Ditawar Lima Juta

1562 Kata
Disaat Kendra dan Aira duduk berduaan di ruang tamu, menikmati buah apel yang telah dikupas. Didampingi dengan segelas s**u coklat hangat, semakin mempertegas bertapa santainya kehidupan mereka berdua. Makan tinggal makan. Minum pun begitu. Mereka cukup menyeru Naya, tidak lama kemudian apa yang mereka berdua inginkan segera datang. Disediakan dengan cepat oleh Naya agar tak dimarahi Herni. “Bu, pekerjaanku sudah selesai semuanya. Aku juga sudah masak untuk nanti siang. Untuk makan malam aku usahakan sudah di rumah sebelum jam lima sore,” terang Naya, kepada Herni yang tengah bersolek di depan cermin meja riasnya. “Ya, sudah. Sana pergi! Ingat, sebelum jam lima kamu sudah di rumah dan memasak untuk makan malam!” Herni menoleh sekilas sebelum kembali sibuk dengan make up yang ada di tangannya. “Oh, ya. Kalau mau pergi, kamu lewat pintu samping saja agar Kendra tidak terganggu karena ulahmu.” Naya hanya mengangguk. Segera beranjak pergi, takut terlambat ke ladang. Karena sebelum berangkat bekerja, ia harus mampir terlebih dahulu ke rumahnya. Memastikan sang ibu baik-baik saja, mengingat seminggu ini Naya tidak pernah memberi uang lagi untuk sang ayah. Helaan nafas kasar pun keluar dari mulut Naya. Saat ia ingin mengambil sandal jepit miliknya yang ada di depan pintu utama. Ia begitu iri melihat Aira yang berbaring di sofa dengan berbantalkan paha Kendra. Andai saja sang ayah tidak tega mencuri semua uang yang ada di tabungan Kendra, pasti semuanya tidak seperti ini. Naya juga merasa dirinya sangat bodoh karena menggunakan angka satu sampai enam sebagai password ATM. Memudahkan sang ayah menguras habis uang tanpa memikirkan dampak bagi anaknya sendiri. Namun, jika dipikir ulang, Naya sepertinya bahagia hidup seperti sekarang. Karena ia sudah tahu bagaimana tabiat Kendra yang sebenarnya. Bagaimana buruk penilaian sang ibu mertua yang tidak pernah memberikan restu apalagi kasih sayang. Pun menikah dengan Kendra, belum tentu hidupnya akan tenang. Tidak lagi mau mempermasalahkan itu semua, kini Naya berjalan menyusuri kampung. Berjalan kaki menuju rumahnya yang cukup jauh dari rumah Kendra. Perlahan tapi pasti, akhirnya Naya sampai juga di rumah yang selalu membuat tangisnya pecah karena ulah sang ayah. Dan hari ini pun sama. Naya yang baru saja menginjakkan kakinya di rumah disuguhkan pemandangan yang memilukan hati. Sang ibu dipukuli oleh ayahnya hingga tak sanggup lagi bergerak. “Ayah, hentikan!!” pekik Naya, segera menjadikan tubuhnya sebagai tameng untuk sang ibu. “Hentikan! Aku mohon!” Pintanya lirih. Memeluk sang ibu seraya menahan sakit di punggungnya karena sang ayah bukannya berhenti, tapi malah terus melayangkan ikat pinggang di punggung Naya. Alih-alih iba melihat anak dan istrinya, Tio, ayahnya Naya justru semakin menjadi-jadi memukuli Naya. Sebagai pelampiasan karena sakit hati atas pernikahannya dengan Kendra. Tio marah. Semenjak Naya menikah tidak ada lagi yang mau memberinya uang untuk berjudi dan mabuk-mabukan. Tidak pula bisa membayar wanita panggilan untuk menemaninya di ranjang. Yuna, Ibunya Naya yang sakit-sakitan tidak lagi mampu melayani hasrat Tio, sehingga jajan adalah pilihan yang diambil pria paruh baya tersebut. Dan ketika Kendra mulai menabung untuk Naya, mengirim uang untuk membantu Naya, disitu kebahagiaan Tio datang. Ia terlalu senang dan santai. Sehingga kini harus banting tulang untuk mencari modal bermain judi dan membayar hutang. Ingin rasanya menjual Yuna, tapi tak ada yang mau karena tak ada kelebihan di dirinya. Jangankan untuk melayani banyak pria di ranjang, mencuci pakaian mereka saja Yuna tak lagi mampu. “Sekarang kau pergi ke ladang pak Kardi. Dia membutuhkan orang untuk menurunkan kopi dan cengkeh.” Tio meludah dan melemparkan ikat pinggang ke lantai. “Semuanya Ayah borong dan harus selesai dalam Minggu ini.” Wajah pias Naya terangkat. “Borongan?” “Ya, kalau harian tak cukup untukku bersenang-senang. Belum lagi hutangku pada Rudi, cicilannya jatuh tempo besok. Jadi kau harus kerjakan bagian itu, aku akan pergi ke ladang pak kades untuk mengupas kayu manis.” “Ayah belum mengambil upahnya, kan? Aku mau bawa ibu berobat.” Menatap sang ibu yang meringkuk di lantai. Hatinya begitu sakit dan teriris. Melihat luka memar di lengan dan pipi sang ibu. Ingin rasanya Naya membunuh sang ayah, tapi takkan mungkin baginya dipenjara. Jika itu terjadi, siapa yang akan menjaga Dan melindungi sang ibu. Baru seminggu tak pulang saja, kini ibunya jauh lebih kurus dibandingkan saat mereka terakhir kali bertemu. “Mau diambil atau tidak itu urusanku. Bukan urusanmu. Lebih baik kau pergi daripada persetujuan itu batal.” Meraih lengan Naya dan menyeretnya keluar dari rumah. “Ta-tapi, Yah. Aku mau …” “Tidak ada tapi-tapian. Pergi, dan jangan kembali sampai pekerjaan itu selesai!” Brakk! Naya terperanjat. Ketika Tio menutup kasar pintu rumah yang telah lapuk. Beruntung tidak hancur karena ulah ayahnya yang tak tahu diri itu. “Bu, aku pergi dulu. Pulang dari ladang aku langsung kesini,” gumamnya dalam hati. Memeluk tubuhnya sendiri seraya berjalan menjauh. Sesekali Naya menoleh ke belakang, berharap sang ibu berdiri di pintu. Melambaikan tangan dan tersenyum kepadanya. Melepas ia pergi bekerja untuk mencari sesuap nasi. Tak peduli dengan rasa sakit di punggungnya. Naya tetap berjalan menyusuri ladang milik orang terkaya di kampung tersebut. Siapa yang tak mengenai pria blasteran berusia lima puluh tahun tersebut. Pria bertubuh tinggi kekar, duda tanpa anak. Menjadi bandar judi dan pemasok minuman keras di kampung tersebut. Untuk mengelabui orang tentang kekayaannya, Kardi sengaja membeli banyak hektar sawah dan ladang. Dan Minggu ini sebagian kopi dan cengkeh sudah layak dipanen. Tio menawarkan diri untuk memanen sendirian agar memiliki banyak uang untuk bersenang-senang. Sangat sial bagi Naya yang memutuskan untuk pulang. Dirinya kini bekerja sendirian untuk menggantikan sang ayah bekerja. Tanpa upah dengan waktu bekerja hanya satu Minggu saja. Tubuh mungil Naya yang telah babak belur dicambuk Tio, kini mulai bekerja. Memetik kopi dan mengumpulkannya ke dalam sebuah goni. Dengan langkah terseok ia terus bekerja agar semuanya lekas selesai. Sesekali Naya mengulas senyum dan menyapa para pekerja yang tengah menanam padi di sawah yang ada di tepi ladang. Sedikit mengobati rasa takut bekerja sendirian. Pasalnya Kardi sering datang untuk mengontrol seraya memeriksa hasil pekerjaan anak buahnya. Sambil membawa makan siang untuk mereka. Bagian yang sangat membahagiakan Naya adalah, jatah makan siang yang nantinya bisa disimpan untuk sang ibu di rumah. Bagian yang tak disukainya, Kardi selalu menggoda dan mengajaknya untuk menikah. Atau sekedar menghangatkan ranjang gubuk miliknya yang ada di tengah-tengah ladang. Tak heran jika gubuk yang berukuran cukup besar itu dijadikan tempat untuk melayani Kardi, bagi para pekerja yang datang memetik hasil panen sebagai modus saja. Ujung-ujungnya malah masuk ke gubuk itu dan melayani Kardi. Tidak semua wanita, hanya yang mulus dan masih segar saja. Nanti sambil melintas, Kardi akan memberi kode wanita mana yang bisa melayaninya. Begitu selesai, bayaran yang sangat besar akan didapatkan. Naya tersenyum tipis. Ketika mengantarkan sekarung kopi ke gubuk. Ia melihat ada dua wanita yang duduk-duduk di teras. Sudah siap melayani Kardi yang tampaknya sudah datang dengan sepeda motor kesayangannya. “Eh, Naya. Coba kamu terima saja tawaran pak Kardi. Pasti hidupmu sekarang enak, daripada menyerahkannya secara gratis pada Kendra,” ucap seorang wanita ketika Naya meletakkan karung berisi kopi di teras rumah. Naya menggeleng. “Tidak halal. Lagipula, aku tidak menyerahkan apapun kepada Kendra. Kejadian di gubuk itu terjadi karena paksaan. Bukan aku yang menggoda,” ungkap Naya. Mencoba meluruskan gosip yang sedang beredar di kampung. “Alah, jangan munafik kamu! Katakan saja kamu itu menyesal karena Kendra justru menikah lagi setelah dapat perawan kamu karena dia tidak akan pernah mendapatkan itu dari Aira.” “Iya, ih. Pinter banget Aira dan Kendra itu. Saling cinta dan mau saling menerima. Dan kamu sial, Cuma jadi percobaan Kendra saja. Mencoba bagaimana rasanya celup sama perawan. Sedangkan Aira menjualnya dengan harga tinggi. Dan sampai sekarang masih begitu. Jadi Kendra tidak perlu lagi susah-susah cari uang,” sambung wanita satunya lagi. Naya ternganga. Tidak percaya dengan apa yang diucapkan dua wanita berdandan menor tersebut. “Aku tidak mengerti apa yang kalian katakan.” Naya sedikit membungkuk. “Aku pamit dulu. Masih banyak karung yang harus aku angkat.” “Eh, tunggu dulu!” Salah satu dari mereka meraih pergelangan tangan Naya. Dan menyeretnya ke belakang gubuk. “Lihat ini!” Menunjuk lubang berukuran ujung jari jempol. “Lihat apa?” Kedua alis Naya bertaut. “Lihat Aira yang sedang melayani pak Kardi. Enak,lo, Nay. Habis itu akan dibayar dengan uang lima juta. Kamu mau? Kalau mau aku bilangin.” Naya menggeleng. “Kamu gila.” “Aku nggak gila. Aku bicara apa adanya. Kamu lihat.” Menekan kepala Naya agar mengintip ke arah lubang yang tersedia. “Aira megap-megap keenakan. Tinggal ngangkang dapat uang. Kamu nggak mau?” “Tidak. Terima kasih.” Naya menarik diri Tak sanggup melihat Aira yang tengah duduk di atas Kardi, dan bergerak naik turun. Sangat jelas terlihat jagoan Kardi yang sangat besar keluar masuk dari tubuh Aira. Itukah yang Aira lakukan? Tapi, kenapa Aira malah menuduhnya menjual diri kepada Kardi? “Naya, kalau kamu berubah pikiran aku siap bantu kamu bicara dengan bos kita!” seru wanita tersebut. Menyentak Aira yang tengah memberikan ujung dadanya kepada Kardi. “Naya? Sialan!” umpat Aira. Merubah posisinya agar bisa melihat ke arah jendela yang terbuka. Kini ia mendudukkan bokongnya di wajah Kardi, dan mendongak. Dadanya bergemuruh, melihat Naya yang berjalan menjauhi pondok. “Wanita sialan itu pasti akan mengadu kepada Kendra,” umpatnya dalam hati. Di tengah desah kenikmatan karena Kardi menyesap pangkal pahanya. Tanpa mengurangi kenikmatan servis yang ia berikan, Aira memutar otak bagaimana caranya agar Naya tidak mengadukan ini semua kepada Kendra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN