GABRIEL EFFENDI

1863 Kata
 "Bohong jika aku tidak memikirkan perasaanmu. Bohong jika aku tidak jatuh dalam pesonamu. Tapi jika aku harus memilih, aku tidak bisa menyerah pada keluargaku." ***  (Masa kini: Hari ini)  "Siapa yang kamu bilang kebo? Kamu, tuh, bukan aku!" teriakku sambil melemparkan bantal ke arah Gabriel yang langsung diterima dengan baik oleh laki-laki itu.  "Tapi siapa yang bangun lebih dulu pagi ini? Aku!"  "Ya.. itu karena kamu juga tidur lebih dulu tadi malam!"  Gabriel tertawa, dia selalu meledekku di setiap kesempatan. Dia menggelitikku saat aku mengikat rambut, dia memelukku dari belakang saat aku mencuci piring, dia memercikkan air kolam padaku saat aku tidak mau berenang bersamanya, dan sekarang dia meledekku karena bangun kesiangan.  "Morning kiss, please!"  "No!" tolakku. Aku memukul pelan bibirnya. "Aku mau mandi saja, kau ini menyebalkan sekali jadi tidak ada adegan mesra-mesra hari ini."  Gabriel menarik lenganku, mengurungku ke dalam pelukannya. "Tidak akan aku lepaskan, tolong morning kiss ku, please!”  "Tidak mau!"  “Jahat sekali istriku ini,” keluhnya. “Padahal aku sudah akan memasak sarapan yang sangat enak jika kau memberiku jatah bermera-mesraan hari ini.”  “Ya, ya, terserah apa katamu saja,” ujarku. Aku melepaskan diri dari pelukannya, duduk menghadap ke arah Gabriel dan tersenyum lucu sehingga laki-laki itu ikut tersenyum.  "Riel, kalau suatu hari aku menghilang begitu saja, apa yang akan kamu lakukan?" tanyaku sambil memainkan rambut Gabriel yang jatuh ke keningnya. “Kalau aku tiba-tiba wushh.. menghilang, apa yang akan terjadi sama kamu?”  Gabriel menatapku aneh. "Mau pergi ke mana memangnya? Tidak mau mengajakku?"  "Jauh," sahutku. Aku bergerak semakin dekat dan memeluk Gabriel seperti seekor koala. "Kamu mau cari aku?"  "Hm," Gabriel mengusap kepalaku. "Pasti."  Dari yang aku lihat, Gabriel terbilang cukup tenang dengan pertanyaan tiba-tiba seperti ini. Meskipun matanya menjadi bertanya-tanya, dia menanggapi pertanyaanku dengan sangat tenang. Sekarang giliran aku yang bertanya-tanya, apa memang dia tidak merasakan hal yang aneh tentangku? Maksudku, pasti ada sesuatu yang tidak bisa digantikan tentang Arisha, bukan? Contohnya mungkin.. ada sesuatu yang hanya diketahui oleh Arisha asli dan Gabriel. Apa Gabriel tidak merasa aneh?  "Aku lapar,” bisikku tiba-tiba yang membuat Gabriel tertawa. Aku melepas pelukanku dan memberi Gabriel kiss yang dimintanya tetapi di pipi. "Aku mau pancake!"  "Pancake?"  Aku mengangguk dengan semangat.   "Kamu yang mau bikin adonannya?" Gabriel turun dari atas kasur, dia mengulurkan tangannya padaku dan aku segera meraihnya. Aku memeluknya dari samping, bermanja-manja. Jika Seniorku tahu mengenai apa yang aku lakuin selama menjadi istri Gabriel, mereka pasti akan meledekku setahun penuh.  "Kamu yang bikin semuanya," ujarku sambil terkekeh. "Aku tidak mau membantu, aku hanya akan menonton dan makan."  Gabriel menarik hidungku, dia menggeleng-gelengkan kepalanya sebelum menyuruhku duduk di kursi makan. "Aku sudah memikirkan tentang bisnis makanan."  "Oh ya?" Aku meminum air putih. "Terus? Jadi di restoran itu?"  "Hm, itu restoran impianku. Mungkin aku bisa memulai dengan bekerjasama di sana." Gabriel sibuk menyiapkan adonan dan aku benar-benar hanya menonton. "Aku juga sudah mengatakan kepada sekretarisku untuk menyiapkan apa yang aku butuhkan untuk bisnis itu."  Aku mengangguk-angguk. Gabriel menjelaskan tentang rencananya dan aku mendengarkan semua itu dengan seksama.   Kring.. Kring.. Kring..  "Aku saja yang angkat teleponnya,” ucapku lalu berjalan untuk mengangkat telepon. “Siapa yang menelpon melalui telepon rumah pagi-pagi seperti ini?”  "Ha-"  "Halo? Gabriel?"  Suara perempuan.   "Gabriel? Ini aku, Arisha. Aku.. aku tidak tahu ada di mana sekarang. Ponsel aku.. ponsel aku juga hilang dan di sini sepi. Gabriel aku-"  Tut.. tut.. tut..  Telepon terputus secara tiba-tiba, entah apa yang terjadi. Aku terdiam, lebih tepatnya aku membeku di tempat.  Siapa katanya tadi? Arisha? Arisha yang asli baru saja menghubungi ke rumah ini dan.. apa itu?  "Siapa, sayang?" teriak Gabriel dari arah dapur.  Tapi aku tidak bisa menjawabnya. Aku baru saja mendengar suara kekasih asli dari suamiku- tidak, aku tidak menikah dengan menggunakan namaku sendiri. Aku baru saja bertelepon dengan kekasih asli Gabriel.  Tidak bisa..  Tampaknya aku tidak bisa menunggu seminggu lagi.  Aku harus segera menemui Arnold dan meminta penjelasan laki-laki itu tentang semua ini. Aku harus menghubungi Arnold dan memperjelas nasibku. Untuk apa aku ada di sini dan bagaimana bisa aku tidak ingat apapun lalu tiba-tiba saja berada di hadapan Gabriel malam itu.  Ini semua kesalahan sistem, bukan? Ini tidak direncanakan, bukan? Ini hanya kesalahan system dan bukan rencana, iya, bukan?  Lalu kenapa Arisha tiba-tiba menelpon dan mengatakan dia tidak tahu ada di mana sekarang, suaranya bergetar dan dia.. sepertinya dia sedang ketakutan.   Ada apa ini sebenarnya?  "Arisha?" Suara Gabriel membuatku tersadar.  "Ya?" jawabku setengah linglung.  "Ada apa? Siapa yang telpon?"  Aku menatap Gabriel. Aku ingin mengatakannya, tapi entah ini akan berakibat baik atau tidak tetapi aku sangat ingin mengatakannya. Tidak mungkin aku membohonginya lebih lama lagi. Ini jelas tidak baik karena aku juga tidak mengetahui alasan keberadaanku di sini.  Slasshh..  Sinyal itu- PRUNUS!  "Tadi salah sambung," jawabku kemudian. Aku tersenyum kecil. "Aku ke kamar mandi dulu, ya? Tiba-tiba aku ingin buang air kecil."  Gabriel menatapku heran, tetapi pada akhirnya dia mengiyakan dan berseru, memintaku untuk berhati-hati saat melihatku berlari ke arah kamar mandi.  Slasshh..  Sinyal ini.   Slasshh..  Aku menunggu. Sinyal itu semakin kuat, semakin kuat..  "Halo, Agen Arsila!"  Aku memejamkan mataku sejenak karena tiba-tiba saja chip dalam kepalaku mulai berfungsi. 'Halo, Agen Arsila!' adalah tampilan awal yang biasa muncul saat aku membuka mata. Itu adalah tulisan dengan warna biru yang selalu muncul setelah aku mengaktifkan diri di alat komunikasi PRUNUS. Ini adalah sapaan yang dibuat oleh sistem, semua anggota PRUNUS jelas memiliki ini.  “Tolong cari informasi tentang Gabriel Effendi."  Setelah menyebut nama Gabriel, sesuatu yang aneh terjadi. Bukannya informasi tentang pria itu dan keluarganya yang muncul tetapi hanya satu informasi seorang gadis bernama Arisha. Ada dua foto milik Arisha ini dan wajahnya memang mirip denganku, tetapi selain itu ada fakta yang lebih mengejutkan.  Arisha adalah anak kandung dari keluarga Vernanda.  Arisha adalah anak Frederick Hermansyah, hasil hubungan laki-laki itu dengan perempuan desa tempatnya bekerja dulu sebelum resmi menikah dengan istrinya yang sekarang, Fania Vernanda.  Aku terus membaca, pelan-pelan..  Jadi Arisha diadopsi oleh kakak kandung Fania Vernanda yang sudah lama membuang marga Vernanda dari namanya karena memilih hidup sederhana dengan keluarga kecilnya dan informasi yang baru saja aku baca ini hanya diketahui oleh anggota inti keluarga Vernanda. Apa itu artinya Arisha juga tidak mengetahuinya?  Mengernyitkan dahu, aku kebingungan. Jika ini adalah informasi rahasia? PRUNUS menyusupkan siapa ke keluarga Vernanda sampai bisa memperoleh informasi seperti ini? Anjing? Kucing? Tidak mungkin pemerintah juga turut andil dalam persoalan seperti ini.  Apakah ada anggota PRUNUS yang juga merupakan anggota keluarga Vernanda?  “Cari informasi tentang keluarga Effendi,” perintahku.  “Maaf, informasi tidak tersedia.”  Apa katanya? Tidak tersedia? Apa sistemku kembali rusak? Ah, tentang Arisha yang merupakan anak kandung Frederick, apakah keluarga Gabriel mengetahuinya?  "Apakah keluarga Effendi mengetahuinya?" tanyaku kepada sistem PRUNUS.   "Maaf, informasi-"  "Arisha? Kamu baik-baik saja, bukan?"   Ketukan di pintu membuat aku langsung menonaktifkan sistem untuk sementara. Sistem PRUNUS yang kembali aktif seperti sekarang sudah cukup untukku mencari dan menemukan informasi. Aku harus melewati situasi ini dengan sangat hati-hati.   Aku membuka pintu kamar mandi dan langsung memeluk Gabriel. Meskipun merasa bingung, Gabriel membalas pelukanku dan mengusap-usap punggungku. Laki-laki ini sangat manis sementara aku sendiri tidak tahu harus bagaimana. Aku merasa sangat bersalah karena mungkin aku akan memanfaatkannya.  Apa Gabriel tahu siapa orangtua Arisha sebenarnya? Apa keluarga Gabriel tahu kalau Frederick Hermansyah yang sejak tiga tahun yang lalu sudah berada di penjara adalah Ayah mertuanya?  Ini membingungkan, kesalahan sistem seperti ini seharusnya tidak terjadi selama lebih dari seminggu. Lalu kenapa hidupku seperti tidak ingin berhenti berputar di sekitar Frederick Hermansyah?  Sebenarnya siapa Pak tua itu? Kesalahan sistem macam apa yang membuatku kembali terlibat- meskipun secara tidak langsung dengan laki-laki tua itu? Lagi, kenapa Arnold memintaku menemuinya seminggu lagi padahal dia bisa menyuruhku datang hari ini.  "Kamu benar tidak apa-apa?" tanya Gabriel lagi.   “Hm,” sahutku sambil mengangguk. "Aku hanya lapar, mana sarapanku?"  Gabriel mengusap punggungku. "Ayo balik ke dapur!" ajaknya sebelum kemudian menggandeng tanganku.   Aku melirik Gabriel dari samping, dia sangat tampan, aku akui itu. Dia juga sangat manis dan tenang, meskipun terkadang dia menjadi penakut, kadang dia menjadi dingin, atau ada saat dimana dia menjadi sangat m***m. Selain itu aku juga merasakan aura lain dari keberadaannya, aura yang tidak bisa aku tebak apa artinya.  Hah, ini hanya 9 hari, Arsila. Kenapa kau malah menanam rasa? Bukankah ini masih terlalu dini untuk mengatakan bahwa kau jatuh cinta?  "Aku lupa," katanya, Gabriel tiba-tiba menatapku. "Papa kamu tadi telepon. Kita disuruh ke sana hari ini, Mama kamu kangen katanya."  "Papa?" ulangku, aku sedikit kebingungan.  "Hm, Papa kamu tadi telepon waktu kamu di kamar mandi. Kenapa kamu terlihat kebingungan?"  "Ah.. Papa," Aku mengangguk-angguk dan tersenyum. "Bukan apa-apa, tiba-tiba otakku tidak bekerja dengan baik. Ayo sarapan!"  "Kamu tiba-tiba aneh seperti itu, benar tidak kenapa-napa? Jangan-jangan kamu sakit, ya?" Gabriel menyentuh keningku. "Kamu tidak fokus dari tadi."  Aku menggenggam tangan Gabriel yang tadi digunakannya untuk menyentuh keningku. Berharap dia tidak mencurigaiku, aku tidak mau apa yang aku lakukan sekarang terbongkar. "Aku hanya sedikit lelah dan lapar saja. Tidak apa-apa, kok."  "Ya sudah, aku siapkan sarapannya dulu lalu setelah itu kamu sarapan dan istirahat. Kita ke rumah Papa kamu nanti sore saja, oke?" usul Gabriel, dia menyuruhku untuk kembali duduk di kursi dan bergegas menyelesaikan pekerjaannya.    "Arisha?"  "Hm?" sahutku.  Gabriel tersenyum. "Aku sayang kamu."  Begitu katanya dan aku hanya tersenyum tipis sebagai tanggapan. Apa aku gunakan saja kekuatanku- maksudku, kekuatan sistem buatan PRUNUS ini di sini saja selama Gabriel menyiapkan makanan? Tetapi bagaimana caranya aku mengajukan pertanyaan? Apa-apaan dengan informasi tidak tersedia itu?  Melirik Gabriel yang masih sibuk menyiapkan sarapan, aku kembali memikirkan cara untuk menemui Arnold sebelum waktu yang laki-laki itu tetapkan. Ah, bukankah sistemku sudah kembali aktif? Itu artinya aku bisa menghubungi siapapun yang ada di sana, bukan? Hah, dasar para seniorku itu, kenapa tidak ada satupun dari mereka yang mencoba untuk mengunjungi atau setidaknya menghubungiku?  “Ini sarapannya,” ucap Gabriel, tiba-tiba dia meletakkan piring berisikan pancake di hadapanku. “Langsung sarapan terus istirahat, ya!?”  “Iya,” jawabku sambil mengangguk.   Ini sangat mencurigakan. Kenapa tidak ada satupun informasi tentang Effendi yang tersedia? Sebaliknya keluarga Vernanda yang pengaruhnya lebih terlihat malah kecolongan. Sebenarnya siapa Gabriel dan keluarganya sebenarnya?   Kalau dipikir-pikir aku memang tidak pernah mendengar tentang mereka, karenanya aku terkejut mendengar bahwa Effendi memiliki pengaruh besar di wilayah Jawa. Seperti yang sudah dijelaskan, aku adalah salah satu anggota tim pencari informasi- meskipun tidak sehebat tim misi informasi 7, tetapi tim kami juga memiliki pengaruh.  Ah!  Aku mengaktifkan sistemku, mengajukan pertanyaan secara tidak langsung sambil memanggil Gabriel.  “Gabriel Effendi,” ujarku dan sistemku langsung bekerja, sementara itu Gabriel langsung menatapku.  “Ya?”  Menggeleng, aku memasang senyuman manis sebelum menunduk, berpura-pura fokus kepada pancake ku padahal aku sedang menunggu jawaban dari sistem milikku. Tetapi lagi-lagi jawaban tidak menyenangkan harus kembali aku terima.  “Maaf, informasi tidak tersedia.”  “Riel?” panggilku.  “Ya?” sahutnya.  “Papa sama Mama kamu,” mulaiku pelan. “Aku juga ingin menemui mereka.”  “Papa dan Mama?” ulang Gabriel bingung, tetapi dia mengangguk. “Ya, besok kita pergi ke sana.”  Semudah itu? Apa aku terlalu curiga, ya? Tetapi ini memang mencurigakan.  Apa jangan-jangan kejadian yang terjadi padaku bukan hanya kesalahan sistem biasa? Apakah ada campur tangan dari luar yang mampu menyebabkan kekacauan di dalam PRUNUS? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN