"Aku ingin kamu terus bahagia, melakukan apa yang kamu suka, terus tersenyum dengan mata berbinar seperti itu. Jika selama ini kamu merasa dibatasi, sekarang aku akan membuatmu melampaui."
***
"Enak, ‘kan?" Dia sudah melontarkan pernyataan itu lebih dari sepuluh kali. Tampaknya dia benar-benar takut kalau aku tidak menyukai bakpaonya dan harus makan sendiri lagi.
"Enak. Enak sekali."
Gabriel tersenyum. "Setelah ini masih mau makan batagor?"
Aku mengangguk semangat. Aku memang sangat menyukai batagor, saat pertama kali menjalankan misi sebagai mata-mata dengan pikiranku di set-up dalam pikiran anjing, aku sangat frustasi. Benar, bukan aku yang memakan makanan anjing itu, tapi mereka dan aku menjadi satu, jadi aku merasa tersiksa selama misi itu. Beruntunglah aku segera menemukan bukti percobaan p*********n dan pembunuhan lebih cepat dari jangka waktu yang diberikan, aku bisa lega karena dapat pergi keluar.
Sejujurnya aku masih bingung bagaimana cara PRUNUS memberikan percobaan seperti itu- tidak, sebenarnya bukan percobaan karena sudah ada beberapa kali orang yang bertugas sama sepertiku. Anjing itu bukanlah anjing dan kucing itu bukanlah kucing. Semuanya terasa sangat gila dan terdengar bodoh tetapi aku benar-benar menjalani misi aneh seperti itu.
Sayangnya sebelum mereka menghubungi aku lebih dulu, aku tidak bisa mengunjungi markas karena sebelum menjalankan misi penyamaran itu aku menyerahkan kunci milikku kepada ketua misi. Sekarang aku juga tidak bisa datang dan harus menunggu panggilan.
“Lagipula.. aku tidak bisa pergi,” gumamku. “Bagaimana caraku bisa menghubungi mereka tanpa membuat keributan?”
Gabriel masih berbincang dengan Mak di dalam dan aku keluar terlebih dahulu karena aku meninggalkan ponselku di mobil. Aku keluar untuk mengambilnya sekaligus menunggu Gabriel.
“PRUNUS sialan, jika saja mereka lebih mudah dihubungi dengan nomer ponsel sebagai interaksi manusia normal, jelas aku tidak akan kesusahan seperti sekarang,” gerutuku. “Bagaimana bisa tidak ada satupun yang mencariku? Kemana kakak-kakak kurang ajar itu? Tapi.. jika ada mereka aku juga bakal stres pada akhirnya, lebih baik aku menikmati udara dengan tenang.”
Udara sore hari ini memang sangat nyaman. Aku bisa melihat lampu jalanan yang mulai menyala, kawanan burung yang sepertinya hendak pulang dan bangunan pencakar langit yang terlihat indah dilihat dari jauh. Hah, menyenangkan.
"Sedang apa?"
Terkejut, aku langsung menoleh ke belakang begitu mendengar suara Gabriel mendekat. Mengubah ekspresiku menjadi tersenyum, aku menunjuk lampu jalanan yang berada tidak jauh dari kami.
"Lampu?"
Aku mengangguk lalu menatap Gabriel. "Hah, pemandangan sore ini bagus. Sangat bagus."
Gabriel membalas tatapanku. "Bagus?" ulangnya, dia mencoba mendekat dan karena sudah paham, aku menoleh sehingga bibirnya hanya mengenai pipiku.
"Hm," sahutku, aku berdehem dan Gabriel mengerti.
"Mau pulang?"
Aku menggeleng dan menunjuk tempat penjual batagor yang berada di ujung jalan. "Beli itu dulu!"
Gabriel tertawa. "Kamu belum kenyang? Kamu tadi tiga empat bakpao, lho!"
"Kenapa aku harus kenyang? Itu cuma bakpao! Lagian aku tadi cuma sara- bukan, maksud aku makan siang. Aku belum sarapan," cerocosku, pura-pura memarahinya.
"Tumben, biasanya makan salad saja kamu sudah bilang kalau kamu kenyang."
"Itu dulu!" seruku kesal. Aku memukul lengannya dengan sekuat tenaga. "Ayo beli batagor!"
Dia lagi-lagi tertawa. Entah hanya perasaanku atau bagaimana, tapi dia terlihat benar-benar bahagia. Aku sebenarnya tidak mengerti apa arti bahagia itu sendiri karena aku jarang mengatakan bahwa aku bahagia. Ah, tetapi saat aku berdiam diri di rumah dan menolak untuk pergi ke sekolah, aku merasa lega.
Apa itu bahagia?
Sebenarnya aku adalah korban bullying saat masih selama SMP sampai SMA sampai tendangan, tamparan bahkan ledakan mental yang dilakukan mereka selama bertahun-tahun itu tidak lagi mempengaruhiku. Aku ingin terus berdiam di rumah bukan karena tidak tahan oleh sikap mereka, aku hanya iri karena mereka memiliki orang tua yang tidak aku miliki sejak aku hadir di dunia.
Maka dari itu aku akui kalau aku senang menjadi Arisha. Arisha memiliki orang tua yang menyayanginya dengan tulus, mereka bahkan menangis saat pernikahanku dan Gabriel. Sangat menyenangkan memiliki tempat bersandar.
"Mau makan disini atau dibawa pulang?" tanya Gabriel, dia sudah memegang dua bungkus batagor di kedua tangannya. Gabriel menatapku dengan tatapan yang sangat aku sukai, mengingatkanku kepada orang yang menyelamatkan hidupku.
Hah, jika sudah begini aku jadi merindukan PRUNUS. Bagaimana orang itu? Apa dia sedang mencariku atau malah sudah bisa memantauku?
"Pulang. Ayo makan di rumah,” putusku dan suamiku itu mengangguk setuju.
Gabriel tersenyum manis, dia mengulurkan tangannya untuk aku genggam setelah menyatukan dua bungkus batagor ke dalam plastik.
Selama perjalanan pulang, aku menatapnya dari samping karena lucu melihat dia terlalu fokus pada jalanan. Dia tampak tenang bahkan ketika ada pengendara ugal-ugalan yang hampir menabrak spion mobilnya. Gabriel tidak berkomentar banyak selain berdecak satu kali. Iya, dia hanya berdecak satu kali.
"Apa kita pernah menonton drama atau film bersama-sama, Riel?" tanyaku.
"Hm? Bukankah kamu bilang menonton acara seperti itu hanya buang-buang waktu?" Gabriel terlihat bingung.
Ck, Arisha ini adalah orang yang terlalu serius. Dia benar-benar bertingkah seperti ratu, ya?
"Oh ya? Aku bilang seperti itu? Aku lupa."
"Ya, berulang kali. Tapi Ella tidak menyerah untuk mengajakmu menonton acara televisi favoritnya," ungkap Gabriel sambil tertawa pelan. “Dia terus memintamu untuk menonton bersamanya.”
Ella? Ella.. Ella- oh, aku ingat dia! Sepupu Gabriel yang menatapku seperti anak kucing di hari pernikahan kami. Wah, aku ingat gadis lucu itu.
Sepanjang perjalanan aku terus bertanya ini itu dan saat Gabriel menatapku bingung, aku akan mulai mengalihkan pembicaraan atau berpura-pura bodoh. Aku harus memeriksa semuanya sendiri karena tidak ada yang bisa membantuku.
Kapan PRUNUS akan menjawab panggilanku? Kapan mereka akan menjelaskan situasinya kepadaku?
"Ella kelas berapa sih, Riel?"
"Sudah mau lulus SMA sepertinya, tahun ini mungkin dia akan mulai kuliah."
“Masih seperti anak kecil saja ya dia."
"Kamu selalu bilang seperti itu," kata Gabriel, dia menghentikan laju mobil ketika lampu lalu lintas berubah merah. "Sekarang kamu selalu mengulang pernyataan kamu yang dulu, atau kalau tidak, kamu tiba-tiba berubah sikap. Kamu seperti bukan kamu."
Aku diam. Tidak menjawab Gabriel bahkan ketika lampu berubah hijau dan mobil mulai kembali berjalan.
"Tapi sebenarnya aku tidak akan protes, sudah berkali-kali aku mengatakan ini tetapi aku lebih suka sikap kamu yang sekarang,” ujar Gabriel pada akhirnya. Tapi meskipun begitu aku belum memberikan reaksi dan mungkin karena itulah Gabriel melirikku. "Kamu kenapa? Sakit? Masuk angin?"
"Tidak. Hanya lelah saja, seharusnya kita benar-benar diam di rumah setelah acara melelahkan kemarin."
"Kita sudah hampir sampai di rumah," Gabriel mengusap rambutku. "Lelah sekali, ya?"
Terkekeh, aku menatap Gabriel. "Aku kebanyakan makan mungkin," sahutku. Aku menggenggam tangan yang tadi dia gunakan untuk mengusap kepalaku. "Tapi aku masih ingin makan lagi."
Gabriel tertawa. Benar-benar tertawa, apalagi setelah dia tahu bahwa aku sudah menghabiskan batagorku selama berada di dalam mobil.
Beberapa saat setelah kami sampai di rumah, dia bahkan langsung menuju dapur dan membuatkan aku segelas jus mangga serta membawa beberapa cemilan ke dalam kamar. Kami duduk berdua di atas kasur dengan laptop yang menyala, menampilkan drama korea yang di perankan Ji ChangWook dan YoonA.
"Kamu tadi bukannya bilang kalau kamu itu lelah, ya? Tumben sekali, malah sekarang kamu mau nonton drama Korea juga?”
"Hm, sudah hampir seminggu sejak lamaran itu aku belum nonton drama lagi. Jadinya ya aku mau menonton lagi malam ini."
"Apa ini?" Gabriel memelukku dari samping. "Kamu sudah lama nonton drama?"
"Tidak selama itu. Lagipula waktu kamu melamar aku dan bilang kita akan segera menikah, aku piker itu akan memakan waktu sebulan, tetapi ternyata kamu langsung menyiapkannya dalam lima hari. Walaupun acaranya sudah selesai, aku masih kaget," ungkapku. Aku menyandarkan kepalaku di bahu Gabriel, aku terus bicara meskipun mataku tidak teralihkan dari laptop sama sekali.
"Kamu suka aktornya?" tanyanya tiba-tiba.
"Hm, dia tampan. Tidak ada yang tidak suka pada Ji ChangWook, apalagi kalau dia sudah bermain dalam drama bergenre action seperti ini. Dia itu tidak terkalahkan," jawabku cepat.
Hening. Aku fokus menonton drama dan entah apa yang dilakukan Gabriel, dia hanya terus memainkan rambutku seperti yang dia lakukan di lift sampai parkiran tadi. Cemilan yang sejak tadi aku makan sudah habis, begitu pun dengan jus yang dibuatkan Gabriel. Aku sudah menonton drama lebih dari satu jam dan masih belum puas.
"Kamu masih belum ngantuk?"
"Masih jam delapan," jawabku tanpa melihatnya. Sudah lama sejak terakhir kali aku menonton drama dan meskipun suamiku tidak kalah hot dari Ji ChangWook, aku tetap ingin menonton drama sampai tuntas. Sudah berapa tahun aku menunda drama ini karena pekerjaanku? Hah, sudah lama sekali.
"Aku sudah mengantuk,” manja Gabriel dan memelukku. Dia kembali menggerak-gerakkan tangannya dan memasang tatapan mesra.
"Tidur saja kalau begitu."
"Ayo!" Gabriel langsung menutup laptop tanpa mematikannya. Laki-laki itu menyingkirkan toples cemilan yang sudah kosong, meletakkan laptop di atas nakas dan menarik selimut untuk menutupi tubuh kami berdua.
"Aku benar-benar mengantuk," katanya lagi sebelum menyusupkan tangannya ke dalam baju tidurku. "Besok aku harus ke kantor, bangunin aku sebelum jam delapan, ya?"
Mengiyakan permintaannya, aku hanya diam saja sementara Gabriel langsung menutup matanya. Dia tidak melakukan apapun selain meletakkan tangannya di punggung telanjangku. Bahkan Gabriel langsung tertidur begitu aku mengelus-elus rambutnya. Dia benar-benar seperti anak kecil dan entah beberapa kali pun aku mengatakannya, aku menyukainya.
Aku suka aroma wangi sampo yang dipakainya.
Aku suka caranya tersenyum.
Aku suka bagaimana matanya berbinar.
Aku suka sifat manjanya.
Aku suka semuanya.
Melirik ke arah jam dinding, ternyata sudah jam setengah sembilan. Aku ikut memejamkan mataku, berniat untuk menyusul Gabriel ke alam mimpi sebelum sebuah sinyal aneh membuat mataku kembali terbuka.
Apa tadi? Apa PRUNUS kembali mencoba untuk menghubungiku? Jika sudah begini, aku harus segera menjawab atau mencoba untuk balik menghubungi mereka sebelum sinyal tadi benar-benar hilang.
Pelan-pelan aku melepaskan pelukan Gabriel. Suamiku itu tampak lelap dalam tidurnya, jadi aku berusaha sekeras mungkin untuk tidak membangunkannya. Setelah memastikan bahwa aku berhasil, aku langsung bergegas menuju kamar mandi.
Mengamati situasi dan menutup pintu kamar mandi dengan rapat. Aku berdehem, memejamkan mata dan mencoba untuk fokus.
"Markas misi 8. Petugas Arsila memanggil."
".............."
Hanya terdengar suara sinyal aneh. Jadi aku mencoba lagi dan lagi.
"Markas misi 8. Petugas Arsila memanggil."
"............."
Demi Tuhan, aku akan mengutuk PRUNUS jika mereka tidak menjawab panggilanku lagi. Aku akan mengutuk tempat itu agar tidak menerima pasokan listrik selama berhari-hari.
Ah, tidak, itu hanya akan semakin merugikanku. Aku frustasi sekali di sini.
"Markas misi 8. Petugas Arsila me-"
"Markas misi menjawab panggilan,” jawab salah satu alat komunikasi canggih kami dan aku langsung mengusap d**a karena merasa lega. Tetapi hanya itu, biasanya langsung ada yang menjawab panggilanku tetapi kenapa sunyi? Siapa yang menerima sinyal panggilanku?
“Halo? Petugas Arsila di sini,” ucapku ketika tidak ada lagi yang menyahut. “Halo?”
“Halo, Arsila. Bagaimana kabarmu di sana?”
Untuk aku dan kamu, untuk kebersamaan kita yang yang bersifat sementara. Bagaimana denganmu jika aku memutuskan untuk pergi secara tiba-tiba?
***