“Saya pernah kutuk Bapak nggak bisa bangun lagi kalau sama dia!” Rendi menarik nafas dalam-dalam. Menghembuskan secara perlahan, menatap Herni yang masih tidur di ranjang. Istrinya itu tampak terlelap dalam tidurnya meskipun masalah tengah menyapa rumah tangga mereka berdua. Herni juga membiarkan saja pakaiannya berserakan di lantai dan berbaring dengan tubuh polos. Hanya selimut saja yang menjadi penutup tubuhnya. Rendi perlahan mendekat. Duduk di tepi ranjang dengan tatapan yang Terarah kepada Herni. Secara perlahan pula ia membuka selimut dan menyentuh satu bola kenyal yang menggantung. Mata Rendi terpejam. Mencoba membayangkan betapa nikmatnya sebuah percintaan. “Mas?” Herni menangkap pergelangan tangan Rendi yang berani mengusik tidurnya. Ingin rasanya Herni marah, tapi ingat Randi

