“Arsila?” Kepalaku langsung menoleh, terkejut ketika ada yang memanggil namaku di taman yang hanya dipenuhi suara isakanku. Aku yang masih menangis langsung mencari asal suara itu sebelum aku melihat seseorang mendekat, menghampiriku. “Sila?” panggilnya lagi, nada suaranya terdengar khawatir ketika melihatku menangis. Dia bahkan duduk berlutut di hadapanku. “Kenapa di sini sendiri dan menangis seperti ini, hm?” Dia adalah senior Jay, entah dari mana dia karena selain tidak memakai seragam, bagian bawah celananya kotor. Mungkin dia baru kembali dari misi. Isakanku tetap terdengar, aku tidak bisa berhenti menangis meskipun senior Jay berada di hadapanku. Meskipun dia khawatir, aku tetap tidak menjawab apapun. “Sila?” panggilnya pelan. “Kau kenapa menangis di sini?” tanyanya lagi.

