Satu

1580 Kata
Sementara aku hanya diam. Tak tau harus menjawab apa. Kebahagiaanku yang baru saja kudapat karena bertemu Revan, seketika hilang. Aku bingung, terdiam menunduk. Sementara Bapak dan Ibuku terus nyerocos dengan kedua sahabatnya. Mereka sudah begitu antusias, sementara aku yang merupakan pemeran utama sama sekali tak mendapati peranku di dalam perbincangan mereka. “Rini pamit ke dalam dulu ya, Buk.” “Mau ngapain, Rin? Ini Buk Ice masih mau ngomong sama kamu," ucap ibuku memberi titah. “Iya, Buk. Rini mau kedalam sebentar. Mau minum.” Padahal, aku sama sekali tak merasa haus, itu hanya akal-akalanku. “Ya sudah, nanti kesini lagi.” Aku kemudian berlalu dengan sebuah anggukan dari kepalaku. Kutapaki langkah kakiku menuju kamar. Setibanya aku di dalam, aku pun melempar tubuhku ke atas ranjang. Kuhela napasku dalam-dalam. Mataku terpejam, pikiranku pun keliling entah ke mana-mana. Setelah itu aku membuka mata, kutatap plafon putih kamarku. Kepalaku berdenyut kala mengingat ucapan ibuku dan sahabatnya tadi. ‘Ini beneran, gak sih. Duhh..Gusti.’ Setelah aku merasa cukup tenang, akupun bangkit, beranjak dari ranjang tidurku yang berukuran sedang, yang pastinya hanya cukup untuk diriku sendiri. Kemudian aku menuju dapur, kuraih gelas dari tatanannya. Tak lama kemudian, aku pun minum membasahi kerongkongan yang sama sekali tak pernah kering. * Aku masih terduduk dalam diamku, gelas kaca yang kugunakan untuk minum masih kugenggam dalam jemariku. Sejenak aku berpikir, entah apa yang harus kuucapkan kepada semua orang yang ada di ruang tamu. Saat pikiranku tengah berkeliling mencari-cari sesuatu yang aku sendiri tidak tau. Tiba-tiba aku menghirup bau harum yang cukup menenangkan, semakin lama bau itu semakin menyeruak. Indra penciumanku pun tak bisa berbohong dengan dua lubang yang menganga, semakin ingin kutelusuri, semakin aku ingin mencari tau dari mana asal muasal bau harum yang menggelitik dan menarik perhatianku. Seketika itu, kepalaku pun reflek bergerak ke arah yang aku yakini adalah sumber bau harum tersebut. Semakin kutolehkan kepalaku ke sisi kananku yang tengah duduk di kursi makan kebesaran milik bapakku, semakin kuat pula bau harum itu. Kepalaku pun sontak berputar dengan mata terpejam, indra penciumanku semakin mengendus-endus, lalu mataku perlahan terbuka, mendongak dari bawah ke atas dan ... pandanganku seketika terhenti setelah mendapati dari mana bau harum itu berasal. Sungguh aku tak menyangka sesosok tubuh kekar nan tinggi kini sudah berada di depanku, yang kuyakini jika bau harum itu berasal darinya. Mataku pun mengerjap menyadari keberadaannya. Segera kuturunkan pandanganku dan aku hanya diam mengikuti alur keadaan yang begitu hening. * Diamnya diriku dalam keheningan malam ternyata membangkitkan hasrat pada sosok yang ada di depanku untuk memecah keheningan di area dapur ibuku. “Ngapain, Rin?” “Minum,” jawabku sambil menunjukkan gelas yang ada dalam genggamanku. Tak sedikitpun aku menoleh ke arahnya. “Sudah makan?” tanyanya lagi dan aku hanya mengangguk dengan deheman. “Hemm.” “Kita semua masih nungguin kamu di depan.” “Iya, sebentar lagi ke depan.” “Mas mau numpang kamar mandi.” “Ohh, silahkan,” jawabku sekenanya. Setelah kupastikan pria itu masuk kedalam kamar mandi, aku pun langsung bergegas meninggalkan area dapur ibuku dan segera menuju ke ruang tamu. Kulirik sekilas benda bulat berjarum bersusun angka-angka yang menggantung di dinding ruang itu. Kulihat di sana salah satu jarum pendeknya menunjuk angka sepuluh sementara jarum yang panjang tepat di atas angka enam. ‘Sudah jam segini ... masih belum pamit. Apa mau nginep?’ Tak lama kemudian, pria yang tadi meminta izin padaku pun sudah kembali dari kegiatannya dan sudah kembali duduk ke tempatnya bersama kami. “Gimana, Rin?” Bu Ice akhirnya membuka pembicararaan ini. Pembicaraan yang sebenarnya sangat aku hindari. Akupun mengalihkan pandanganku menatap ibuku. Sementara ibuku hanya melempar senyum kepadaku. “Kamu gak perlu buru- buru memutuskannya, ada baiknya kamu pikirkan dulu. Kalau kamu sudah punya calon sendiri, kami juga gak akan maksa atau merasa tersinggung. Tapi ya itu tadi, ada baiknya kalau kamu pikirkan dulu baik-baik,” ucap Bu Ice lagi memberi pilihan dengan opsi yang sama sekali aku tak punya. ‘Calon ...?’pikirku dalam hati. Setelah menyampaikan tujuan mereka terhadapku yang jelas-jelas ingin melamarku kemudian menjadikanku menantu sekaligus istri untuk putra sulung mereka. Mereka pun pamit, mengingat hari yang sudah cukup larut. Tapi kali ini mereka tak langsung pulang ke rumah mereka, mereka akan menginap di salah satu rumah kerabat mereka, mengingat jarak tempuh menuju untuk kembali ke kediaman mereka lumayan cukup memakan waktu. Sebenarnya, jauh di dalam lubuk hatiku, aku sangat berharap jika orang tua Revanlah yang kini tengah memberikan lamaran kepadaku. Sungguh jauh sekali dari dugaanku, bahkan sama sekali tak terpikirkan olehku kenyataannya malah orang yang sama sekali tak kuharapkan. Aku bahkan masih tak percaya, pada kenyataannya orang yang selama ini sudah kuanggap layaknya keluarga kini malah datang dengan niat ingin mempersuntingku. Aku memang sudah menganganggap Bu Ice layaknya sepeti Ibu kandungku sendiri begitu pula dengan Bu Ice. Beliau juga sudah menganggapku layaknya putri mereka sendiri dan aku bisa merasakannya, bahkan sejak aku lahir. Dan jelaslah bagaimana sikapku terhadap anak sulung Bu Ice, dia juga kuanggap layaknya saudara laki-laki bagiku. Rasanya sungguh aneh jika tiba-tiba harus menikah dengannya. Apalagi dengan jarak usia yang terpaut diantara kami berdua. Tepatnya lima bulan lagi usiaku genap 23 tahun, sementara anak Bu Ice, aku sendiri juga tidak tau pasti kapan bulan kelahirannya. Yang aku tau dari cerita ibuku ketika aku lahir usianya pada saat itu genap berumur 10 tahun. Seketika aku langsung mengingat nama Revan. Nama yang sudah bertengger di hatiku selama bertahun-tahun, yang selalu mengisi hari-hariku bahkan dia juga cinta pertamaku. Cinta pertama yang tumbuh di hatiku sejak masa putih abu-abu bahkan hingga saat ini, rasa itu masih sama dan tak sedikitpun berkurang. Meski saat ini kami berjauhan, bukan berati itu menjadikan alasan berkurangnya rasa itu, justru rasa itu kian hari kian bertambah. Namun, sayangnya di balik perasaan yang begitu dalam, aku sendiri juga tak tau harus mengartikan seperti apa jelasnya hubungan kami. Walau setiap hari berkomunikasi dari jarak yang jauh, meski hanya sekedar berbagi kabar melalui pesan singkat. Kenyataannya itu hanya sebuah rutinitas bagiku juga Revan. Aku benar-benar merasa bingung. Sekelebat perasaaanku bergemuruh memikirkan perkataan Bu Ice yang jelas-jelas menawarkan perjodohan kepadaku. Aku harus bagaimana? Entahlah, aku sendiri juga tak tau. Lalu bagaimana dengan Revan, aku sendiri juga tak tau pasti bagaimana sebenarnya perasaan Revan terhadapku. Jika melihat sikap dan perhatiannya yang dia berikan padaku, tak salah jika aku mengartikannya sebagai bentuk sebuah perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Meski kami cukup dekat selama bertahun-tahun nyatanya tak sekalipun Revan menyatakan perasaanya secara pasti kepadaku. Entah Revan merasakan hal yang sama sepertiku atau hanya aku seorang diri yang merasakan hal ini. Pikiranku pun terus hiling entah ke mana-mana. Di lain sisi aku juga tak lupa dengan sikap baik dari keluarga Bu Ice, mereka kerap membantu keluargaku di masa lalu ketika bapakku masih bekerja sebagai guru berstatus pegawai honor. Kehidupan kami jauh dari kata kecukupan, mengingat gaji yang Bapak terima kala itu sangatlah minim. Sejak itulah aku tau bagaimana kebaikan Bu Ice dan suaminya, ia kerap datang bukan sekedar berkunjung dengan dalih merindukanku. Memang, pada saat itu Bu Ice beserta suami belum memiliki seorang putri. Kedua anak yang lahir yang dari rahimnya berjenis laki-laki. Yang salah satunya kini tengah ia jodohkan denganku. Sementara anak keduanya, sudah lebih dulu menikah. Dan sudah memiliki anak dengan kisaran usia sekitar tujuh tahun. Dan kini Bu Ice juga sudah memiliki seorang putri, yang umurnya lebih tua beberapa tahun di atas usia adik perempuanku. Aku masih sangat mengingat jelas kebaikan dari Bu Ice dan suaminya, meskipun usiaku masi tergolong anak-anak pada masa itu. Kedatangannya juga terkadang sangat begitu aku harapkan. Mengapa tidak, ia datang bukan hanya datang dengan tangan kosong. Terkadang dibawanya entah itu sekarung beras, minyak goreng atau pun gula beserta bubuk tehnya. Ia juga membawakanku jajanan entah itu roti, keripik kentang ataupun permen. Ia benar-benar menyanyangiku dan memperlakukanku layaknya putri kandungnya sendiri. Terkadang aku juga di belikan beberapa boneka barbie dan mainan khusus untuk anak perempuan, yang sudah pasti tak mampu di belikan oleh orang tuaku. Bahkan, kala itu salah satu anaknya juga memintaku untuk tinggal bersama mereka. “Buk, Rininya kita ajak tinggal sama kita aja, boleh kan Buk. Budi kasian ngeliat Rini, kadang-kadang cuma bisa makan ubi. Ibuk lihat tadi kan, kalo kita gak datang mungkin sampe sekarang, Rini makannya cuma pake ubi rebus.” Begitulah kira-kira penuturan dari satu anaknya Bu Ice ketika aku masih berumur lima tahun. Kalau aku teringat akan kebaikan-kebaikan dari Bu Ice beserta keluarganya juga ucapan dari salah satu anaknya Bu Ice, sangatlah tidak tau diri rasanya jika aku menolak tawarannya yang ingin meminang diriku. Bahkan ketika waktu itu dia juga sempat menyerahkan uang tabungannya yang di simpan dalam wadah berbentuk gembok berwarna hitam. “Sekalian ini Rin, juga buat kamu. kalo Ibuk gak ada uang, buat sekolah, bongkar aja ini celengannya mas. Duitnya bisa kamu pake, Jangan sampe tahun ini kamu gak daftar sekolah lagi ya, Rin!” Semua itu masih ku ingat dengan jelas. Air asin dari mataku pun tiba-tiba sudah berada di ujung pelupuk mataku. Betapa sedihnya membayangkan kehidupan kami yang dulunya serba kekurangan. Bukan ibuku tak berinisiatif membantu mengurangi beban yang di pikul oleh Bapak, tetapi pada saat itu kondisi ibuku juga tidak memungkinkan untuk bekerja. Itu karena adikku Bayu masih berumur satu tahun, yang pastinya masih membutuhkan asi sebagai asupannya dan jika di ganti dengan s**u formula, sudah pasti orang tuaku juga tak mampu membeli. * Lalu, bagaimana dengan Revan. Apakah aku harus menerima perjodohan ini dengan alasan untuk membalas budi? Atau menolak perjodohan ini, dan bertahan menunggu Revan kembali dengan hubungan tanpa status yang tak jelas ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN