Terkejut

1439 Kata
“Biar saya yang menyetir, Pak,” pinta Ana. “Sudah aku bilang, aku tidak biasa disetiri seorang wanita,” balas Alex. “Tapi Bapak harus terbiasa. Apa yang dipikirkan orang-orang nanti kalau setiap kita pergi, Bapak yang menyetir?” “Kenapa kamu selalu memikirkan orang lain, sih.” “Ya karena saya harus menjaga reputasi saya dan bapak.” “Jangan panggil bapak. Sejak kapan aku jadi bapakmu?!” “Iya, Pak,” “Apa kamu sekarang punya hobi baru? Sepertinya kau suka sekali berdebat denganku.” “Ayolah, Pak.. Aku tidak ingin berdebat dengamu. Mana kuncinya..” Ana merebut paksa kunci yang ada digenggaman Alex. Mau tidak mau, Alex menuruti permintaan Ana. Mereka pun memasuki mobil dan Ana melajukan mobilnya dengan cepat. “Kenapa kau diam saja?” ucap Alex saat mereka terjebak dalam keheningan. “Saya sedang konsentrasi,“ jawab Ana dengan nada suara sedikit bergetar. Alex yang mendengarnya langsung menoleh ke arah Ana. “Apa kau sedang menangis?” tanya Alex yang melihat air mata Ana mengalir di pipinya. Ana yang mendengar pertanyaan Alex dengan buru-buru mengusap air matanya yang terlanjur jatuh. “Apa kau baik-baik saja? Kalau begitu menepilah, biar aku yang menyetir,” perintah Alex pada Ana. “Tidak usah, akan lebih tenang jika begini.” “Kenapa kau menangis? Apa perlakuanku menyinggungmu?” “Tidak.” “Lalu?” “Aku hanya merindukan orangtuaku,” jawab Ana singkat sambil tersenyum dan menoleh ke arah Alex. Mereka pun kembali dalam keheningan sejenak. “Jujur saya sangat menikmati saat makan siang tadi. Saya teringat orang tua saya. Pak Robert dan Bu Liliana orang tua yang baik dan hangat. Kau sangat beruntung, Pak,” ucap Ana sambil menoleh sebentar ke arah Alex. “Jangan panggil pak,” ucap Alex dengan wajah datar dan dingin. Ana hanya tersenyum melihatnya. “Ngomong-ngomong, apa kamu anak tunggal?” tanya Ana. “Tidak, aku punya adik perempuan, dia sudah berkeluarga.” “Kau sendiri tidak ingin segera berkeluarga?” tanya Ana penasaran. “Kenapa kau sekarang seperti orang tuaku. Memaksaku untuk segera menikah,” protes Alex. “Aku tidak memaksamu, aku hanya penasaran. Kau tampan, karirmu sukses, hidupmu sempurna. Apalagi yang kau cari? Dan, hidup sendirian itu sangat sepi. Jangan sampai kau hidup sendirian.” Ucapan Ana membuat Alex memandanginya begitu lama. Ana yang menyadarinya hanya tersenyum. Tak terasa mereka sudah tiba di gerbang kantor, Ana membelokkan mobilnya dengan lihai dan memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu lobi supaya Alex bisa segera turun dan kembali ke ruangannya. “Sudah sampai, Pak,” ucap Ana. “Ya.” Alex kemudian turun, sedangkan Ana kembali melajukan mobilnya untuk memarkirkannya di basement. *** Sesampainya di basement, Ana bertemu dengan Antoni yang baru selesai memarkirkan mobilnya. Sepertinya Antoni juga baru selesai makan siang di luar. “Hai, Ana,” sapa Antoni “Siang, Pak. Bapak habis makan siang?” tanya Ana basa-basi. “Iya, aku bosan dengan makanan kantin, jadi aku cari di luar. Kamu darimana? “Saya habis menemani pak Alex makan siang, em.. dengan klien.” “Oo.. Oke.. Oke..”. Mereka kemudian menuju lift yang membawa mereka ke lantai 28 tempat kantor mereka berada. Saat tiba di lantai 28 dan pintu lift terbuka, Ana dan Antoni berpapasan dengan Margaret dan Alex yang akan memasuki lift. “Pak Alex mau kemana?” tanya Ana. “Apa dia harus selalu laporan padamu, Ana?” sahut Margaret. Ana hanya melirik Margaret sekilas tanpa merespon pertanyaan Margaret. “Bapak mau kemana?!” tanya Ana kembali sambil sedikit menekankan nada bicaranya. “Aku mau ke ruangan Margaret sebentar,” jawab Alex “Untuk apa? Sebentar lagi ada meeting,” ucap Ana mengingatkan. “Iya aku tau,” balas Alex. “Biar saya yang menggantikan Bapak ke ruangan Bu Margaret.” “Kenapa kamu selalu ikut campur, Ana?” tanya Margaret dengan wajah kesal. “Aku cuma sebentar, kau tak perlu khawatir,” ucap Alex pada Ana. “Saya tunggu di ruang meeting 15 menit lagi, Pak,” ucap Ana. “Iya,” ucap Alex. Alex dan Margaret pun menuju lift. Ya, memang kantor bagian keuangan ada di lantai 27, tidak jadi satu dengan kantor Direktur, wakil Direktur, Sekretaris dan Bagian HRD yang letaknya ada di lantai 28. Sedangkan ruangan Robert sebagai komisaris ada di lantai paling atas yaitu di lantai 29. Saat mereka jalan menuju lift, Margaret menggandeng lengan Alex. Pemandangan yang membuat Ana terkejut, apakah mereka sedekat itu. Apa jangan-jangan orang yang dicintai Alex dan calon istri pilihan yang dimaksud Alex adalah Margaret? “Pak, apa mereka sedekat itu?” “Entahlah.” “Maksud saya, apa Pak Alex dan Bu Margaret punya hubungan spesial?” “Hm. Aku rasa Margaret bukan selera Pak Alex..” Ana hanya melamun mendengar pernyataan Antoni. “Apa kau cemburu?” sontak Ana kaget mendengar pertanyaan Antoni. “Kenapa saya harus cemburu? Mari kita siapkan rapatnya, Pak,” ucap Ana pada Antoni. Mereka pun berjalan beriringan menuju ruangan. Saat menuju lorong kantornya, Handphone Ana berdering. “Halo, Iya Pak?” “Halo, Ana.. kamu dimana?” “Ini saya sedang menuju ruangan, tadi menemani Pak Alex makan siang.” “Oke, berkasnya saya tunggu ya.” “Siap, Pak. Setelah ini saya menuju ruangan Bapak,” tutup Ana. “Pak Marcel?” Antoni yang sedang disamping Ana pun menebak siapa yang telepon barusan. “Iya,” jawab Ana. Rapat berjalan seperti biasa dan selesai tepat pukul 5 sore, Ana langsung mengemasi barang-barangnya karena ingin segera pulang. Marcel yang melewati meja Ana menyempatkan sedikit ngobrol padanya. “Mau pulang?” tanya Marcel. “Iya, Pak,” jawab Ana sambil tersenyum pada Marcel. “Alex mana? Kau tidak pulang dengan Alex?” “Saya pulang sendiri, Pak. Sepetinya Pak Alex sudah pulang duluan tadi.” “Hm, Oke. Kalau begitu Ini barang Alex ketinggalan, aku bisa minta tolong kau antarkan ini ke rumahnya?” “Baik, Pak. Akan saya antarkan setelah ini.” “Terima kasih, Ana.” “Oiya, Pak. Besok ulang tahun istri Bapak, apa perlu saya pesankan bunga atau sesuatu yang lain, mungkin?” tanya Ana yang sekaligus mengingatkan Marcel. “Oo, iya. Aku sampai lupa. Terima kasih sudah mengingatkan, Ana. Hm. Aku belum menyiapkan apa-apa. Apa kau punya ide?” tanya Marcel kembali pada Ana. “Bagaimana kalau candylight dinner? Makan malam romantis di restoran yang biasanya bapak dan istri kunjungi.” Ana memberikan idenya. “Hm… bagus juga idemu. Kau tau sekali kalau aku pria yang romantis,” ucap Marcel sambil tersenyum membanggakan diri. “Baik, akan saya pesankan restorannya dan buket bunga mawar, bagaimana?” “Good idea. Kamu memang selalu melakukan yang terbaik,” ucap Marcel sambil mengacungkan dua jempol pada Ana. “Kalau begitu, mari kita pulang, Pak,“ ajak Ana. “Oke. Silahkan jalan duluan.” Mereka berdua pun jalan beriringan menuju lift. Sesampainya di basement, Ana berpamitan pada Marcel untuk menuju mobilnya. Dan melajukan mobilnya menuju ke rumah Alex sebelum menuju pulang ke rumahnya. *** 15 menit dia melajukan mobilnya menuju rumah Alex yang berada di komplek perumahan elit tidak jauh dari gedung tempat perusahaannya berdiri. Ya, sudah 2 tahun Alex memilih untuk tinggal di rumah yang dibelinya hasil dari kerja kerasnya itu. Rumah yang begitu mewah untuk seorang calon CEO perusahaan. Rumah dengan desain modern dan terlihat maskulin seperti menggambarkan sang pemilik rumah. Ana memang baru pertama kali datang ke rumah Alex, tapi sesuai dengan bayangannya. Selera Alex selalu tentang maskulinitas, mulai dari barang – barang yang melekat ditubuhnya hingga desain rumah yang ditinggalinya. Ana turun dari mobilnya dan memencet bel rumah tersebut, tapi setelah beberapa lama tidak ada respon dari dalam rumah. Sehingga dia berinisiatif untuk membuka pintu rumah tersebut. Benar saja, pintunya tidak terkunci. Bagaimana bisa rumah sebesar ini tidak terkuci dari luar, batin Ana. Tanpa berpikir panjang, dia langsung masuk ke dalam rumah tersebut. “Pak Alex?” Ana memanggil yang punya rumah. “Pak?” Ana berkali-kali memanggil Alex, tetap saja tidak ada jawaban. Dia kemudian berjalan masuk ke ruang tengah yang ada beberapa pintu, ruang santai keluarga dan terlihat diujung terletak dapur dengan minibar yang bisa terakses dari ruang tengah. “Pak Alex?!” Ana kembali memanggil nama Alex sambil berjalan dengan mengendap-endap. Belum juga ada respon. “Pak Alex??!” Ana mengencangkan suaranya. “Iya! Siapa sih teriak-teriak ??!” Terdengar suara yang menyahut dari balik pintu di salah satu kamar tersebut. Ana menghampiri pintu yang terdengar sumber suara tersebut. Dia berniat untuk mengetuk pintunya. Saat tangannya menggenggam untuk mengetuk pintu, ternyata pintu sudah dibuka dari dalam. “Siapa?!” “Saya— Aaa..” Mereka saling terkejut karena melihat dan menyadari pemandangan yang tak terduga. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN