Penderitaan Lia

1430 Kata
Niko sudah tidak tahan lagi melihat Lia dipojokan seperti ini. Dia mempererat pelukannya pada tubuh mungil Lia yang membuat putrinya dan ibunya semakin tidak membenci Lia yang dianggap anak tidak tau diri itu. "Kamu ibunya si Lia? Kasih tau putrimu itu kecil-kecil sudah jadi p*lacur," Rianti ibunya Niko menghina Nuri membuat Nuri semakin dibuat malu oleh putrinya. "Mommy, sebaiknya pulang kerumah sekarang bawa Nayra, jangan bikin keributan di kamar ini," bentak Niko lagi. Rianti malah mendekati Niko dan Lia menarik Lia dari pelukan Niko. Niko langsung menepis tangan ibunya, tidak mau melepaskan Lia. Niko tau bagaimana perasaan Lia saat ini. "Pergi kalian semua sebelum aku perintahkan Bram memanggil bodyguard mengusir kalian dari ruangan ini," tegas Niko lagi. "Niko kamu berani kasar sama Mommy." "Aku bisa bersikap kasar dengan siapapun yang sudah berani menantangku," suara Niko terdengar begitu serius membuat yang mendengar langsung bergelidik ngeri. Nayra yang hendak protes langsung menutup mulutnya saat sang ayah mengangkat satu tangannya. Jika sudah seperti ini tidak ada yang berani lagi, dan mereka memilih untuk pulang meski dengan hati yang kesal. Nuri masih berada didalam ruangan begitu juga dengan Bram. Nuri menatap kecewa kearah putrinya yang sedang menangis didalam pelukan laki-laki yang pantasnya jadi ayahnya. "Lia kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu menjadi wanita tidak tau malu seperti ini?" cerca ibunya. "Tidak tau malu kata anda," serang Niko yang tidak terima. " jangan," pinta Lia. Bukan Niko namanya jika dia mudah diatur oleh seseorang, sifat keras kepalanya sudah mendarah daging, apalagi melihat hal yang tidak adil seperti ini. "Putrimu berkorban sampai seperti ini anda masih bilang tidak tau malu," Niko masih sedikit menghargai ibunya Lia karena dia sudah jatuh cinta kepada gadis itu. Otomatis wanita di depannya adalah calon ibu mertuanya. "Saya tidak pernah menyuruhnya melakukan hal yang memalukan ini," Nuri membela dirinya. Bram saja yang mendengar kata yang terlontar dari mulut ibunya Lia seakan ingin sekali memasukan cabe kedalamnya. Tidak punya otak itu yang terlintas di kepalanya saat ini. Kenapa ibunya tidak pernah berfikir anak seumuran Lia mencari uang sebanyak itu. Bahkan seorang manager sekalipun tidak mendapatkan penghasilan seperti ini. Egois itu yang ada di kepala Bram menilai ibu Lia. "Anda tidak menyuruh kata anda? Siapa yang menangis minta anaknya meminjam uang malam-malam? Kenapa tidak anda saja yang pergi meminjam uang kepada teman-teman anda?" desis Niko tajam membuat Nuri langsung bungkam tidak bisa menjawab. "Kalo bukan karena kasian dengan Lia yang menjual dirinya kepada seorang rentenir saya tidak akan pernah membantu anda. Saya melihat ketulusan Lia dan rasa sayangnya kepada adiknya membuat saya tersentuh dan ingin melindunginya. Saya bukan laki-laki munafik, saya memang menyukai putri anda," ucap Niko. "Tapi putri saya masih kecil, dia seumuran putri anda tuan." "Kita tidak akan pernah bisa menduga perasaan kita akan terpaut dengan siapa," jawab Niko. "Bram, urus semuanya. Saya tidak ingin Lia kepikiran lagi masalah adiknya," titah Niko yang mengetahui hari ini, Deon adik Lia sudah diijinkan pulang oleh pihak rumah sakit hanya perlu rawat jalan. Bram mendekati ibunya Lia mengajaknya meninggalkan ruangan itu. Meski Bu Nuri masi ingin memarahi putrinya tetapi dia tidak mau mendapatkan semprotan dari pria yang berpengaruh itu. Lia masih menangis terisak di dada bidang itu. "Baby maaf sudah membuatmu seperti ini. Kedepannya aku yang akan menjaga kamu. Untuk masalah adikmu kamu jangan khawatir adikmu akan tetap mendapatkan perawatan yang terbaik," ucap Niko begitu lembut dia berusaha menenangkan Lia. Sementara diluar ternyata Nayra, Rianti dan Zara menunggu Nuri di luar. Beruntung Bram ada disana setidaknya ketiga wanita itu tidak terlalu berani bersikap keterlaluan. "Kasih tau anakmu jauhi putraku," perintah Rianti. "Nyonya bukankan anda tadi liat, saya juga memarahi putri saya, bahkan saya tidak tau masalah ini kalo tidak Nayra yang telpon saya," jawabnya. "Bram kenapa kamu tidak kasih tau saya atau Nayra masalah ini," tegur Rianti. "Nyonya saya hanya seorang asisten!! Aturan seorang asisten anda tau persis harus setia pada majikannya," jawab Bram tegas tanpa takut sedikitpun tetapi tetap sopan "Mom, percuma ngomong sama dia, karena dia sendiri yang menjemput p*****r itu bertemu dengan Niko," sela Zara. "Nona Lia nyonya Zara," sela Bram dengan beraninya. Nona Lia tidak pernah mengejar tuan seperti wanita lainnya, justru tuan besar yang mencarinya," skakmat Bram. "Bram kamu tidak sopan," tegur Rianti menatap tajam sang asisten yang dibalas dengan senyuman oleh asisten tampan itu. "Saya hanya mengatakan faktanya saja," sahut Bram dengan senyuman yang masih terukir di wajahnya. Setelah dirawat selama dua hari kondisi Lia sudah membaik akan tetapi hatinya sangat kacau. Bagaimana kedepannya dia harus menjalani hidup ini. Sekarang dia tidak punya sahabat lagi, sahabatnya pasti sangat membencinya. Lia meneteskan air matanya, dia juga tidak tau apa yang akan ibunya lakukan, dia begitu merindukan adiknya Deon yang yang sudah dua hari ini tidak bisa dia hubungi. Apa yang terjadi? Bahkan ponsel ibunya juga tidak bisa dia hubungi. Selama dua hari ini Niko tidak pernah meninggalkan Lia meski sedetikpun. Bukan tanpa alasan Niko melakukan itu. Dia hanya takut Lia ditekan oleh keluarganya, dia tidak ingin Lia tambah stres lagi. "Baby, untuk sementara kamu tinggal dulu diapartemen aku yang lain," ucap Niko sambil menggengam tanggan nya dan mengecupnya dengan lembut " tolong lepaskan Lia," pintanya lagi, tidak ada sinar kebahagiaan dimatanya sama sekali. "Tidak akan, kamu selamanya milik aku," tegas Niko." Kita pulang sekarang," ajak Niko. " Lia kangen sama Deon selama dua hari ini Lia tidak bisa menghubunginya." "Deon baik-baik saja kamu jangan menghawatirkannya." Niko membantu Lia, duduk di kursi roda namun Lia menolak, dirinya sudah cukup kuat, kondisinya tubuhnya sudah pulih hanya otaknya yang lagi bermasalah. Mereka berjalan keluar meninggalkan ruangan rawat inap Lia menuju kearah mobil yang sudah menunggu Lia. ",Lia ingin pulang liat Deon," pintanya. Niko tidak tega melihat wanitanya bersedih, dia meminta Bram putar arah membawa Lia pergi kerumahnya. Lia keluar dari mobil., Warga kompleknya yang memang sering berkumpul melemparkan pandangan jijik kearahnya. Niko mengerutkan keningnya, melihat tatapan jijik dari mereka yang tertuju kepada Lia .Niko mengaitkan tangan mereka guna memberi dukungan kepada Lia. Mobil yang dikendarai oleh Bram terparkir tepat didepan rumahnya yang kecil. Bram membukakan pintu untuk mereka. "Kecil-kecil sudah jadi pelacur." Salah satu dari ibu kompleks menyerukan itu saat Lia keluar dari mobil. Niko dan Bram begitu nyata mendengarnya. Langkah kaki Niko langsung menuju kearah ibu itu. Tentu saja ibu-ibu itu mundur kebelakang antara kagum sama takut yang bersamaan melihat sosok tinggi besar dihadapanya. "Siapa yang membayar Kamu?" tanya Niko tanpa basa-basi. Dia begitu yakin ada dalang dibalik semua ini. Tidak mungkin jika kalangan mines di bawahnya mengetahui masalahnya apalagi berita ini tidak heboh seperti Berita artis Wanita itu terlihat terkejut, sedangkan Lia hanya tertunduk disamping Niko, dia tidak berani menatap ibu-ibu komplek itu. "Maksud anda apa ya?" tanya wanita itu pura-pura tidak mengerti. Niko yang kadang memiliki masalah dengan kesabaran alih-alih menjawab pertanyaan wanita itu malah langsung menurunkan perintah. "Bram, laporkan mereka kekantor polisi dengan tuduhan tindakan membuat perasaan tidak menyenangkan," tegas Niko. Dia semakin yakin membawa Lia tinggal di apartemennya terlebih dahulu, Niko dan Lia meninggalkan ibu-ibu komplek itu biar diurus oleh Bram. Ternyata ibunya sudah menghadangnya di pintu masuk. Terlibat sebuah tas ransel sudah ada ditangannya dan dia lemparkan kearah Lia. Dia tidak peduli Niko disebelahnya. "Pergi, jangan pernah menginjakan kan kakimu dirumah ini. Ibu sudah menganggap mu mati. Anak tidak tau terimakasih, anjing saja tidak akan mengkhianati tuannya," caci ibunya. Lia melepaskan tautan tangan lalu bersujud dikaki ibunya namun ditepis oleh wanita itu dengan kasar. Niko tidak tahan melihat Lia diperlakukan seperti itu. "Ibu, maafin L8a," ucapnya sambil menangis di kaki ibunya memohon ampun. "Kapan Nayra mengampuni kamu baru ibu akan mengampuni kamu juga. DanJangan pernah temui Deon lagi," tegasnya. "Anda akan menyesal membuang permata," sela Niko dengan tatapan tajamnya. Niko meraih bahu Lia menuntunnya untuk berdiri. Air mata terus mengalir. "Lia sayang, kamu anak yang berbakti serta seorang kakak yang bertanggungjawab dan rela mengorbankan dirimu. Bukan kamu yang salah, justru mereka yang tidak bisa melihat kebaikanmu. Suatu saat mereka pasti akan menyesal," Niko menghapus air matanya, lalu menggiring Lia pergi meninggalkan rumah itu, kearah mobil. Begitu berat beban hidup yang Lia pikul oleh tubuhnya yang kurus ini. Jika tidak ada Niko mungkin dia sudah terjatuh saking lemahnya. Bram yang terus menyimak tidak tega melihat Lia, kenapa gadis sebaik Lia harus diperlakukan seperti ini oleh ibunya dan lingkungannya. Bram sudah menemukan dalangnya siapa lagi klo bukan Zara dan Nayra. " tolong antar Lia cari kost an murah," pinta Lia. " maaf Lia gak bisa lagi kerja sama kamu. Lia mau bekerja lagi ditempat Lia yang dulu, Lia janji akan mencicil hutang Lia," imbuh gadis itu dengan kepala tertunduk. Niko yang duduk disampingnya cukup terkejut disaat wanita lain ingin selalu nempel dengan nya kenapa justru Lia ingin menjauhinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN