“Hidup itu sangatlah lucu. Ini bukan hanya tentang hubungan sebuah keluarga yang membingungkan, bukan hanya tentang pikiran yang bercabang-cabang tetapi juga tentang topeng yang dikenakan oleh orang-orang.” *** “Apa yang kau pikirkan?” tanya Senior Tian begitu melihatku diam saja sepanjang perjalanan. “Ada yang mengusikmu?” “Ya, sedikit,” sahutku. “Aku sudah mengatakan kalau aku tidak peduli dengan resikonya tetapi ya.. sepertinya aku terlalu berbohong kepada kalian semua semalam.” Bungsu Bramantyo itu tertawa. “Itu wajar saja. Frederick adalah Ayah kandungmu meskipun dia sudah menyakitimu dan Gabriel Effendi, orang yang pernah menikah denganmu itu ternyata memiliki niatnya sendiri dan kelicikannya membuat saudara kembarmu terjebak bersamanya. Wajar saja jika kau merasa tidak nyama

