Niko sudah tidak tahan lagi melihat
Lia dipojokan seperti ini. Dia
mempererat pelukannya pada
tubuh mungil Lia yang membuat
putrinya dan ibunya semakin tidak
membenci Lia yang dianggap anak
tidak tau diri itu.
"Kamu ibunya si Lia? Kasih tau
putrimu itu kecil-kecil sudah jadi
p*lacur," Rianti ibunya Niko
menghina Nuri membuat Nuri
semakin dibuat malu oleh
putrinya.
"Mommy, sebaiknya pulang
kerumah sekarang bawa Nayra,
jangan bikin keributan di kamar
ini," bentak Niko lagi.
Rianti malah mendekati Niko dan
Lia menarik Lia dari pelukan
Niko. Niko langsung menepis
tangan ibunya, tidak mau
melepaskan Lia. Niko tau
bagaimana perasaan Lia saat ini.
"Pergi kalian semua sebelum aku
perintahkan Bram memanggil
bodyguard mengusir kalian dari
ruangan ini," tegas Niko lagi.
"Niko kamu berani kasar sama
Mommy."
"Aku bisa bersikap kasar dengan
siapapun yang sudah berani
menantangku," suara Niko
terdengar begitu serius membuat
yang mendengar langsung
bergelidik ngeri.
Nayra yang hendak protes
langsung menutup mulutnya saat
sang ayah mengangkat satu
tangannya. Jika sudah seperti ini
tidak ada yang berani lagi, dan
mereka memilih untuk pulang
meski dengan hati yang kesal.
Nuri masih berada didalam
ruangan begitu juga dengan Bram.
Nuri menatap kecewa kearah
putrinya yang sedang menangis
didalam pelukan laki-laki yang
pantasnya jadi ayahnya.
"Lia kenapa kamu lakukan ini?
Kenapa kamu menjadi wanita tidak
tau malu seperti ini?" cerca ibunya.
"Tidak tau malu kata anda," serang
Niko yang tidak terima.
" jangan," pinta Lia.
Bukan Niko namanya jika dia mudah
diatur oleh seseorang, sifat keras
kepalanya sudah mendarah daging,
apalagi melihat hal yang tidak adil
seperti ini.
"Putrimu berkorban sampai
seperti ini anda masih bilang tidak
tau malu," Niko masih sedikit
menghargai ibunya Lia karena dia
sudah jatuh cinta kepada gadis itu.
Otomatis wanita di depannya
adalah calon ibu mertuanya.
"Saya tidak pernah menyuruhnya
melakukan hal yang memalukan
ini," Nuri membela dirinya.
Bram saja yang mendengar kata
yang terlontar dari mulut ibunya
Lia seakan ingin sekali
memasukan cabe kedalamnya.
Tidak punya otak itu yang terlintas
di kepalanya saat ini. Kenapa
ibunya tidak pernah berfikir anak
seumuran Lia mencari uang
sebanyak itu. Bahkan seorang
manager sekalipun tidak
mendapatkan penghasilan seperti
ini. Egois itu yang ada di kepala
Bram menilai ibu Lia.
"Anda tidak menyuruh kata anda?
Siapa yang menangis minta
anaknya meminjam uang
malam-malam? Kenapa tidak anda
saja yang pergi meminjam uang
kepada teman-teman anda?" desis
Niko tajam membuat Nuri
langsung bungkam tidak bisa
menjawab.
"Kalo bukan karena kasian dengan
Lia yang menjual dirinya
kepada seorang rentenir saya tidak
akan pernah membantu anda. Saya
melihat ketulusan Lia dan rasa
sayangnya kepada adiknya
membuat saya tersentuh dan ingin
melindunginya. Saya bukan
laki-laki munafik, saya memang
menyukai putri anda," ucap Niko.
"Tapi putri saya masih kecil, dia
seumuran putri anda tuan."
"Kita tidak akan pernah bisa
menduga perasaan kita akan
terpaut dengan siapa," jawab Niko.
"Bram, urus semuanya. Saya tidak
ingin Lia kepikiran lagi masalah
adiknya," titah Niko yang
mengetahui hari ini, Deon adik
Lia sudah diijinkan pulang oleh
pihak rumah sakit hanya perlu
rawat jalan.
Bram mendekati ibunya Lia
mengajaknya meninggalkan
ruangan itu. Meski Bu Nuri masi
ingin memarahi putrinya tetapi dia
tidak mau mendapatkan
semprotan dari pria yang
berpengaruh itu.
Lia masih menangis terisak di
dada bidang itu.
"Baby maaf sudah membuatmu
seperti ini. Kedepannya aku
yang akan menjaga kamu. Untuk
masalah adikmu kamu jangan
khawatir adikmu akan tetap
mendapatkan perawatan yang
terbaik," ucap Niko begitu lembut
dia berusaha menenangkan Lia.
Sementara diluar ternyata Nayra,
Rianti dan Zara menunggu Nuri di
luar. Beruntung Bram ada disana
setidaknya ketiga wanita itu tidak
terlalu berani bersikap keterlaluan.
"Kasih tau anakmu jauhi putraku,"
perintah Rianti.
"Nyonya bukankan anda tadi liat,
saya juga memarahi putri saya,
bahkan saya tidak tau masalah ini
kalo tidak Nayra yang telpon saya,"
jawabnya.
"Bram kenapa kamu tidak kasih tau
saya atau Nayra masalah ini,"
tegur Rianti.
"Nyonya saya hanya seorang
asisten!! Aturan seorang asisten
anda tau persis harus setia pada
majikannya," jawab Bram tegas
tanpa takut sedikitpun tetapi tetap
sopan
"Mom, percuma ngomong sama
dia, karena dia sendiri yang
menjemput p*****r itu bertemu
dengan Niko," sela Zara.
"Nona Lia nyonya Zara," sela
Bram dengan beraninya.
Nona Lia tidak pernah mengejar
tuan seperti wanita lainnya, justru
tuan besar yang mencarinya,"
skakmat Bram.
"Bram kamu tidak sopan," tegur
Rianti menatap tajam sang asisten
yang dibalas dengan senyuman
oleh asisten tampan itu.
"Saya hanya mengatakan faktanya
saja," sahut Bram dengan
senyuman yang masih terukir di
wajahnya.
Setelah dirawat selama dua hari
kondisi Lia sudah membaik akan
tetapi hatinya sangat kacau.
Bagaimana kedepannya dia harus
menjalani hidup ini. Sekarang dia
tidak punya sahabat lagi,
sahabatnya pasti sangat
membencinya.
Lia meneteskan air matanya, dia
juga tidak tau apa yang akan
ibunya lakukan, dia begitu
merindukan adiknya Deon yang
yang sudah dua hari ini tidak bisa
dia hubungi. Apa yang terjadi?
Bahkan ponsel ibunya juga tidak
bisa dia hubungi.
Selama dua hari ini Niko tidak
pernah meninggalkan Lia meski
sedetikpun. Bukan tanpa alasan
Niko melakukan itu. Dia hanya
takut Lia ditekan oleh
keluarganya, dia tidak ingin Lia
tambah stres lagi.
"Baby, untuk sementara kamu
tinggal dulu diapartemen aku
yang lain," ucap Niko sambil
menggengam tanggan nya dan
mengecupnya dengan lembut
" tolong lepaskan Lia,"
pintanya lagi, tidak ada sinar
kebahagiaan dimatanya sama
sekali.
"Tidak akan, kamu selamanya
milik aku," tegas Niko." Kita
pulang sekarang," ajak Niko.
" Lia kangen sama Deon
selama dua hari ini Lia tidak bisa
menghubunginya."
"Deon baik-baik saja kamu jangan
menghawatirkannya."
Niko membantu Lia, duduk di
kursi roda namun Lia menolak,
dirinya sudah cukup kuat,
kondisinya tubuhnya sudah pulih
hanya otaknya yang lagi
bermasalah.
Mereka berjalan keluar
meninggalkan ruangan rawat inap
Lia menuju kearah mobil yang
sudah menunggu Lia.
",Lia ingin pulang liat Deon,"
pintanya.
Niko tidak tega melihat wanitanya
bersedih, dia meminta Bram putar
arah membawa Lia pergi
kerumahnya. Lia keluar dari
mobil., Warga kompleknya yang
memang sering berkumpul
melemparkan pandangan jijik
kearahnya. Niko mengerutkan
keningnya, melihat tatapan jijik
dari mereka yang tertuju kepada
Lia .Niko mengaitkan tangan mereka
guna memberi dukungan kepada
Lia. Mobil yang dikendarai oleh
Bram terparkir tepat didepan
rumahnya yang kecil.
Bram membukakan pintu untuk
mereka.
"Kecil-kecil sudah jadi pelacur."
Salah satu dari ibu kompleks
menyerukan itu saat Lia keluar
dari mobil. Niko dan Bram begitu
nyata mendengarnya.
Langkah kaki Niko langsung
menuju kearah ibu itu. Tentu saja
ibu-ibu itu mundur kebelakang
antara kagum sama takut yang
bersamaan melihat sosok tinggi
besar dihadapanya.
"Siapa yang membayar Kamu?"
tanya Niko tanpa basa-basi. Dia
begitu yakin ada dalang dibalik
semua ini. Tidak mungkin jika
kalangan mines di bawahnya
mengetahui masalahnya apalagi
berita ini tidak heboh seperti
Berita artis
Wanita itu terlihat terkejut,
sedangkan Lia hanya tertunduk
disamping Niko, dia tidak berani
menatap ibu-ibu komplek itu.
"Maksud anda apa ya?" tanya
wanita itu pura-pura tidak
mengerti.
Niko yang kadang memiliki
masalah dengan kesabaran
alih-alih menjawab pertanyaan
wanita itu malah langsung
menurunkan perintah.
"Bram, laporkan mereka kekantor
polisi dengan tuduhan tindakan
membuat perasaan tidak
menyenangkan," tegas Niko. Dia
semakin yakin membawa Lia
tinggal di apartemennya terlebih
dahulu,
Niko dan Lia meninggalkan ibu-ibu
komplek itu biar diurus oleh Bram.
Ternyata ibunya sudah
menghadangnya di pintu masuk.
Terlibat sebuah tas ransel sudah
ada ditangannya dan dia
lemparkan kearah Lia. Dia tidak
peduli Niko disebelahnya.
"Pergi, jangan pernah menginjakan
kan kakimu dirumah ini. Ibu sudah
menganggap mu mati. Anak tidak
tau terimakasih, anjing saja tidak
akan mengkhianati tuannya," caci
ibunya.
Lia melepaskan tautan tangan
lalu bersujud dikaki ibunya
namun ditepis oleh wanita itu
dengan kasar. Niko tidak tahan
melihat Lia diperlakukan seperti itu.
"Ibu, maafin L8a," ucapnya sambil
menangis di kaki ibunya memohon
ampun.
"Kapan Nayra mengampuni
kamu
baru ibu akan mengampuni kamu
juga. DanJangan pernah temui
Deon lagi," tegasnya.
"Anda akan menyesal membuang
permata," sela Niko dengan tatapan
tajamnya.
Niko meraih bahu Lia
menuntunnya untuk berdiri. Air
mata terus mengalir.
"Lia sayang, kamu anak yang
berbakti serta seorang kakak yang
bertanggungjawab dan rela
mengorbankan dirimu. Bukan
kamu yang salah, justru mereka
yang tidak bisa melihat
kebaikanmu. Suatu saat mereka
pasti akan menyesal," Niko
menghapus air matanya, lalu
menggiring Lia pergi
meninggalkan rumah itu, kearah
mobil.
Begitu berat beban hidup yang
Lia pikul oleh tubuhnya yang
kurus ini. Jika tidak ada Niko
mungkin dia sudah terjatuh saking
lemahnya.
Bram yang terus menyimak tidak
tega melihat Lia, kenapa gadis
sebaik Lia harus diperlakukan
seperti ini oleh ibunya dan
lingkungannya. Bram sudah
menemukan dalangnya siapa lagi
klo bukan Zara dan Nayra.
" tolong antar Lia cari kost
an murah," pinta Lia.
" maaf Lia gak bisa lagi
kerja sama kamu. Lia mau
bekerja lagi ditempat Lia yang
dulu, Lia janji akan mencicil
hutang Lia," imbuh gadis itu
dengan kepala tertunduk.
Niko yang duduk disampingnya
cukup terkejut disaat wanita lain
ingin selalu nempel dengan nya
kenapa justru Lia ingin
menjauhinya.