TERLANJUR CINTA

2110 Kata
 "Aku tidak pernah mengharapkan hal seperti ini terjadi dalam hidupku. Aku pikir aku sudah melewati semua hal pedih dalam hidupku tetapi aku salah. Masa laluku bukanlah apa-apa jika dibandingkan dengan kenyataan yang baru aku ketahui hari ini." ***  Aku turun dari taksi dan berjalan sekitar 40 meter menuju PRUNUS. Aku menolak menunggu dan dijemput di tempat biasa apalagi setelah kejadian kemarin. Aku terburu-buru dan tidak lagi berpikir panjang tentang apa yang harus aku katakan kepada Gabriel yang kebetulan ada urusan di kantor menggantikan Papanya.  Sudah cukup lama sejak aku meninggalkan PRUNUS untuk misiku menjadi pelayan kafe dua bulan lalu, kemudian aku menikah jadi ini adaah kali pertamanya aku kembali lagi ke sini setelah semua yang terjadi.  "Arsila?"  Aku menoleh begitu mendengar suara yang tidak asing di telingaku, suara Senior Tan, ketua misiku.  "Ah, akhirnya kau datang juga,” katanya. “Aku sudah menunggumu- tidak kami semua sudah menunggumu. Tetapi sebelum bertemu dengan Bos, lebih baik kau menyapa semua yang sudah menunggu,” ujar Senior Tan, dia menggenggam tanganku dan membawaku menuju ruang misi tim.  "Lihat siapa yang aku bawa!" teriak Senior Tan begitu membuka pintu ruangan tim.  "Arsila? Oh Tuhan, kau benar-benar ada disini!" teriak senior Jay yang juga langsung memelukku. "Kau membuat kami semua kerepotan karena tiba-tiba kau menghilang dari radar, bahkan sistemmu mengalami masalah yang sangat sulit untuk dipecahkan."  "Hilang?"  "Hm, hari saat pertama kali kau tidak bisa dihubungi, kami semua langsung menghubungi Bos. Dia terlihat sangat kalut setelah mendapat kabar dari kami, tapi akhir-akhir ini dia sepertinya sudah mulai terlihat seperti biasanya, kau menghubungi dia sebelum menghubungi kami kemarin, ya?"  "Hm.. beberapa hari yang lalu."  Jadi ada kesalahan system yang sulit dipecahkan?   “Apa hanya terjadi kepada sistemku?” tanyaku.  “Itu yang akan kita bicarakan,” ujar Senior Tan.  "Syukurlah karena kau sudah kembali ke sini," ucap Senior Defri, dia tersenyum lembut.  "Tidak ada yang mengetahui bahwa kami kehilangan kontak denganmu selain Bos dan Gea. Jadi jangan bicara aneh dengan anak-anak lain," ujar senior Gibran yang langsung aku pahami. “Ini bukan kesalahan sistem biasa, kami akan membicarakan ini di pertemuan bulanan selanjutnya.”  "Arsila?"  Tiba-tiba suara Arnold muncul dan mengejutkan kami semua.   "Ya?"  "Ke ruanganku sekarang, kau juga Tan," katanya lalu pergi.  “Kau datang ke sini hanya untuk menemui Bos dan Tan?" tanya senior Tan yang aku jawab dengan anggukan.  "Sebenarnya kami penasaran karena Tan juga belum mau menceritakan apapun,” bisik Senior Jay padaku. “Kau berhenti dari misi? Kenapa kau tiba-tiba menghilang dari kafe?"  Jadi mereka juga benar-benar tidak tahu?  "Aku pikir sekarang aku berada dalam misi yang sangat sangat sangat rumit, Senior! Berdo'a saja yang terbaik untukku, aku pergi dulu!"  Setelah melambaikan tangan dan keluar dari ruangan tim, aku dan Senior Tan bergegas menuju ruangan Arnold. Bisa gawat jika Gabriel pulang dan aku tidak ada di rumah padahal aku sudah mengatakan kalau aku tidak akan lama.  Aku bertemu Gea di depan ruangan Arnold, kelihatannya dia baru keluar dari ruangan Kakakku itu. Perempuan cantik itu menatapku sambil tersenyum.  "Kau akhirnya kembali," katanya. "Aku benar-benar takut jika sesuatu terjadi padamu, syukurlah kalau kau baik-baik saja."  "Aku baik-baik saja," ucapku sambil membalas senyumnya. "Arnold ada di dalam, ‘kan?"  Gea mengangguk dan menyuruhku serta Senior Tan untuk segera masuk.  "Ar," sapaku begitu aku menutup pintu sementara Senior Tan menyapa hormat.  Arnold duduk di kursinya dengan santai, dia meminta kami berdua untuk duduk sofa ruangannya yang langsung aku dan Senior Tan lakukan.  "Aku tidak bisa lama,” ucapku.  "Dia juga pergi, bukan? Bukankah kau sudah berpamitan sebelum berangkat? Apa yang kau takutkan?” tanya Arnold, dia sudah bangkit dari kursinya dan duduk tepat di sebelahku.  "Kau gila? Mana mungkin aku sejujur itu?"  "Kenapa? Kau tidak mempercayai dia?" Arnold tertawa. “Yah, lagipula dia pasti tahu kau ada di sini sekarang. Bukankah begitu, Tan?”  "Benar,” sahut Senior Tan. “Atau mungkin dia sedang dalam perjalanan menuju ke tempat ini.”  Arnold tertawa. “Bisa jadi.”  “Tunggu, apa maksudnya?” tanyaku. “Kenapa Gabriel bisa melakukan itu?”  “Bagi seseorang yang sudah pernah menyentuh chipmu, bukankah itu sangat mudah melacak keberadaanmu?”   “Hah?”  “Gabriel Effendi, dia memiliki latar belakang yang mengesankan,” ujar Senior Tan ketika Arnold memintanya menjelaskan. “Menguasai IT, dia jelas bisa melakukan apapun dan bahkan mampu disejajarkan dengan orang-orang hebat dalam organisasi kita.”  “Kesalahan sistem yang terjadi padamu bukanlah kebetulan,” sambung Arnold. “Aku kurang mewaspadai hal ini tetapi sepertinya kau sudah terjebak dengan sulung Effendi itu sejak lama.”  “Kenapa?” tanyaku.  “Karena dia memiliki rasa kepadamu,” Senior Tan menyeletuk, dia mengedikkan bahu. “Kemungkinan besarnya begitu.”  “Tetapi dia memiliki Arisha- tidak, sebenarnya apa yang kalian bicarakan?” tanyaku bingung. “Jadi siapa Gabriel sebenarnya? Apa yang dia mau?”  “Kau,” jawab Arnold. “Dia hanya menginginkan dirimu. Dirimu yang benar-benar dirimu dan bukannya Arisha, saudara kembarmu yang sudah menjadi kekasihnya selama lebih dari tiga tahun.”  “Tapi aku tidak mengenalnya,” ucapku. “Aku tidak mengenal Gabriel sebelum itu.”  “Mungkin kau tidak tetapi laki-laki itu mengenalmu,” ucap Senior Tan. “Dia membuat kerusakan di sistemmu, kerusakan yang menyebabkan kami mengalami kesusahan dalam memperbaikinya. Dia menyerang dengan sangat tepat, bahkan ahli IT kita takjub dengan kemampuannya.”  “Sudah,” putus Arnold. “Kau boleh kembali ke ruanganmu, Tan.”  Senior Tan langsung berdiri, setelah mengangguk hormat, dia langsung keluar dari ruang kerja Arnold, meninggalkan aku yang kebingungan.  “Apa sebenarnya yang terjadi, Ar?” tanyaku.  “Kau datang ke sini bukan untuk menanyakan Effendi, bukan?” sindir Arnold.  Aku berdecak. "Ya, kalau begitu langsung saja. Jadi siapa Arisha?" tanyaku .  "Adik aku."  Aku memicingkan mataku. "Lalu siapa aku?"  "Kau amnesia?"  Memukul kepala Arnold keras-keras sampai dia mengaduh, aku melotot. Dia ini memang tidak bisa diajak serius jika sudah bersamaku, ya?  "Kau juga adikku."  Aku menatap Arnold. Kenapa dia membuat semuanya menjadi rumit? Dia bisa langsung menceritakan semuanya tanpa perlu aku pancing, ‘kan?   "Kau dan Arisha adalah adikku. Kau sudah mengetahuinya, bukan? Kalian itu kembar. Puas?”  Belum, dan sepertinya Arnold tahu itu.  "Frederick Hermansyah adalah ayah kalian berdua-"  "Bukan ayahmu juga?" potongku.   Arnold melotot, memintaku diam dan tidak menyelanya.  "Dia ayahmu, aku.. memiliki ayah lain. Jadi Ibu kita menikah dua kali, ayahku yang juga suami pertamanya meninggal saat umurku baru 4 tahun, setahun setelahnya Ibu menikah dengan pria kota dan mengandung. Frederick meninggalkan Ibu begitu saja saat usia kandungannya baru 5 bulan. Dia memilih menikah bersama putri dari Vernanda Group yang kau kenal sebagai istrinya sekarang."  Aku mendengarkan dengan seksama.  "Ibu sakit-sakitan setelah itu, tetapi dia tetap ingin mempertahankan kandungannya sehingga akhirnya dia meninggal tidak lama setelah kalian berdua lahir. Aku masih anak berumur 5 tahun saat itu dan harus ditinggalkan Ayah serta Ibu. Kita bertiga dirawat oleh nenek, tapi karena nenek sudah tidak bekerja, terpaksa beliau harus memisahkan kita bertiga. Aku dirawat oleh keluarga almarhum ayahku, Arisha dibawa ke keluarga Frederick dan kau tetap tinggal dengan nenek."  Arnold menghentikan ceritanya dan menatapku. Aku melotot padanya dan meminta dia terus bicara, tapi yang dia lakukan adalah mengedipkan sebelah matanya padaku.  "Ambilkan air, tolong!"  Meskipun berdecak kesal karena sikapnya, aku tetap bangun dan mengambilkan segelas air untuknya. Dia meminumnya pelan-pelan, sengaja ingin membuatku meledak, tetapi aku menahannya.   "Tiga tahun setelahnya, nenek meninggal. Aku berada sangat jauh darimu dan aku tidak tahu kabar itu. Aku kembali ke rumah nenek untuk menemui kalian saat usiaku sudah 12 tahun tetapi rumah itu kosong dan seorang tetangga menceritakan semuanya padaku. Aku mencarimu kemana-mana sampai akhirnya aku menemukanmu di panti asuhan. Kau ingat, ‘kan?"  Aku mengangguk.   Alasan aku mengenali Arnold sebagai kakakku adalah karena dia datang ke panti asuhan saat usiaku 7 tahun. Dia mengatakan kalau dia adalah kakakku dan menyuruhku bertahan di panti asuhan karena dia berjanji akan menemuiku lagi. Tetapi dia tidak datang, dia benar-benar tidak datang lagi sehingga aku mulai melupakannya.  "Aku tidak datang, aku tahu itu," dia tersenyum kecil dan aku hanya diam.  "Pembohong," sindirku pelan dan Arnold tertawa.  "Ya, aku memang pembohong tetapi aku mencarimu lagi, aku mencarimu sampai akhirnya berhasil menemukanmu sedang duduk di dekat jendela dengan kaktus kecil itu."  Aku mendengus.  "Aku tidak bisa menemuimu karena aku sibuk mengurus organisasi ini. Tetapi bukan berarti aku menelantarkanmu, aku tetap menjagamu dari jauh," Arnold menatapku dengan tatapan mencemooh. "Tetapi kau malah masuk ke dalam kandang harimau."  "Itu salahmu! Seharusnya kau menemuiku dan mengatakan yang sebenarnya terlebih dahulu. Kalau waktu itu kau gagal menyelamatkanku, lalu apa?" giliran aku yang menatapnya dengan tatapan mencemooh. "Kakak macam apa yang membiarkan adiknya mati tercabik setelah dia tahu adiknya masuk ke kandang harimau?"   Arnold meminum airnya. "Itu karena aku tahu kalau Frederick saat itu belum mengetahui siapa dirimu. Aku juga mencari keberadaan Arisha dan setelah aku tahu dia baik-baik saja dengan keluarga barunya di luar negeri, aku merasa lega. Frederick tidak peduli pada kalian saat itu, dia bahkan tidak mau tahu perkembangan kalian jadi aku merasa kalau kau akan baik-baik saja."  Lagi-lagi aku berdecak.  "Tetapi adikku ini dengan bodohnya berhasil menarik perhatian Frederick setelah memergoki perselingkuhan pria itu beberapa kali. Itu bukan salahku, kau yang terlalu bodoh."  "Tapi aku tidak mengatakan apapun!"  "Dan kau pikir dia akan diam saja? Omong kosong!"  Hening. Setelahnya kami tidak bicara lagi, aku dan Arnold hanya saling menatap kesal. Dia ini menyebalkan sekali.  "Lalu kenapa aku tiba-tiba menggantikan posisi saudara Arisha- tidak, kemana dia sekarang?"  “Entahlah.”  Apa-apaan jawaban itu?  “Apa yang terjadi malam itu?” tanyaku lagi.  “Entahlah.”  Dia ingin aku tonjok, ya?  "Maksudku, aku mengetahui bahwa Arisha akan dilamar oleh kekasihnya malam itu karena aku terus memperhatikannya, tetapi kemudian sinyal aneh tiba-tiba muncul dari perangkatmu dan membuat fokusku terbagi. Sekelompok pria mengepung Arisha dan membawanya pergi malam itu, sementara sinyalmu semakin memburuk. Aku tidak tahu harus menyelamatkan siapa terlebih dahulu dan saat aku sedang kebingungan, mungkin aku salah memencet sesuatu dan.."  "Dan?"  "Dan.."  Aku sudah bersiap memukuli Arnold lagi tapi dia menangkap tanganku dan memintaku untuk tetap tenang.  "Aku salah memencet sesuatu pada perangkatmu sehingga membuat kau tidak sadarkan diri dan semua itu terjadi. Aku pikir Gabriel sengaja melakukan itu untuk membuat kami kebingungan, dia memang merusak sistemmu sehingga sinyal aneh itu keluar. Aku pikir dia sudah menunggu momen itu.”  "Ya, tapi mengenai Arisha bagaimana? Dia meneleponku kemarin- jangan jawab ‘entah’ atau aku benar-benar akan menendangmu," ancamku.  Arnold terkekeh. "Dia ada disini."  Aku mengedip-ngedipkan mataku karena tercengang. Dia ada di sini? Arisha ada di sini?  "Dia ada di sini jadi kau tidak perlu khawatir. Malam itu aku mengirim orangku untuk menolongnya, begitu pun denganmu. Sebenarnya apa yang terjadi padamu adalah masalah sistem, tidak ada paksaan saat kau datang ke tempat lamaran itu jadi mungkin kau juga ikut andil dalam kesuksesan rencana Effendi tanpa sadar, adik.”  Apalagi ini? Aku? Aku ikut andil?  "Kami kehilangan kontak denganmu untuk sementara, tim mu juga langsung kalut dan menghubungiku, tetapi beruntunglah sinyalmu berhasil ditemukan meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama. Namun tiba-tiba saja kau sudah menikah dengan pria itu."  Arnold memicingkan matanya padaku.  "Ada apa?" tanyaku.  "Kau.. berhubungan dengan dia? Kalian melakukan itu?"  Aku langsung melempar tasku ke wajah Arnold.   "Apa Arisha akan membunuhku setelah dia mengetahui kalau.. kalau aku-"  Arnold mengusap kepalaku. "Jangan khawatirkan dia, khawatirkan saja dirimu sendiri. Yang perlu kau ketahui adalah musuh yang kita hadapi sekarang adalah Ayah kandungmu sendiri dan mungkin juga suamimu. Kau tahu? Frederick yang menculik Arisha malam itu. Dia mungkin kebingungan kenapa kau kembali muncul setelah dinyatakan meninggal saat kecelakaan lift. Dia tidak tahu kalau Ibu melahirkan anak kembar, jadi dia kebingungan dan menganggap Arisha itu dirimu."  Diam, akku hanya menatap Arnold. Aku masih kebingungan, rasanya terlalu mendadak dan aku tidak bisa menyerap semuanya sekaligus.  "Apa.. apa kau menceritakan semuanya kepada Arisha?" tanyaku.  Arnold menggeleng. "Tidak semua, hanya sedikit. Dia tidak pernah bertemu denganku sejak masih bayi, tidak sepertimu. Dia besar di luar negeri jadi kenyataan bahwa dia memiliki kakak disini.. sedikit membebaninya. Dia kebingungan."  "Ba-bagaimana jika aku.. aku menemuinya?"  Arnold menghela napas, dia menggeleng. "Kau yang tidak siap, jadi jangan memaksakan dirimu. Aku yang akan memberi pengertian kepada Arisha.. jadi jangan khawatir."  "Aku..aku.."  "Ini sudah waktunya kau pulang, kan? Cepat pulang dan berhati-hatilah. Dari yang Kakak tahu, dia tidak akan menyakitimu, kau akan baik-baik saja bersamanya sekalipun mungkin dia adalah orang yang menjebakmu bersamanya.”  "Kak.. aku.."  Arnold menatapku, aku juga menatapnya dengan pandangan berkaca-kaca. Aku ingin menyatakan sesuatu tetapi aku takut. Aku takut Arnold akan menghentikanku, aku.. aku maksudku, Gabriel adalah milik Arisha, saudara kembarku sendiri.   Arnold memegang kedua bahuku. Dia menghela napas dan berkata, "Kau sudah mencintainya, ya?"  Aku tidak bisa menahan diri lagi, aku menangis seperti anak kecil dalam pelukan Arnold.   Bagaimana sekarang? Bagaimana hidupku akan berjalan mulai dari sekarang? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN