Betapa terkejutnya dua orang yang
sedang berbaring di atas ranjang,
bahkan tubuh mereka masih begitu
lelah.
"Nayra."
Niko dengan cepat mengambil
kimononya, sedang Lia begitu
pucat pasi, akhirnya yang dia
takuti akhirnya terjadi.
PLAKKK
"Dasar p*lacur kamu Lia, tidak tau
balas Budi, kamu embat juga
ayahku. Kurang baik apa lagi aku
dengan keluargamu," maki Nayra
langsung menarik rambut panjang
Lia " Hentikan Nayra..." pinta Niko
menjauhkan putrinya, takut Nayra
menyakiti Lia
"Dasar wanita mur*han, feelingku
memang benar kamu bukan
sahabat yang baik," maki Zara
juga.
"Tutup mulutmu Zara ini bukan
urusan kamu." tegas Niko.
"Jadi ayah malah membela
pelacur ini," tujuk Nayra. Lia
tertunduk dia tidak bisa membela
dirinya, dirinya memang pelacur
dan tak tau balas Budi.
"Nayra," bentak Niko.
"ayah kamu berani bela
penghianat ini?" Nayra semakin
marah, matanya memerah me
natap sang ayah.
ayah sudah mengenalnya
sebelum kamu membawa Lia di
kantor saat itu. Bahkan kami sudah
memiliki hubungan khusus
sebelumnya, ayah
mencintainya," jelas Niko kepada
putrinya dengan penuh keyakinan.
Lia, Nayra begitu juga dengan
Zara begitu terkejut dengan
pengakuan Niko. Ketika mata
menatap Niko dengan tatapan yang
sulit diartikan, karena
masing-masing dari mereka
memiliki tanda tanya besar.
"Mas, apa kamu sudah gila," ucap
Zara yang begitu terluka.
Niko yang tadi berdiri di depan
Nayra mendekati Lia yang
tertunduk mengeluarkan air
matanya, pernyataan Niko tadi
bukannya membuatnya bahagia
namun membuatnya semakin
terluka. Tubuh yang masih
telanjang dalam selimut itu
bergetar, suhu tubuh Lia
mendadak naik.
Nayra terus menatapi Lia dengan
tatapan jijik, sahabatnya menjalin
hubungan dengan ayahnya.
Penghianatan yang begitu besar.
Zara mendekati Nayra yang
terlihat begitu marah dengan
kenyataan ini. Sedangkan Sabrina
yang sedari tadi mengintip tidak
kalah terkejutnya melihat wanita
yang satu ranjang dengan idolanya
adalah Lia. Anak bau kencur itu.
"Baby kamu kenapa?"
Niko begitu panik melihat wajah
Lia yang begitu pucat pasi dan
kehilangan kesadarannya.
Niko yang panik langsung
menyambar ponselnya
menghubungi Bram. Bram begitu
terkejut di kamar majikannya ada
Nayra dan Zara. Lebih terkejut lagi
melihat kondisi Lia tak sadarkan
diri diperlukan sang majikan.
"Siapkan mobil kita kerumah
sakit," titah Niko langsung
mengangkat tubuh Lia yang
berselimut selimut hotel.
Niko tidak peduli dengan Nayra
dan Zara, dia lebih
menghawatirkan keadaan Lia saat
ini.
"Mas Niko..." panggil Zara akan
tetapi Niko tetap berlalu bersama
dengan Bram.
"Kamu liatkan sekarang Nayra,
kita tidak bisa berteman dengan
kaum rendah, mereka akan
memanfaatkan kita. Kamu liat
sendiri sahabatmu itu, dia mencuri
ayahmu dan ayahmu lebih
perhatian pada sahabatmu itu,"
ucap Zara mempengaruhi Nayra,
menyulutkan api kebencian di hati
Nayra.
"Aku gak akan pernah restuin
hubungan mereka," sahut Nayra
penuh kemarahan kemudian
mereka berdua meninggalkan
kamar hotel mewah itu.
Didalam mobil Niko memangku
Lia, terlihat Wajak Niko begitu
panik bahkan Niko masih
mengenakan kimono. Bram ingin
bertanya namun dia takut melihat
wajah majikannya.
"Bram cari informasi siapa yang
memberitahukan ini pada putriku.
Bawa dia kehadapanku," titah Niko
tegas.
"Baik tuan," sahut Bram yang
sedang mengemudikan mobilnya
menuju kearah rumah sakit.
Akhirnya mereka sampai dirumah
sakit. Niko mengendong tubuh Lia
masuk kedalam ruang IGD. Dia
menjadi pusat perhatian
disamping karena ketampanannya
tapi yang menjadi perhatian utama
adalah pakaian yang Niko kenakan
dan wanita yang dia bawa masih
berlilitkan selimut. Otak mereka
mulai traveling kemana-mana.
Bahkan ada banyak mata
mencuri-curi pandang pada tubuh
Niko.
"Aku ingin dokter dan perawat
wanita," ucap Niko tegas.
Dokter wanita langsung
melakukan tugasnya sebagai
seorang dokter, dia tau tubuh
pasiennya telanjang bulat.
"Pak, panasnya terlalu tinggi
sebaiknya putri bapak dirawat
saja," ucap dokter itu, sengaja
menyebutkan putri ingin tau status
mereka.
"Wanita ini kekasih saya bukan
putri saya," jawan Niko dengan
kesal. Apa wajahnya berlalu tua
sampai dokter itu menganggap
Lia tidak layak untuknya.
"Maaf...," Dokter itu berkata
dengan cepat merasa tidak enak,
meskipun dia sengaja
melakukannya.
"Silahkan anda selesaikan
prosedur rawat inap
dahulu," ucap Dokter wanita itu.
Niko langsung keluar mencari
Bram memintanya mengurus
administrasi.
"Dok, kayaknya gadis ini
kelelahan," ucap perawat wanita
itu berbisik.
"Ussss!!" tegur Dokter itu meski
sang dokter berpendapat yang
sama melihat betapa gagahnya
laki-laki yang membawanya tadi.
Perawat wanita itu mengganti
pakaian Lia dengan pakaian
rumah sakit, berapa terkejutnya
dia melihat banyak tanda
kepemilikan di leher, d**a perut
dan paha Lia. Perawat itu
membayangkan betapa liarnya
laki-laki tadi.
Kemudian perawat wanita itu
memasangkan infus di tangan
Lia. Lia mulai mendapatkan
kesadarannya menatap tempatnya
berada sekarang.
"Saya dimana?" tanya Lia
memastikan.
"Baby kamu lagi ada dirumah
sakit," Niko tiba-tiba sudah
kembali.
"Nayra?" tanyanya mengingat
kejadian tadi.
"Urusan Nayra kita bahas nanti
yang penting kamu sehat dulu,"
sahut Niko membelai rambut Lia.
"Nayra pasti membenciku "
Lia kembali mengeluarkan air
matanya. Perawat itu setelah
melakukan pekerjaannya langsung
meninggalkan mereka.
"aku akan memberikan
pengertian pada Nayra nanti.
Untuk saat ini kamu fokus dulu
pada kesehatan kamu," ucap Niko
lembut tapi tidak bisa membuat
hati Lia lebih baik.
Lia di pindahkan kekamar rawat
inap. Niko meminta Bram
membatalkan semua janjinya
beberapa hari kedepan dan
memintanya mencari sekretaris
yang baru menggantikan posisi
Sabrina. Niko yakin ini semua ulah
Sabrina.
"Urus Sabrina dan keluarganya
pastikan tidak ada yang mau
menerimanya bekerja di kota ini,"
titah Niko tegas.
"Baik tuan."
Niko kembali ke ruang rawat inap
Lia. Wajah cantik itu seakan tidak
bersemangat seperti mayat hidup.
Semua sudah berakhir, Dia
kehilangan Nayra sahabat
satu-satunya yang tulus mau
berteman dengan kalangan
menengah sepertinya.
Niko duduk ditepi ranjang Lia,
tangannya j menjapit dagu Lia
memutarnya hingga kedua netra
mereka bertemu.
"Kamu tidak percaya sama aku?"
tanyanya lembut.
Lia tetap tidak menjawab kali ini
pikirnya begitu kacau. Niko yang
melihat wanitanya seperti ini
begitu tidak tega, dia langsung
memeluknya.
"Baby, kita hadapi ini
bersama-sama," ucapnya sembari
menepuk-nepuk lembut punggung
Lia.
Pintu kamar dibuka kasar oleh
seorang wanita yang umurnya dua
tahun di bawah Niko, membuat
spontan Lia keluar dari pelukan
Niko, Wanita itu terlihat sangat
marah, Lia begitu ketakutan
Dengan cepat wanita itu mendekati
Lia langsung menarik rambut
Lia
"Anak kurang ajar, p*****r tidak
tau balas budi," teriak wanita itu
yang tak lain ibunya Lia yang
bernama Nuri.
"Ampun Bu," mohon Lia dengan
isak tangis sambil menahan sakit
pada rambutnya.
"Lepaskan Lia," Niko langsung
menarik tangan Nuri dari rambut
Lia dan langsung memeluk tubuh
Lia
"Kamu ibunya," tatapan Niko
tajam.
Nuri memang belum pernah
bertemu dengan Niko, biasanya
yang menghubungi Nuri adalah
Bram.
Tak lama berselang Nayra masuk
dengan Zara dan seorang wanita
tua yang masih terlihat cantik di
usianya yang senja
"Niko, kamu apa-apan ini," tegur
wanita tua itu.
Bram yang tadi mau keparkiran
dan melihat rombongan itu
langsung kembali kekamar Lia
takutnya sang majikan
membutuhkan bantuannya.
"Niko tinggalkan gadis penggoda
itu. Sudah cukup kamu
berpetualang, Kamu harus
menikah dengan Zara, putrimu
ingin dia menjadi ibu
sambungnya," tegas wanita itu
dengan tatapan tajamnya kearah
Lia yang berada dalam pelukan
Niko.
"Aku sudah dewasa Mom, Mommy
tidak berhak mengatur hidupku,"
suara Niko begitu tegas dengan
tatapan tajam kearah Nayra. Niko
yakin ini ulah Zara mempengaruhi
putrinya dan meminta dukungan
kepada ibunya.
"Kamu hanya punya satu pilihan
putrimu atau p*****r itu."
Mom, jaga perkataan
Mommy
Lia bukan p*****r," bentak Niko