Flashback
“Idihhh ... rupanya ini ya, yang bikin Mas senyum-senyum sendirian dari tadi.”
“Apaan sih kamu Han, berisik kamu!” Seru Budi ketika kepergok oleh adiknya sendiri saat sedang melihat foto seorang wanita yang tak lain adalah anak dari sahabat kedua orang tuanya
Entah sejak kapan sosok itu mulai mengganggu pikirannya. Entah sejak kapan hatinya gundah setiap memikirkannya dan entah sejak kapan hatinya selalu merindukannya. Entahlah Budi sendiri pun tidak tahu.
Wanita ini adalah satu-satunya sosok yang telah membangkitkan gairah hidupnya kembali yang hampir mati. Mati untuk sebuah rasa yang setiap orang akan berbahagia bila dilandanya.
Namun, rasa itu tidak untuk Budi, selama ini, ia selalu menghindarinya. Berusaha membentengi diri agar tak mengalami hal yang sama dan begitu menyakitkan. Tak peduli apa kata orang yang menyebutnya bujang lapuk, perjaka tua, pria kaku dan terakhir bapak-bapak, segala gelar itu diraih Budi karena di usianya yang sudah berkepala tiga belum juga menikah. Yang paling penting dan sebuah tekadnya tidak akan mengalami hal yang sama seperti di masa lalunya.
Namun, saat melihat sosok ini hatinya bergetar, benteng yang selama ini dibangun begitu kokoh nyatanya mampu di tembus oleh sosoknya yang begitu sederhana dengan ucapannya. Entah perasaan apa yang tepat untuk Budi tujukan padanya.
Sayang, tentu saja. Sejak lahir Budi sudah menyayanginya. Namun, itu hanya bersifat seperti seorang kakak dengan adiknya. Berbeda dengan yang kini ia rasa, bukan hal yang sekedar perasaan sayang seorang kakak kepada adiknya. Jika itu di sebut Cinta, maka Budi tak ingin terburu-buru mengucapkannya.
Yang jelas, ada sebuah debaran yang Budi rasakan setiap melihat senyumnya, juga caranya menyapa Budi.
“Daripada senyum-senyum gak jelas kayak orang gilak, mending ngaku deh. Itu bener Mas yang aku liat?”
“Gak ada yang kamu lihat, jangan berisik!”
“Alahh, gitu aja pake acara malu sama aku, Mas. Udah langsung lamar aja, gercep sesekali. Biar gak kecolongan lagi!”
“Kamu kalau ngomong gak usah pake toa kali Han,” sanggah Budi mencoba mengalihkan.
“Aku setuju kok, kalau Mas sama Mbak Rini. Dia cantik, baik, eumm ... enggak sombong, dan ...." Rehani menggantung ucapannya.
“Dan apa?" tanya Budi penasaran.
“Itu loh Mas, Mas pasti suka tuh, kelebihan Mbak Rini yang satu ini.” Rehani kembali berucap dan Budi penasaran.
“Kelebihan apa?”
“Lebih ... lebih semok. Hahaha ....”
Rehani berujar sembari tertawa lepas.
“Yang kamu lihat, gak seperti yang kamu pikirkan,” sanggah Budi lagi.
“Mas, kalau gak pinter bohong, jangan belajar bohong deh. Gak bakal ada yang percaya. Hihi ....”
Budi mengetahui jelas seperti apa sifat adiknya yang satu ini. Dia lebih banyak bicara dan ceplas ceplos dalam menanggapi apa pun bila
dibandingkan dengan Heri, adik pertamaya.
Jika sudah begini, Budi lebih memilih menghindar atau mengancam tak memberinya uang jajan yang dikirim setiap bulan. Dan itu adalah jurus yang paling ampuh untuk membuatnya diam.
Walaupun begitu, Budi sama sekali tak bersungguh-sungguh. Semarah apapun padanya hal itu tak akan berlama-lama.
Mengenai kelebihan Rini yang di sebutkan Rehani tadi juga jadi salah satu daya pikat untuk Budi, tetapi itu menjadi nomor yang kesekian.
Itu merupakan hal yang wajar, mengingat Budi adalah seorang pria normal. Budi juga tak tahu pasti, apa sebenarnya yang menarik hatinya hingga terpesona oleh Rini, yang sejak lahir telah dianggap seperti adiknya sendiri bahkan ingin dibawa pulang ketika masa kelahirannya.
“Buk, adiknya Buk Tuti cantik, Budi mau Buk punya adik yang cantik kayak gini, Budi kan belum punya, boleh kita bawa pulang gak Buk?”
Seketika senyum Budi lepas bila mengingat itu. Usianya pada saat itu belum genap sepuluh tahun, polosnya ia ketika memiliki keinginan untuk membawa pulang Rini yang saat itu baru lahir ke dunia. Saat itu Budi belum memiliki adik perempuan, ia memiliki dua orang adik lelaki.
Kini salah satu adiknya telah lebih dahulu menghadap sang Pencipta. Ia meninggal ketika usianya memasuki tahun ke dua. Sejak Rini lahir Budi sudah memiliki rasa sayang padanya, pastinya rasa sayang yang hanya sekedar layaknya seorang kakak dengan adiknya. Keinginannya yang hendak membawa Rini pulang bersamanya kala itu sangat mustahil untuk di penuhi. Mengingat Rini adalah anak pertama dari Tuti dan suaminya Anto. Apalagi kehadirannya di dunia ini sangatlah di nanti. Yang Budi tahu dari ibunya mengenai Tuti dan suaminya itu telah lama menanti kehadiran seorang anak dalam rumah tangganya. Menjalani biduk rumah tangga selama hampir empat tahun, barulah mereka di karuniai seorang anak perempuan yaitu Rini.
Sedihnya, ketika mereka tengah berbahagia saat di karuniai seorang puteri cantik, tidak berbanding lurus dengan kehidupan finansial mereka.
Kehidupan sederhana yang Rini jalani dengan keluarganya terkadang sangat menyentuh nurani Budi. Budi juga selalu minta kepada Bapak dan ibunya untuk sesering mungkin mengunjungi Rini dan keluarganya, dan syukurnya kedua orang tuanya peka juga iba dengan keadaan hidup sahabat mereka.
*
“Buk ...,” panggil Rehani pada ibunya ketika sedang merawat koleksi agrarianya.
“hemm ....”
“Ooo ... Ibuk ...,” panggilnya lagi dengan nada mengayun.
“Apaaaa, dari tadi bak buk, bak buk.”
“Aku mau nanyak Buk.”
“Tanya apa?” jawab Ice tak melihat Rehani.
“Ibuk, mau nambah mantu gak?”
“Jangan gatel jadi perawan, ijazahmu aja belum keluar, lulus juga belom tahu. Lah kok kamu udah minta kawin!” Ice menjawab kesal mendengar ucapan Rehani.
“Yak ampun Buk, siapa jugak yang minta kawin ... iii ...,” Rehani bergidik ngeri membayangkan kawin.
“Itu, barusan kamu bilang mau ngasih mantu!”
“Buk ... bukan mau ngasih, tapi nambahin.”
“Iya, itu sama aja. Intinya minta kawin, 'kan?”
“Bukan, bukan aku, Buk, lagian aku nya mau kuliah dulu, itu juga kalau di izinin sama Mas Budi tinggal di rumahnya.”
“Terus, maksudmu siapa?”
“Anak Ibuk, yang laki-laki dong.”
“Kamu ini kalau ngomong ya jangan ngawur, Ibuk tau kamu sering ribut sama Anti, tapi ya jangan sampe segitunya. Sampe nyuruh Mas mu kawin lagi.”
“Ya Allah, Ibukkk ... ini nih, udah lupa kalau masih punya anak bujang lapuk.”
“Maksudmu, Budi?”
“Eum ... iya! Lupa 'kan punya anak yang masih bujang lapuk? Hehe ....”
“Kurang asem kamu, Masmu sendiri di bilang bujang mapuk. Huhh ....” Ice menanggapi dengan kesal.
“Ibuk udah sering ngenalin dia sama anak-anak temennya Ibuk. Tapi, ya gitu, baru ketemu sekali, langsung dia Do.”
“Udah berapa banyak?”
“Lupa Ibuk, entah udah berapa banyak. Yang terakhir kali malah belum sempet ketemu, udah Masmu tolak. Kadang Ibuk mikir, sampe kapan dia mau kayakgitu.”
“Udah semua dikenalin?” tanya Rehani lagi.
“Udah.”
“Kalau sama yang udah kenal?”
“Kamu ini kok longor ya! Udah kenal kok malah di suruh kenal lagi, yang namanya dikenalin itu yang awalnya belum kenal," jawab Ice kesal.
“Iiiss ... susah memang ngomong sama Ibuk.”
“Makanya bicaramu jangan yang
aneh-aneh,” sahut Ice lagi.
“Gini loh Buk, tadi aku gak sengaja, ngeliat Mas Budi senyum-senyum liatin photo cewek di henponnya.”
“Itu tandanya Masmu masih normal.”
“Dari awal ngomong sama Ibuk, harusnya sambil makan timun. Ibuk apa gak pengen tau, itu yang di liatin photonya siapa?”
“Ya, udah pasti photo perempuan, 'kan? kamu udah bilang tadi.”
“Allahu Akbar, nyebuuut ... ya Allah. Ini kalau bukan Ibu kandung, udah aku paketin pake kardus, terus kirim siapa aja yang mau tanpa bayar Cod.”
“Huss ...” Ice menoyor Rehani.
“Habisnya Ibuk, dari tadi bikin darah naik tinggi ke puncak gunung. Ya, emang photonya itu photo perempuan, harusnya Ibuk tanya siapa perempuannya?”
“Siapa?” Ice bertanya dengan polos.
“Mbak Rini.”
“Hhaaa ....”
“Hhaaa ...," sahut Rehani.
"Jangan lebar-lebar Buk, di kondisiin, nanti masuk laler.”
“Kamu serius, Rehani? Kali ini, kamu gak ngawur 'kan?”
“Nggak. Ini serius pake banget. Jangan senyum-senyum. Pasti udah nyusun rencana.”
“Kenapa nggak bilang dari tadi sih, Re? Ibuk sampe noyor kamu tadi, maaf ya.” Ice pun tersenyum lebar.
“Jangan di umumin di mesjid dulu. Ini belum pasti. Jangan bilang juga, kalau tau ini dari aku.”
“Emangya orang ninggal, di umumin di mesjid. Eh, itu Masmu!”
“Rehani mandi dulu ya Buk, ingat jangan bilang dari Rehani!” Rehani segera berlalu pergi dengan cepat. Ia takut pembicaraannya dengan Ice didengar abangnya.
“Siipp.”
Sudah jadi rutinitas bagi Budi ketika hari libur, biasanya ia mengantar Ibu dan bapaknya mengunjungi sahabatnya.
“Buk, minggu ini Ibuk sama Bapak mau pergi gak ke rumahnya Bu Tuti?” tanya Budi ketika menghampiri Ice.
“Kamunya mau enggak nganterin pergi ke sana?”
“Ya mau lah Buk,” jawab Budi enteng.
Sementara Ice tersenyum menatap putranya yang tidak menatapnya balik.
“Ya sudah, besok kita ke sana.”
*
Esoknya mereka pun berangkat ke Semarang kota tinggal Rini dan keluarganya. Sementara orang tua Budi tinggal di Jepara. Budi sendiri tinggal di kota yang berbeda dengan orang tuanya, di Tangerang. Setelah menempuh perjalanan sekitar dua jam daei jalan tol, mereka pun sampai di rumah Rini.
Sebelumnya, orang tua Budi sudah memberi kabar pada sahabatnya perihal mereka yang akan datang berkunjung. Sudah pasti hal ini akan di sambut baik oleh keluarga Rini.
Orang tua Budi sudah lama mengenal Rini, bahkan sebelum Budi dan Rini lahir. Awal mulanya mereka adalah teman sekolah tetapi beda kelas. Yang Budi dengar dari ibunya, Ice satu kelas dengan ibunya Rini, sementara bapaknya Budi sekelas dengan bapaknya Rini. Masa orientasi siswa pada zaman itu adalah awal mereka saling mengenal dan saling menaruh hati hingga berlabuh di pelaminan sampai saat ini.
Orang tua Budi dulunya juga tinggal di kota yang sama dengan keluarga Rini. tetapi, karena tuntutan pekerjaan Arman dimutasi dari kota ini, membawa mereka tinggal di kota lain yang berbeda dengan keluarga Rini. Pada saat itu, Arman sudah menjadi pegawai negeri sipil dan tentunya dengan golongan dan gaji yang sudah bisa di katakan cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Berbeda dengan Anto, bapaknya Rini yang kala itu masih berstatus honor.
*
“Loh, tumben jam segini udah sampe. Biasanya tengah hari, baru nyampek Ce.”
“Kamu gak seneng ya, aku cepat sampe ke rumahmu?”
“Bukan gitu maksudku. Ya udah duduk dulu biar aku bikinin teh, kalau kamunya sampe sini tengah hari, 'kan aku udah selesai masak. Bisa langsung makan di sini.”
Obrolan itu biasa terjadi jika Ice sudah bertemu dengan sahabatnya. Ia Akan lupa sejenak dengan keadaan.
“Makanya aku dateng kesini lebih cepat, aku mau mampir ke rumah yang lain lagi, ke rumah saudara-saudara .Tau sendirilah nanti apa kata mereka, kalau aku datang, tapi enggak singgah ke rumah mereka."
“Anto mana Tut?” tanya Arman yang tak mendapati sahabat suaminya.
“Di belakang, lagi nyabut ubi.”
“Aku susul ya ke belakang. Biar aku bantu, sekalian mau minta juga.”
Budi tersenyum mendengar ucapan bapaknya.
“Ayo, Bud, ikut sekalian bantuin," sambung Arman lagi. Budi lalu beranjak dari duduknya mengikuti ajakan bapaknya.
“Budi baru nyetir, pasti capek. Istirahat dulu Bud!”
“Enggak capek kok Buk,” jawab Budi.
“Iya, Mas Budi gak capek kok, sekalian bisa liat-liat di belakang, mana tau yang di cari nemu,” ucap Rehani yang menatapku dengan sindiran.
Budi bersorak ria dalam hatinya, ia memang mencari-cari keberadaan Rini. Gerak geriknya ternyata di ketahui Rehani.
Budi memilih segera menyusul Arman yang sudah lebih dahulu ke arah belakang kebun Tuti. Daripada ia terus mendengar celoteh Rehani yang lebih lanjut.
Budipun melewati bagian samping rumah Tuti untuk sampai ke kebun yang dituju. Di bagian samping rumah Tuti ada sebuah pintu jati terbuka yang menghubungkan bagian dapur rumah Tuti. Diedarkan pandangan Budi ke arah bagian pintu yang terbuka itu. Didengar ada suara dentingan wajan yang beradu dengan pengaduknya. Ketika Budi berjalan hendak melewati daun pintu itu, ia mendapati sosok yang sedari tadi dicarinya dan ternyata sosok itu ada di sini.
“Baru nyampek, Mas?”
Pandangan keduanya saling beradu saat Rini menoleh ke arah Budi. Senyumnya juga mengembang kala menyapa.
“Iya,” jawab Budi, langkahnya pun ikut terhenti.
“Mau ikut nyusul Bapak juga, Mas?”
“Iya,” jawabnya lagi
“Dari tadi, iya, iya aja. Hihi.”
Entah bagaimana perasaan Budi. Budi merasa hatinya meleleh ditertawai oleh Rini.
“Mau bantuin ngambil ubi juga? Pasti jawabnya iya lagi. Iya 'kan Mas? hihi ....”
Budi hanya mengangguk karena malu.
"Jangankan ngambil ubi, ngambil kamu dari rumah orang tuamu juga aku mau," gumam Budi dalam hati.
“Kan, baru habis nyetir, apa gak capek? Mending istirahat dulu, Mas.”
"Capekku hilang, kalau udah liat kamu," gumam Budi lagi.
“Enggak kok. Mas, nyusul Bapak dulu ya.”
Dalam hati Budi lebih baik ia segera menyusul bapaknya,
daripada ia semakin tidak karuan melihat senyuman Rini.
"Huhh, andai kamu tau Rin, gimana perasaanku ini ....”