Tidak sanggup membayangkan bagaimana menjadi Naya. Sudahlah punggung penuh dengan luka memar, kini ia harus memertik satu persatu cengkeh yang ada di pohon. Naik turun pohon seraya menahan rasa sakit di punggungnya.
Dan rasa sakit itu semakin tak tertahankan ketika Naya mengangkat karung di punggung. Perih dan menusuk ketika luka memar ditindih beban berat. Tapi, itu tak terlalu sakit jika dibandingkan dengan mengingat sang ibu yang kini berada di rumah. Ingin rasanya Naya segera pulang dan membawakan makanan untuknya.
“Naya! Ayo makan dulu!” ajak seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari sawah. Menyeru Naya agar turun dari pohon cengkeh.
Naya mengangguk. “Ibu duluan saja. Karungku sedikit lagi penuh. Tanggung kalau di tinggal. Jadi nanti sekalian aku bawa ke gubuk saja,” tolaknya secara halus.
Meskipun karung yang ada di bawah pohon masih berisi setengah, tapi Naya tetap tidak mau ke gubuk. Ia ingin menunggu sedikit lagi, sampai Aira pergi dari gubuk. Rasanya ia malas jika bertemu dengan ratu drama seperti Aira.
Namun, niat Naya untuk menghindari Aira justru menjadi masalah baginya. Aira yang dihindari justru sudah berdiri persis di bawah pohon cengkeh dan menarik kaki Naya agar turun dari sana.
“Aku rasa kamu tidak memiliki hati sama sekali,” ringis Naya. Saat bokongnya mendarat secara tiba-tiba di tanah. Ia juga merasa sakit di lengan karena tersangkut ranting pohon.
“Terserah. Yang jelas aku memiliki uang untukmu.” Melemparkan lima lembar uang seratus ribu ke wajah Naya. “Tutup mulut, atau Kendra tahunya kamu yang melayani Kardi!”
Naya mengulum senyum. “Jadi kamu melayani pak Kardi? Tapi kenapa selama ini aku yang kamu tuduh?” Berpura-pura tidak tahu kalau Aira baru selesai dengan servisnya.
“Tutup mulutmu kalau tidak ingin Kendra semakin benci padamu!” sergah Aira tepat di depan wajah Naya.
Demi apapun, Aira berani bersumpah tidak akan tinggal diam jika Aira mengadukan ini kepada Kendra.
“Tenang saja.” Dengan tubuh yang bergetar Naya berusaha untuk berdiri dan memungut uang yang berserakan. Menyimpan di saku celananya yang lusuh. “Aku tidak akan pernah bicara apapun kepada Kendra asal bayaranku lancar. Dan kamu juga tidak perlu khawatir dengan posisiku sebagai istri pertama Kendra, karena aku tak lagi peduli dengan laki-laki yang menyia-nyiakan ketulusan yang aku miliki.” Meraih karung berisi cengkeh dan membawanya pergi menjauh dari Aira.
Agar Aira tidak bisa melihat tangis luka yang lolos dari bibirnya. Naya benar-benar kecewa, Aira yang jelas-jelas tak gadis lagi justru dipercaya oleh Kendra dan diterima apa adanya. Dan dirinya yang masih utuh justru dituduh menjual diri.
Naya meremas kuat uang yang ada di saku celananya. “Lumayan untuk aku berikan kepada ayah. Agar upah di tempat lain bisa digunakan ibu untuk membeli beras,” gumamnya dalam hati.
Daripada memikirkan masalah yang membuat luka di dadanya semakin menganga besar, Naya lebih memilih berdamai dengan keadaan. Lagipula Kendra tak memiliki niat baik untuk mendengarkan apalagi memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Pria itu justru mendengarkan kata-kata Aira dan ibunya. Padahal Kendra dan Naya menjalin hubungan bukan satu atau dua hari. Banyak tahun yang mereka lalui bersama-sama. Sangat bodoh rasanya Kendra tidak tahu bagaimana sosok Naya.
“Saya pikir hidupmu lebih baik setelah menikah dengan Kendra,” sindir Kardi ketika Naya mengantarkan cengkeh terakhir ke gubuk. Hari sudah petang, ini saatnya Naya pulang untuk memasak.
“Bapak tahu apa tentang hidup saya? Sampai mengatakan saya tidak bahagia menikah dengan suami saya?” balas Naya sengit. “Saya bekerja disini bukan berarti hidup susah bersama dia. Tapi, demi memenuhi pekerjaan yang telah disepakati dengan ayah saya,” sambungnya.
Tetap mengerjakan apa yang harus dikerjakan agar bisa pulang cepat. Jika meladeni Kardi, tidak akan pernah ada habisnya. Bisa-bisa nanti ia mendapatkan masalah baru dari Herni.
“Makanya saya bilang kamu itu tetap miskin dan menderita meskipun menikah dengan laki-laki kaya seperti Kendra. Coba kamu seperti Aira, mau melayani saya. Separuh dari ladang ini akan saya berikan untukmu sebagai mahar, bagaimana?” mencolek dagu Naya.
Naya menepis tangan Kardi. “Kalau begitu berikan saja semuanya kepada Aira karena saya tidak tertarik dengan ini semua!” Menegaskan setiap kata yang ia ucapkan.
“Jangan sok jual mahal. Kau saja mengangkang kepada Kendra di sawah secara gratis. Jadi jangan berlagak jual mahal dan sok suci!!” Menarik paksa lengan Naya agar masuk ke gubuk. Semua pekerja dan wanita bayaran Kardi sudah pulang sehingga ia leluasa untuk mengganggu Naya.
Naya meronta. Berusaha melepaskan diri dari Kardi yang sudah tak sabar menikmati tubuhnya. Sudah lama pria paruh baya itu ingin menikmati Naya, tapi tetap saja gagal.
Tak terima dengan perlakuan Kardi, Naya terus berusaha untuk memberontak. Meskipun Kardi mengkungnya di ranjang kecil yang ada di gubuk.
Mengangkat ujung kaos Naya dan menarik paksa bra yang masih melekat di tubuhnya. Sehingga dua bulatan kenyal Naya terpampang di depan mata tajam Kardi yang kelaparan.
Naya terus mendorong d**a Kardi. “Lepaskan aku tua bangka sialan!” umpat Naya. Menendang pangkal paha Kardi sebelum mulut bau rokoknya menyentuh ujung bulatan Naya.
“b******k!” Kardi kembali mendekat. Menarik kaki Naya yang berusaha untuk beringsut duduk. Ingin kabur dari kukungannya.
Prank!!
“Sialan kau Naya!!” pekik Kardi. Menutup kepalanya yang kini mengeluarkan darah segar karena Naya mendaratkan sebuah botol minuman keras di sana.
“Andai saja aku tak ingat dosa dan ibuku, aku sudah membunuhmu!” balas Naya. Mendorong Kardi hingga terjungkal ke belakang. Tubuhnya bergidik, merasa kotor karena sentuhan Kardi di tubuhnya. Ia juga terpaksa melepaskan bra yang tak lagi terbentuk karena ulah Kardi.
Mumpung Kardi masih berusaha keras untuk bangkit, Naya segera berlari. Keluar dari gubuk dan berusaha keras menjaga air wajahnya agar tampak biasa. Agar tak ada yang tahu dirinya sudah memukul Kardi di gubuk. Tidak lupa, plastik berisi nasi bungkus untuk makan siangnya tadi ia raih dan dibawa pulang untuk sang ibu.
Jika ada yang tahu, sudah pasti dirinya yang akan disalahkan. Karena tidak akan ada yang mau percaya pada kata-kata gadis miskin seperti dirinya.
Naya terus menjauh. Sedikit berlari agar segera keluar dari ladang dan sampai di jalan utama desa. Ia cukup lega karena Kardi tak mengejarnya. Kalau perlu Kardi jangan hanya tak mampu mengejar. Tapi, mati sekalian pikirnya.
Namun, baru saja ingin memasuki jalan setapak menuju rumah sang ibu, Naya malah bertemu dengan Kendra yang sedang membonceng Aira. Tatapan Kendra begitu tajam dan tertuju pada dadanya yang hanya tertutup kaos tipis. Sedikit membayang dua titik dari balik kaos abu-abu yang dikenakan Naya.
Detik kemudian, Aira langsung berbisik. Langsung menuntun Kendra untuk merogoh saku celana kaos yang dikenakan Naya.
“Dasar w************n!!” bisik Kendra tepat di depan wajah Naya dan melemparkan lima lembar pecahan seratus ribu yang tadi diberikan Aira padanya.
Memberi penjelasan dan menahan kepergian Kendra? Tidak! Naya justru mengulas senyum dan beranjak pergi setelah memungut uang tersebut. Melanjutkan langkahnya menuju rumah yang tak lagi layak huni karena ulah sang ayah yang hobi berjudi.
“Pergilah! Mertuamu sudah datang kesini dan marah-marah!” usir Tio ketika Naya sampai di ambang pintu rumah.
Nasi bungkus yang ada di tangannya juga dirampas Tio, berikut dengan uang yang masih ada di tangan Naya.
Tidak sampai disitu, Tio juga mendorong tubuh mungil Naya agar keluar. Barulah pintu rumah tertutup, sehingga Naya tak bisa melihat bagaimana keadaan sang ibu saat ini. Dan semua perlakuan sang ayah dilihat langsung oleh Kendra. Bukannya menolong, apalagi merasa iba, Kendra malah meludah dan pergi membawa Aira berjalan-jalan menikmati sore.
Menangis? Tidak sama sekali. Naya justru tersenyum karena ia sudah lupa bagaimana caranya menangis. Ia juga akan berusaha keras untuk terbiasa menjalani hidup seperti sekarang, asalkan sang ibu baik-baik saja.
“Bu, mau kemana? Udah mau maghrib lo ini,” tegur Rendi yang baru saja pulang dari toko. Ia benar-benar terkejut dengan Herni yang ingin mengunci pintu.
“Mau pergi pengajian. Pulang agak telat karena sekalian arisan,” sahut Herni, seraya membuka kembali pintu rumah. “Ayah kalau mau makan bikin mie rebus atau bikin telor ceplok saja. Menantumu
Yang katanya pulang pukul lima, tapi malah jual diri dulu. Jadi tidak ada yang masak.” Menunjuk Naya yang baru saja datang. Wajahnya menunduk, takut dimarahi Rendi karena pulang terlambat.
Ingat, Naya takut dimarahi Rendi, bukan Herni. Tidak tahu kenapa, yang jelas itulah yang dirasakannya.
“Masuklah, Nay. Bersih-bersih,” ucap Rendi kepada Naya.
“Jangan lewat sini. Lewat samping sana! Kamu begitu dekil, pasti bau keringat,” ejek Herni seraya mengenakan high heels. “Mana kunci mobil, Yah. Ibu sudah telat.” Menengadahkan tangannya.
“Telat kemana?”
“Pengajian lah. Kan tadi Ibu sudah bilang.”
Rendi menggeleng. “Tidak ada orang pergi pengajian mengenakan rok pendek dan pundak terbuka begitu.”
“Iya, Ibu tahu. Makanya Ibu minta kunci mobil sekalian uang untuk beli gamis di toko muslimah depan desa. Ibu malu pakai gamis yang itu-itu saja. Nanti habis beli, Ibu ganti di tempat arisan.”
Rendi hanya menghela nafas. Menyerahkan kunci mobil dan sejumlah uang kepada Herni. Berharap Herni jujur dengan segala kata yang diucapkan.
Daripada tidak diberi jatah nanti malam, Rendi lebih memilih untuk menuruti segala keinginan Herni.
“Bu, anak-anak pada pergi kemana? Kok sepi?” seru Rendi, baru sadar anak dan menantunya tidak ada di rumah.
“Kendra dan Aira pergi jalan-jalan. Anak gadis kita izin bikin tugas kuliah di rumah temannya, sekalian nginep,” sahut Herni dari balik pintu jendela mobil.
Tanpa pamit, ia membawa mobil menjauh dan pergi meninggalkan Rendi yang mematung di ambang pintu.
Sungguh miris. Sebagai kepala keluarga Rendi tak dihargai sama sekali. Mentang-mentang modal toko elektronik yang ia miliki modal awal dari ayahnya Herni, hingga kini tak ada harga dirinya sama sekali ia di mata anak dan istrinya.
Dulu ketika Kendra belum bermasalah dengan Naya, Rendi masih memiliki tempat untuk bercerita dan membagi beban. Tapi sekarang, semuanya telah hilang. Tak ada lagi tempat baginya untuk pulang.
“Pak, boleh saya minta balsem atau koyo?” tanya Naya, begitu Rendi masuk ke dapur. Pria itu menyandang handuk di pundaknya, siap untuk menuju ke kamar mandi.
“Ada di kamar. Tumben kamu minta balsem. Kamu masuk angin?” tanya Rendi balik, penuh dengan selidik. Memindai keadaan Naya dari tempatnya berdiri.
Naya menggeleng pelan. “Kakiku pegal.”
“Oh, begitu. Saya pikir kamu masuk angin. Tunggu disini sebentar. Saya ambilkan!”
Naya hanya mengangguk. Membiarkan Rendi kembali ke kamar untuk mengambil balsem. Sementara menunggu Naya mencuci tangan di wastafel. Barulah ia memeriksa bahan makanan yang ada di kulkas. Melihat apa kira-kira bahan makanan yang bisa dimasak dalam waktu singkat. Mengingat makan malam sebentar lagi masuk, dan ia tak ingin Rendi kelaparan.
“Kamu mandi duluan sana! Saya mau ngopi dulu.” Rendi berucap seraya menyerahkan balsem kepada Naya.
Tidak ingin membantah ucapan Rendi, Naya menerima balsem tersebut dan membawanya ke kamar mandi.. Tidak lupa pakaian ganti dan handuk yang ia letakkan di kursi plastik.
Sedangkan Rendi, duduk di meja makan dan membuat kopi untuk dirinya sendiri. Seraya menunggu Naya, ia merapikan tumpukan dus yang ada di samping kamar mandi.
Lumayan, dus bekas pembungkus barang, ditumpuk dan bisa dijual kembali. Meski tidak banyak, tapi cukup untuk dijadikan uang dan membeli barang-barang kecil seperti sabun dan shampo.
Saat Rendi mulai menyusun dus, ia tertegun. Mendengar rintihan Naya dari kamar mandi. Darahnya berdesir, menebak apa yang terjadi dengan Naya. Pasalnya suara rintihan tersebut sesekali bersahutan dengan suara gemericik air.
“Nay, kamu tidak apa-apa?” tanya Rendi. Mengetuk pintu kamar mandi.
“Ti-tidak apa-apa, Pak,” sahut Naya lirih. Suaranya bergetar menahan sakit pada lengannya yang ternyata luka robek cukup dalam karena ulah Aira.
Belum lagi punggungnya yang banyak luka memar karena cambukan sang ayah. Sangat sakit jika diguyur air dingin.
“Kalau tidak apa-apa, cepat selesaikan. Saya mau mandi!” desak Rendi. Tak direspon lagi oleh Naya, karena ia fokus pada luka lengan yang menganga. Sekuat tenaga ia menahan sakit saat membersihkan darah yang membeku disana.
“Naya!!” seru Rendi, hampir lima belas menit berdiri di depan pintu kamar mandi. Yang terdengar bukan suara air, tapi malah ringisan. Membuatnya khawatir setengah mati.
“A-aku tidak apa-apa, Pak,” sahut Naya disela tangisannya. Meskipun berusaha agar tak menangis, tidak tahu kenapa saat mendengar suara Rendi yang menyeru khawatir, rasanya ia ingin berlari keluar dan memeluk Rendi.
“Buka pintunya kalau memang tidak apa-apa. Kalau tidak, saya akan dobrak paksa!” ucap Rendi, tanpa sadar.
Alih-alih menolak, Naya justru mengikuti apa yang dikatakan Rendi. Dengan menyilang kan tangannya di depan d**a, Naya membuka pintu kamar mandi dan segera membelakangi Rendi yang mematung di ambang pintu.
Tertegun melihat banyak luka memar di punggung dan luka sobekan di lengannya. Beruntung Naya masih mengenakan celana panjang, sehingga Rendi hanya bisa melihat tubuhnya setengah polos.
“Ini kenapa?” tanya Rendi, seraya menyentuh punggung Naya.