KENYATAAN YANG MEMALUKAN

1888 Kata
 "Jika kenyataan begitu menyakitkan untuk diterima, apakah aku lebih baik hidup dalam ketidaktahuan saja?" ***  "Papa bawain kamu apel," Papa Arisha membawa banyak sekali apel, dia bilang kalau Arisha sangat menyukai buah itu sejak kecil.  Ya, pada akhirnya yang datang ke rumah malah Papa dan Mama Arisha, bukannya kami yang datang ke sana. Mereka langsung memelukku begitu sampai.  "Papa kamu ini kangen sekali sama kamu sepertinya, sampai-sampai Mama dicuekin sewaktu perjalanan ke sini.”   Aku tertawa. Kedua orangtua Arisha sangat menggemaskan, mereka sangat mencintai putri angkatnya jika melihat dari bagaimana cara mereka menatap dan berbicara. Ah, benar-benar membuat iri.  "Kamu baik-baik saja, ‘kan?" Papa Arisha menggenggam kedua tanganku, matanya mengisyaratkan kekhawatiran.   Kenapa? Apa karena Arisha adalah anak mereka satu-satunya?  Tersenyum dan mengangguk, aku kemudian berkata, "Aku baik-baik saja kok, Pa."  Papa mengangguk-angguk tapi tidak melepaskan tanganku sampai Mama harus memukul pelan lengannya. Aku melihat gelagat mereka lalu kembali bertanya-tanya. Kenapa? Kenapa mereka tampak khawatir? Apa ada yang salah?  "Kenapa sih, Pa? Ma?" tanyaku meminta penjelasan.  "Tidak. Tidak ada apa-apa, Nak," Mama tersenyum. "Papa kamu hanya khawatir saja, Papa kamu ini takut kamu kebangun malam-malam terus tidak bisa tidur lagi. Padahal kamu sudah punya suami. Papa kamu ini kadang memang lebay."  Aku melirik Gabriel yang tertawa. "Risha tidur nyenyak kok, Pa, Ma."  “Tuh, Pa, denger,” kata Mama kepada Papa. "Bagus kalau tidurnya nyenyak, cepat kasih Mama sama Papa cucu, oke?”  Gabriel langsung mengacungkan jempol, begitu pun dengan Mama. Sejauh yang aku tahu selama beberapa hari ini, Mama Arisha adalah orang yang cukup ceria. Dia bahkan tidak menangis di pernikahan putrinya dan malah memukul-mukul Papa yang tidak berhenti menggenggam tanganku. Meskipun begitu, matanya selalu memancarkan cinta.   Ada banyak yang mencintai Arisha termasuk laki-laki di sampingku yang sekarang tampak bersemangat sekali membicarakan tentang 'makanan' dengan Mama. Aku tidak tahu apa yang harus aku katakan, tapi Arisha cukup beruntung karena memiliki cinta mereka.   “Aku sama Papa saja,” ucapku kemudian karena melihat Mama sibuk dengan Gabriel. Aku pindah posisi ke sebelah Papa yang juga sibuk mengupas apel. Papa menyodorkan piring yang berisi potongan apel yang sudah bersih kepadaku yang langsung aku terima dengan semangat.  Untunglah aku menyukai segala jenis buah-buahan.  "Kalau ada orang yang mencoba untuk mendekati kamu di jalan atau ada tamu yang tidak kamu kenal datang ke sini, jangan bukain pintu, oke!?" Papa berbisik padaku, dan aku menanggapinya dengan wajah penuh tanya.  "Kalau ada laki-laki yang tingginya seperti Papa, punya lesung pipi dan ada t**i lalat di atas alis kanannya terus dia mencoba untuk mendekati kamu," Papa menghentikan kalimatnya dan menatapku. "Langsung lari, oke? Jangan berbicara atau meladeni dia."  Lesung pipi, t**i lalat di atas alis kanan.. Frederick Hermansyah.  "Arisha?" panggil Papa lagi. “Ya, Nak, ya?”  Tersenyum kecil, aku mengangguk. Papa Arisha ini terlihat sangat khawatir dan aku semakin bertanya-tanya tentang apa yang terjadi. Kenapa Papa Arisha tidak langsung menyebut nama Frederick? Apa ini semacam kode?  Gabriel mengajak Mama untuk melihat kebun bunga di halaman belakang yang langsung disetujui oleh Mama. Sekarang hanya ada aku dan Papa di ruang tamu, jadi kami lebih leluasa untuk berbicara.  "Papa sudah tidak setuju sewaktu kamu memutuskan untuk kembali ke Indonesia. Papa juga tidak mau kembali ke negara ini tetapi," Papa menatapku. Dia bahkan menggenggam tanganku. "Jangan tinggalkan Papa dan Mama, Nak."  Apa maksudnya?  "Kalau.. kalau orang yang Papa sebutkan ciri-cirinya tadi datang menemui kamu dan.. dan dia mengakui dirinya sebagai Papa kamu.. Papa.. Papa.."  Ah, jadi ini..  Aku menggenggam balik tangan Papa Arisha dan tersenyum lembut. "Aku tidak akan kemana-mana. Siapapun orang yang Papa bilang tadi, meskipun dia benar-benar Papa kandung aku sekalipun, aku tidak peduli. Bagi aku, Papa dan Mama itu tetep orang tua aku."  "Kamu.. kamu tahu kalau Papa sama Mama.." Papa menghentikan ucapannya ketika melihat Mama datang dan menatap kami.  "Tahu apa?" tanya Mama sebelum duduk di sampingku.  Tampaknya aku sudah salah bicara.  Aku pikir mereka berdua sudah terang-terangan mengaku kalau mereka hanya orang tua angkat Arisha. Jadi Arisha ini hanya mengetahui tentang Frederick tanpa mengetahui bahwa orang itu adalah orang tua kandungnya? Ah, apa aku mengacaukan segalanya?  "Kamu tahu apa, Arisha?" tanya Mama lagi, kali ini lebih memaksa.  "Itu.." aku mengedip-ngedipkan mataku. Aku melirik Gabriel yang berdiri tidak jauh dari tempatku duduk, meminta pertolongan tanpa suara.  "Tahu apa, Nak?" Mama menggenggam tanganku.  "Dia tahu kalau kita bukan orang tua kandungnya,” sahut Papa, menjawab pertanyaan Mama dengan tenang, padahal dia juga sama terkejutnya tadi.   Mama menutup mulutnya, aku kembali melirik Gabriel yang tidak menampilkan ekspresi apapun. Aku menganggap kalau Gabriel sudah tahu jika Arisha hanyalah anak angkat. Dilihat dari manapun, dia sama sekali tidak terkejut. Tidak, sebenarnya Gabriel lebih mencurigakan dari siapapun.  "Ka.. kapan? Sejak kapan?" tanya Mama. Beliau menatapku tepat di mata, membuatku merasa bersalah.  Aku diam. Aku tidak tahu harus mengatakan apa.  "Satu bulan yang lalu."  Itu jawaban Gabriel, bukan aku.  Kami bertiga menatap Gabriel bersamaan, Papa dan Mama bahkan sudah menyerbu Gabriel dengan pertanyaan-pertanyaan.   Ah, seharusnya aku pergi ke tempat sepi untuk fokus dan menghubungi PRUNUS dan mendapatkan informasi yang lebih rinci. Aku terlalu buta disini, terlihat seperti orang bodoh.  "Satu bulan yang lalu Frederick Hermansyah, pemimpin Vernanda Grup mendatangi Arisha dan mengatakan bahwa dia adalah Papa kandung Arisha yang sebenarnya,” jelas Gabriel dengan tenang.  Benarkah? Jadi Arisha sudah bertemu Frederick Hermansyah? Apa karena itu Gabriel bertanya apakah Arisha ini membenci laki-laki tua itu?  "Frederick Hermansyah adalah menantu keluarga Vernanda, salah satu perusahaan besar di negara ini. Dia di penjara atas kasus pembunuhan tetapi bebas sebelum-"  "Tunggu!" Mama menyela penjelasan Papa. Mama angkat Arisha ini menatapku dengan sangat khawatir. "Dia sudah bertemu kamu? Dia tidak menyakiti kamu- tidak, apa dia menyentuh kamu sedikit saja?"  Aku hanya diam karena aku sendiri masih terkejut mengetahui Gabriel sudah mengetahui bahwa Frederick adalah mertuanya.  "Arisha.. dia tidak berbuat macam-macam terhadap kamu, ‘kan, Nak?"  Kenapa mereka menanyakan pertanyaan itu? Apa Frederick Hermansyah pernah ingin menyakiti Arisha sebelumnya?  "Kenapa tidak langsung bilang pada Mama atau Papa?"  "Ma, aku baik-baik saja,” ucapku menenangkan. “Aku baik-baik saja, jadi Papa dan Mama tidak perlu terlalu khawatir."  Jadi begini, Arisha- dia sudah bertemu Frederick Hermansyah. Dia bertemu orang tua kandungnya sebulan yang lalu dan dia sekarang menghilang? Tunggu, apa Frederick Hermansyah yang menculiknya? Lalu kenapa tiba-tiba aku menjadi penggantinya? Apa Gabriel bekerjasama dengan Frederick untuk membunuhku?  "Mama jelas khawatir. Dia itu jahat, dia tidak peduli terhadap kamu selama bertahun-tahun dan tiba-tiba kemarin dia menelpon Papa dan Mama. Dia bilang kalau sekarang kamu sedang bersama dia, bukankah itu gila? Ya, dia pasti gila.”  "Papa langsung menelpon Gabriel untuk memastikan karena Papa takut kalau kamu benar-benar sedang bersama dia."  "Kamu tida usah dekat-dekat dengan laki-laki itu. Kalau kamu tidak sengaja bertemu dia, lebih baik kamu langsung lari."  "Dia bahkan membunuh saudara kembar kamu," Papa menghela napas sementara aku terkejut, sangat terkejut.  Saudara kembar?  "Dia membunuh saudara kembar kamu 3 tahun lalu, maaf karena Papa dan Mama tidak pernah mengatakan tentang ini sebelumnya. Dia.. dia sudah terlanjur mengenali saudara kembar kamu dan-"  "Tunggu, Pa,” selaku. “Saudara kembar? Aku punya saudara kembar?" tanyaku memastikan.  Aku menatap Gabriel yang terlihat sama terkejutnya, sepertinya dia tidak tahu apapun mengenai hal ini. Tidak, bisa jadi dia sedang berpura-pura. Aku harus waspada.  "Maaf, maaf karena Papa dan Mama tidak pernah menceritakan hal ini sebelumnya."  "Tolong ceritakan. Ceriatakan semuanya ke aku sekarang!" Aku membujuk Papa, tapi ketika wajah Papa terlihat tidak nyaman, aku segera membujuk Mama.  Aku ingin tahu kebenarannya dan lagi, saudara kembar? Bagaimana.. bagaimana jika saudara kembar yang dimaksud adalah aku? Bagaimana jika saudara kembar Arisha yang dibunuh 3 tahun yang lalu itu aku?  "Kamu sebenarnya.. kamu sebenarnya adalah anak Frederick Hermansyah bersama perempuan desa yang bernama Nisa."   Setelah keheningan yang cukup panjang, akhirnya Papa memutuskan untuk berbicara.  "Kamu, saudara kembar kamu dan satu lagi kakak kamu hidup bersama Nisa sampai perempuan itu meninggal dua bulan setelah kamu dan saudara kembarmu dilahirkan. Orang tua Nisa mencari keberadaan Frederick dan menyerahkan salah satu dari bayi kembar Nisa kepada dia, yaitu kamu."  Aku tidak bisa berkata-kata. Fakta yang cukup mengejutkan, aku tidak tahu akan ada plot twist semacam ini sebab Arnold tidak pernah menceritakan apapun kepadaku.  "Saudara kembar dan kakak kamu tetap hidup di desa. Papa tidak tahu siapa nama kakak kamu, tetapi nama saudara kembar kamu itu.."  "Arsila," sambung Mama sambil menatapku sendu.  Apa aku sedang bermimpi? Itu namaku!  "Papa.. Papa tidak begitu mengkhawatirkan kondisi mereka karena kami yakin saudara-saudara kamu pasti baik-baik saja."  Aku.. tidak baik-baik saja.  "Frederick tidak mau jika keberadaan kamu merusak semua rencananya jadi Papa dan Mama memutuskan untuk mengadopsi kamu sebagai anak kami. Kami tidak ingin kamu dibuang oleh laki-laki itu karena dia bisa melakukan apapun.”  "Papa.. keluarga Vernanda?" tanya Gabriel.   Menoleh terkejut ke arah Gabriel, aku bertanya-tanya. Jadi Gabriel belum tahu itu?  "Papa kamu ini putra sulung keluarga Vernanda, Hilman Vernanda," Mama melirik Papa sebelum melanjutkan. "Kami berdua memutuskan untuk pergi dari keluarga Vernanda setelah membawa Arisha. Papa kamu bahkan memutuskan untuk membuang marganya agar Frederick maupun keluarga Vernanda yang lain tidak menyentuh Arisha. Kami memutuskan untuk tinggal di luar negeri dan hidup bahagia sebagai keluarga kecil pada umumnya. Kami tidak kembali ke Indonesia sampai Arisha bertemu kamu."  Aku mendengarkan. Ini terlalu rumit- tidak, ini sangat rumit.  "Waktu pertama kali kamu datang ke rumah sebagai pacar Arisha dan bilang kalau kamu berasal dari Indonesia, Papa sama Mama senang sekaligus khawatir. Kalian menjalani hubungan dengan sangat baik dan tiga tahun lalu.. saat kami semua memutuskan untuk kembali ke Indonesia, Papa mendengar bahwa terjadi kecelakaan lift di kantor Frederick. Dua korban meninggal, salah satunya adalah seorang gadis yang bernama Arsila." Papa menatap Gabriel dan aku bergantian.  "Maafkan Papa karena tidak bisa menjaga saudara kembar kamu."  "Jadi Arisha memiliki saudara kembar dan dia meninggal tiga tahun lalu dalam kecelakaan lift di salah satu anak perusahaan Vernanda Group?" Gabriel mengambil kesimpulan. “Benar, Pa, Ma?”  Papa dan Mama mengangguk.  Tunggu, ini tidak seperti ekspektasiku. Bukan begini.. maksudku, aku anak Frederick? Papa- tidak, Frederick Hermansyah yang menyebabkan kecelakaan lift itu.. Papa kandungku?  Kenyataan macam apa ini? Aku.. tidak mau.  "Sebenarnya Papa tidak tahu kecelakaan itu disengaja atau tidak, tetapi.. begitulah. Kami menduga itu sebagai kesengajaan."  "Papa dan Mama sangat khawatir, tetapi beruntunglah Frederick ditangkap dan dipenjara beberapa hari setelahnya karena membunuh karyawannya sendiri."  Aku diam. Apa aku dikirim ke tempat ini untuk mendengarkan kenyataan konyol tentang diriku sendiri? Kenyataan menyedihkan bahwa orang tuaku mencoba untuk membunuh putrinya sendiri?  "Arisha-"  Aku berdiri dengan pandangan kosong.  "Nak.."  "Aku.. aku butuh waktu sendiri dulu," aku meninggalkan ruang tamu dan berjalan menuju kamar.   Slashh..  Aku segera duduk dan memfokuskan diri. Aku harus berbicara mengenai hal ini pada Arnold. Dia mengetahui segalanya tetapi kenapa dia tidak mengatakan 'bagian' paling mengejutkan ini?  "Halo markas misi 8. Petugas Arsila memanggil!"  "Halo, Arsila."  Aku tahu jika Arnold akan segera mengambil alih. Laki-laki itu sudah pasti mengetahui semuanya dan menunggu panggilanku.  "Jam berapa besok? Aku ingin kita bertemu secepatnya."  "Terburu-buru, huh?"   Dia ini jelas akan mengejekku dan jika saja moodku lebih baik, aku akan membalas semua ejekannya dengan senang hati. Tetapi sekarang aku sedang pusing dan semua hasrat untuk membalas candaannya menghilang.  Aku menjadi lebih serius.  Situasi ini.. aku tidak mengerti dan ini terasa sangat tiba-tiba. Aku baru saja mengetahui siapa orang tuaku. Aku baru saja mendengar kenyataan yang membuatku malu. Tapi aku ingin mendengar versi yang lebih lengkap, aku ingin mengetahui semuanya. Aku tidak ingin hidup dalam ketidaktahuan, lagi.  "Jelaskan semuanya padaku, Kakak. Semuanya." ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN