"Selama setahun aku mengenalmu, aku selalu menanyakan alasanmu menyelamatkanku. Sampai di titik dimana kau mungkin muak dengan pertanyaanku dan mengatakan bahwa aku terlalu berharga untuk mati sia-sia. Awalnya begitu.. sampai aku menganggap semua perkataanmu itu palsu."
***
"Aku selalu menjadi hewan peliharaan di semua misi yang melibatkanku. Ini sudah ke lima kalinya dalam setahun belakangan ini. Apa kau tidak mau aku bekerja sebagai manusia?"
Saat itu aku berada di ruang kerja Arnold. Laki-laki itu sibuk dengan berkas-berkas yang menumpuk di meja kerjanya sedangkan aku mengoceh tidak terima karena aku harus menjadi anjing di misi ke enam yang harus aku kerjakan.
"Daripada kau terus misuh-misuh seperti ini, kenapa tidak menolongku mencari bukti dari kasus kucingmu itu?"
"Ar-"
"Tidak ada yang memanggilku dengan nama selama mereka bekerja disini kecuali kau," Arnold mengalihkan tatapannya dari kertas-kertas itu kepadaku. "Sopan sedikit, Nona Arsila."
Aku tidak pernah tersinggung akan kata-katanya, mau sepedas apapun itu.
"Bos, apa tidak ada pekerjaan lain? Senior-senior di timku bahkan selalu menertawakanku karena ini kali keenamnya aku berada dalam otak hewan. Lagipula apa kau tidak kasian kepada uangmu ini? Aku bahkan hampir mati dua kali karena tertabrak mobil."
"Kau tidak akan mati dan jika ingin pekerjaan lain, pergi ke kandang buaya dan beri makan mereka."
Baiklah, aku hanya perlu mengabaikan kalimat terakhirnya. "Tapi jantungku yang sempat berhenti ini berdebar seakan mau meledak karena tabrakan itu!"
"Hampir. Kucing itu memang tertabrak tetapi dia tertolong dan lagipula bukan kau yang akan mati."
Hela napasku terdengar. Aku selalu berada di ruangan ini untuk protes jika tidak ada misi yang harus aku selesaikan, aku sudah melancarkan protes lebih dari tiga kali dan hasilnya sama saja. Aku kalah adu mulut dengannya.
"Sudah selesai?" tanya Arnold. “Sekarang bantu aku.”
Memilih untuk duduk di sofa empuk berwarna hitam sambil memakan buah-buahan yang disediakan untuk Arnold, aku menolak untuk membantunya. Tetapi tidak apa-apa, laki-laki itu tidak pernah marah hanya karena makanan.
"Apa kita saling kenal sebelumnya, Ar?" tanyaku asal, aku masih fokus memakan anggur merah yang terlihat cantik. Tetapi saat aku tidak mendengar sahutan apapun, aku menoleh ke arah Arnold.
Arnold tampak bingung. Dia juga menatapku, hanya saja matanya tampak terkejut. Apa pertanyaanku membuatnya membeku?
"Arnold? Pak Bos? Halo? Apa kita saling kenal sebelumnya?" Aku mengulangi pertanyaanku karena sekarang ini tampak mencurigakan.
"Kalau sudah selesai protes kau boleh keluar,” katanya dan tiba-tiba nada bicaranya menjadi sangat dingin. Dan saat aku ingin protes, dia kembali berkata. "Kerjakan tugasmu di sini dengan baik dan jangan masuk ke ruangan ini lagi."
Kenapa tiba-tiba? Aku salah bicara?
"Jangan protes. Jika kau ingin melakukannya, kembalikan uangku."
Apa aku pernah bilang tidak pernah tersinggung dengan kata-katanya sebelumnya? Benar. Aku tidak pernah tersinggung sampai saat itu.
"Aku tidak pernah memintamu untuk menyelamatkanku,” ucapku begitu hampir mencapai pintu. "Aku tidak pernah meminta uangmu."
Setelah mengatakan itu, aku keluar dari ruangan Arnold dengan kesal. Dia memang menyebalkan, tapi aku tidak tahu bahwa dia semenyebalkan ini. Aku memang baik-baik saja dengan uangnya, tapi akan aku kembalikan setelah tabunganku cukup.
"Nona Sila?"
Senior Gea yang entah sejak kapan berdiri di belakangku menatapku dengan senyum kecil.
"Halo, Senior!" sapaku semangat.
"Saya lihat tadi Nona tampak kesal, saya tidak tahu Nona bisa kembali bersemangat dalam waktu singkat."
"Aku hanya kesal kepada Arnold, bukan semua orang,” jawabku sambil terkekeh.
"Sudah satu tahun dan Nona tidak pernah mendapat masalah saat memanggil Tuan hanya dengan nama saja," kata Senior Gea, dia tersenyum lagi. "Awalnya saya juga bertanya-tanya, tapi akhirnya saya menemukan jawabannya. Bukankah takdir itu menarik, Nona?"
"Takdir?"
"Jangan-jangan Nona belum tahu kalau Tuan-"
Krekk..
"Bukannya saya sudah meminta kamu untuk segera menemui saya?" Tiba-tiba saja Arnold muncul, dia bahkan menatap aku dan Senior Gea dengan tatapan dingin.
"Maaf, Tuan." Senior Gea langsung menunduk, meminta maaf.
"Bukankah aku juga sudah menyuruhmu ntuk bekerja?" Kali ini dia berbicara padaku. Aku yang masih kesal tidak menjawabnya dan memilih langsung pergi. Aku mendengar mereka masih berbicara sebelum masuk ke dalam ruangan, sayangnya rasa kesalku mengalahkan rasa penasaranku. Pada akhirnya aku hanya berjalan lurus menuju ruang tim misi 8 tanpa menyadari bahwa Arnold masih memperhatikanku.
Aku membuka pintu ruangan tim 8. Anggota kami terdiri dari 5 orang- empat awalnya dan aku adalah tambahan. Mereka semua laki-laki, hanya aku satu-satunya perempuan di sini.
"Jadi bagaimana protesnya?" tanya Senior Defri.
Tetapi tanpa aku menjawab pun, mereka semua pasti sudah megetahuinya dari raut wajahku yang muram.
"Bukannya aku sudah bilang kalau kau hanya buang-buang tenaga jika melakukan protes?" ujar Senior Jay, dia meletakkan secangkir kopi di atas meja kerjaku.
"Kali ini dia lebih menyebalkan. Kalau Senior tahu dia tadi mengatakan apa kepadaku, kalian semua pasti akan marah," kataku. Aku menyesap kopi yang diberikan Senior Jay. "Kalian tahu kalau aku itu sulit tersinggung, bukan? Nah, untuk pertama kalinya dia membuatku benar-benar tersinggung, kalian seharusnya ada di sana dan mendengar kata-katanya."
"Mungkin kau yang salah bicara."
Tiba-tiba orang yang paling susah aku dekati di tim ini bersuara.
"Menurut Senior Gibran begitu? Wah padahal aku hanya bertanya apa aku dan Bos pernah kenal sebelumnya tetapi dia tiba-tiba terkejut- maksudku, dia tiba-tiba membeku begitu saja dan langsung mengusirku. Hah, padahal selama ini aku sering bersikap kurang ajar tetapi dia tidak pernah mengusirku."
Maksudku, aku masih tidak mengerti. Itu hanya pertanyaan yang bisa dia jawab iya atau tidak. Kenapa dia sampai berperilaku sangat menyebalkan begitu, sih?
"Kau menanyakan hubunganmu dengan Bos?" tanya Senior Gibran.
"Tidak. Aku hanya bertanya seperti, 'Bos, apa kita saling kenal sebelumnya?' begitu." Tentu aku berbohong sebab aku tidak memanggil Bos dan hanya memanggilnya dengan namanya saja.
Tidak mungkin dia marah karena aku memanggil namanya, bukan? Setelah satu tahun lebih? Tidak mungkin, bukan?
"Lalu?"
"Tidak ada ‘lalu’, dia langsung mengusirku setelahnya."
"Kau terlalu manja kepada Bos. Seharusnya kau kerja saja, dia menggunakan banyak uangnya untukmu. Setidaknya kau harus mengetahui di mana tempatmu."
"Gibran!" Senior Tan memperingatkan.
"Kau hanya terus protes, sama sekali tidak sopan kepada Bos. Hah, seharusnya aku menghalangi niatnya untuk mengambil barang yang rusak parah,” katanya dan setelah mengatakan itu, Senior Gibran keluar dari ruangan.
Senior Jay, Tan dan Defri segera mendekatiku. Memintaku untuk tidak memasukkan ucapan Gibran ke dalam hati. Tetapi..
"Kenapa Senior Gibran keluar?" tanyaku yang membuat ketiga seniorku menatapku bertanya-tanya. "Begini, tadi dia memberitahu letak kesalahanku, bukan? Yah, meskipun dibumbui kata-kata pedas sih, tapi bukannya aku yang seharusnya keluar ruangan karena marah disebut barang rusak? Kenapa malah Senior Gibran yang keluar?"
Ketiga seniorku menatapku takjub.
"Kau.. tidak tersinggung sama sekali?" tanya Senior Defri.
"Dia hanya memberitahu di mana letak kesalahanku.”
"Pedas begitu? Benar kau baik-baik saja?"
"Mulut Arnold lebih pedas dari itu,” jawabku yakin. Sebenarnya aku sedikit tersinggung saat dia memanggilku barang yang rusak parah. Tetapi tidak masalah karena Arnold bahkan sudah mengatakan itu sesaat setelah aku bangun dari kecelakaan itu satu tahun lalu.
Senior Tan menepuk bahuku. "Kalau kau bisa terus seperti ini.." dia mengacungkan kedua jempolnya. "Hebat."
"Mari berteman dalam jangka waktu yang lama, Nona Arsila." Senior Defri menjabat tanganku.
"Terus seperti ini- ah tidak, kurangi protesmu. Fighting." Senior Jay menepuk bahuku dua kali.
Aku mencebikkan bibir. Aku memang bukan orang yang mudah tersinggung- lebih tepatnya dulu aku itu tida begitu peduli pada apapun yang terjadi, tapi hal itu menjadi semakin baik sejak aku berada di markas ini. Sejak berada disini aku menjadi lebih positif.
Bertahun-tahun setelahnya, aku masih tetap saja menjalani misi yang berhubungan dengan menjadi hewan peliharaan, ini bahkan sudah tiga tahun. Total ada sekitar 13 misi yang sudah aku selesaikan dengan ‘menjadi’ hewan.
Perlu diketahui, sejak kejadian itu aku juga tidak pernah datang ke ruangan Arnold. Kami hanya bertemu di perkumpulan agen yang diadakan setiap satu bulan sekali. Aku benar-benar tidak bicara lagi padanya dan hanya bekerja, dia juga tidak punya niatan untuk menyapaku jadi aku diam saja. Selain itu aku tidak pernah protes, aku mengiyakan semua misi sampai Senior Tan sering bertanya apakah aku baik-baik saja dan aku hanya mengangguk sambil tersenyum cerah.
"Sila, sepertinya ada misi bagus yang cocok untuk kamu," Senior Tan sebagai ketua tim misi mendatangi meja kerjaku. "Kali ini benar-benar lebih bagus dari biasanya."
"Oh ya? Apa?"
"Tertarik menjadi pelayan kafe?" tanyanya dengan senyum lebar. Tangannya memegang sebuah map yang berisi berkas kasus. “Ini akan menjadi kesempatan pertamamu untuk terjun langsung ke lapangan.”
Ketiga seniorku yang lain juga menatap ke arah kami, mereka menunggu keputusanku. Tetapi yang aku katakan adalah..
"Kenapa aku?" tanyaku. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku berhak dengan peran itu. Aku ingin mengetahui sebaik apa kemampuan mengumpulkan informasiku. Aku tidak mau mendapat peran karena rasa kasihan.
"Kau sudah hampir tiga tahun bekerja di sini, kemampuanmu juga semakin berkembang. Selain itu kau sudah tahu cara mengontrol kemampuan chipmu, kau juga sudah bekerja dengan baik bahkan misimu yang terakhir berhasil selesai sebelum waktunya,” jelas Senior Jay.
"Seharusnya tidak selama itu,” gumamku yang kurang bisa didengar oleh ketiga orang lainnya di ruangan ini.
"Apa?" tanya Senior Tan.
"Harusnya Senior memberiku peran seperti ini sebelum-sebelumnya. Aku terlalu sering merasakan sensasi jantung berdebar ketakutan karena mobil-mobil yang melaju kencang seakan-akan mereka ingin menabrakku."
"Jadi intinya kau menerima misi kali ini?"
"Tentu saja,” jawabku dengan nada tinggi.
Setelah itu aku berjalan dengan riang ke arah kandang buaya di belakang gedung ini. Ada tiga buaya besar di sana dan aku biasanya selalu datang untuk memberi makan, Senior Jay mengajariku cara melempar makanan ke arah buaya-buaya di kandang sehingga entah sejak kapan pastinya, sekarang pekerjaan memberi makan mereka menjadi tugas tidak tertulisku.
Tetapi saat aku membuka pintu belakang, aku mendengar beberapa orang sedang berbincang di ruangan kecil yang terletak di ujung. Sebenarnya ruangan itu hanyalah gudang, tapi mungkin mereka datang untuk mengambil barang sekaligus bergosip.
"Hubungan dengan Bos?"
"Iya. Karena dari itu Bos berusaha keras hari itu untuk keselamatan Sila. Kau tahu sendiri bagaimana kondisi Arsila ketika pertama kali datang ke sini, bukan? Berapa dokter handal kita yang masuk ke ruang operasi hari itu? Sepertinya mereka semua.”
Mereka membicarakan aku? Hubungan dengan Bos?
"Jadi mereka benar-benar punya hubungan?"
"Iya."
"Mereka sudah saling kenal sejak dulu."
Oh ya? Kenapa aku bisa lupa? Setahuku setelah aku keluar dari panti asuhan, aku tidak pernah dekat dengan siapapun. Bahkan di panti asuhan aku hanya menyendiri dan tidak ikut bermain bersama anak-anak lain.
"Aku bahkan baru tahu kalau mereka sebenarnya-"
Klekk..
"Kalian tidak bekerja?"
"Bos? Selamat siang, Bos."
Aku yang sedikit terkejut karena sebuah tangan baru saja melewatiku untuk membuka pintu langsung mengambil satu langkah mundur. Di dalam sana ada tiga orang yang masing-masing memegang satu dus yang entah apa isinya. Mereka tampak tidak kalah terkejutnya denganku karena kedatangan Arnold yang tiba-tiba.
"Silahkan kembali bekerja!"
Mereka semua menunduk dan meminta maaf sebelum keluar dari ruangan sempit itu satu per satu. Mereka semua pergi dan hanya tinggal aku dan Arnold yang berdiri diam.
"Kenapa kau di sini?" tanyanya.
Oh? Aku pikir dia tidak akan bicara.
"Mau ke belakang,” jawabku lalu membuka pintu belakang seperti rencana awal. Arnold mengikutiku, dia bahkan duduk di sampingku yang melempar daging-daging ayam yang sudah dibersihkan ke dalam kandang buaya.
Sebenarnya aku tidak mengerti tujuan tiga buaya ini berada di sini. Apalagi mereka semua jantan, setidaknya begitu kata senior Tan.
"Apa menguping pembicaraan orang lain menjadi trend baru-baru ini?
Dia menyindirku, tetapi aku tidak peduli.
"Bukannya aku menyuruhmu bekerja dengan baik? Apa menguping pembicaraan rekan kerjamu masuk dalam kategori bekerja?"
Dia ini kenapa sih?
Aku hanya melirik, tanpa membalas ucapannya.
"Kau mau aku lempar ke dalam kandang itu juga?" serunya. Akhirnya dia kesal karena aku tidak kunjung bicara.
"Sejak kapan kita saling kenal?" tembakku langsung. Merujuk pada perbincangan yang aku dengar tadi.
"Hampir tiga tahun."
"Bohong,” dengusku. "Jelas-jelas mereka bilang kalau-"
"Kau mempercayai rumor? Aku tidak tahu kau menyukai rumor seperti orang lain."
Aku menatap mata Arnold. Mata yang terlihat familiar tetapi aku tidak tahu di mana dan kapan aku menatap mata seperti ini selain mata laki-laki itu.
"Kenapa menyelamatkanku?"
"Percobaan investasi."
"Kenapa menyelamatkanku?"
"Anggap saja aku sedang baik hati, sedekah."
"Kenapa menyelamatkanku?"
Hening. Arnold menatap mataku dalam-dalam, begitupun denganku.
"Kau belum melakukan hal yang menyenangkan semasa hidup. Jadi akan menyakitkan jika mati sia-sia seperti itu, padahal hidup itu berharga,” jelasnya sambil menatapku dalam-dalam.
Aku diam, tenggelam dalam tatapannya.
Hening, tidak ada yang berbicara.
Kami bertatapan dalam jangka waktu yang cukup lama sampai aku menyadari sesuatu.
Mataku terbelalak, aku bahkan menutup mulut karena tidak percaya.
Mata itu..
Mata itu..
Kenapa? Kenapa aku bisa lupa?
***