Bab Satu. Tewasnya Danang.
Setting cerita tahun 1995.
"Berengsek kalian berdua! Beraninya kau meniduri istriku, Malik!" hardik seorang suami yang sedang memergoki sang istri tengah ditiduri oleh sahabat karibnya sendiri bernama Malik.
"Mas!" teriak Dewi.
Wanita itu mendorong Malik yang berada di atasnya lalu segera menutup tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara Malik tak sempat menghindar ketika Danang menghadiahi bogem mentah di wajahnya.
Malik dengan tubuh polosnya jatuh tersungkur di lantai.
"Kurang ajar kau, Malik!" hardik Danang, dia meninju wajah Malik berkali-kali hingga sahabatnya itu babak belur.
"Sudah Mas!" teriak Dewi dari atas tempat tidur.
Mendegar teriakan sang istri, Danang menghentikan aksinya. Dia menatap tajam ke arah Dewi.
"Dasar wanita murahaan! Aku kerja matian-matian demi menghidupi mu, kau malah asik bergumul dengan dia!"
Bugh!
Kaki kanan Danang menjejak perut Malik. Pria itu masih terbaring tak berdaya di lantai dengan wajah babak belur.
"Mas jangan bikin Mas Malik mati!" teriak Dewi, dia membalut tubuhnya menggunakan kain jarik lalu turun menghampiri selingkuhannya.
Dewi mendorong Danang lalu membantu membangunkan selingkuhan.
"Kau tidak apa-apa, Mas?" ujar Dewi. Dia merangkul Malik, membuat Danang semakin murka.
"Berengsek kalian berdua!" hardik Danang. Pria itu keluar dari kamar, dia ke dapur mengambil senjata tajam berupa sebilah golok yang pagi tadi baru saja di asah supaya tajam.
Danang kembali ke kamar membawa senjata tajam di tangannya.
"Tega-teganya kalian berselingkuh di belakangku! Kau, Malik. Selama ini aku bersikap baik padamu. Meski hidupku kekurangan, tapi aku tetap membantumu. Tapi apa ini? Teganya kau meniduri istriku, bangsatt!"
Danang mengayunkan senjata tajam tersebut lalu diarahkan kepada Malik yang sedang duduk menyandar pada Dewi.
"Mas, jangan!" teriak Dewi.
Bugh!
Malik menendang alat vital Danang ketika sahabatnya itu bergerak sambil mengayunkan senjata tajam. Seketika Danang jatuh terjengkang, dia mengerang kesakitan di pusat tubuhnya.
Malik tidak menyia-nyiakan kesempatan, secepat kilat dia merampas senjata tajam dari tangan Danang dan tanpa pikir panjang menebas wajah pria malang itu.
"Mati kau, berengsek! Mati kau!" umpat Malik.
Malik seperti orang kesetanan. Dia menebas wajah, lengan dan paha Danang.
"Arghhhhhhh! Mas, hentikan!" Dewi berteriak histeris melihat Malik membacok suaminya tanpa henti.
Malik masih terus menebas hampir disemua tubuh Danang terkena sabetan senjata tajam. Wajahnya bahkan terkena cipratan cairan merah milik sahabatnya itu. Namun, alih-alih berhenti, Malik justru semakin beringas.
"Mas, dia sudah mati!" Dewi mendorong punggung selingkuhannya.
Malik tersadar, dia menjatuhkan senjata tajam di ubin. Malik ambruk di sisi Danang, dia syok melihat tubuh sahabatnya dipenuhi luka tebasan. Bahkan, lengan kiri pria itu putus menjadi dua bagian.
"Kenapa Mas membunuh suamiku?!" teriak Dewi. Wanita itu menangis histeris melihat sang suami tewas dengan cara mengenaskan.
"Aku juga tidak tahu. Tadi aku hanya membela diri. Aku tidak bermaksud membunuh dia," sahut Malik, ketakutan.
"Terus sekarang gimana, Mas? Gara-gara perbuatan ini, kita bisa masuk penjara! Aku tidak mau. Aku tidak mau mendekam di penjara seumur hidupku!" ucap Dewi, memekik.
"Tidak. Kita tidak akan di penjara. Tidak!" racau Malik, wajahnya pucat pasi dan tubuhnya bergetar hebat usat membunuh Danang.
"Terus apa yang harus kita lakukan? Apa Mas?" teriak Dewi.
Disaat situasi genting dan mencekam, Dewi dikagetkan dengan suara tangisan bayi perempuannya yang berumur satu tahun.
"Astaga. Dania menangis."
Dewi bergegas mendatangi putrinya di kamar sebelah. Bayi itu rupanya ngompol.
"Cup-cup Sayang. Oh, anak ibu pipis. Ibu ganti ya celananya."
Seolah memahami yang terjadi, bayi mungil itu menangis histeris. Dewi yang sedang kalut akan kematian suaminya langsung meng-Asihi Dania tanpa mencuci putingnya yang tadi dilahap Malik.
Bayi itu pun menolak diberi ASI. Mungkin karena ada aroma rokok sehingga dia menolak.
"Ayo enen dulu, Sayang!" tukas Dewi sembari menjejalkan putingnya ke dalam mulut bayinya namun tetap saja bayi mungil itu menolak dan semakin menangis kencang.
"Aduh, apa sih maunya?!" ucap Dewi memekik.
Bayi itu digeletakkan kasar di atas kasur lalu dia kembali ke kamar. Alangkah terkejutnya Dewi ketika tidak menjumpai Malik dan mayat suaminya di kamar itu.
"Mas Malik! Mas, kamu di mana?!" teriak Dewi.
Terdengar suara orang sedang mencangkul. Suaranya terdengar dari arah dapur. Dewi berjalan cepat menghampiri.
"Mas, apa yang kau lakukan?" tanya Dewi ketika melihat Malik sedang mencangkul di dekat tungku masak.
"Mas sedang menggali lubang. Kita tidak mempunyai cara lain, satu-satunya cara kita harus mengubur Danang," sahut Malik dengan napas terengah.
"Gimana kalau ada orang tau?"
"Ya, jangan sampai tau. Rumahmu kan jauh dari pemukiman warga. Mereka tidak akan curiga jika kau bersikap biasa saja!"
"Tapi, kalau ada yang cari Mas Danang, aku jawab apa?"
"Jawab saja suamimu kerja ke kota. Beres kan. Udah deh jangan banyak tanya, lebih kau bantu aku kumpulkan tanahnya."
Malik terus aja mengali lubang sedalam satu setengah meter. Dia tak langsung mengubur jasad Danang melainkan duduk di kursi bambu untuk beristirahat sejenak.
"Ambilkan aku minum, sayang," titah Malik.
"Baik Mas."
Tangisan bayi di dalam kamar belum jua berhenti. Dewi memberikan segelas besar air minum kemudian menghampiri bayinya di kamar. Kali ini dia bersikap tenang dan berbicara penuh kelembutan. Saking lelahnya menangis bayi malang itu akhirnya mau disusui.
Dua puluh lima menit Dania menyusu pada sang ibu, bayi itu pun tertidur pulas. Dewi meletakkan bayinya perlahan di atas kasur kemudian dia menemui Malik. Selingkuhannya itu tengah menutup lubang galian dengan tanah.
Dewi melihat sang suami untuk terakhirnya kalinya sebelum seluruh tubuhnya tertutupi tanah liat. Kedua kaki Malik menjejak gundukan tanah untuk meratakan kuburan lalu meletakkan kursi panjang terbuat dari bambu.
"Mas yakin mayat mas Danang tidak akan berbau busuk?" tanya Dewi.
"Kau tenang saja, di rumah ini tidak akan tercium bau bangkai."
"Tapi Mas, gimana kalau arwah mas Danang menuntut balas pada kita? Aku jadi takut sendirian di rumah, Mas." Dewi bergidik ngeri membayangkan bertemu hantu suaminya.
"Ah, itu kan tahayul. Orang udah mati boro-boro mau menuntut balas, lah dia aja lagi disiksa malaikat. Tidak perlu mikir aneh-aneh, pokoknya santai saja," tukas Malik.
"Tetep saja aku takut, Mas. Pokoknya aku mau Mas temani aku malam ini!" tegas Dewi.
"Gampanglah itu. Sekarang, tolong buatkan mas kopi."
"Kopi terus!" Dewi menggerutu namun tetap membuatkan selingkuhannya kopi panas. Selama menunggu kopi dibuat, Malik membersihkan cairan merah di lantai dan tubuhnya. Agar tidak berbau amis, Malik mengepel lantai menggunakan sabun cuci piring dicampur cuka. Pria itu mengecek berulang kali hingga tak tercium bau amis darah.
***
Seminggu berlalu, Dewi mulai terbiasa. Pagi ini selepas mandi, Dewi pergi ke warung sambil mengendong Dania. Minyak tanah dan sembako sudah habis, dia harus membelinya.
"Eh, Dewi. Suamimu mana, kok beberapa hari ini bapak tidak melihatnya di ladang Juragan Bahrun?" tanya suami pemilik warung.
"Ehm, anu Pak. Mas Danang pergi ke kota seminggu lalu. Katanya sih, dia diajak temannya berjualan martabak," jawab Dewi, dia berbicara sambil menggaruk hidung, bertanda sedang berbohong.
"Oh, gitu. Sayang sekali, padahal bentar lagi panen. Kenapa perginya tidak menunggu panen selesai? Kan lumayan bisa mendapat satu karung gabah."
"Soal itu, Dewi juga tidak tahu. Katanya sih, jualan martabak jauh lebih menguntungkan. Mas Danang janji, akan mengirimkan uang besar setiap dua minggu sekali." Lagi-lagi Dewi berbicara sambil menggaruk hidung, pertanda dia sedang mengarang cerita. Namun, tetangganya tidak menyadarinya jika wanita itu tengah berbohong.
"Oalah begitu toh. Yo wiss lah, bapak mau ke ladang dulu. Permisi."
Setelah perbincangan selesai, Dewi membeli kebutuhannya kemudian bergegas pulang. Di rumah, Malik masih tertidur pulas. Dewi kesal melihat selingkuhannya yang malas, kerjanya hanya makan tidur saja. Berbeda jauh dari Danang. Suaminya itu sangat rajin bekerja, meski kerjaannya serabutan.
Klontang!
Dewi melempar cangkir kaleng di lantai kamar untuk membangunkan Malik.
"Tidur terus! Setiap hari kerjanya cuma tidur, makan dan minta dilayani!" tukas Dewi.
"Apa sih, pagi-pagi ngoceh gak jelas. Mending bikinkan mas kopi gih ketimbang kau ngeromet." Malik menguap lalu menggeliatkan badannya.
"Kalau tau bakal begini, ogah aku sama kamu! Mending Mas Danang ke mana-mana. Pagi-pagi dia udah bangun, bikinin aku sarapan dan bantuin aku nyuci baju. Tidak seperti Mas. Pemalas!"
"Tapi barang mas kan lebih gede dari suamimu," Malik memuji dirinya yang memiliki alat tempur di atas rata-rata pria asia tenggara.
"Ya, tapikan hidup bukan melulu soal begituan aja! Emangnya kita tidak makan, hah?"
Terdengar suara Dania menangis dari kamar sebelah. Dewi yang masih mengomel pergi menemui bayinya.
"Syukurlah kau pergi. Pagi-pagi bikin puyeng orang aja!" Malik menggerutu, dia bergegas bangun lalu mandi. Malik tidak ingin mendegar ocehan Dewi lagi sehingga dia pun menyeduh kopinya sendiri.
Tok Tok Tok!
"Assalamualaikum. Nang, apa kamu di rumah?!" ujar seorang bapak di depan pintu kamar Dewi dan Danang.
Diam-diam Dewi keluar. Dia menghampiri Malik yang terlihat sedang di dapur.
"Mas, gimana ini?" bisik Dewi.
"Jangan panik. Kau harus bersikap biasa saja." Malik menjawab berbisik.
"Tapi ...."
"Tarik napas dalam kemudian hembuskan," titah Malik. Dewi mengikuti saran Malik.
"Assalamualaikum. Danang, ini Juragan Bahrun!" Tenyata tamu itu adalah bosnya Danang.
"Gimana ini Mas? Itu Juragan Bahrun datang mencari Mas Danang." Dewi semakin panik, dia takut kedatangan Juragan Bahrun dapat menguak tragedi pembunuhan Danang.
"Jangan panik. Sudah, sana temui dia," bisik Malik.
Dewi ingin mengabaikan Juragan Bahrun. Awalnya berhasil, pria tua itu mengira di rumah Danang tidak ada orang. Namun, tangisan Dania membuatnya kembali memanggil Danang.