TIDAK INGIN TENGGELAM

1635 Kata
 "Ketenangan sebelum terjadinya badai adalah situasi yang sangat menakutkan. Aku tidak ingin tenggelam, dan aku tidak bisa membiarkanmu mati perlahan. ***  Dalam diam aku menyantap sarapanku. Dalam diam pula aku melirik ke arah Gabriel dengan penasaran, tiba-tiba aku malah mencurigai laki-laki yang berstatus sebagai suamiku untuk sekarang ini. Lagi, kekasih asli Gabriel sudah menelepon dan kemungkinan besar akan tiba di rumah ini tidak lama lagi. Hah, aku akan menjadi pembohong besar saat hari itu tiba nanti.  Aku harus meninggalkan semuanya di sini- tidak, tidak ada yang harus aku tinggalkan karena aku memang tidak memiliki apapun atau membawa apapun selain diriku sendiri ke rumah ini. Aku hanya orang asing yang tiba-tiba menyusup di keluarga ini sebagai seorang kekasih yang sangat suamiku ini cintai.   Apakah benar jika aku menceritakan semuanya? Tidak, itu terlalu berisiko apalagi aku tidak mengetahui latar belakang keluarga Gabriel dan kenapa sistem keamanan PRUNUS tidak memiliki izin untuk mengakses informasi tentang keluarganya.  "Kenapa? Ada yang salah dengan wajahku?"  Mungkin dia menyadariku yang terus-menerus melirik ke arahnya, karenanya dia bertanya dan menghentikan kegiatan makannya. Aku diam ketika sistemku mengidentifikasi wajah Gabriel tetapi lagi-lagi muncul tanda peringatan dengan tulisan maaf di bawahnya.  "Kenapa?" tanyanya, dia mengulangi pertanyaannya.  Aku menggeleng sebagai jawaban. Ya, aku harus memastikan apakah Gabriel juga korban atau ikut andil dalam kesalahan sistem ini. Bagaimana juga tidak masuk akal kalau aku tiba-tiba ada di hadapannya malam itu- maksudku, aku bahkan tidak ingat dan ini adalah tubuh asliku. Aku tidak sedang berada di dalam pikiran Arisha atau semacamnya.  Benar, naif sekali jika aku berpikir kalau Gabriel juga korban. Aku harus berhati-hati.  "Kamu jadi aneh belakangan ini- maksudku, kamu jadi lebih sering melamun. Jangan-jangan kamu benar-benar sakit, ya? Mau ke rumah sakit?” tawarnya.  “Tidak perlu, aku baik-baik saja.”  Melihat wajah khawatirnya, aku tiba-tiba sedikit merasa bersalah karena mencurigainya. Namun ini adalah pekerjaanku dan meskipun dugaanku benar sekalipun, kejadian seperti ini jarang terjadi tanpa campur tangan banyak orang. Haish, sudah tiga tahun sejak terakhir kali aku berpikir keras, aku pikir otakku sedikit berkarat.   Ayo berpikir, Sila. Gabriel yang tiba-tiba menjadi suamimu, Arisha yang memiliki wajah yang sama denganmu dan- oh tunggu, jika Arisha adalah anak Frederick maka bukankah pria paruh baya itu mengenali wajahku? Aku memiliki wajah yang sangat mirip dengan putrinya. Jika begitu, bukankah itu artinya dia ingin membunuh seorang gadis yang memiliki wajah yang sangat mirip dengan putrinya?   Apa itu masuk akal? PRUNUS tidak mungkin salah memberiku informasi, bukan? Kenapa semua ini menjadi sangat membingungkan? Atau apakah Frederick tidak mengenali wajah putrinya sendiri?  “Haish,” desisku kelepasan. Aku melirik Gabriel yang untungnya sedang sibuk dengan ponselnya dan menghela napas lega sebelum kembali berpikir.  Jika orang tua angkat Arisha membuang marganya dan tidak berhubungan lagi dengan keluarga itu setelah mengangkat Arisha sebagai putri mereka, maka itu masuk akal kalau Frederick tidak mengenali wajah dewasa putri kandungnya sendiri. Tetapi apakah mungkin seorang Ayah tidak penasaran dengan putrinya sendiri?  Aish, kenapa Arnold menempatkanku dalam situasi seperti ini?  "Oh?"  Gabriel tiba-tiba membolak-balikkan tanganku, dia seperti mencari-cari sesuatu. Sejak kapan dia meletakkan ponselnya? Hah, inilah akibatnya jika aku terlalu fokus dengan pikiranku.  "Kenapa?" tanyaku. “Ada yang salah?”  "Bekas luka kamu,” katanya. “Bekas luka di sisi kiri jari tengah kamu, sudah tidak ada bekasnya sama sekali, ya?”  Aku menelan ludah sementara Gabriel menatapku penasaran, dia bahkan terus mengecek jari-jari tanganku. Benar, semirip-miripnya aku dengan Arisha, pasti ada sesuatu yang berbeda, sekecil apapun itu.   Haish, tetapi kenapa harus bekas luka?  "Setelah lamaran dan sibuk mengurus pernikahan, aku memang tidak lagi memperhatikan jari-jari tangan kamu termasuk bekas luka itu," dia tampak berpikir. "Kamu bahkan mengatakan kepadaku kalau bekas lukanya sangat sulit untuk hilang. Kamu pergi ke dokter atau bagaimana?”  Aku menarik tanganku, lalu dengan ekspresi semeyakinkan mungkin aku mulai mencoba untuk menjelaskan. "Em.. temen aku- dia ngerekomendasiin seacam salep gitu, Riel. Awalnya aku pikir memang bekas lukanya sangat sulit untuk hilang, tetapi ternyata salep rekomendasi temanku itu sangat ampuh dan cocok di kulitku. Hanya butuh sepuluh hari dan bekasnya langsung hilang.”  Gabriel masih menatapku, tidak lucu jika dia sadar sekarang, bukan? Aku bahkan belum mengerti alasan mengapa aku berada di sini, tidak mungkin Gabriel menyadari semuanya dan mengusirku. Iya, ‘kan?  Tidak, itu tidak boleh terjadi. Aku sudah mulai tertarik dengan kasus yang menimpaku ini, aku ingin menyelesaikannya atau setidaknya mendapat informasi yang berharga.  "Syukurlah," ujarnya.  Mendengar itu, aku langsung merasa lega.   "Jadi mulai sekarang jangan main-main dengan pecahan kaca lagi, oke? Aku heran bagaimana caranya kamu bisa memecahkan cermin hanya dengan sekali dorong," Gabriel menatapku dengan mata memicing. "Jujur, kamu punya kekuatan super, ya?"  Aku memukulnya sambil tertawa pelan meskipun aku tidak mengerti apa yang dia katakan. Aku ingin terus berada di sisinya, bukan hanya sebagai Arisha tetapi juga sebagai agen PRUNUS yang harus mengumpulkan informasi. Hah, pada saat-saat seperti ini akan lebih nyaman jika senior-seniorku menghubungi.  Gabriel ikut tertawa sampai kemudian kami benar-benar selesai sarapan dan aku langsung kembali masuk ke dalam kamar. Sementara itu Gabriel menghubungi Papa Arisha untuk mengabarkan kondisiku.  “Kenapa tidak ada satupun informasi tentang Gabriel dan keluarganya?” gumamku. “Informasi tidak tersedia dan malah dialihkan ke informasi lainnya. Bukankah ini aneh? Aku tidak pernah mengalami hal-hal seperti ini.”  Memastikan bahwa Gabriel masih sibuk bertelepon, aku kembali masuk ke dalam kamar mandi, menghidupkan shower dan kembali mencoba menghubungi PRUNUS. Aku menunggu sampai kemudian tepat sasaran, kali ini timku yang mengangkat panggilanku.   “Hah, sepertinya sistemku benar-benar kembali bekerja dengan baik,” lirihku.  “Halo, Arsila,” sapa senior Jay. Wajah tengilnya terlihat jelas di mataku yang sudah tersambung dengan jaringan-jaringan tekhnologi yang hebat. “Kau ada di kamar mandi? Aku dengar kau sudah menikah, bagaimana keadaanmu?”  “Teganya Senior tidak mencariku,” ujarku dengan nada kesal. “Mana Senior Tan? Kenapa Senior bisa berada di tempat duduk ketua tim?”  “Tan sedang keluar, menemui Bos,” jawabnya. “Kau tidak akan kembali ke sini?”  “Bodoh, jelas aku akan kembali,” tekanku. “Senior, di sini aneh.”  “Aneh?”  “Aku tidak bisa mencari informasi mengenai keluarga dari laki-laki yang sekarang menjadi suamiku.”  “Jangan di cari!” perintah Senior Tan, dia mengambil alih. “Datang ke sini besok, usahakan suamimu tidak tahu kau pergi- tidak, dia pasti akan langsung tahu. Tetapi tidak apa-apa, kau tenang saja karena dia tidak akan menyakitimu.”  “Apa maksud Senior?” tanyaku tidak paham.  “Kami akan menjelaskannya besok. Bos akan menjemputmu di tempat biasa.”  “Arnold akan menjemputku? Kenapa?” tanyaku lagi. “Aku tidak pernah dijemput sebelumnya. Apa ada masalah?”  “Sudahi panggilannya, Arsila,” tegas Senior Tan. “Dia ada dibalik pintu.”  Lalu panggilannya terputus begitu saja. Aku langsung berbalik dan memindai pintu dengan mataku, benar saja kalau Gabriel sedang berdiri di depan pintu. Dia hanya berdiri dan tidak melakukan apapun seperti mencoba menguping atau semacamnya.  Ada apa sebenarnya?  Membuka bajuku, aku berpura-pura mandi lalu memakai jubah mandi. Selama beberapa menit Gabriel masih ada di posisinya dan itu membuatku semakin takut untuk keluar, namun aku memberanikan diri untuk memutar kenop pintu dan membukanya.  “Loh?” seruku, pura-pura terkejut. Aku terkekeh pelan. “Kenapa kamu berdiri di sini?”  “Karena kamu lama sekali di dalam kamar mandi,” sahutnya. “Kenapa mandi? Bukankah kamu sedang sakit?”  “Kamu yang bilang aku sakit, aku baik-baik saja,” ucapku, aku langsung memeluknya dari samping. “Sudah berapa lama berdiri di depan pintu?”  “Sepuluh menit atau kurang,” ucapnya jujur. “Aku sudah menghubungi Papa kamu dan mengatakan kalau kita akan pergi nanti sore.”  “Oh ya? Apa kata Papa?”  Aura yang pernah aku rasakan keluar dari Gabriel kembali lagi. Aura aneh seperti dia mencoba menyembunyikan sesuatu, aura misterius yang terpancar dari kedua tatapan matanya serta caranya tersenyum.  “Gabriel?” panggilku.  “Ya?”  “Kamu tahu siapa Frederick Hermansyah?” tanyaku. “Pemimpin Vernanda Grup yang sekarang ada di penjara itu.”  “Ya,” sahutnya. “Tentu saja, orang-orang di bidang pekerjaanku pasti tahu siapa pemimpin Vernanda Grup yang sekarang ada di penjara. Kamu juga terus membahasnya, kenapa? Kamu masih membencinya?”  “Huh?”  “Apa kamu masih membencinya, Arisha?” tanyanya lagi, kali ini dengan nada yang lebih dalam.  “Tidak juga,” jawabku, aku menutupi kegugupanku dengan tawa. “Aku hanya ingin kembali bertanya. Kamu tahu aku suka mengulang-ulang pertanyaan, bukan?”  “Tentu saja,” sahutnya sambil terkekeh. Gabriel membawaku ke dalam pelukannya. “Mau jalan-jalan besok?”  “Besok?” ulangku. “Tidak, aku ingin menemui temanku besok.”  “Temanmu?”  “Ya, teman lama. Tidak apa-apa, bukan?”  Dia mencebikkan bibirnya. Menurut Senior Tan, percuma jika aku keluar diam-diam karena Gabriel akan mengetahuinya, aku memang tidak mengerti apa maksudnya tetapi lebih baik aku mencari alasan lain daripada menyelinap keluar diam-diam.  “Lama?” tanyanya. “Perlu supir untuk mengantar? Ah, biar aku yang mengantarmu saja.”  Apa yang harus aku katakan?  “Tidak lama,” jawabku, aku menolak menjawab tawarannya. “Kamu kenapa masih santai seperti ini? Sana mandi, katanya mau ke kantor.”  “Oh ya,” dia tertawa. “Lupa.”  Setelah itu aku menghela napas lega tatkala Gabriel masuk ke dalam kamar mandi. Aku menatap langit-langit kamar, memejamkan mata sejenak dan kembali memikirkan apa yang dimaksud Senior Tan. Tetapi sepertinya aku ketiduran karena ketika aku terbangun, Gabriel sudah siap dengan penampilan kantornya.  “Kenapa bangun?” tanyanya, dia mendekat dan mengusap pipiku dengan jari tangannya.  “Sudah mau berangkat? Kapan pulang?”  “Aku belum berangkat sudah ditanya kapan pulangnya,” dia tertawa. “Mau nitip sesuatu? Atau kamu mau ikut?”  Aku menggeleng. “Tidak, hati-hati di jalan saja.”  “Ya sudah aku berangkat dulu, ya?” pamitnya. “Tidur saja lagi.”  Bagaimana ini? Tanpa sadar aku sudah menciptakan badai, tetapi aku tidak ingin tenggelam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN