Entah berapa lama aku duduk sambil berpelukan dengan Arnold di pinggir jalan yang sepi. Dia terus membisikkan maaf di telingaku sementara aku berjuang keras untuk berhenti menangis dan menerima penjelasannya secara pelan-pelan. “Mau Kakak gendong?” tawarnya ketika aku sudah benar-benar berhenti menangis dan hanya diam di pelukannya. “Malam ini banyak bintang, ya? Padahal biasanya tidak sebanyak ini. Sepertinya kita sedang beruntung, Sila,” katanya, tiba-tiba membahas tentang bintang. Aku ikut mendongak dan mendengus karena dia membohongiku. Awan mendung bahkan menutupi keberadaan bulan, apalagi bintang-bintang kecil yang bergemerlapan. “Tidak perlu berbohong seperti itu, dosamu sudah banyak,” sarkasku sebelum melepaskan pelukannya dan berdiri. “Tidak mau digendong?” tanyanya lagi, kemba

