Dua

1330 Kata
Hari ini adalah waktu keberangkatan Revan kembali ke kota asal tempat dimana dia melanjutkan studynya. Revan merupakan salah satu mahasiswa kedokteran semester akhir tahun ini. Jika tidak ada kesulitan maka tahun ini ia resmi menyandang gelar dokter lebih tepatnya dokter Spesialis Tulang. Sementara aku sendiri, hanya lulusan S1 teknik Informatika di salah satu kampus swasta yang tidak begitu bergengsi. Beda halnya denganku Revan bisa kuliah dengan fokus menjalani studinya tanpa harus bekerja keras melakoni pekerjaan sampingan seperti diriku. Ya, bagaimana tidak dengan kondisi keuangan keluargaku, aku cukup tahu diri dengan tidak membebankan biaya kuliahku pada kedua orang tuaku, terlebih kedua adikku pada saat itu juga tengah mengenyam pendidikan. Bayu, Adik lelakiku pada masa itu tengah duduk di sekolah menengah kejuruan. Sementara Adik bungsuku masih sekolah menengah pertama. Dan bersyukurnya lagi, setelahnya aku lulus kuliah. Akupun mengajukan surat lamaran pekerjaan di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang ekspedisi barang dan diterima sebagai bagian dari perusahaan. Sebelumnya ketika masih kuliah aku bekerja sampingan sebagai penjaga konter seluler. Sore hari aku berencana ingin mengantar Revan ke bandara. Sekedar ingin melepas kepergiannya. Orang tua Revan juga sudah mengenalku terlebih kami memang sudah lama berteman yakni sejak jaman sekolah. Aku juga sering berkunjung ke rumah Revan, tapi tak pernah aku datang sendiri kecuali bersama sahabat-sahabatku. Orang tua Revan menganggapku sama seperti teman-teman kami yang lain, tak ada yang spesial sama hal seperti kedua orang tuaku juga. Namun, karena keberadaan keluarga Bu Ice yang kini ada di rumahku. Akupun mengurungkan niatku untuk mengantar Revan ke bandara. * Selesai shalat magrib kutunaikan. Akupun melangkah keluar kamar. Mataku sontak tertuju pada pintu masuk, kulihat empat orang pria memasuki rumah satu persatu seraya mengucap salam. Mereka tak lain adalah Bapak, Bayu, suami Bu Ice dan Mas Budi. Mereka juga sama sepertiku baru selesai shalat, bedanya mereka mengerjakannya di mesjid dekat rumah. Kulihat sepintas wajahnya, begitu pula sebaliknya. Pandangan kami pun saling beradu dari jarak yang kurang lebih hanya tiga meter. Setelahnya itu aku lebih dulu memalingkan muka karena gengsi dan karena aku ini cewek, aku tidak ingin bila aku melihat Mas Budi terus, dia akan mengira aku suka sama dia. “Tut, kamu gak usah nyiapin makan malam ya. Kita makan di luar aja, sambil jalan-jalan cari angin,” ujar Bu Ice yang menurutku ada tujuan lain selain makan malam. “Ya, Rin. Kita semua makan diluar ya,” Ajak Bu Ice padaku. “Sekalian kita lanjutin omongin yang semalam," imbuhnya lagi. Aku bilang juga apa dan semua yang berada di ruang itu setuju, kecuali Bayu. Ia cuma minta dibawakan seporsi makanan yang sama dengan kami. Lalu aku, aku bisa apa. Aku tak bisa menolak, apalagi kalau Bu Ice yang minta. Tetapi tidak untuk urusan nikah, yang satu ini harus aku pikirkan lagi. Terlebih lagi ada Revan, yang begitu aku cintai. Tak lama kemudian, kami pun bergegas menaiki kendaraan roda empat yang sudah pasti milik Mas Budi. Pemilik mobil itu pun langsung berinisiatif membuka pintu untukku, yang melangkah ke arah kendaraan. Dasarnya aku yang memang tak ada niat pedekate alias pendekatan dengan santainya jalan melenggang ke bagian kursi penumpang di bagian belakang. Bu Ice yang begitu peka dengan keadaan ini, tentunya ia tak akan tinggal diam. “Loh-loh, kamunya mau duduk dimana Rin?” “Disini buk,” tunjukku ke bagian yang kutuju. "Kamunya duduk di depan Rin. Masak iya Budi jadi sopir kita semua. udah sana, pindah duduknya.” "Lah emang iya kali buk, dia yang nyupirin kita semua. kalau bukan dia, Trus siapa?" Batinku lagi tanpa ada yang dengar. Lalu aku berpindah posisi duduk di samping pengemudi. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan jejak tapaknya. Aku yang berada di samping sang kemudi, hanya berdiam tak banyak berdialog. Sesekali menoleh belakang melihat Bapak, Adik serta ibuku yang tak henti-hentinya nyerocos dengan sahabatnya. Sementara Mayang dan Rehani hanya menjadi pendengar yang setia. Layaknya mak comblang yang sedang memiliki tugas khusus. Bu Ice pun sesekali mengait-ngaitkan antara aku dan Mas Budi di setiap perbincangannya. Aku sendiri hanya diam dan menanggapi seperlunya. Lain halnya dengan Mas Budi yang bertolak belakang denganku, Ia tampak menikmati segala ocehan yang ada di belakang kami. “Oh iya Rin, Ibuk belum punya no hp kamu. Bisa Ibuk minta sekalian buat Budi. Sebutin Rin, berapa nomernya ....” "Astaga pake nyuruh Ibuk minta nomer hape segala, buat apa coba?" batinku dalam hati. “0852xxxxxxxx.” “Ibuk ulangi ya, Rin.0852xxxxxxxx.” “Iya Buk.” Dan yang duduk disebelahku hanya diam, fokus dengan kegiatannya. Entah apa yang di pikirnya selain fokus ngemudi. Setelah beberpa menit kami pun tiba, dan masih Bu Ice yang bertitah. Pilihan kami pun jatuh di sebuah warung lesehan untuk kami mencari kudapan malam. Akh, menurutku lebih tepatnya Bu Ice yang milih. “Banyak menunya Rin, mau pesen apa?” Tanya Mas Budi sambil menyodorkan daftar menu kepadaku. “Terserah, Mas,” ucapku seadanya. “Mas enggak tau kamu sukanya apa,” sahutnya sambil menatapku. “Eumm ....” Aku belum sempat menjawab, Rehani sudah lebih dulu menyela ucapanku. “Aku sukanya kamu, Mas. Hihi ...," ucap Rehani menggoda yang di ikuti semua sorot mata yang ada di sana, kecuali Mayang. “Kamu ini, bikin gaduh aja. Liat tuh, Mas mu grogi, pasti udah ngarep kalo yang ngomong barusan itu Rini.” “Ya gak papa dong Buk, lagian Mbak Rini aku denger cuma jawab terserah, aem-aem, ya aku bantuin jawab aja.” Rehani kembali berucap dengan cekikikan. Entahlah aku harus menanggapi seperti apa ucapan Rehani, yang jelas pria yang tengah duduk tepat duduk di sampingku, ia justru tampak menikmati gurauan dari Adik bungsunya. Hal itu terlihat dari sudut bibirnya yang sedikit tertarik. Tak lama kemudian, makanan yang sudah kami pesan sebelumnya pun datang di bawa oleh dua orang pramusaji. Aku sedikit sungkan, akh lebih tepatnya risih, kala mendapat perlakuan yang menurutku berlebihan dari laki-laki yang di gadang akan dijodohkan denganku. Sambil mengulurkan tangannya ke arahku, Mas Budi berinisiatif mengisi bulir nasi ke dalam nampan milikku. "Siniin piringnya." “Gak usah, Mas, Saya ambil sendiri aja,” tolakku bersuara pelan. “Oh so sweet.” Rehani kembali nyeletuk dari arah duduk yang bersebrangan. Entah apa peringainya yang selalu berceloteh. “Gak papa lho, Mbak, dulu aja Mas Budi mau manjatin pohon mangga ngambilin layangan lewong buat Mbak. Ini cuma ngambilin nasi, gak sampe manjat pohon kok.” Rehani kembali berucap menambah lagi kelakarnya, entah apa tujuannya mengingat-ingat masa lalu. Diam, itulah mode yang paling ampuh menanggapi celoteh adik bungsu Mas Budi. Di ujung penglihatanku ternyata bukan hanya aku yang mengaktifkan mode senyap. Mayang yang sedari tadi juga hanya diam bahkan sejak di dalam mobil. Ia hanya sesekali tersengar suaranya, itupun karena menjawab beberapa peratanyaan dari keluarga sahabat Ibu dan Bapak. * “Jangan banyak-banyak Rin, nanti perutmu sakit.” "Belum juga jadi suami udah ngatur-ngatur, pantes lama kawin," gerutuku dalam hati, padahal ini yang aku makan belum seberapa. “Iya ...," iya jawabku singkat. “Kok Rininya mau makan di larang-larang sih Bud?” tanya Bu Ice heran. “Bukan ngelarang Buk, nanti kalo kebanyakan sambel perutnya bisa mules,” terangnya dengan perhatian. “Tapi, Rini itu memang doyan pedes loh Bud. Itu sih belum seberapa, kamu nya jangan heran gitu!" Mas Budi yang mendapati keterangan ibuku merasa sedikit heran. Apalagi melihat aku yang menyantap sambal cabe setan terlihat begitu santai melahap makanan. “Iya Bud, Rini, kan memang doyan makanan pedes dari kecil, mungkin kamu udah lupa ya,“ imbuh Bapak mengingatkan. “Tuh, Mas, musti belajar sama Mbak Rini. Biar terbiasa dan sefrekuensi. Tapi gak sekarang, tunggu halal. Hihi ....” Rehani menggoda kembali dengan cekikikan. Sementara yang di goda hanya senyum-senyum geleng kepala. Juga ada Bapak dan ibuku juga ikut tersenyum dengan kelakar dari anak bungsu sahabatnya itu. Sementara Mayang adik bungsuku hanya memasang mode diam yang penuh tanya menatap diriku. “Jadi gimana Rin, dengan perihal tadi malam?” tanya Bu Ice mulai membahas perihal tadi malam. “Anu ... Buk ...E um ...." Aku bingung menatap kedua orang tuaku. Sementara yang lain menatapku penuh tanya. Bersambung ...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN