“Eum ... anu Buk ... saya ....” Aku masih menggantung ucapanku. Melihatku yang seperti bingung, entah mengapa sekejap Buk Ice menjadi lebih bijaksana.
“Ya sudah, kamu jangan terburu-buru ngambil keputusan. Kalau kamu punya calon sendiri, kamu cukup bilang ke kita. Kami juga gak bisa memaksamu, 'kan kamu yang jalani.”
Hatiku sedikit lega mendengar perkataan Bu Ice.
Sebenarnya, aku juga bingung harus menjawab apa, Apakah aku akan menerima lamaran dari keluarga Bu Ice atau harus menolaknya? Entahlah, aku sendiri juga tidak mengerti.
Kalau aku hitung menurut perkiraan waktu, mungkin belum ada dua puluh empat jam sejak tadi malam Bu Ice mengutarakan niat dari keluarganya. Siapa pun yang berada di posisiku pastilah tidak akan mungkin bisa memberikan keputusan yang cepat dan memang perlu kehati-hatian di dalamnya.
Apalagi ini mengenai pernikahan dan merupakan ibadah terpanjang dalam seumur hidup. Jika pasangan lain mungkin akan terasa begitu membahagiakan melangsungkan pernikahan karena memang ada cinta sebagai dasarnya. Namun, diantara aku dan Mas Budi, itu sama sekali tidak ada.
“Eum ... kasih Rini waktu Buk, buat mikir.” Aku meminta tenggang waktu untuk berpikir.
“Iya, 'kan tadi Ibuk sudah bilang. Gak usah buru-buru!”
“Iya Ce, baru juga tadi malam di omongin. Belum ada dua puluh empat jam loh Ce.”
Buk Ice hanya senyum ke arahku. Sementara laki-laki yang duduk di sebelahku, yang hanya berjarak beberapa senti, hanya diam menatapku dari sisi sampingku. Mereka juga saling lirik antara Ibu dan anak.
Sementara Bapak, bapakku tidak terlalu banyak bicara. Sejauh yang aku tau, Bapak memang tipe orang yang tidak terlalu mau memaksakan sesuatu. Teapi dari cara pandang Bapak kepadaku malam ini, menurutku sedikit ada yang berbeda. Begitu pun dengan adikku, Mayang.
Entah mengapa di tengah ke gundahanku ketika memberi jawaban kepada keluarga Bu Ice, ada sebuah tapak tangan yang begitu hangat tiba-tiba memyentuh punggung tanganku. Aku pun reflek seketika, menoleh kearah samping kananku. Kutatap sekilas orang yang berada tepat di sebelah kananku. Dia pun melakukan hal yang sama, menatap ke arahku. Namun, sedikit berbeda denganku yang hanya sekedar melihat, dia juga melempar senyum tipisnya padaku.
Naluriku pun bergerak cepat, kumundurkan segera punggung tangganku dari tangannya. Kubuang arah pandangku ke arah lain. Pikirku, entah apa niatnya yang tiba-tiba menyentuh tanganku. Sejak saat itu, aku pun menjadi sedikit risih dengan keberadaan Mas Budi.
“Kamu pikirkan lagi baik-baik Rin, apalagi ini perkara nikah.”
Entah mengapa Bapak tiba-tiba mengeluarkan pendapatnya.
“Iya, Budi juga pasti sabar nungguin jawaban dari kamu, Rin.” Bapaknya Mas Budi menimpali.
Padahal aku begitu yakin beliau juga pasti berharap aku memberi jawaban yang akan menyenangkan mereka. Jelas terlihat sejak tadi malam, cara beliau yang menyamakan diriku dengan anak mereka.
Sementara Rehani, yang sedari tadi suka ceplas ceplos juga terlihat serius ketika mendengar pembicaraan kami.
Setelah kami semua selesai menyantap makanan yang sudah kami pesan dan telah membahas perihal rencana keluarga Bu Ice yang ingin mempersuntingku, kami pun segera pulang.
Menurutku, pembahasan mengenai perjodohan ini belumlah usai ketika sudah sampai di rumah nanti. Juga tidak lupa kami membawa seporsi makanan untuk Bayu.
Hal itu malah di ingatkan oleh Mas Budi sendiri. Entah saat ini dia sedang mencari perhatianku atau sedang mencoba memberiku kesan yang berbeda. Itu semua terpikir olehku sejak mas Budi mulai berani menyentuh tanganku. Padahal, kalau kuingat-ingat ketika aku masih kecil dulu dia justru sudah melakukan hal yang lebih dari sekedar memegang tanganku.
‘Mas yang jadi kuda ya, Rini naik aja ke punggungnya Mas.’
‘Rini takut Mas, Rini nya berat Mas. Nanti kalau Mas nya keberatan nahan badan Rini, terus Rini jatoh lagi kayak kemarin, gimana Mas.’
‘Ha ... ha ... kamu sepele sama Mas, Mas ini sekarag kuat loh, kamu nya jangan takut Rin. Kalau kamu gak percaya, lekas naik sini ke punggungnya Mas!’
‘Enggak akh, Mas. Rini juga kasian sama Mas, kalau Mas nya jadi kuda lagi, lutut nya Mas nanti jadi merah lagi. Rini kasian sama Mas.'
‘Ya udah, kalau kamu nya gak mau, Mas gendong dari belakang aja ya. Mau ya, Rin!'
‘Iya, Rini mau Mas!’
*
Di perjalanan pulang, semua yang berada di dalam mobil tidak sebegitu riuh seperti saat perjalanan pergi. Hanya terdengar antara ibuku dan Bu Ice yang sesekali berbicara.
Sementara orang yang berada di belakang kemudi, aku begitu yakin dia sesekali mencuri pandang ke arahku sambil mengemudikan kendaraan roda empatnya. Bukan aku merasa terlalu percaya diri, itu terbukti ketika dia tertangkap basah olehku ketika arah pandanganku bergerak melihat sisi jalan yang ada di sebelah kanan.
Menurutku, dia juga pandai mengalihkan keadaan. Ketika dia kepergok mengamatiku, dia pun berinisiatif menanyakan hal lain.
“Ada yang mau disinggahin Rin?”
“Eum ... eng ... enggak,” jawabku terbata.
“Kali aja ada yang mau kamu beli, buat cemilan di rumah," imbuhnya lagi ingin mencairkan suasana yang aku yakini karena kepergok olehku.
Namun, naasnya malah aku yang terbata menjawab pertanyaannya yang sepontan.
“Cuma Mbak Rininya aja yang di tawari Mas, kita nya enggak," sahut Rehani dari belakang yang justru mengundang gelak tawa dari arah belakang. Aku pun jadi sedikit tidak enak hati.
Tak lama kemudian mobil yang di kemudi oleh Mas Budi pun akhirnya sampai di halaman rumahku. Penumpang yang di dalamnya pun turun satu persatu.
Entah kenapa di saat itu, aku sedikit kesulitan melepas seat belt yang aku kena.
“Kenapa Rin?”
“A ... a ... anu Mas ini," ucapku terbata kembali sambil menunjuk.
“Ohh, sini biar Mas bantuin, maaf ya!”
Mas Budi pun bergerak ke arahku membantuku membuka sabuk pengaman yang aku kena, dan meminta izinku.
Ketika sebagian tubuhnya mendekat ke arahku, indra penciumanku pun kembali mengingat aroma yang sama ketika malam tadi. Ya, aroma parfum yang sama tentunya dari orang yang sama pula.
Sesudah Mas Budi selesai membantu melepas sabuk pengaman, dia pun mengajakku bicara.
“Mas mau bicara sebentar sama kamu, bisa Rin?”
Aku pun mengangguk sebagai bentuk persetujuanku.
Sementara penumpang mobil yang lain, tanpa aku sadari sudah turun dan keluar semua dari mobil. Hanya tinggal kami berdua. Dan aku malah menunggu Mas Budi berbicara. Sementara Mas Budi tersenyum memanggilku.
“Rin ....”
“Eum ... ya.”
“Gak di sini Rin ngomongnya. Enggak enak sama Bapak Ibuk!” Aku pun tersentak dengan ucapannya.
Kulihat ke arah belakang, tidak kudapati satu orangpun. Betapa canggungnya aku mengetahui hanya tinggal kami berdua yang berada di dalam mobil.
“Di situ aja, kita bicaranya," tunjukknya ke arah saung kecil yang ada di pelataran rumahku.
Indera penglihatanku pun mengikuti arah tunjuknya.
Kemudian aku segera turun melangkah menuju saung itu dan mendudukkan tubuhku. Tak lama menyusul Mas Budi ke arah yang sama denganku, mengikutiku duduk yang saling bersisian tentunya dengan jarak yang dekat.
Sebelum memulai pembicaraan, aku pun seolah mencari kesibukan. Sesekali kulihat gawaiku yang mulai usang karena usianya sudah lumayan lama.
Aku pun sesekali mendongak ke arah teras rumahku, kulihat kedua orang tuaku duduk bersama dengan kedua orang tua Mas Budi juga Rehani. Sementara Mayang tak terlihat di antara mereka.
“Mas mau tanya sama kamu Rin." Mas Budi pun memulai pembicaraan.
“Eum ... iya.”
“Ini mengenai ...."
“Mas, duduknya jangan deket-deket, kita di sini masi bisa ngeliat loh. Hi ... hi."
Belum selesai Mas Budi bicara, Rehani sudah mulai lagi menggoda. Kami yang mendengar ucapan Rehani pun seketika saling pandang melihat jarak kami yang lumayan dekat. Aku pun segera berinisiatif lebih dulu bergerak menjauh sedikit memberi jarak.
“Ini mengenai lamaran Mas,” lanjutnya lagi. Aku hanya menunduk.
“Mas harap kamu enggak ngerasa terbebani perihal ini. Kalau kamu sudah punya calon sendiri, kamu bilang aja, nggak usah sungkan,” ucapnya sambil menatap ke arahku.
“Sepertinya orang tua kita sudah sepakat Mas," jawabku.
“Kamu sendiri, gimana?”
“Eum ... emm ...." Aku mengigit ringan bibir bawahku. Entah aku harus jawab apa.
“Seperti yang di bilang Ibuk tadi, kamu gak usah buru-buru kasih keputusan. Apalagi ini perihal pernikahan," sambung Mas Budi lagi.
Aku sedikit lega mendengar perkataannya.
“Tapi ...." Mas Budi hendak melanjutkan ucapannya, tetapi ia sedikit ragu.
“Kalau memang kamu sudah punya pilihan sendiri, Mas gak akan maksa kamu. Kamu juga gak usah khawatir, kalaupun kita gak berjodoh. Mas pastiin, gak akan berpengaruh dengan hubungan kedua orang tua kita.”
Aku semakin merasa lega, tetapi dia belum selesai berbicara.
“Tapi, memang sebaiknya kamu pikirkan lagi baik-baik. Kalau kamu sudah mantap, kamu bisa bilang ke Mas. Mas akan tunggu kabar baik dari kamu,” ujar Mas Budi lagi dengan senyuman yang terpancar penuh harap kepadaku.