SIAPA YANG DIA CINTA

1790 Kata
 "Ketika dua orang menatap bintang yang sama, maka tidak akan ada yang terjadi. Tapi jika sang bintang sudah menatap satu diantara dua orang yang menatapnya, salah satunya harus mengambil langkah mundur jika tidak ingin sakit hati.” ***  Aku menangis di pelukan Arnold, benar-benar tidak tahu harus bagaimana setelahnya. Aku terus saja menangis seperti anak kecil yang kehilangan mainannya. Aku menangis seperti bocah yang diambil bonekanya. Kurang lebih aku menangis selama 15 menit sebelum berhenti karena kelelahan.  "Aku yang akan menjelaskannya kepada Arisha, dia pasti mengerti."  "Menurutmu dia akan mengerti?"  Arnold mengangguk, tetapi aku menggeleng.  "Dia tidak akan mengerti," ucapku. “Bagaimana pun Gabriel adalah miliknya, seharusnya dia yang menikah dengan laki-laki itu dan menjadi istrinya, bukan malah tinggal di tempat ini.”  Arnold memberiku segelas air dan aku segera meminumnya sampai tandas. Menangis benar-benar menguras tenaga. Aku menatap Arnold sebentar sebelum bangkit dan memutuskan untuk pulang.  "Sudah mau pulang? Matamu bengkak sekali, suamimu pasti bertanya-tanya."  "Hm, biarkan saja. Tolong sampaikan salamku kepada senior-senior timku, aku akan langsung pulang."  Arnold mengangguk dan begitu saja, aku langsung pergi dari PRUNUS. Aku berjalan sekitar 40 meter untuk mendapatkan taksi karena letak PRUNUS yang tidak berada pas di pinggir jalan. Gedung rahasia itu bahkan lebih mirip seperti gedung gaib. Setelah mendapatkan taksi, aku masuk dan mulai memikirkan banyak hal. Tentang perasaanku, siapa Gabriel Effendi dan apa yang sudah dia lakukan padaku.  “Non? Sudah sampai,” tegur supir taksi karena aku terlalu banyak melamun.  "Terima kasih, Pak."  Setelah turun dari taksi aku berjalan dengan kepala tertunduk ke dalam rumah, aku terus berjalan sampai tidak sadar malah menabrak sesuatu yang cukup keras. Awalnya aku pikir aku telah menabrak dinding, tapi ternyata aku menabrak d**a Gabriel.  "Baru datang?"  Aku tidak menjawab.  "Kenapa wajah kamu begitu? Kamu habis nangis tadi?"  Aku masih tidak menjawab.  "Arisha? Sayang?"  Aku bukan Arisha, dan dia tahu itu.  "Ri-"  "Aku mau istirahat dulu," ucapku kemudian, sama sekali tidak menjawab pertanyaan Gabriel. Aku masuk ke dalam kamar dan Gabriel mengikutiku dari belakang, bahkan saat aku duduk di atas kasur, dia juga melakukan hal yang sama.  "Ada apa, hm? Kenapa?" tanyanya lagi, dia menaruh tangannya di puncak kepalaku dan mengusap rambutku. "Ada sesuatu yang membuat kamu gelisah?"  Ya, kebohongan yang dia perbuat. Ingin sekali aku mengatakan itu tetapi pada akhirnya aku menggeleng pelan dan sepertinya Gabriel paham jika aku tidak ingin bercerita, setidaknya untuk sekarang. Aku meringsut, masuk ke dalam pelukannya dan dia langsung membalas pelukanku dengan erat.  Tidak ada yang berbicara setelahnya, aku benar-benar hanya diam di pelukan Gabriel dan dia melakukan hal yang sama. Ini sama sekali tidak terasa benar, dia berbohong bahwa dia tidak mengenaliku. Selama ini hanya sandiwara dan alasannya belum jelas kecuali dugaan Senior Tan tentang Gabriel yang menyimpan rasa kepadaku. Tetapi kenapa? ***  Tanpa sadar aku sudah tertidur di pelukan Gabriel. Tiba-tiba saja saat aku terbangun aku sudah berada di tempat tidur dengan Gabriel yang juga tertidur pulas di sampingku. Ini sudah sore dan itu artinya kami melewatkan makan siang. Hah, Aku ingin memasak sesuatu untuk kami berdua tapi aku malas sekali hanya untuk bergerak dari kasur ini.  Aku menatap langit-langit kamar dan termenung. Kesimpulannya, aku memiliki saudara kembar dengan Frederick Hermansyah sebagai ayah kandungku dan aku menikah dengan kekasih saudara kembarku sementara Ayah kandungku berniat mencelakai putrinya. Kemudian Gabriel adalah salah satu penyebab kesalahan sistem ini tetapi aku malah mencintainya.  Menghela napas panjang dan memejamkan mata. Hidupku benar-benar seperti rollercoaster. Berputar, jungkir balik, menanjak, entahlah.  "Tidur.."  Aku melirik Gabriel yang tiba-tiba bersuara, dia masih memejamkan mata tetapi tangannya sudah berada di pinggangku, menarikku kembali ke dalam pelukannya.   "Ini sudah sore, kamu tidak lapar?" tanyaku.  Gabriel membuka matanya sedikit. "Lapar, tapi malas."  Aku tertawa pelan. Dia ternyata sama saja.  "Ya sudah tidur saja," kataku.   "Bagaimana kalau kita berolahraga?" kata Gabriel tiba-tiba, matanya bahkan sudah terbuka sempurna. “Bagaimana?”  "Olahraga? Kita bahkan belum makan siang tetapi sekarang kamu mau kita olahraga. No, lagipula kamu mau olahraga apa jam segini? Lari sore?"  Gabriel tersenyum, senyum manis yang sangat aneh. Mengerti maksudnya, aku segera turun dari kasur dan melarikan diri.   “Aku lapar,” ucapku memberi alasan, tetapi dia yang masih mengejarku akhirnya berhasil menangkapku.  "Aku yang akan memasak untuk makan malam,” ucap Gabriel sambil memelukku dari belakang, dia tidak mau melepasku meskipun aku menggigit tangannya.  "Benar, ya? Awas saja. Ah, kamu juga yang nyuci piringnya!"  "Oke. Tapi olahraganya jadi, ya?"  Wah, aku salah melempar umpan.  "Makan dulu saja, yuk, aku benar-benar lapar."  Gabriel mencebikkan bibirnya, dia terlihat kecewa tetapi tidak bisa mengatakan apapun. Jadi dia benar-benar melepas pelukannya, menuju dapur dan mulai memasak, sementara aku hanya memperhatikannya.  "Riel, tolong ambilkan minum!" pintaku dengan manja, padahal aku bisa berjalan sendiri tetapi aku tidak mau.   Gabriel memberiku segelas air tanpa mengatakan apapun dan kembali memasak. Dia terlihat sedikit kecewa jadi aku berjalan pelan dan memeluknya dari belakang. Saat melakukan itu, aku bisa mendengar Gabriel menghela napas.  "Awas, nanti tangan kamu terkena minyak," katanya memperingatkan.  Tetapi bukannya melepas pelukanku, aku malah mengeratkannya. Ini menyenangkan.  "Risha, nanti kena minyak!" ucapnya mengingatkan sekali lagi, tapi lagi-lagi aku tidak mendengarkan.  Gabriel mundur dari depan kompor, membalikkan badannya dan menatapku seperti orang tua yang memarahi anaknya. Dia tidak mengatakan apapun tetapi matanya mengatakan semuanya, jadi setelahnya aku memilih kembali duduk tenang dan menunggu makanan selesai disajikan.  Setelah menunggu sekitar 10 menit, akhirnya Gabriel menyajikan makanan yang dibuatnya di meja. Masakannya selalu saja menarik, aku sangat menyukainya.  "Pelan-pelan," katanya, dia menuangkan air ke dalam gelasku yang sudah kosong.  "Enak," balasku sambil tersenyum lebar.  Gabriel menggeleng-gelengkan kepalanya sementara aku terus saja makan dengan lahap. Kemudian setelahnya aku membiarkan Gabriel membersihkan sudut bibirku, mencuci piring, membuatkanku segelas s**u dan memotong buah-buahan. Pada dasarnya aku adalah ratu di sini. ratu yang sengaja dijebak.  "Kamu tadi kenapa datang-datang dengan mata sembap begitu? Apa yang kamu lakukan sampai menangis?" tanya Gabriel ketika dia duduk di sampingku.  "Menonton drama tragis," jawabku.   "Berapa lama nangis?"  “Lima belas menit? Entahlah,” sahutku, kemudian aku menatap Gabriel dan tersenyum kecil. “Menurut kamu kebohongan itu seperti apa?”  "Kenapa tiba-tiba menanyakan itu? Kamu mau membohongi aku?"  Aku terkekeh. "Kenapa aku harus melakukan itu, ada-ada saja."  Gabriel menghela napas, dia mengusap-usap kepalaku dan berkata bahwa jika aku mengalami kesulitan atau sedang gelisah, aku bisa menceritakan semua kegelisahanku padanya. Lalu aku harus memulai dari mana ketika dia adalah sumbernya?  "Riel, lebih baik bahagia dengan kebohongan atau menderita karena kenyataan?" tanyaku.  "Bahagia dengan kenyataan."  Aku memukulnya. "Itu tidak ada dalam pilihan tadi, jangan curang."  "Kalau begitu, kenapa kita tidak membuat pilihan kita sendiri? Kita bisa mendapatkan kebahagiaan dengan berdamai bersama kenyataan dan hidup bahagia."  Lalu kenapa kau tidak melakukannya? Bukankah akan lebih bagus jika kau hidup bahagia dengan Arisha dan tidak menjebakku?  Saat aku mulai menatap Gabriel, laki-laki itu juga melakukan hal yang sama. Kami saling bertatapan, cukup lama. Aku tidak mengerti bagaimana Gabriel mampu menjawab pertanyaan seperti tadi ketika aku bahkan kebingungan dengan hidupku. Segala yang aku alami seperti mimpi, termasuk kemampuanku untuk mencari informasi- benar, aku punya kemampuan ini, kenapa aku tidak menggunakannya dengan baik? Dengan begitu aku bisa melindungi diriku sendiri, bukan?  Tetapi Senior Tan mengatakan kepadaku untuk tidak mencari tahu lebih banyak tentang keluarga Effendi. Dia sudah memberiku peringatan dan Arnorld juga mengatakan hal yang sama. Jika Gabriel sudah berhasil masuk ke dalam sistemku, dia mungkin akan merusaknya sekali lagi jika ada sesuatu yang mencurigakan terjadi.   "Omong-omong, Riel, kamu beli ponsel baru, ya?" tanyaku, mengalihkan pembicaraan. "Aku pagi tadi melihat ponsel berwarna hitam di laci bawah. Itu punya kamu? Sudah tidak dipakai?"  Gabriel terlihat bingung, dia mengedikkan kedua bahunya. "Hitam? Itu ponsel lama aku sepertinya."  "Oh, sudah tidak dipakai lagi?"  Gabriel menggeleng. Jadi ponsel yang aku lihat waktu bersih-bersih pagi tadi itu sudah tidak terpakai lagi? Aneh, kenapa masih terlihat bagus sekali seperti hanya sekali atau dua kali disentuh, ya?  "Mungkin itu ponsel aku yang tidak sengaja tercebur ke kolam renang, rencananya aku memang ingin memperbaiki ponsel itu," kata Gabriel akhirnya.   Aku mengangguk saja. Jika memang begitu maka bukan urusanku.  "Riel, tiba-tiba aku ingin beli bakpao dan batagor itu lagi."  Gabriel mengangguk, dia mengusap kepalaku dan menyuruhku untuk menghabikan potongan buah di hadapanku.  "Kamu besok sudah mulai bekerja lagi, ‘kan? Mau aku ke sana sambil membawa bekal untuk makan siang?”  "Besok?" Gabriel tampak berpikir. "Bagaimana kalau lusa saja? Sepertinya besok aku akan makan siang di luar dengan Papa dan beberapa dewan direksi. Kamu tahu.. aku harus segera mengambil alih perusahaan sebelum pergantian tahun.”  Aku mengangguk mengerti. Papa Gabriel memang sudah mengatakan bahwa Beliau ingin segera pensiun karena merasa sudah sangat tua dan saatnya bersenang-senang dengan bersantai tanpa memikirkan perusahaan.  "Papa sepertinya ingin menikmati hari-hari atau masa tuanya bersama Mama, karena itu dia selalu meneror aku setiap harinya.”   Tertawa, aku memukul Gabriel. “Bahasa kamu tuh ya, neror segala macam. Aneh-aneh saja kamu."  "Ya itu karena aku ditelpon terus setiap hari."  "Tugas kamu juga, anak sulung harus begitu," kataku, masih tertawa. “Jadi kalau ada telpon setiap malam itu Papa?”  "Iya, kesal juga aku lama-lama. Maksud aku itu, aku ini masih pengantin baru, ‘kan? Papa minta cucu tetapi dia juga mengganggu di saat yang tidak tepat."  Aku tertawa terbahak-bahak, jadi dia kesal karena Papanya memintanya untuk cepat-cepat menggantikannya padahal Gabriel masih pengantin baru? Luar biasa.  "Kita sudah tidak bisa berbulan madu, eh ini belum juga seminggu tapi sudah disuruh cepat-cepat menggantikan posisi. Kesalnya, setiap nelpon dia juga bilang ingin cepat-cepat memiliki cucu tetapi aku bahkan tidak diberi kesempatan untuk membu- aww, sakit, ih."  Karena bahasanya, aku mencubit lengannya dengan sekuat tenaga. Terkadang mulutnya yang tidak bisa dikontrol ini membuat aku harus menghentikannya.  "Bahasa kamu!" tegurku.  Gabriel menjulurlan lidahnya, dia mengolok-olokku. Dia selalu mengatakan bahwa aku semakin imut jika sedang kesal. Karenanya, dia kesenangan karena aku akan membalasnya dengan segala cara. Katanya ini semua menyenangkan.  Tetapi ini semua akan berakhir seiring berjalannya waktu. Hubungan yang dimulai dengan dasar kebohongan tidak akan bertahan lama. Apalagi yang terjadi diantara kami berdua, jika Gabriel benar-benar melakukannya karena dia menyukaiku, lalu kenapa dia tidak langsung jujur saja tanpa perlu membuat skenario seperti ini?  Ah, seharusnya dulu aku mencari alasan agar tidak menikah dengannya, harusnya aku menolaknya. Tetapi dengan bodohnya aku menganggap ini sebagai kesalahan sistem biasa dan menjerumuskan diri. Selain itu dulu aku juga mengatakan bahwa aku akan menikmatinya. Sepertinya aku benar-benar tenggelam dalam peran palsuku.   “Em, ini enak,” komentarnya sambil mengunyah apel.  Aku menatap Gabriel dari samping sambil tersenyum. Laki-laki itu mengunyah potongan apel dengan sangat lucu- tidak, sebenarnya dia berlebihan mengunyahnya dan bermaksud ingin mencoba membuatku kesal. Tetapi aku hanya menatap matanya, matanya yang berbinar itu membuatku sadar bahwa-  “Riel, apa kau mencintaiku?”  -membuatku sangat sadar bahwa aku benar-benar tenggelam. Tenggelam terlalu dalam, maka dari itu seseorang tolong temukan dan tarik aku ke permukaan. Seseorang tolong sadarkan aku.. bahwa orang di hadapanku ini bukanlah cintaku.  ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN