"Pada akhirnya aku harus meninggakanmu, entah dengan hati lega atau dengan perasaan yang tersisa."
***
"Halo, Arsila. Bagaimana kabarmu di sana?"
Suara yang sangat aku kenal.
"Mari bertemu di markas jam 10.42 seminggu dari sekarang."
Begitu saja dan panggilan langsung terputus. Aku diam, mematung di depan cermin dengan alat sambil meraba belakang leherku. Aku menghubungi mereka selama seminggu hanya untuk ini? Dan apa tadi katanya, bertemu di markas? Seminggu dari sekarang?
Tunggu, apa mereka tidak mengerti posisiku? Tidak. Mereka pasti mengetahuinya, tapi 'dia' bahkan tidak berkomentar apapun. Bagaimana bisa dia melakukan ini?
Tok.. tok.. tok..
"Risha?"
Sedikit terkejut dengan ketukan di pintu, aku segera menyalakan kran dan mencuci wajahku. Setelah itu aku menghela napas berkali-kali, mencoba untuk tidak berfokus kepada pembicaraan sepihak tadi.
Ya, aku harus pergi ke markas seminggu dari sekarang. Harus, entah apapun yang akan terjadi aku harus menuju PRUNUS dan menanyakan apa yang terjadi kepadaku secara langsung kepada mereka. Tetapi sekarang, aku memiliki tugas lain.
"Ya?" sahutku ketika membuka pintu kamar mandi. Aku menatap Gabriel. "Kenapa? Kenapa bangun?"
Gabriel mengedipkan matanya dengan sangat lucu, dia sepertinya masih sangat mengantuk.
"Kamu.. sedang apa?"
"Cuci muka," jawabku. Aku menggenggam tangannya dan mengajaknya untuk kembali ke kasur. "Kamu sendiri kenapa bangun?"
"Ya karena kamu menghilang."
Aku tertawa. Ada apa dengan pemilihan katanya? Aku menghilang?
"Ayo tidur, bayi besar!" ajakku.
Gabriel memelukku- tidak, aku yang memeluknya tetapi dia memintaku untuk mengusap-usap rambutnya. Tidak butuh waktu lama untuk Gabriel kembali ke alam bawah sadarnya dan dia sekarang bahkan terlihat lebih nyenyak dibandingkan sebelumnya.
“Hah, PRUNUS, ya?” gumamku dengan sangat pelan. “Hari ini adalah hari selasa, jadi hari senin jam 10 pagi aku harus sudah tiba di markas. Okelah.”
Banyak yang harus aku tanyakan, mulai dari kenapa alat-alatku tidak berfungsi dengan baik, kenapa aku tidak melihat orang-orang PRUNUS di lingkungan sekitarku padahal biasanya mereka mengawasi untuk memastikan keadaan agen baik-baik saja. Lalu kenapa aku terlibat dalam situasi seperti ini dan kenapa mereka susah sekali dihubungi.
Ya, aku harus menanyakan semua itu. Bodoh memang karena aku sempat berpikir mereka- minimal 'dia' akan mengkhawatirkan aku. Nyatanya 'dia' tampak tenang dan bahkan tidak mau mendengarkan suaraku.
“Halo, Arisha? Ck,” decakku. “Halo katanya. Haha, tetapi bagaimana juga aku tidak bisa protes lebih jauh sebab kalau bukan karena dia, mungkin sekarang aku sedang sendirian di dalam tanah- ah, mungkin aku sudah menjadi tanah itu sendiri.”
Semua ini dimulai sejak hari itu, alasan kenapa aku bisa menjadi salah satu agen di PRUNUS dan sebagainya. Semuanya dimulai sejak tiga tahun yang lalu.
"Kamu dipecat!" katanya tepat di hadapan wajahku. "Presdir kita langsung yang memberikan perintah ini. Lagipula saya tidak mengerti kenapa orang-orang itu menerima kamu dari sekian banyak pelamar di hari itu, kerja tidak ada bagus-bagusnya, tidak pernah mau bersosialisasi. Mau jadi apa kamu? Di rumah saja sana!"
Aku mengemasi barang-barangku tanpa mengatakan apapun. Meskipun banyak mata di ruangan itu yang menatapku dengan sinis, aku tidak begitu peduli. Sampai..
"Gue dengar-dengar nih, dia masuk karena koneksi."
"Dia sempat jadi simpanan salah satu investor terbesar kita katanya, lumayan cantik sih memang."
"Katanya juga dia dipecat hari ini karena ketahuan oleh istri Presdir kita waktu berduaan di hotel sama Pak Bos."
"Gila, mukanya saja yang kelihatan polos."
"Mentang-mentang cantik, segala cara dihalalin."
Aku bukan orang yang bisa mengontrol gosip dan aku juga tidak ingin membuang-buang waktu untuk membuktikan siapa dan bagaimana aku yang sebenarnya di depan mereka. Percuma, semua orang hanya percaya pada sesuatu yang ingin mereka percayai. Tidak ada yang peduli pada kebenaran, selama itu menarik dan terdengar menjatuhkan seseorang, mereka menyukainya.
Aku masuk ke dalam lift dengan beberapa karyawan yang sama saja, mereka bergosip bahkan menyindir dengan suara lantang tetapi anehnya mereka tidak menyebut namaku secara langsung. Kenapa? Karena mereka hanyalah kumpulan pengecut dan aku sudah dikurung bersama para pengecut ini dalam waktu yang cukup lama. Tidak ada satupun orang tulus disini, semuanya sama saja, lebih percaya gosip tanpa peduli akan kebenarannya.
Bukankah orang di sekitar kalian juga sama? Atau kalian termasuk salah satu diantaranya?
“Menyusahkan,” lirihku.
Tiba-tiba lift berhenti bergerak. Mati. Seperti di sinetron, semua orang mulai panik dan aku menghela nafas saat mereka terus berteriak dan menggedor pintu lift. Ini masih lantai lima. Jika mereka terus-menerus bergerak, kemungkinan besar lift ini akan meluncur bebas ke bawah.
Tapi seperti yang diduga, aku tidak mengatakan apapun. Aku hanya diam dan bersandar pada dinding belakang.
"Ini semua karena kita satu lift sama dia!" teriak salah satu dari mereka sambil menunjukku. "Dia itu pembawa sial!"
Situasi yang membuat semua orang berubah menjadi hewan. Lihat? Mereka mulai mencari orang untuk disalahkan.
"Diam! Daripada mengatakan hal-hal tidak masuk akal lebih baik terus minta tolong saja."
"Kenapa lo jadi bela dia?"
"Gue tidak sedang membela siapapun. Dia juga ada di sini, terjebak bersama kita. Bukan cuma lo yang takut mati, kita juga!"
Salah, aku tidak pernah takut mati. Aku hanya menjalani waktu yang Tuhan beri, jika Dia ingin mengambilku, aku akan baik-baik saja. Aku juga tidak akan merasakan kehilangan, karena aku tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk ditinggalkan.
Tiba-tiba terdengar suara seseorang berteriak dari luar lift, menyuruh kami yang di dalam untuk tenang. Ada kesalahan teknis dan mereka akan segera memperbaiki dan menolong kami.
"Ada 7 orang di sini, kalau kalian terus bergerak seperti ini, liftnya akan jatuh! Kalian tidak dengar mereka tadi bilang apa?"
"Ya lo mau kita diam saja seperti dia?" orang yang sama kembali menunjukku.
Kenapa orang-orang suka melibatkan orang lain? Menyebalkan.
"Karena itu demi keselamatan kita."
Kreekk..
Lift bergerak sedikit diiringi suara seperti sesuatu yang putus. Semuanya berteriak, mereka langsung duduk sambil menangis ketakutan.
Kreekk..
Bunyi kedua dan gerakan kedua.
Kreekk.. Kreekk.. Kreekk..
Teriakan ketakutan terdengar semakin jelas, namun sebelum lift benar-benar terjatuh, pintu itu entah bagaimana caranya dipaksa untuk terbuka. Si egois, yang sejak tadi hanya menyalahkan orang lain itu langsung berdiri dan menggenggam erat uluran tangan orang yang membuka pintu. Posisi kami sedikit ke bawah dari yang seharusnya. Mungkin karena lift yang mulai tidak seimbang.
Mereka berlomba-lomba menyelamatkan diri.
Kreekk..
Terdengar teriakan orang-orang yang berada di luar.
Empat orang sudah naik, tersisa tiga orang termasuk aku sendiri.
Kreekk..
Satu orang yang baru saja menggenggam uluran tangan petugas terpaksa harus melepasnya karena lift mulai terjun bebas. Aku memejamkan mata, sementara dua orang perempuan yang berada di dalam lift ini bersamaku entah sedang melakukan apa.
"Gue masih belum mau mati." itu kalimat terakhir yang aku dengar sebelum benturan keras membuat kesadaranku menghilang.
Aku tidak tahu apa yang terjadi setelah itu. Hanya saja saat aku bangun, aku ada di ruangan serba putih dengan beberapa selang kecil mengelilingi tubuhku. Ada satu orang di ruangan ini, seorang laki-laki, masih muda dan sedang menatapku. Aku tebak dia baru berusia awal 30-an.
"Halo, Arsila."
Dia tahu namaku. Dia siapa? Dokter? Tapi kenapa berpakaian formal seperti itu?
"Ha..lo? Siapa?"
Dia tersenyum. "Bagaimana kondisimu?"
"Baik,” ujarku tidak yakin. Sebenarnya lebih kepada takjub karena aku tidak merasakan apapun seperti rasa sakit, nyilu atau apapun yang membuktikan bahwa aku baru saja jatuh dengan lift dari lantai lima
"Tentu. Tentu kau harus merasa baik setelah usaha tim kami untuk membuat jantungmu kembali berdetak."
Apa maksudnya?
"Sembilan hari yang lalu- lebih tepatnya sembilan hari lebih 5 jam lewat 56 menit yang lalu. Jantungmu berhenti."
Apa dia sedang mengatakan bahwa aku sudah mati sembilan hari yang lalu?
"Iya. Jantungmu berhenti berdetak sesaat setelah kau tiba disini. Tapi bersyukurlah, karena seorang dokter di sini menyelamatkanmu. Ah, mereka mengeluarkan banyak keringat mereka hari itu."
"Maksud- tidak, ini dimana dan siapa kau?"
"PRUNUS. Kau bisa menyebut tempat ini dengan nama itu,” katanya, dia menunjuk sebuah logo dengan tulisan PRUNUS di pintu yang sebenarnya tidak perlu karena aku bisa melihat logo itu tersebar di ruangan ini termasuk jam tangan yang dipakai laki-laki ini. "Ada yang ingin kau tanyakan lagi?"
"Kau. Namamu,” kataku. Merasa tidak nyaman bicara dalam posisi tidur, aku bangun dan membuat selang-selang yang mengelilingiku ikut bergerak.
Selang apa ini sebenarnya? Kenapa banyak sekali?
"Kepalamu terluka," dia kembali bersuara, masih tidak mengatakan siapa namanya dan malah mengalihkan topik. "Tampaknya salah satu orang yang ada di dalam lift bersamamu menggunakan tubuhmu sebagai penyangga pintu lift yang hampir tertutup."
Apa maksudnya? Dia sedang berkhayal?
"Bukankah ada tiga orang di dalam lift itu?"
"Ya.” Setidaknya begitu seingatku.
"Kau masih bernapas meskipun kepalamu terluka parah, beberapa anggota tubuhmu juga memar.. ah betismu sobek, 2 dari tulang rusukmu patah sementara satu orang lainnya meninggal di tempat karena serangan jantung- begitu kata dokter. Ah, dia pasti sangat ketakutan atau mungkin jantungnya memang lemah? Lantai lima tidak setinggi itu."
Jangan berpikir bahwa dia mengatakan itu dengan berbagai ekspresi. Tidak. Dia mengatakan itu dengan nada datar dan wajah biasa saja. Tanpa ekspresi.
Namun daripada takjub akan penjelasannya tentang seberapa parah kondisiku saat ditemukan, aku malah penasaran dengan satu orang yang berhasil selamat. Akan aku tanyakan lagi kondisiku nanti.
"Apa perempuan yang meninggal itu memakai baju putih?" tanyaku penasaran.
"Kenapa?"
"Jawab saja!"
"Kau galak sekali,” katanya pelan, masih dengan wajah tanpa ekspresi. "Tidak, dia memakai baju biru."
Ah.. berarti dia benar-benar 'tidak ingin mati' seperti perkataannya sebelum benturan keras terjadi. Tapi bukankah itu tidak benar? Dia menggunakan tubuh mantan rekan kerjanya untuk menyelamatkan diri- ah, mungkin dia pikir aku sudah mati.
"Kenapa? Kau ingin balas dendam karena dia memakai tubuhmu untuk menyelamatkan diri?"
"Tidak dan jangan terus mengalihkan pembicaraan, siapa kau?"
"Aku pemilik PRUNUS."
"Maksudku namamu."
"Kau tidak boleh menyebutnya."
"Kau bukan Voldemort."
"Oh kau juga tahu series itu? Aku pikir gadis yang tidak pandai bersosialisasi dan terlalu sibuk meratapi nasibnya sambil memandangi tanaman kaktus kecil di jendela samping rumahnya tidak memiliki waktu untuk menonton film."
Dia menyindirku dengan wajah datar itu? Luar biasa.
"Oke, Tuan yang tidak boleh aku sebut namanya, kenapa aku ada di sini dan kenapa kau bisa mengetahui kebiasaanku?" tanyaku mencoba tenang. Cukup ganjil memang karena dia mengetahui kebiasaanku yang berarti dia sudah mengenalku sebelum kejadian itu.
"Oh, aku pikir kau akan terkejut."
"Yang benar saja,” dengusku.
"Sebelum itu, apakah jantungmu yang kembali berdetak, tulang rusukmu yang patah dan belakang kepalamu yang hampir hancur itu benar baik-baik saja?"
"Ya.. ya, begitulah. Ini aneh, tapi aku benar baik-baik saja.”
"Aku banyak mengeluarkan uangku untukmu. Biasanya kami tidak pernah mengambil barang rusak yang selalu memandangi kaktus di rumah, kami selalu mengambil barang dengan kualitas terbaik. Sebenarnya banyak yang menentangku untuk menyelamatkanmu, jadi jangan terlalu ambil hati jika rekan kerjamu bergosip bahwa kau masuk PRUNUS karena koneksi. Sebab itu benar."
Menyebalkan. Dia menyebutku 'barang rusak'? Kalau begitu kenapa tidak membiarkanku mati?
"Jangan coba-coba memakiku dengan tatapanmu," katanya mengingatkan. "Ah, dan chip di kepalamu.. itu akan membantumu mengumpulkan informasi lebih cepat, itu tersambung dengan jaringan di matamu. Kau akan segera bekerja karena sekarang kau sudah terlihat sangat sehat, jadi jangan coba-coba membenturkan kepalamu karena chip itu mahal, lebih mahal dari harga menyelamatkan nyawamu."
Kurang ajar. Mulutnya benar-benar kekurangan akhlak.
Tapi tunggu, chip? Apa aku sedang bermimpi atau seseorang membuatku menjadi aktris? Apa maksudnya dengan chip, informasi dan jaringan di mata?
"Tuan?"
Seorang perempuan cantik dengan balutan dress selutut berwarna hitam menundukkan kepalanya saat tatapan matanya bertemu laki-laki yang mengaku sebagai pemilik PRUNUS ini. Melihat dari gelagatnya, aku percaya bahwa dia memang pemilik- tunggu, sebenarnya apa PRUNUS ini?
"Kami sudah mendapat laporan dan bukti lengkap tentang kejadian sembilan hari lalu yang menyebabkan kecelakaan lift,” katanya. Perempuan itu memberikan Ipad yang dibawanya kepada laki-laki yang tidak aku ketahui namanya itu. “Benar seperti dugaan, kejadian itu disebabkan karena kesengajaan.”
7 detik.. 8 detik..
"Frederick Hermansyah," sebut laki-laki itu, kini dia menatapku. "Dia yang memecatmu, bukan?"
Karena dia Presdir yang dimaksud.. ya, dia yang memecatku.
"Ya,” jawabku.
"Apa kau melihatnya berselingkuh?" tanyanya.
"Ya,” jawabku ragu. Memang benar aku melihat Presdir perusahaanku itu berselingkuh, tetapi aku pikir dia tidak mengetahui kalau aku ada di sana.
"Dia hidup nyaman dengan kekayaan istrinya selama bertahun-tahun," Voldemort itu tersenyum miring sebelum menatapku dengan wajah datar. "Bukankah tidak mengejutkan jika dia melakukan semua itu demi kelangsungan hidupnya?"
Apa maksudnya?
Voldemort itu memerintahkan si perempuan cantik untuk keluar dari ruangan serba putih ini dan kembali menatapku.
"Kau masih tidak mengerti? Dia pasti akan melakukan segala cara untuk membunuhmu. Dua hari sebelum kau dipecat, sebenarnya dia baru menyadari bahwa kau pernah melihatnya berselingkuh. Ketakutannya untuk kembali hidup miskin membuatnya tidak segan untuk membunuhmu- tidak, dia tidak segan membunuh semua orang."
Aku masih menatapnya. Bukan karena aku tidak percaya, tapi kenapa harus lift? Kenapa tidak membunuhku secara diam-diam? Toh tidak ada yang akan peduli. Kenapa harus melibatkan banyak orang?
"Membunuhmu di tempat ramai tidak akan menimbulkan kecurigaan, akan lebih cepat bagi mereka untuk meminta maaf di hadapan media dan memberikan uang ganti rugi daripada membunuhmu secara diam-diam. Memang tidak ada yang akan menyadarinya, tapi bukankah akan lebih mudah untuk membuatmu tutup mulut selamanya dengan kejadian yang disamarkan sebagai kelalaian atau kesalahan teknis?"
Aku rasa aku mulai sakit kepala. Dia seperti cenayang saja.
"Kau ingin balas dendam?" tanyanya tiba-tiba.
"Untuk apa?" tanyaku balik.
"Tidak?"
"Tidak."
Dia mengangguk-angguk. "Kau akan bergabung dalam tim misi 8 dan akan menangani kasus-kasus kecil sesuai kemampuanmu bersama beberapa orang lainnya. Ah, mengumpulkan informasi juga menjadi tugasmu.”
Tunggu, misi apa?
"Tunggu!” Aku menarik lengannya ketika dia mulai melangkah. "Apa maksudnya ini? Tidak, sebenarnya apa PRUNUS ini?"
Dia tersenyum. "Kau akan mengetahuinya sendiri."
Dan begitulah, begitulah yang terjadi dan kenapa aku menjadi diriku yang sekarang ini.
***