bc

Kubayar Dengan Akad

book_age16+
1.2K
IKUTI
8.5K
BACA
family
HE
age gap
arranged marriage
drama
secrets
like
intro-logo
Uraian

“Buk, Rininya kita ajak tinggal sama kita aja, boleh kan, Buk? Budi kasian ngeliat Rini, kadang-kadang cuma bisa makan ubi. Ibuk lihat tadi kan, kalo kita enggak datang mungkin sampai sekarang, Rini makannya cuma pake ubi rebus.”

Begitulah kira-kira penuturan dari salah satu anaknya Bu Ice ketika aku masih berumur lima tahun. Kalau aku teringat akan kebaikan-kebaikan dari Bu Ice beserta keluarganya juga ucapan dari salah satu anaknya Bu Ice, sangatlah tidak tahu diri rasanya jika aku menolak tawarannya yang ingin mempersunting diriku untuk menjadi menantunya.

Lalu bagaimana dengan Revan, tambatan hati sekaligus cinta pertamaku?

Apakah aku harus menerima lamaran ini demi membalas budi baik keluarga Bu Ice atau menolak demi memperjuangkan cinta pertamaku. Entahlah...

Baca kisah selengkapnya

Kubayar Dengan Akad

by NUR L

chap-preview
Pratinjau gratis
Prolog
Sekilas, tak ada yang aneh dengan kami berdua. Layaknya bak sepasang kekasih, mungkin itulah pemikiran orang-orang yang berada di kafe ini jika sepintas menatap kami berdua entah itu dari sudut manapun. Malam ini memang menjadi malam yang begitu istimewa menurutku. Pastinya, mengapa tidak? Dia yang selalu kudamba, selalu kurindu, kini sedang bersamaku, duduk bersebelahan denganku. Sudah lama kupendam rindu, sudah lama kupendam hasrat, meski selalu menunggu akan kehadirannya, tak pernah sedikitpun aku jemu akan semua itu. “Udah jam setengah sepuluh Van, pulang yuk," ajakku sembari menatap arloji yang membalut pergelangan tanganku. “Akh... iya. Gak kerasa ya. Perasaan baru aja nempelin p****t di bangku ini. Tau-tau udah jam segini." Revan beranjak dari dudukannya sambil mengambil gawainya yang ada di atas meja. “Aku telpon yang lain dulu, pasti pada lupa tuh," ucapnya lagi sambil melirik ke arahku. Kemudian lanjut melakukan panggilan dan aku sebagai lawan bicara hanya mampu menyunggingkan senyum termanisku. Tak lama kemudian, dua pasang kekasih yang sebelumnya di hubungi Revan lewat seluler pun sudah tiba dengan sepeda motornya menghampiri kami yang berada di area parkiran. “Ganggu aja lo Van, gak ngenak-ngenakin,” ceplos Raka yang tak lain adalah kekasih Ita, salah satu sahabatku. “Iya nih, si Revan kebiasaan. Dari dulu jugak, emang suka ngeganggu..wuu...” Seru Sakha yang tak mau kalah ikut menyalahkan. Pasalnya mereka semua harus kembali bersamaku dan Revan, lebih tepatnya ikut mengantarku pulang. Ya, itu sudah jadi rutinitas jika malam minggu seperti ini maka mereka, para sahabatku beserta gandengan harus ikut datang ke rumah sekedar meminta izin kedua orang tuaku untuk mengajakku keluar sekedar jalan-jalan atau nongkrong di kafe seperti yang baru saja kami lakukan. Namun, jika sudah mengantongi izin dari orang tuaku, bukan berarti kami terus bersama jika sudah berada di luar. Kami pun pencar mencari tempat atau tongkrongan masing-masing. Tapi juga tidak bisa di katakan selalu seperti itu. Terkadang kami juga menghabiskan malam minggu dengan berkumpul bersama entah itu di rumahku atau di rumah sahabat-sahabatku yang lainnya, juga sesekali di tongkrongan ala muda-mudi. “Udahlah, cus kita pulang, udah malem nih,” kataku sambil menaiki motor milik orang yang di anggap pengganggu oleh sahabat-sahabatku. Kemudian melaju ke arah rumahku. * Tak lama berselang, kurang lebih tiga puluh menit kami semua tiba di halaman rumahku. Sekilas kutatap sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di halaman rumahku. Mobil yang tak lain adalah milik anak dari sahabat kedua orang tuaku. Sudah menjadi rutinitasnya di tiap akhir pekan seperti ini, mobil ini memang sering berada di halaman rumahku. Tapi, malam ini sedikit berbeda. Biasanya mobil ini tak pernah terparkir hingga selarut ini. Entahlah, aku tak mau ambil pusing. * Satu persatu dari kami pun sudah turun dari motor yang sedari tadi kami tumpangi. Ibuku yang sebelumnya berada di dalam rumah pun keluar, melihat kami yang sudah berjalan hendak menyapa. Kemudian, semua temanku pun berpamitan dan satu persatu menyalami punggung tangan Ibuku. “Kami pamit dulu ya Buk,” ucap salah satu gandengan sahabatku. “Iya, hati-hati. Jangan kebut-kebutan,” pesan Ibuku dan terakhir Revan menyalami Ibuku. “Pamit ya, Buk,” ucapnya lalu menoleh kepadaku. Dan lagi aku senyum dengan senyuman manisku. “Iya, hati-hati. Oh ya, kapan balik?” seketika aku pun sedih, jika mengingat esok Revan akan kembali ke kota asal, dimana dia tengah melanjutkan studinya. “Kalau gak ada halangan, rencananya besok sore Buk," ucapnya menerangkan. “Ohh, kalau begitu hati-hati ya. Oh ya, Revan, terima kasih oleh-olehnya,” tutur Ibuku dengan lembut. “Aku pamit, Rin.” “Aku juga, Rin,” susul temanku yang lainnya. Dan berlalu pergi meninggalkan aku dan Ibu yang masih betah di depan pintu. Tak lama kemudian Ibuku pun mengucapkan hal yang sama sekali tak pernah terlintas olehku, karena yang aku tau, Ibuku bukan tipe emak-emak yang suka kepo. “Tripel det ya, Rin?” Tanya Ibuku yang tiba-tiba. “ Hhaa.. Tripel det?" senyumku dengan alis sedikit mengkerut menatap ke arah Ibu. “Tripel opo toh Buk, triplek kali Buk..” Masih cengengesan aku menjawab. “Ibuk serius lho, Rin! ” Ucap Ibuku penuh dengan penekanan padahal Ibuku orang yang begitu lembut. “Enggak akh Buk, kami semua temen,” ucapku menjelaskan dengan singkat. “Syukurlah,” ucap Ibukku tanpa kuhiraukan sama sekali. Sebelum masuk kedalam rumah, sekilas mataku melirik ke arah dalam. Kulirik orang yang duduk di sofa yang belum lama kubeli beberapa bulan yang lalu untuk mengisi ruang tamu Ibuku yang tampak complang karena furnitur yang kami miliki memang tidak begitu banyak. Dengan langkah gontai, aku berjalan masuk ke dalam rumah, sebelumnya mengucap salam dan tentunya bersisian dengan Ibuku. Tak lama kemudian, orang yang berada di dalam pun menyahut menjawab salamku. Tak lupa kuciumi punggung kedua orang paruh baya itu yang sedari tadi duduk di sofa bersama sapasang anak mereka juga bersama Bapakku tentunya. Hal ini sudah lumrah dan menjadi kebiasaan bagiku, bilamana mendapati kedua paruh baya itu berada di rumahku. Mereka juga sudah kuanggap layaknya orangtua ku sendiri. “Baru pulang, Rin?” tanya wanita paruh baya itu padaku dengan senyum biasanya. “Iya Buk,” jawabku pada wanita baya itu dengan senyum manis khasku. “Pacarmu mana?” lagi wanita baya itu bertanya padaku yang tiba-tiba menjadi kikuk. “Akh, pacar apa toh Buk. Lah wong elek macem Rini, ora eneng leng gelem,” jawabku yang asal ceplos. “Masa sih. Orang secantik kamu gak ada yang mau?" tuturnya sambil menatap kearah putranya kemudian kembali ke arahku. “Kan, aku udah bilang Ce. Kamu ga percaya," timpal Ibuku pula. “Yang tadi itu, siapa?” tanyanya lagi, ingin memperjelas. “Itu semua temen Buk,” jawabku singkat. “Tuh kan, apa aku bilang. Temen ya temen,” lagi aku pikir ucapan Ibuku sebuah pembelaan. “Kalau gitu, belum punya pacar dong?” Entah itu sindiran atau pertanyaan, yang jelas aku cuma senyum-senyum sok manis yang gak jelas. “Isssh.. kamu itu kok ndak percayaan sih Ce. Dari dulu, sampek tuek kayak sekarang ini. Apa pernah aku ketahuan bohong sama kamu?” ketus Ibuku yang hanya bercanda. “Wahhh.. kalau gitu ya sama, iyakan Bud?” tanya Pak Arman yang tak lain adalah suami Bu Ice sambil menatap ke arah putranya. “Iya,” jawabnya yang singkat. Tapi Ibuk Bapaknya yang promosi kalau anaknya jomblo. “Kalau gitu, yah udah jelas ya!” ucap Pak Arman, yang membuatku sedikit bingung. “Iya, mereka ini, sama!” seru Bu Ice yang makin buatku tak paham. Dan aku hanya menatap bingung ke arah Ibuku. “Begini Rin," ucapan Ibuk yang sedikit terjeda lalu menyuruhku ikut duduk tepat di sebelahnya yang bersebrangan dengan anak tertua dari Bu Ice. “Bu Ice, sama keluarganya punya niat baik sama kamu. Mereka mau ngelamar kamu." Ibuku tersenyum mengatakan hal itu. Sementara aku, yang dari tadi senyum tipis sok-sok manis hanya melongo diam tanpa suara. Seketika senyum yang begitu kubanggakan pun hilang. Kutatap wajah Ibuku, lalu perlahan kuarahkan pandanganku ke arah laki-laki yang sedari tadi di samakan status jomblonya denganku. Kemudian, kepalaku pun tertunduk. Lelaki yang berada tepat di sebrangku pun menatapku dengan senyum bahagia dari bibirnya.. Sementara aku...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
68.2K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook