"Di pertemuan pertama kita kau membuatku kebingungan, lalu di pertemuan kita kali ini, kau membuatku hampir kehilangan kewarasan.” *** "Halo, Arsila!" Arsila katanya. Aku menatap Arnold yang langsung mengalihkan pandangannya dariku, baru seminggu yang lalu saat dia mengatakan kalau aku harus melupakan laki-laki di hadapanku ini dan sekarang dia memperbolehkan Gabriel masuk ke dalam PRUNUS? Dia gila, ya? Dia ini datang sendiri atau bersama Arisha aku tidak tahu. Tetapi yang pasti, bagi seseorang yang pernah membuat masalah dengan PRUNUS, Gabriel tampak tenang padahal jika dia bertingkah salah sedikit, dia bisa saja dikurung di tempat ini dengan Arnold yang akan mengosongkan gudang lagi. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya sambil berjalan dan duduk di sofa dengan santainya. Tidak hany

