Sebelas

1834 Kata
Mahar seratus juta “Tapi apa, Rin?” tanya Buk Ice yang penasaran. Sementara Rini masih menggantung ucapannya, dia pun melihat ke arah bapak dan ibunya. “Rini, maunya nikahnya di rumah aja,” tukasnya kemudian calon mertuanya pun kembali bertanya. “Lalu gimana resepsinya mau di gedung atau di rumah? Rencananya ibuk sih, nanti kalau sudah selesai acara di sini, ibuk mau ngadain acara ngunduh mantu di rumah Ibuk. Iya, kan Pak?” Wajar Bu Ice seantusias ini, secara yang akan menikah adalah anak tertuanya. Walau anak keduanya sudah menikah lebih dulu dari Budi, tapi Ice sendiri tidak pernah menggelar acara ngunduh mantu. Apalagi yang bakal jadi calon mantunya adalah anak sahabatnya sendiri, ya sudah pasti dia ingin memberikan gelaran pesta terbaik. Rini yang menjadi tokoh utama ini pun menggeleng seolah tak setuju dengan saran calon mertuanya. “Eum.. enggak usah Buk!” sergahnya langsung menjawab ucapan Buk Ice. “Enggak usah? Maksudnya enggak usah apa?” tanya Buk Ice kembali masih belum paham, begitu pula dengan yang lain. Rini pun menjelaskan. “Enggak usah pakai acara pesta. Sederhana aja, gak usah ngundang-ngundang orang juga. Cukup keluarga dekat aja Buk.” “Loh memangnya, kenapa? Ibuk belum pernah pesta loh Rin, jadi kali ini Ibuk pengen gitu, pas udah selesai acara di sini, kemudian pesta di tempat Ibuk. Ibuk juga udah nyari-nyari info tentang gedung untuk resepsi kalian.” pikirnya Seantusias itu calon mertuanya. Lagian kenapa urusan Buk Ice yang belum pernah ngadain pesta harus di bebankan padanya. “Rini cuma mau sederhana aja, eum.. Itu bukan cuma ngunduh mantu aja. Di sini juga, kalau bisa sederhana aja. Enggak usah ngundang-ngundang orang juga.” Ibunya Rini pun angkat suara mengenai keputusan anaknya. “Kamu yakin Rin? Enggak mau ngadain resepsi?” yang di tanya hanya mengangguk menundukkan kepala. “Loh kenapa begitu, Rin? Masa iya, di sini juga enggak di adain resepsi?” padahal Buk Ice sudah membayangkan akan gelaran pesta resepsi pernikahan yang meriah, dirinya sudah pasti tak sependapat dengan Rini. Bukan apa, putra sulungnya itu juga sangat mampu perihal biaya dan tentunya banyak relasi juga yang akan di undang. Jadi, seandainya tidak mengadakan pesta tentu akan menjadi tanya dikalangan orang-orang yang mengenal mereka. Apalagi pernikahan mereka juga berkesan dadakan. “Iya Rin, paling tidak kita ngadain resepsilah di rumah kita, ngundang tetangga-tetangga sekitaran rumah kita saja,” kali ini Bapaknya Rini ikut menimpali. “Enggak Pak, Rini cuma mau nikahnya sederhana aja,” ucapnya menjelaskan. Kemudian Ice seolah tak bisa menerima keputusan Rini, dirinya pun masih membujuk Rini untuk mengadakan acara resepsi pernikahan, meski hanya di kediaman Rini. Yah setidaknya jika resepsi unduh mantu tidak di adakan, paling tidak dirinya masih bisa menggunakan seragaman yang sudah dibahas oleh mereka ‘Buk Ice, Rehani dan Anti’ sebelumnya. Kepingin banget ini ya Buk Ice ngadain pesta.. hihi “Pernikahan ini cuma sekali seumur hidup loh Rin, masa iya kamu dengan Budi enggak ada kenang-kenangan bikin resepsi?” Sementara Rini belum menjawab, tiba-tiba Budi pun angkat bicara. “Ya udah Buk, enggak apa-apa kalau Rini maunya hanya akad saja.” Budi pun setuju dengan keinginan Rini. Rini mau menikah dengannya saja itu sudah syukur dan buat hatinya berbunga-bunga, sedikit ada rasa tanya alasan apa yang membuat Rini tak ingin mengadakan resepsi, tapi dirinya urungkan untuk bertanya. Sementara Ice masih keukeh ingin mengadakan gelaran resepsi. “Tapi Bud,,," ucapannya pun menggantung. “Buk, yang mau nikah itu saya sama Rini. Kalau Rini maunya begitu, ya mau gimana lagi, kan gak ada salahnya juga. Yang penting sah di mata agama dan hukum!” Akhirnya Ice menurut, angannya menggelar resepsi pernikahan yang meriah pun batal. Budi pun kembali angkat bicara, sebelum ibunya kembali meminta hal-hal yang tak di inginkan Rini. Budi ini sepertinya paham betul ya dengan sikap Rini. “Untuk perihal maharnya bagaimana? Kamu mau mahar apa Rin dari mas? Kalau mas mampu, pasti bakal mas usahain!” lirinya pada Rini, namun jawaban Rini sedikit membuat Budi tercengang. “Seperangkat alat shalat saja,” ucapnya singkat dan setelahnya Budi malah menatap kedua orang tuanya. “Apa ada lagi?” tanyanya kembali, sementara Rini hanya menggeleng. Buk Ice pun kembali bertanya.” Maharnya kok cuma itu Rin?” “Bukankah sebaik-baiknya mahar adalah yang tidak memberatkan pihak calon suami?” Mendengar jawaban Rini, Budi pun semakin mantap mempersunting Rini menjadi istrinya. Dari sekian banyak wanita sepertinya hanya Rini yang terlihat begitu sederhana. Walau lahir dan besar dari keluarga yang seadanya lantas tak mengubahnya menjadi gadis yang terobsesi mengejar materi berlimpah demi kesenangan. Bila wanita lain yang ada di posisi seperti Rini, sudah pasti akan meminta mahar yang lebih dari sekedar perangkat alat shalat. Apalagi Budi bisa di kategorikan pria mapan, sudah pasti akan menuruti permintaan wanitanya. Tapi nyatanya hanya permintaan yang sebegitu sederhana oleh Rini. Kalau aku yang jadi Rini nih, bakal minta sebongkah berlian... Bukan tanpa alasan Rini tak mau mengadakan resepsi, ia tak ingin saja pernikahannya sampai di dengar oleh sahabat-sahabatnya yang juga sudah pasti akan sampai ke telinga Revan. Padahal sudah mau nikah sama Budi, masih saja dia jaga perasaan Revan. “Kalau gitu, minggu depan kita fitting baju ya, Rin. Ibuk udah ada langganan butik yang bagus. Nanti kamu bisa pilih desainnya yang sesuai sama selera kamu.” “Ibuk saja yang pilih,” ucapnya singkat. “Loh, kok ibuk. Kan yang mau pakai kamu!” Rini pun beralasan jika pilihan calon mertuanya pasti akan bagus dan menyerahkan segala urusan perihal busana pengantin pada calon mertua. Terlebih lagi jarak tempuh ke butik langganan Buk Ice dari rumah Rini juga lumayan jauh, secara butik itu berada di kota yang sama dengan tempat tinggal Ice dan keluarga. Itu juga yang menjadi alasan pendukung buat Rini. Sementara Budi sendiri tidak terlalu memusingkan perihal busana pengantin yang akan mereka kena. Dirinya begitu bahagia, biasanya dia begitu jeli melihat segala sikap maupun ekspresi raut wajah calon istrinya. Tapi kali ini, kejeliannya tertutup rona kebahagian. Dirinya sama sekali tak menyadari bahwa calon istrinya ini tak memiliki mood. Kalau di pikir-pikir hampir semua calon pengantin itu pasti bakal antusias menyambut hari pernikahan, beda dengan Rini yang sama sekali tak ada niat mengurusi ini itu. Entah seperti apa kelak pernikahan yang akan di jalaninya, jika sedari awal saja sudah seperti ini. Pikirnya Rini adalah jika sudah menikah ya sudah, yang penting dirinya terima saja pernikahan ini. Dua minggu kemudian... Setelah semua keperluan untuk pernikahan selesai di persiapkan oleh Buk Ice, tibalah hari H pernikahan mereka. Tampak Rini dengan kebaya putih di dalam bilik kamarnya. Dia menatap wajahnya di depan cermin yang baru saja selesai di make up oleh seorang jasa rias pengantin yang sudah pasti di turunkan langsung oleh sang mertua. Sebelumnya Rini hanya ingin kalau riasan yang ia kena terlihat natural dengan polesan yang tipis, ia tidak mau mengikuti saran dari sang perias itu untuk lebih mengeksplor wajahnya dengan riasan yang menor dan tidak sekedar natural agar terlihat lebih manglingi. Tapi, karena wajah yang ia miliki memang sudah cantik sejak dasarnya. Riasan natural itu pun terlihat lebih bagus dam terlihat semakin cantik. Di ruang tamu sudah terbentang ambal kain dan tikar plastik dengan sedikit hiasan dekor yang menempel di dinding beserta beberapa bunga untuk memperindah tampilan dekorasi. Meja untuk akad nikah pun sudah tersedia bahkan sang mempelai pria juga sudah dengan sabar duduk berhadapan bersebrangan dengan calon mertua ‘Bapak Rini’ tepat di sebelahnya beserta orang dari kantor urusan agama. Tak lama kemudian, Rini pun di tuntun sang ibu keluar dari kamarnya menuju Budi yang sedari tadi sudah menantinya. Budi tampak tekun menatap Rini yang berjalan ke arah sampingnya tanpa sedikitpun mengerjap. Dia tatap wajah cantik Rini meski hanya dengan riasan yang natural. Siger yang bertahta di kepala Rini dan Ronce melati tampak bergoyang mengikuti langkah kaki Rini yang begitu anggun. Jantung Budi pun berdetak kencang kala melihat calon pengantinnya seperti mau melompat keluar dari tempatnya. Dirinya pun tak henti membantin. Senyum tipis pun tampak dari sudut bibir Budi. “Sudah siap?” Tanya penghulu pada keduanya. “Siap..!” Jawab Budi dengan tegas. “Kamu nya nduk, gimana?” Penghulu tersebut balik bertanya mengarah Rini. “Hmm...” Jawab Rini dengan anggukan pelan. Dan kemudian Anto meraih tangan Budi untuk saling berjabat yang sedikit terasa dingin dengan rasa gugupnya. “Saya nikahkan engkau ananda Budi Wahyudi bin Arman Mahesa dengan putri kandungku Rini Ayuningtyas binti Surianto dengan mahar seperangkat alat shalat dan uang tunai seratus juta rupiah dibayar tunai...” “Saya terima nikah dan kawinnya Rini Ayuningtyas binti Surianto untuk saya dengan mahar tersebut dibayar tunai.” Hanya dengan satu nafas begitu lancar di ucapkan oleh Budi. “Sah?” Tanya penghulu dengan menoleh ke kanan dan kiri kepada saksi. “Sah!” Sahutan dari kedua saksi secara bersamaan. “Alhamdulillah...!” lirih Budi yang gugupnya mulai mereda. Dan semua orang yang berada di ruangan itu pun tersenyum, kecuali Rini yang masih setia dengan wajah datarnya. Doa-doa nan indah pun di ucapkan oleh penghulu. Semua orang yang berada di sana mengangkat kedua tangan menengadah ke atas mengaminkan ucapan doa dari sang penghulu. Kemudian Budi dan Rini pun saling mengaitkan cincin pernikahan di jari manis pasangan mereka. Menyusul Rini mencium punggung tangan kanan Budi yang di lanjutkan dengan kecupan ringan di dahi Rini. Kini keduanya sudah sah menjadi suami istri. Namun kerutan alis Rini tiba-tiba tampak dari wajah gusarnya. Ia pun berbisik pada lelaki yang kini sudah sah menjadi suaminya. “Ada yang mau saya omongin, bisa ke kamar sebentar?” Ia pun berjalan ringan menuju kamarnya. Dan Budi mengangguk mengikutinya. “Duh..Buk lihat anak Ibuk, tuh gak sabaran banget. Padahal disini masi rame, langsung cus ke kamar aja!” decak Rehani tersenyum yang mendapati sang kakak menuju kamar Rini. “Iya, gak sabaran banget itu Mas mu!” Ice pun menimpali ocehan putri satu-satunya itu dengan senyum yang terlihat geli. Di dalam kamar Rini sudah siap untuk bertanya hal yang sama sekali tidak terlintas di pikirannya. “Kenapa kamu gak bertanya dulu sama saya? Kenapa kamu tidak minta persetujuan saya Mas?” “Mengenai..?” Budi tampak bingung dengan pertanyaan istrinya itu. “Mahar seratus juta?” “Oh ituu,,, mas pikir apa, rupanya itu!” Jawabnya sebegitu lempeng mendengar uang seratus juta “Cuma itu yang bisa mas kasih.” Masih jawaban yang lempeng. “Cuma itu?” Rini semakin heran dengan alis yang semakin berkerut. “Ya cuma itu Rin!” “Tapi saya gak minta! Kenapa harus ada embel-embel seratus juta, bukankah sebelumnya saya sudah bilang cukup seperangkat alat shalat saja!” Budi tampak terkejut dengan ucapan Rini. Seharusnya menurut budi Rini akan merasa senang dengan tambahan mahar yang dia berikan. Tapi tampaknya tidak. “Menurut mas itu pantas untuk kamu Rin, bahkan masih belum cukup rasanya,,," belum sempat Budi menyelesaikan ucapannya, terdengar suara ketukan pintu. Tok..tok.. “Rin,,,” Panggil Tuti dan yang membuka pintu adalah menantunya. “Nak Budi, kalian keluar dulu kita foto keluarga. Tukang photonya tadi bilang, dia minta maaf, terlambat. Pas di jalan tadi ban mobilnya pecah atau apaaa gitu ya." Rini pun heran membatin. "Ada apa lagi ini." bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN