"Naya ….! Keluar sebentar!" ajak Kendra, langsung saja meminta Naya keluar dari gudang tanpa berbasa-basi. Padahal Naya sedang meringkuk, menangis di atas kasur tipis yang digelar di lantai. Mata Naya terpejam kuat. Menyesali dirinya yang mau saja percaya dengan ucapan Rendi, yang memintanya agar tak mengunci pintu. Tadi kata Rendi sih, begini, "Naya, nanti saya akan mengajakmu ke luar seperti waktu itu. Jadi pintunya jangan dikunci agar saya bisa membangunkanmu tanpa mengetuk pintu dan malah mengusik tidur yang lain." Namun, nyatanya apa? Rendi tidak datang, yang datang justru Kendra yang tiba-tiba saja memintanya untuk keluar. Apa salahnya pria itu sedikit berempati padanya? Setelah semua luka dan duka yang didapatkannya. Tidakkah Kendra merasa iba dengan kisah hidup yang ia jalani?

