Pengakuan

1150 Kata
Betapa terkejutnya dua orang yang sedang berbaring di atas ranjang, bahkan tubuh mereka masih begitu lelah. "Nayra." Niko dengan cepat mengambil kimononya, sedang Lia begitu pucat pasi, akhirnya yang dia takuti akhirnya terjadi. PLAKKK "Dasar p*lacur kamu Lia, tidak tau balas Budi, kamu embat juga ayahku. Kurang baik apa lagi aku dengan keluargamu," maki Nayra langsung menarik rambut panjang Lia " Hentikan Nayra..." pinta Niko menjauhkan putrinya, takut Nayra menyakiti Lia "Dasar wanita mur*han, feelingku memang benar kamu bukan sahabat yang baik," maki Zara juga. "Tutup mulutmu Zara ini bukan urusan kamu." tegas Niko. "Jadi ayah malah membela pelacur ini," tujuk Nayra. Lia tertunduk dia tidak bisa membela dirinya, dirinya memang pelacur dan tak tau balas Budi. "Nayra," bentak Niko. "ayah kamu berani bela penghianat ini?" Nayra semakin marah, matanya memerah me natap sang ayah. ayah sudah mengenalnya sebelum kamu membawa Lia di kantor saat itu. Bahkan kami sudah memiliki hubungan khusus sebelumnya, ayah mencintainya," jelas Niko kepada putrinya dengan penuh keyakinan. Lia, Nayra begitu juga dengan Zara begitu terkejut dengan pengakuan Niko. Ketika mata menatap Niko dengan tatapan yang sulit diartikan, karena masing-masing dari mereka memiliki tanda tanya besar. "Mas, apa kamu sudah gila," ucap Zara yang begitu terluka. Niko yang tadi berdiri di depan Nayra mendekati Lia yang tertunduk mengeluarkan air matanya, pernyataan Niko tadi bukannya membuatnya bahagia namun membuatnya semakin terluka. Tubuh yang masih telanjang dalam selimut itu bergetar, suhu tubuh Lia mendadak naik. Nayra terus menatapi Lia dengan tatapan jijik, sahabatnya menjalin hubungan dengan ayahnya. Penghianatan yang begitu besar. Zara mendekati Nayra yang terlihat begitu marah dengan kenyataan ini. Sedangkan Sabrina yang sedari tadi mengintip tidak kalah terkejutnya melihat wanita yang satu ranjang dengan idolanya adalah Lia. Anak bau kencur itu. "Baby kamu kenapa?" Niko begitu panik melihat wajah Lia yang begitu pucat pasi dan kehilangan kesadarannya. Niko yang panik langsung menyambar ponselnya menghubungi Bram. Bram begitu terkejut di kamar majikannya ada Nayra dan Zara. Lebih terkejut lagi melihat kondisi Lia tak sadarkan diri diperlukan sang majikan. "Siapkan mobil kita kerumah sakit," titah Niko langsung mengangkat tubuh Lia yang berselimut selimut hotel. Niko tidak peduli dengan Nayra dan Zara, dia lebih menghawatirkan keadaan Lia saat ini. "Mas Niko..." panggil Zara akan tetapi Niko tetap berlalu bersama dengan Bram. "Kamu liatkan sekarang Nayra, kita tidak bisa berteman dengan kaum rendah, mereka akan memanfaatkan kita. Kamu liat sendiri sahabatmu itu, dia mencuri ayahmu dan ayahmu lebih perhatian pada sahabatmu itu," ucap Zara mempengaruhi Nayra, menyulutkan api kebencian di hati Nayra. "Aku gak akan pernah restuin hubungan mereka," sahut Nayra penuh kemarahan kemudian mereka berdua meninggalkan kamar hotel mewah itu. Didalam mobil Niko memangku Lia, terlihat Wajak Niko begitu panik bahkan Niko masih mengenakan kimono. Bram ingin bertanya namun dia takut melihat wajah majikannya. "Bram cari informasi siapa yang memberitahukan ini pada putriku. Bawa dia kehadapanku," titah Niko tegas. "Baik tuan," sahut Bram yang sedang mengemudikan mobilnya menuju kearah rumah sakit. Akhirnya mereka sampai dirumah sakit. Niko mengendong tubuh Lia masuk kedalam ruang IGD. Dia menjadi pusat perhatian disamping karena ketampanannya tapi yang menjadi perhatian utama adalah pakaian yang Niko kenakan dan wanita yang dia bawa masih berlilitkan selimut. Otak mereka mulai traveling kemana-mana. Bahkan ada banyak mata mencuri-curi pandang pada tubuh Niko. "Aku ingin dokter dan perawat wanita," ucap Niko tegas. Dokter wanita langsung melakukan tugasnya sebagai seorang dokter, dia tau tubuh pasiennya telanjang bulat. "Pak, panasnya terlalu tinggi sebaiknya putri bapak dirawat saja," ucap dokter itu, sengaja menyebutkan putri ingin tau status mereka. "Wanita ini kekasih saya bukan putri saya," jawan Niko dengan kesal. Apa wajahnya berlalu tua sampai dokter itu menganggap Lia tidak layak untuknya. "Maaf...," Dokter itu berkata dengan cepat merasa tidak enak, meskipun dia sengaja melakukannya. "Silahkan anda selesaikan prosedur rawat inap dahulu," ucap Dokter wanita itu. Niko langsung keluar mencari Bram memintanya mengurus administrasi. "Dok, kayaknya gadis ini kelelahan," ucap perawat wanita itu berbisik. "Ussss!!" tegur Dokter itu meski sang dokter berpendapat yang sama melihat betapa gagahnya laki-laki yang membawanya tadi. Perawat wanita itu mengganti pakaian Lia dengan pakaian rumah sakit, berapa terkejutnya dia melihat banyak tanda kepemilikan di leher, d**a perut dan paha Lia. Perawat itu membayangkan betapa liarnya laki-laki tadi. Kemudian perawat wanita itu memasangkan infus di tangan Lia. Lia mulai mendapatkan kesadarannya menatap tempatnya berada sekarang. "Saya dimana?" tanya Lia memastikan. "Baby kamu lagi ada dirumah sakit," Niko tiba-tiba sudah kembali. "Nayra?" tanyanya mengingat kejadian tadi. "Urusan Nayra kita bahas nanti yang penting kamu sehat dulu," sahut Niko membelai rambut Lia. "Nayra pasti membenciku " Lia kembali mengeluarkan air matanya. Perawat itu setelah melakukan pekerjaannya langsung meninggalkan mereka. "aku akan memberikan pengertian pada Nayra nanti. Untuk saat ini kamu fokus dulu pada kesehatan kamu," ucap Niko lembut tapi tidak bisa membuat hati Lia lebih baik. Lia di pindahkan kekamar rawat inap. Niko meminta Bram membatalkan semua janjinya beberapa hari kedepan dan memintanya mencari sekretaris yang baru menggantikan posisi Sabrina. Niko yakin ini semua ulah Sabrina. "Urus Sabrina dan keluarganya pastikan tidak ada yang mau menerimanya bekerja di kota ini," titah Niko tegas. "Baik tuan." Niko kembali ke ruang rawat inap Lia. Wajah cantik itu seakan tidak bersemangat seperti mayat hidup. Semua sudah berakhir, Dia kehilangan Nayra sahabat satu-satunya yang tulus mau berteman dengan kalangan menengah sepertinya. Niko duduk ditepi ranjang Lia, tangannya j menjapit dagu Lia memutarnya hingga kedua netra mereka bertemu. "Kamu tidak percaya sama aku?" tanyanya lembut. Lia tetap tidak menjawab kali ini pikirnya begitu kacau. Niko yang melihat wanitanya seperti ini begitu tidak tega, dia langsung memeluknya. "Baby, kita hadapi ini bersama-sama," ucapnya sembari menepuk-nepuk lembut punggung Lia. Pintu kamar dibuka kasar oleh seorang wanita yang umurnya dua tahun di bawah Niko, membuat spontan Lia keluar dari pelukan Niko, Wanita itu terlihat sangat marah, Lia begitu ketakutan Dengan cepat wanita itu mendekati Lia langsung menarik rambut Lia "Anak kurang ajar, p*****r tidak tau balas budi," teriak wanita itu yang tak lain ibunya Lia yang bernama Nuri. "Ampun Bu," mohon Lia dengan isak tangis sambil menahan sakit pada rambutnya. "Lepaskan Lia," Niko langsung menarik tangan Nuri dari rambut Lia dan langsung memeluk tubuh Lia "Kamu ibunya," tatapan Niko tajam. Nuri memang belum pernah bertemu dengan Niko, biasanya yang menghubungi Nuri adalah Bram. Tak lama berselang Nayra masuk dengan Zara dan seorang wanita tua yang masih terlihat cantik di usianya yang senja "Niko, kamu apa-apan ini," tegur wanita tua itu. Bram yang tadi mau keparkiran dan melihat rombongan itu langsung kembali kekamar Lia takutnya sang majikan membutuhkan bantuannya. "Niko tinggalkan gadis penggoda itu. Sudah cukup kamu berpetualang, Kamu harus menikah dengan Zara, putrimu ingin dia menjadi ibu sambungnya," tegas wanita itu dengan tatapan tajamnya kearah Lia yang berada dalam pelukan Niko. "Aku sudah dewasa Mom, Mommy tidak berhak mengatur hidupku," suara Niko begitu tegas dengan tatapan tajam kearah Nayra. Niko yakin ini ulah Zara mempengaruhi putrinya dan meminta dukungan kepada ibunya. "Kamu hanya punya satu pilihan putrimu atau p*****r itu." Mom, jaga perkataan Mommy Lia bukan p*****r," bentak Niko
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN