencari Valeria, tetapi Elena, dengan kecerdikannya, berpura-pura menjadi wanita yang dicari Adrien. Sejak saat itu, Valeria harus menanggung luka, tidak hanya karena kehilangan sahabat, tetapi juga karena melihat Adrien—pria yang diam-diam ia cintai—tertipu oleh kebohongan.
Sekarang, di tengah kekacauan ini, Valeria terjebak dalam dilema yang mendalam. Ia tidak ingin melihat Adrien terluka lebih jauh, tetapi ia juga tahu bahwa kenyataan ini tak bisa terus disembunyikan. Setiap langkah yang ia ambil untuk kembali ke Adrien adalah langkah yang penuh rasa sakit, baik bagi dirinya sendiri maupun bagi Adrien. Namun, Valeria tahu bahwa kebenaran harus terungkap, meskipun itu berarti menghancurkan ilusi yang selama ini Adrien percayai. Di balik tatapan tajam dan langkah-langkah yang tegas, Valeria membawa beban rahasia yang siap mengguncang segalanya.
Setahun telah berlalu sejak Valeria menyelesaikan studinya dan memutuskan untuk bergabung dengan Adrien McKenzie, pria yang diam-diam telah memegang tempat istimewa di hatinya. Selama waktu itu, Valeria menyaksikan dengan hati hancur bagaimana pria yang ia cintai terjebak dalam intrik licik Elena Sinclair. Dalam diam, Valeria menanggung cinta yang tidak pernah terbalas, sementara waktu terus bergerak tanpa memperdulikan penderitaannya.
“Tuan, bagaimana jika kita memberi tahu para tamu untuk menunda pernikahan ini dan menjadwalkannya ulang di tanggal lain?” Valeria mengajukan saran, nada suaranya lembut namun penuh kepedulian.
Adrien memandangnya dengan tatapan yang tajam dan frustrasi. “Dan membuatku jadi bahan ejekan karena ditinggalkan di altar? Tak seorang pun bisa menelantarkanku, Valeria,” balasnya, suara dinginnya penuh dengan kemarahan. Meskipun Valeria hanya berniat baik, Adrien merasa usulannya hanya menambah luka di hatinya.
Selama setahun bekerja bersamanya, Valeria dikenal sebagai asisten yang setia dan penuh perhatian. Ia adalah sosok lembut yang direkomendasikan oleh keluarga Elena, dan meskipun penampilannya sederhana, ia menyembunyikan kecantikan yang luar biasa. Wajahnya yang cantik dan mata kuning yang hangat sering kali tidak terlihat karena kesederhanaan pakaiannya, membuat banyak orang mengabaikan pesonanya yang sebenarnya.
Adrien tahu bahwa Valeria tidak pernah berbuat salah padanya, namun kemarahan dan kekecewaannya membuatnya sulit untuk melihat lebih jauh. Valeria, di sisi lain, terus memendam perasaan mendalam untuk Adrien, meskipun ia sering kali merasa diabaikan dan direndahkan.
Cinta Valeria pada Adrien begitu dalam dan tulus, hingga ia sering kali menutup mata terhadap perlakuan dingin dan hinaan yang diterimanya. Baginya, Adrien adalah sosok yang ideal, seseorang yang selalu ingin ia bahagiakan, meskipun sering kali merasa terabaikan. Setiap hari, Valeria melanjutkan pekerjaannya dengan penuh dedikasi, sembari menyimpan luka dan harapan yang tak pernah terungkap, menunggu hari di mana cintanya mungkin akan diperhatikan, meski itu terasa seperti harapan yang jauh dari kenyataan.
“Tuan, saya bingung,” kata Valeria, suaranya bergetar penuh kebingungan dan kecemasan.
Adrien menoleh, tatapannya tajam meneliti ruangan. Para tamu sudah mulai tampak lelah dan bingung, sementara penghulu yang berdiri di sana tampak hampir menyerah. Dengan rasa jijik yang tak bisa disembunyikan, Adrien melirik Valeria, yang mengenakan gaun krem dengan lengan yang tidak begitu menarik. Ia beralih kepada penghulu yang menunggu di ujung altar, letih dan tampak siap untuk membatalkan upacara.
Situasi menjadi semakin kacau. Adrien, dengan tekad yang bulat, menolak untuk menjadi bahan ejekan. Ia bertekad untuk tidak mempermalukan dirinya di depan umum, meskipun Elena tidak muncul. Dia bertekad, dengan atau tanpa Elena, dia akan menikah hari ini.
Valeria, memegang buket bunga yang seharusnya untuk Elena, berdiri di hadapan Adrien dengan wajah yang tampak pucat. Keberadaan Elena yang menghilang telah membuat semua orang paham bahwa pernikahan ini hampir mustahil terjadi sesuai rencana.
“Dia bahkan berpakaian buruk,” pikir Adrien dengan rasa frustrasi, menilai pakaian Valeria dengan pandangan skeptis.
Dia tahu bahwa langkah ini adalah pengorbanan besar, namun setidaknya itu akan mengirimkan pesan yang jelas: Adrien McKenzie tidak akan dipermalukan. “Valeria, kamu akan menikah denganku,” katanya dengan tegas, suaranya menggema di ruangan, menarik perhatian semua orang.
“Apa?!” Valeria terkejut, mulutnya terbuka dan ditutup dengan cepat, wajahnya memerah karena malu dan ketidakpercayaan. “Saya minta maaf, saya pasti salah dengar.”
Melihat tatapan para tamu yang penuh perhatian, Adrien mengambil keputusan cepat untuk menyelamatkan situasi. “Orang-orang ini datang untuk menyaksikan pernikahanku, dan aku menolak untuk pergi dari sini tanpa seorang istri. Berapa banyak uang yang kamu butuhkan?” tanyanya, nada suaranya penuh tekad dan urgensi.
“Uang?” Valeria bertanya, suaranya bergetar. Prospek menikahi pria yang selama ini dicintainya, sementara dia masih mencintai wanita lain, terasa tidak nyata. Apakah ini tawaran yang harus dia terima? Apakah ini untuk dirinya sendiri, ataukah ini sebuah pengkhianatan terhadap keluarga Sinclair, yang telah memperlakukannya dengan buruk?
“Ya, uang. Berapa banyak?” Adrien bersikeras, meraih tangannya dengan nada frustrasi.
Di usia dua puluh empat tahun, Valeria adalah sosok pendiam dan kurang percaya diri. Namun, dia juga menyadari bahwa cintanya pada Adrien bisa membutakan penilaiannya. Kesempatan ini datang begitu cepat, dan ia merenungkan dampaknya. Jika ia bisa mewujudkan mimpinya, ini adalah kesempatan untuk menunjukkan siapa dirinya yang sebenarnya kepada Adrien, dan mungkin membuktikan bahwa dia adalah wanita yang selama ini dicari Adrien.
“Apakah Tuan hanya memanfaatkan kesulitan saya?” Valeria menuntut, suaranya bergetar penuh keterkejutan dan rasa marah.
Adrien melangkah lebih dekat, matanya penuh kebingungan dan frustrasi. “Aku tidak memintamu untuk menikah,” jawabnya, nada suaranya tegas dan penuh tekanan. “Kamu yang tampaknya ingin memanfaatkan kesetiaanku.”
“Memanfaatkan apa?” Valeria bertanya, kebingungannya semakin mendalam. Adrien menyentuh pipinya dengan lembut, meskipun tatapannya tetap tajam. “Apakah kamu bersedia terlibat dengan pria yang jatuh cinta pada wanita lain hanya untuk menenangkan egonya dan menghindari penolakan? Apakah kamu siap menanggung semua hinaan dari keluarga Sinclair?” tanyanya, nada suaranya penuh rasa sakit dan kekesalan.
Air mata mulai mengalir di mata Valeria, menetes lembut di pipinya saat kata-kata kasar Adrien menyentuh hatinya.
“Saya akan menanggung apa pun untuk Tuan,” jawab Valeria, suaranya penuh dengan kesedihan dan tekad. Ia menelan rasa malunya, melepaskan semua harga diri yang tersisa, dan akhirnya setuju untuk menikah dengannya. Meskipun hatinya hancur, Valeria bertekad untuk tetap di sisi Adrien, berharap suatu hari nanti dia akan melihat dirinya dengan cara yang berbeda.
“Kasihan sekali,” ujar Adrien dengan nada sinis, menarik Valeria menuju altar tempat ayahnya berdiri menunggu dengan ekspresi tegang. “Mari kita mulai upacaranya. Nama belakangmu?”
“Richardson. Valeria Richardson,” jawab Valeria, suaranya bergetar, menandakan kecemasan yang mendalam.
Gumaman mulai menyebar di antara para tamu ketika pengumuman dimulai. Kerabat Elena menunjukkan kemarahan mereka secara terbuka, melontarkan cacian dan bisikan sinis kepada Valeria. Sementara itu, orang tua Adrien tampak tetap tabah, tampaknya sudah terbiasa dengan situasi tegang semacam ini. Kalah bukanlah pilihan bagi Adrien McKenzie—dia adalah seorang penjudi yang selalu bertekad untuk menang.
Ketika saatnya tiba untuk berbagi ciuman, Valeria menunggu dengan penuh harapan dan rasa cemas. Namun, Adrien hanya berpaling dan meninggalkan gereja tanpa menoleh ke belakang. Dengan kepala tegak, ia melangkah melewati kerumunan, mengabaikan tatapan penasaran dan pertanyaan yang menyertainya.
Valeria segera mengejar Adrien, langkahnya terburu-buru dan penuh ketegangan. “Jangan ikuti aku, Valeria,” kata Adrien, suaranya penuh keputusasaan dan dingin, saat dia menyadari kehadirannya di belakangnya.
“Tuan mau ke mana? Perayaan sudah menunggu,” Valeria bertanya, suaranya bergetar penuh kebingungan.
“Tidak ada perayaan untukku,” Adrien menjawab dengan nada dingin. “Ini adalah sebuah tragedi, bukan pernikahan bahagia. Persiapkan dirimu; kita akan berangkat berbulan madu besok pagi. Tanyakan kepada sekretarisku tentang detail penerbangannya. Kamu hanya akan menjadi istriku dalam nama saja.”
“Adrien,” Valeria memanggilnya dengan nada putus asa dan kepedihan yang mendalam.
Adrien berhenti dan menatap Valeria dengan tatapan tajam. “Sekarang kamu memanggilku dengan namaku?” tanyanya dengan nada tajam. “Aku adalah Tuan McKenzie bagimu, dan itu tidak akan berubah. Ucapkan selamat tinggal pada para tamu; perayaan ini dibatalkan. Lelucon ini berakhir sekarang. Aku akan menemuimu di bandara pada waktu yang telah ditentukan.”
"Tapi ke mana Anda akan pergi, Tuan McKenzie?" tanya Valeria, suaranya bergetar penuh kecemasan.
Adrien menatapnya dengan dingin, tidak menunjukkan rasa empati. "Aku akan mencari wanita yang aku cintai dan menuntut penjelasan atas ketidakhadirannya," jawabnya dengan tegas. "Apa lagi yang perlu dipertanyakan?" Tanpa memberi ruang untuk diskusi lebih lanjut, ia berbalik dan melangkah keluar dari gereja, diikuti oleh tatapan heran dan bisikan para tamu.
Valeria berdiri terpaku di ambang pintu, perasaannya bercampur aduk. Kesedihan, kebingungan, dan rasa pengkhianatan menyelubungi hatinya. Ia telah menyetujui pernikahan ini dalam keadaan terdesak, hanya untuk merasa terabaikan dan kehilangan arah.
Dengan langkah berat, Valeria menghadap kerumunan tamu yang semakin gelisah. "Hadirin sekalian, dengan berat hati saya memberitahukan bahwa upacara pernikahan akan dibatalkan," dia mengumumkan, kata-katanya disambut dengan campuran suara terengah-engah dan bisik-bisik. "Saya mohon maaf atas ketidaknyamanan ini dan mohon pengertiannya selama masa sulit ini."
Tatapan para tamu beragam—ada yang menunjukkan rasa simpati, sementara yang lain tampak penasaran dan saling bertukar pandang. Dengan hati yang berat, Valeria mundur dari altar, melangkah melewati kerumunan yang terus mengajukan pertanyaan dan komentar. Meski dipenuhi rasa malu dan kesedihan, ia tetap teguh dan memilih untuk tidak menjelaskan lebih lanjut.
Di luar gereja, udara malam yang dingin memberikan sedikit kelegaan dari ketegangan yang menghimpit. Valeria berhenti di tangga, matanya tertuju pada cakrawala yang memudar. Dunia di sekelilingnya terasa kabur, dan semua kejadian hari ini berputar-putar dalam pikirannya seperti pusaran emosi. Pernikahan yang semestinya bahagia kini terasa seperti sandiwara, dan ia merasa hanya menjadi bagian dari rencana yang tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun, di tengah kepahitan dan rasa sakit yang mendalam, ada secercah harapan yang menyala dalam hatinya. Ini mungkin kesempatan untuk membuktikan nilainya dan menunjukkan kepada Adrien McKenzie bahwa ia lebih dari sekadar pengganti. Dengan tekad yang menguat, Valeria menegakkan bahunya dan melangkah maju dengan penuh keberanian, siap menghadapi apa pun yang ada di depannya. Baik atau buruk, perjalanan baru ini baru saja dimulai.