Seminggu berlalu sejak Adrien pergi, dan keheningan yang membekas dalam hidup Valeria semakin terasa menyiksa. Tanpa kehadiran Adrien, hari-harinya terasa kosong, dan setiap momen diisi dengan usaha sia-sia untuk mengalihkan pikirannya dari betapa rapuhnya pernikahan mereka. Mereka masih secara fisik dekat, tetapi jarak emosional antara mereka begitu besar, dan kata-kata tampaknya tak mampu menjembatani celah yang menganga itu. Dia sering melarikan diri ke kantornya yang terpencil, sebuah tempat yang menawarkan perlindungan dari tatapan penuh tanya dan spekulasi mengenai keadaan pernikahannya dengan sang CEO. Meskipun rasanya tidak realistis, Valeria masih berharap, mungkin dengan secercah harapan yang tersisa, bahwa pernikahan mereka bisa diperbaiki. Harapan ini mungkin terdengar naif, n

