SEBUAH RASA

1860 Kata

“Ada beberapa kasus di dalam hidup yang tidak memerlukan penyelesaian terbuka. Tiba-tiba saja kita mendapatkan solusinya begitu saja dan duduk bersama kembali dengan lelucon yang mungkin bisa menghangatkan hati.” *** Makam malam hari itu memiliki arti tersendiri di dalam hatiku. Apalagi Arnam tidak mau melepaskan pelukannya sampai aku tertidur pun di dalam pelukannya. Aku memang belum sempat menanyakan apapun dan meskipun aku tidak banyak berbicara, entah kenapa aku menyukainya. “Apa yang sedang kau pikirkan?” tanya senior Gibran, dia duduk di sebelahku yang sarapan seorang diri di kantin. “Hampir tidak pernah ada yang makan di sini tetapi hari ini kau duduk dan menikmati sarapanmu. Aku rasa tidak ada kerjaan tidak seburuk itu.” Aku tersenyum mendengar gurauannya. “Kalau begitu berhent

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN