Terimakasih, Bapak

1436 Kata
“Sa-saya …” Rendi gelagapan. “Saya selesai buang air kecil jadinya dicuci dulu agar bersih.” Tetap mengusap jagoannya yang masih berdiri tegak. Bukannya menyembunyikannya dari Naya. Bukannya Rendi tidak segan ataupun tak tahu malu. Akan tetapi, busa sabun masih membaluti tidak mungkin dimasukkan tanpa dibilas. Dan rasanya ini sudah sampai di ujung ubun-ubun. “Ah, begitu.” Naya mengusap tengkuknya. Mencuri pandang pada jagoan Rendi yang panjang dan kokoh. Kalau tak salah dalam melihat ukuran Rendi melebihi jengkal tangannya. Dengan ukuran yang sangat besar. “Aku balik ke gudang dulu, ya, Pak.” Naya pamit. Tapi tak kunjung melangkah pergi dari ambang pintu. Kakinya terasa terpaku di lantai, tidak sanggup bergerak sama sekali. “Naya … Nay!” Suara Kendra menggema. Tepat saat Rendi ingin membuka mulutnya untuk mempersilahkan Naya untuk kembali ke gudang. Alih-alih menutup pintu kamar mandi dan menemui Kendra, Naya yang tersentak justru masuk ke kamar mandi. Menutup, dan mengunci pintu agar Kendra tidak bisa masuk. Rendi yang kini berada di belakang Naya hanya bisa meneguk ludah. “Tidur kamu. Ayah sedang tak baik-baik saja.” Gumamnya dalam hati. Berusaha menetralkan hasrat yang tak sanggup lagi dibendung. Ingin rasanya Rendi menarik Naya dan mengangkat daster selutut yang gadis cantik itu kenakan. “Naya!!” sergah Kendra di ambang pintu gudang. Nafasnya memburu, mencari keberadaan Naya. “Ken, sudahlah. Dia tidak ada di rumah. Palingan kini dia sudah pergi ke tempat juragan judi untuk melayani orang-orang disana. Membayar hutang ayahnya yang sudah setinggi gunung?” Susul Aira. Memeluk Kendra dari belakang. “Ayo kita tidur!” ajak Aira dengan suara manja. Seraya mengusap pangkal paha Kendra yang tertidur. Tidak berselera dengan Aira yang longgar. Ingin menolak. Tapi, Kendra lama-lama tak sanggup juga menahan diri atas godaan Aira. Terlebih lagi hatinya panas tak mendapati Naya di gudang. Otaknya yang dipenuhi pikiran buruk terhadap Naya, tentu saja membenarkan apa yang dikatakan Aira. “Pak, aku balik ke kamar dulu. Mas Kendra sudah pergi!” Tanpa merasa bersalah sedikitpun, Naya segera keluar dan menutup pintu kamar mandi. Setelah memastikan kalau Kendra dan Aira benar-benar telah kembali ke kamar mereka. Meninggalkan Rendi, yang pusing sendiri melihat kelakuan menantunya itu. “Bisa-bisanya dia melengos pergi seperti tak ada yang terjadi,” keluh Rendi, menatap jagoannya yang masih berdiri tegak. “Kamu juga, bukannya tidur malah berdiri begini. Kalau dikasih sabun nggak pernah mau lepas dengan cepat. Coba dikasih Herni, dua kali tusuk kamu udah muntah-muntah.” Sambungnya dalam hati. Mengguyur jagoannya dengan air hingga bersih. Tubuh Rendi yang telah lelah tak memungkinkan lagi baginya untuk tetap berdiri dan mengelus hingga lepas yang akan memakan waktu cukup lama. Alhasil, dengan sangat terpaksa Rendi ke kamar. Naik ke ranjang dan menyingkap selimut Herni. “Bu, Ayah izin masuk, ya,” bisiknya. Membuka paha Herni dan menyentuhnya disana. “Tidak boleh! Ayah berani menampar dan memarahi aku!” dengus Herni, menepis tangan Rendi dan menekuk kedua kakinya, agar Rendi tak bisa menyentuh apalagi masuk ke dalam tubuhnya. Rendi menghela nafas gusar. Jagoannya tak kunjung tidur, Herni tak mau memberi. “Ayah ada simpanan dua juta. Bisa Ibu gunakan untuk berbelanja.” Meraih kaki Herni dan meluruskannya. “Dua juta dan berjanji tidak akan pernah marah seperti tadi.” Satu sudut bibir Herni terangkat. “Iya.” “Silahkan.” Herni membuka kedua pahanya lebar-lebar. Setelah melepaskan celana dalamnya. Hingga Rendi bisa melihat tempat jagoannya bisa bersarang. Rendi bertumpu pada kedua lututnya. Masuk dan mulai bergerak mencari kepuasan sendiri. Sedangkan Herni hanya diam menikmati dengan mata terpejam. “Sudah!” Rendi kembali merapikan daster Herni dan memakai celananya dengan baik. Sedikit mendengus, ia langsung berbaring, miring, menatap Herni yang acuh saja padanya. Ada sedikit rasa bersalah di hati Rendi karena tak mampu melayani Herni dengan baik. Selalu begitu, baru saja masuk ia sudah mendapatkan pelepasan. Rasanya tak nikmat sama sekali, tapi cukup untuk membuat jagoannya tenang. “Kalau menggunakan sabun saja, kamu tahan berlama-lama berdiri. Kalau masuk ke dalam istriku, kamu malah tak sanggup bertahan meskipun hanya lima menit,” gerutunya dalam hati. Mengusap jagoannya yang kini kesemutan setelah membasahi rahim Herni. Di gudang sana Naya tidak sanggup untuk tidur. Sedari tadi ia hanya balik kesana kemari. Mencari posisi yang enak untuk tidur. Sedangkan otaknya masih saja membayangkan bagaimana Kendra dan Aira. Bagaimana besarnya jagoan Rendi yang tertutup busa sabun. Tubuh Naya juga masih bisa merasakan hangatnya sentuhan Rendi di dua titik. Tak henti-hentinya sedari tadi Naya menghela nafas. Gelisah saja karena rasa aneh pada inti tubuhnya. Mengikuti rasa nikmat saat Rendi menangkup salah satu dadanya, Naya mulai bermain sendiri. Mengusap dan memilin ujung dadanya sampai terlelap sendiri. “Naya!!” Suara Herni menggema. Memecah keheningan di saat semua orang masih terlelap dalam tidur. Termasuk Naya yang kini terlonjak. Kaget mendengar suara tinggi Herni di depan pintu. “A-ada apa, Bu?” Naya mengusap wajahnya, mengusir rasa kantuk yang masih mendera. Baru pukul empat subuh, Herni sudah berteriak-teriak. Wajar saja Naya masih tak mampu membuka mata dengan baik dan belum sadar sepenuhnya. “Kamu, ya! Jam segini masih tidur? Bukannya masak di dapur. Kamu tidak ingat, Kendra baru saja selesai menikah dan sekarang ada Aira disini. Pengantin baru itu tidak boleh mandi air dingin jadi kamu harus panaskan air untuk Aira. Kamu juga harus masak karena dia tidak suka masakan kemarin,” cecar Herni, tanpa peduli apakah Naya mendengar atau tidak. Naya hanya mengangguk. “Aku ganti baju dulu, ya, Bu. Nggak enak pakai daster pendek ini.” Berbalik untuk mengganti pakaiannya. Namun, langkah Naya seketika berhenti karena Herni menahan tangannya. “Nggak ada waktu. Sebentar lagi Aira bangun. Cepat masak. Kalau sudah selesai, baru kamu masuk ke gudang. Jangan keluar sampai Kendra pergi ke toko.” Menyeret Naya menuju ke dapur. Tidak ingin dibantah, Herni tak mengizinkannya kembali ke gudang. Naya hanya mendesah panjang. Mau protes tidak bisa apalagi menolak karena hidupnya sudah tergadai. Agar tak membayar ganti rugi atas kelakuan sang ayah. Dalam hening Naya memanaskan air. Duduk di sebuah kursi yang tidak jauh dari kompor, menunggu air mendidih dan menyalin ke sebuah ember. Aira sudah dewasa, tentu saja air yang dibutuhkan tidak bisa satu dandang saja. Ada beberapa kali dandang yang dimasak dan di salin ke sebuah baskom cukup besar di kamar mandi. Dengan masih terkantuk-kantuk Naya duduk menunggu. Sesekali matanya terpejam karena tak sanggup menahannya. “Bikinkan saya kopi, Nay.” Naya terperanjat. “Iya, Pak!” sahutnya cepat mendengar suara bariton Rendi menyapa indra pendengarannya. Cepat ia bangkit dan meraih gelas untuk membuatkan kopi pesanan Rendi. “Gulanya sedikit saja.” Rahang Rendi mengeras. “Kalau sudah selesai, kamu langsung mandi dan berkemas. Sebentar lagi keluarga Aira datang. Saya tidak mau kamu dipandang sebelah mata.” Perintahnya. Seraya memandang Naya dari ujung kaki hingga rambut. Tidak mengerti dengan dirinya sendiri, rasanya Rendi ingin memeluk Naya dengan erat. Mengulang kembali apa yang kemarin ia lakukan. Namun, Rendi segera menggelengkan kepalanya. Mengusir pikirannya yang kotor setiap kali melihat Naya. Dan sialnya kebersamaan mereka selalu saja dalam keadaan tidak baik. Kemarin Naya melihatnya tengah main sabun, kini Rendi melihat Naya tertidur di dapur. Kepalanya mendongak, bersandar di kursi, dengan belahan d**a yang terbuka. Daster yang dikenakan Naya sudah lusuh dan lehernya melar, sehingga tak mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Sampai-sampai dua benda padat nan kenyal itu terlihat sebagian. Rendi benar-benar diuji. Bukan hanya belahan saja yang rendah. Dibalik daster lusuh tersebut Naya tak mengenakan apa-apa lagi. Sangat wajar jagoan Rendi yang ada dibalik sarung menggeliat, minta dimanjakan oleh sarangnya. “Baik, Pak,” sahut Naya yang membelakangi Rendi. Dengan cekatan ia membuat kopi sesuai pesanan. Tidak butuh lama segelas kopi sedikit gula sudah tersaji di depan Rendi. “Pak, setelah masak dan beres-beres aku izin pulang, ya.” Naya mendudukkan bokongnya di kursi yang ada di depan Rendi. “Aku mau lihat ibu. Sekalian mau tanya ke pak Kardi apakah butuh orang untuk memetik kopi atau tidak.” “Sudah izin ibu?” Sekuat tenaga Rendi menjaga air wajahnya agar tampak biasa saja. Agar Naya tidak sadar sedari tadi dadanya menyeru untuk disentuh. Naya mengangguk. “Sudah, Pak. Kata ibu aku boleh bekerja asalkan setelah selesai pekerjaan di rumah.” “Baiklah. Kamu hati-hati.” Rendi bangkit dari tempatnya duduk dan membawa kopi buatan Naya. Dengan sangat terpaksa ia memberi izin Naya memetik kopi daripada melarang yang akan membuat pembicaraan lama selesainya. Naya mengangguk semangat. Senang Rendi tidak melarangnya bekerja. “Terima kasih, Pak.” “I-iya …,” sahut Rendi. Semakin gugup dan berkeringat dingin karena Naya malah melompat dan memeluknya dengan erat. “Astaga … aku sudah susah payah nahan, ini anak malah meluk,” keluhnya dalam hati. Tidak habis pikir dengan sikap manja Naya padanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN