"Aku mencoba segala yang aku bisa, aku menangisi waktu dan takdir yang mempertemukan kita. Seandainya kau dan aku memang ditakdirkan bersama, apa boleh aku berharap kalau itu akan menjadi selamanya?" *** Tepat jam sepuluh malam aku sampai di rumah. Di sana sudah ada semua Senior timku serta salah satu ketua tim ACE yaitu Senior Tian. Aku tidak tahu apa yang dia lakukan di rumah karena biasanya Arnold selalu berbicara dengan Senior Tian di luar. “Ada apa ini?” tanyaku. “Kenapa semuanya berkumpul di sini?” “Bukan apa-apa, hanya ingin mengadatakan pesta bagian kedua,” sahut Senior Defri, dia yang pertama kali menghampiriku. “Apa yang kau bawa, Sila?” “Oh,” aku tersenyum sebelum mengangkat kantong plastik yang aku bawa. “Tada! Aku keluar untuk membeli bakpao.” “Masuk saja dulu,” uj

