AWAL MULA HIDUP DI PRUNUS

1987 Kata
 "Kenyataan bahwa kau mengetahui segalanya tentangku membuatku bahagia, karena setidaknya dari sekian banyak orang ada satu yang tidak perlu banyak bertanya." ***  Ini sudah hari ke sepuluh sejak aku terbangun dan tanpa merasakan apa-apa. Tubuhku ringan dan chip yang disebut-sebut oleh Voldemort itu ternyata berfungsi dengan baik. Uangnya tidak sia-sia.  Aku mengamati orang-orang yang berada di PRUNUS selama 10 hari penuh. Mereka keluar dengan berbagai macam pakaian, bahkan PRUNUS menggunakan beberapa hewan- tidak, sebenarnya itu bukan hewan sungguhan karena meskipun tidak bisa bicara, akalnya bekerja dengan baik dengan bantuan tekhnologi modern.   “Halo, Arsila,” sapa beberapa orang yang melewatiku dan aku hanya membalas sapaan mereka dengan halo dan senyuman sebab aku masih belum mengetahui satu per satu nama orang-orang yang ada di sini.  Beberapa ruangan memiliki dinding berwarna putih bersih, sedangkan yang lainnya hanya menggunakan dinding kaca. Terlihat seperti bangunan tidak terurus dari luar tetapi mewah di dalam. Tidak, sebenarnya tidak sembarang orang bisa melihatnya dari luar.  Mereka menyebut tempat ini sebagai markas misi. Total ada 8 tim yaitu dua tim khusus yang berperan dalam misi-misi besar, empat tim cadangan yang tugasnya sedikit lebih mudah dari tim khusus karena tidak harus terjun di bidang politik dan dua lagi adalah tim yang mengumpulkan informasi. Entahlah, sebenarnya tanpa bantuan chip yang disebutkan Voldemort, ini terlalu rumit untuk dimengerti.  “Tetapi bukankah tim 8, tim ini harus diberi penghargaan lebih? Meskipun kita hanya mengumpulkan informasi, tetapi tim kita juga yang mengurus hewan-hewan siluman berakal tadi,” kataku kepada Voldemort, berniat protes.   “Jadi apa maumu, Nona Arsila?” tanyanya sambil menatapku lelah.  “Apa tidak ada pekerjaan untukku? Yang lebih menarik daripada duduk di hadapan komputer sambil memelihara siluman anjing dan kucing.”  “Menyatu saja dengan ‘siluman’ itu.”  “Bodohnya aku karena berbicara denganmu,” keluhku.  Ah, kembali lagi ke PRUNUS.  Beberapa perempuan dari tim cadangan biasanya akan dikirim ke lapangan untuk menarik perhatian pimpinan perusahaan-perusahaan besar yang bermasalah atau diduga memiliki informasi penting. Tidak semuanya, tetapi beberapa dari mereka sampai berakhir dalam pernikahan. Tetapi katanya semua itu hanya untuk mengumpulkan informasi lebih dalam karena semua orang di sini sangat setia.   Menurut seniorku, tidak ada satupun yang menolak atau memberontak. Meskipun agen perempuan tadi benar-benar mencintai suaminya, mereka tidak berkhianat kepada PRUNUS karena semua agen di sini tidak dikirim untuk mendekati si pembuat onar secara langsung, mereka hanya dikirim kepada orang terdekat si pembuat onar dan menyusun strategi dengan mengumpulkan informasi.  "Kau benar-benar tidak ingin balas dendam?"  "Tidak," sahutku. Aku menatap ketua timku. "Kenapa semua orang bertanya seperti itu? Rasanya balas dendam adalah hal yang wajar padahal tidak.”  "Rata-rata agen disini berasal dari keluarga yang memiliki segalanya, hanya saja mereka memberontak dan berakhir bergabung dengan PRUNUS. Sebagian lainnya adalah anak-anak pintar yang bosan dikekang dan ingin bebas. Tidak ada yang pernah datang dengan kondisi sepertimu."  "Ah, aku ingin menanyakan itu," seruku. Aku duduk di kursi sebelah ketua timku. "Waktu aku datang kesini, apa kondisiku seburuk itu?"  "Hm," seniorku itu mengangguk tanpa ragu. "Malah aku pikir kau akan dijadikan makanan untuk buaya-buaya peliharaan di belakang."  Kurang ajar.  Aku menatap sinis ketua timku atau yang selalu aku panggil Senior Tan. Dia adalah salah satu orang yang dekat denganku di markas ini. Aku tidak memiliki banyak teman di tim misi lain, tetapi ini adalah bentuk kemajuan karena aku tidak lagi berbicara dengan kaktus sambil meratapi diri.  "Banyak sekali darah. Itu hal yang pertama kali aku pikirkan saat melihatmu. Tidak pernah ada yang masuk ke sini dalam keadaan seperti itu. Bahkan luka sobek di betismu," jeda, dia melirik betisku yang mulus. Tidak ada bekas apapun disana. "Yah.. Bos benar-benar menggunakan uangnya untukmu dengan sangat baik."  "Apa Voldemort itu baik?"  "Voldemort? Kau menonton Harry Potter tadi malam?"  "Bukan. Maksud aku itu Bos."  Senior Tan mengerutkan keningnya. "Kenapa dipanggil Voldemort?"  "Karena dia mengatakan padaku kalau namanya tidak boleh disebut. Dia bahkan tidak mau memberitahukan namanya padaku."  Dan Senior Tan tenggelam dalam tawa. Ck, apa yang lucu?  "Bos mengatakan itu?"  "Ya. Aku tidak berbohong," ucapku meyakinkan.   "Yah, aku tidak tahu Bos memiliki selera humor,” katanya dengan sisa tawa. Dia bahkan memegangi perutnya.  "Itu bahkan tidak lucu sama sekali. Apanya yang punya selera humor? Muka papan tanpa ekspresi itu? Senior ini yang benar saja."  "Waktu pertama kali aku bertemu Bos, dia langsung menyebutkan namanya dan memberikan penjelasan singkat tentang PRUNUS. Aku yakin dia juga melakukan hal yang sama kepada yang lainnya,” jelas Senior Tan.  Wah, jadi mentang-mentang dia menghabiskan banyak uangnya untuk menyelamatkan nyawaku, sekarang dia malah bersikap menyebalkan seperti ini hanya kepadaku?  "Jadi siapa namanya?" tanyaku penasaran.  "Kenapa tidak tanya sendiri?"  "Voldemort itu akan mengalihkan topik pembicaraan."  Lagi-lagi Senior Tan tertawa, bahkan saat Senior Jay datang dan Senior Tan mulai menceritakan kisahku, mereka berdua tiba-tiba tertawa. Wah.. bukan hanya Bos dan organisasi ini saja yang aneh, orang-orang di sini juga sudah gila.  Ah, alasan aku tidak memanggil mereka Kakak atau nama samaran mereka adalah karena permintaan Senior Tan. Dia itu setengan Korea dan katanya di sana biasanya menyertakan kata Senior sama seperti di Jepang. Begitulah.  "Kau benar-benar anak kesayangan Bos, Sila,” kata Senior Jay. Dia mengedipkan matanya dengan cara yang menyebalkan.  "Aku akan bersyukur jika itu benar tetapi Bos Voldemort itu menyebalkan, dia bahkan menceritakan dengan tepat di mana letak luka-lukaku, dia selalu mengingatkanku tentang uang yang dia habiskan dan itu auh.. dia menyebalkan. Maksudku, saat dia menceritakan luka-lukaku, bisa saja aku mengalami trauma dan ketakutan-“  "Tapi kau tidak,” potong Senior Tan. "Aku dengar-dengar sebelum kau mengalami kecelakaan itu, Bos sudah menyiapkan banyak hal untukmu. Rumornya dia itu juga sering datang ke rumahmu hanya untuk mengawasimu-"  "Bukankah itu artinya Bos jatuh cinta dengan Arsila?" potong Senior Jay. Dia mulai berkonspirasi.  Omong kosong macam apa itu?  Aku melotot pada Senior Jay yang sebenarnya umurnya hanya berbeda 5 bulan denganku. Tetapi karena aku memanggil semua orang di sini dengan sebutan senior, aku juga melakukan itu padanya. Ah, sulit sekali berteman dengan perempuan-perempuan di sini, aku hanya memiliki teman laki-laki- maksudku, hanya rekan timku.  "Jauhkan pikiran itu, kalian ini ada masalah apa sebenarnya? Lagipula aku hanya menanyakan namanya," sewotku. Aku menyilangkan tangan di depan d**a. "Dan Voldemort itu memang menguntitku, dia mengetahui kebiasaanku. Wah, aku tidak percaya memiliki seorang stalker kaya raya."  "Siapa yang kau sebut stalker kaya raya?"  Tiba-tiba suara lain berbicara, membuat kami bertiga menatap ke arah pintu dengan ekspresi berbeda. Kedua seniorku langsung menunduk hormat, sementara aku memasang wajah tanpa dosa. Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya, apalagi dulu aku selalu menunduk di kantor apapun yang terjadi, tetapi di sini aku menjadi lebih berani.   Kedua seniorku langsung pamit meninggalkan kami di ruang kerja tim misi 8. Awalnya aku pikir Voldemort ini meminta kami semua pergi, jadi aku mengikuti kedua seniorku sebelum kemudian Voldemort menarik lengan kananku dan membuatku terjebak di ruangan bersama makhluk menyebalkan ini.  "Bagaimana keadaanmu, uangku?"  Aku memutar bola mata. Dia memang sangat menyebalkan.  "Uangmu baik-baik saja, Tuan."  "Apa Tan sudah memberitahumu tentang misi pertamamu?" Voldemort tidak menatapku, dia menatap sekeliling ruangan namun aku tahu jika dia berbicara padaku. Iyalah, lagipula hanya ada kami berdua di sini.  "Apa aku benar-benar harus menjadi kucing?" tanyaku.  Voldemort menatapku. "Hanya pikiranmu. Jika kau pernah memainkan game virtual maka kau akan mengerti, atau jika kau pernah menonton drama di mana mereka duduk dengan sebuah alat di kepala mereka sehingga mereka bisa masuk ke dalam game dan bahkan mengontrolnya.. seperti itu rasanya."  "Kau pikir aku sebodoh itu? Jelas aku tahu," sombongku. Aku maju selangkah, membuat jarak antara kami terkikis. "Kau tidak benar-benar mengira bahwa aku berpikir akan menjadi kucing sungguhan, bukan?"  "Oh, tidak?" tanyanya tenang. Ekspresi terkejutnya dibuat-buat, membuatku semakin ingin menamparnya. "Beruntunglah kalau kau tidak sebodoh itu."  "Voldemort!"  "Jangan memanggilku seperti itu, tidak sopan sekali kau ini."  "Mereka semua mengatakan kalau kau memberitahu namamu sesaat setelah kalian bertemu. Kau bahkan menjelaskan tentang organisasi ini, tapi kenapa kau malah menceritakan kisah tidak menyenangkan denganku. Tidak adil sekali."  "Mereka tidak menggunakan banyak uangku seperti halnya dirimu, dan juga mereka langsung membuatku untung sementara kau sendiri.. hah, kau bahkan tidak bisa memberi makan buaya-buayaku di halaman belakang."  Uwah, dia membuatku takjub. Aku menatapnya dan dia juga membalas tatapanku. Kami terus bertatapan dengan sinis, terus seperti itu sampai ketukan di pintu membuat perhatian kami teralihkan.  "Masuk!" kata Voldemort memberi perintah.  Perempuan itu, yang dua hari lalu memakai dress selutut berwarna hitam kembali datang dalam balutan dress cantik lainnya.   Wah, semua orang di sini memang memakai pakaian khas Prunus berwarna hitam dengan garis-garis putih di bagian lengan. Tidak ada yang memakai dress kecuali untuk misi dan perempuan ini adalah satu-satunya yang mengenakan dress berbeda di setiap harinya. Selain itu dia juga sangat cantik.  "CEO perusahaan Diditra Group diselidiki karena dugaan korupsi, selain itu dia juga positif memakai obat-obatan terlarang dan mengaku melakukan itu dengan dua CEO perusahaan besar lainnya."  "Hertha Group dan Vernanda Group," tebak Voldemort yang langsung dijawab dengan anggukan oleh sekretarisnya. Jadi itu pernyataan bukan pertanyaan.  Tunggu- Vernanda Group? Frederick Hermansyah? Mantan perusahaan tempatku bekerja? Wah selain berselingkuh ternyata dia juga mengkonsumsi obat-obatan terlarang. Tidak tahu malu sekali.  "Benar, Tuan."  "Orang seperti mereka memang tidak pernah ingin rugi sendiri,” gumam Voldemort. "Bukankah dia hanya anak tiri keluarga Diditra?"  "Benar, Tuan."  "Dia pasti diturunkan dari jabatannya dan akan segera digantikan oleh keturunan asli keluarga itu."  "Salah satu sumber mengatakan bahwa Dimas Diditra sudah mengumpulkan orang-orang yang siap mendukungnya apapun yang terjadi. Dia juga membayar mahal untuk itu."  "Itu akan mempersulit Geral Diditra, bukan? Wah, padahal aku menyukai bocah itu. Ada lagi?"  Aku sebenarnya bingung, lebih tepatnya aku tidak mengerti apa yang sedang mereka katakan. Aku tahu organisasi ini mendapat izin dan menjalin kerjasama dengan pejabat tinggi Negara- tentunya rahasia, jadi tugas kami adalah mengumpulkan informasi tentang orang-orang yang berpotensi merugikan negara. Sebagai gantinya, negara memberikan banyak dana dan menghapus informasi pribadi orang-orang PRUNUS tergantung permintaan kami.  Bahkan Senior Tan dianggap sudah mati.  "Frederick Hermansyah mengulangi kesalahannya. Kali ini CEO Vernanda Group itu telah membunuh dua orang karyawan perempuannya setelah selesai menyetubuhi mereka, itu informasi yang kita dapat untuk sementara ini. Tim cadangan sedang menyelidiki kasus ini dengan kerjasama forensik untuk membuktikan apakah jasad manusia yang ditemukan di bukit adalah korban Frederick atau bukan."  Aku.. tidak salah dengar, bukan?  "Kapan kejadiannya?"  "Satu orang dibunuh sebulan yang lalu, satu orang lagi diketahui baru dibunuh tadi malam."  Voldemort menatapku. "Ada karyawan hilang di kantormu dulu?"  "Hah?" aku mengedipkan mata beberapa kali. Masih bingung. "Hilang?"  "Lupakan saja. Kerjaan orang yang hanya mementingkan diri sendiri dan tidak pernah makan bersama rekan-rekan kerjanya pasti tidak akan mengetahui apa yang terjadi."  Mulutnya pedas sekali. Sayangnya aku tidak tersinggung sama sekali.  "Namanya Kirana Larasati-"  "Oh? Kirana? Dia mengundurkan diri beberapa hari sebelum aku dipecat,” ucapku begitu mendengar perempuan cantik itu bicara. Ah, karena terlalu bersemangat aku tanpa sadar malah memotong pembicaraannya.  "Benar. Dia dikabarkan mengundurkan diri dan berencana pindah ke luar kota," Perempuan tadi kembali menjelaskan, dia tersenyum kepadaku sebelum kembali fokus. "Frederick tidak mau kabar perselingkuhan ataupun skandal lainnya tentang dirinya menyebar."  Voldemort mengangguk-angguk. "Ada lagi, Gea?"  "Tidak, Tuan." Perempuan cantik yang baru aku ketahui namanya setelah 10 hari itu pamit meninggalkan kami berdua di ruangan ini, lagi.  "Frederick melakukan itu? Dia benar-benar membunuh Kirana? Apa kali ini dia akan dipenjara?" tanyaku bertubi-tubi.  "Kau ingin dia dipenjara?"  "Menurutmu?" tanyaku sarkas. Dia kenapa semakin menyebalkan, sih?  "Dia tidak akan memakan korban lain kalau kau membalas dendam."  "Kau menyalahkanku? Lagipula apa bagusnya balas dendam?"  Aku mengikutinya yang berjalan ke arah pintu tetapi dia malah memberikanku tatapan meremehkan sebelum membuka pintu.  "VOLDEMORT!" teriakku kesal.  "Arnold,” katanya, dia mengetuk keningku dua kali. "Namaku Arnold."  Dan kemudian dia benar-benar keluar dari ruangan serba putih ini setelah membuatku terdiam.  Arnold? Nama yang tidak asing. Apa dia kenalanku? Kenapa aku merasa akrab sekali dengan nama itu? Dimana aku mendengarnya?   Aku membalikkan badan, berjalan menuju kursi kerjaku yang terletak di pojok kanan ruangan ini.  Arnold, ya? Arnold.. apa aku pernah mendengar namanya dari film?  Jujur saja, saat itu terjadi, aku merasa sangat bodoh karena tidak mengenali siapa Arnoldi, pemilik PRUNUS yang juga Bos kami.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN