Pertemuan
Anastashia Keihl berjalan sempoyongan menelusuri lorong klub malam. Dia tidak pernah semabuk itu. Bahkan dia jarang sekali mengunjungi klub malam. Tapi banyak hal yang membuatnya pusing hingga dia memutuskan untuk mengalihkan pikirannya dengan datang ke klub.
“Hei, gadis cantik. Apa kau sendirian?” sapa seorang pria asing yang bersimpangan dengannya di lorong.
Ana menatap pria itu dengan mata berlinang, dia kemudian memperjelas pandangannya. Lalu dia tersenyum meringis pada pria itu, kemudian mendekatinya.
“Apa kau mau bermain denganku?” ucap Ana menggoda.
“Aku Marcel, kalau kau?” Pria itu memperkenalkan diri.
“Anastashia,” jawab Ana singkat. Ana kemudian merangkulkan kedua tangannya ke leher pria itu, sedangkan pria itu menyambutnya dengan merangkulkan tangannya ke pinggang Ana. Mereka berdua sudah siap untuk berciuman. Tapi ada hal yang membuat mereka menghentikan kegiatannya. Seorang pria berteriak dan membuat keributan di ballroom klub.
“Alex?” ucap pria yang sedang berpelukan dengan Ana. Pria itu kemudian berlari ke sumber teriakan diikuti juga dengan Ana.
“Brengs*k! Semuanya tidak berguna!” Alex memecahkan botol Whiskey kosong yang ada di depannya. Dia kemudian mengambil pecahan botol kaca itu dan bersiap untuk menyayat tangannya. Marcel langsung sigap menghentikan Alex yang sedang melakukan aksi percobaan bunuh diri. Marcel susah payah bergulat dengan Alex untuk meraih pecahan botol yang ada ditangan Alex. Sedangkan Ana masih mencerna apa yang sedang terjadi di depannya.
“Kau sudah gila?! Serahkan padaku sekarang!” Marcel berteriak pada Alex agar dia sadar.
“Pria itu sudah membuat ibuku mati! Mereka semua menyembunyikannya padaku, Cel. Dia ayah yang tak berguna!” ucap Alex berteriak sambil berlinang air mata. Keluhan Alex membuat Ana ter-trigger dengan masalah yang dialaminya. Ya, mereka punya permasalahan yang sama. Mereka sedang sama-sama hancur karena permasalahan orang tua.
Ana lalu mendekati Alex yang sedikit meneteskan air mata. Ana menatap mata Alex dan mengusap air matanya. Hal itu membuat Alex terenyuh dan tertegun dengan kecantikan wajah Ana yang samar-samar kurang jelas dibalik gemerlapnya lampu sorot klub. Tangan Ana berhenti di pipi Alex.
Bunyi suara telapak tangan yang mendarat pada pipi Alex terdengar keras. Ana menampar pipi Alex hingga terukir warna merah bekas tangan Ana di pipi Alex. Tentu saja Alex terkejut dengan sikap Ana yang tiba-tiba. Marcel juga tidak kalah kagetnya dengan perlakuan Ana.
“Hei. Beraninya kau menamparku?!” ucap Alex tak terima dengan perlakuan wanita yang tak dikenalnya.
“Sadarlah! Kenapa kau begitu lemah?! Hanya karena hal itu, kau ingin mengakhiri hidupmu?!” ucap Ana agak berteriak pada Alex.
“Kau siapa?! Aku tidak mengenalmu. Jangan ikut campur urusanku!” ucap Alex yang juga berteriak pada Ana.
“Banyak hal indah yang masih bisa kau nikmati, Tuan,” ucap Ana yang tersenyum meringis dan kedua telapak tangannya masih memegang wajah Alex.
“Show me what you say!” ucap Alex.
Tanpa aba-aba, Ana duduk dipangkuan Alex, merangkulnya kemudian mengecup bibir Alex dan memperdalam ciumannya. Mata Alex terbelalak saat Ana melakukan hal itu. Ana yang sadar bahwa Alex tidak membalas ciumannya semakin memperdalam ciumannya dan semakin melekatkan bibirnya pada bibir Alex hingga dia ikut memejamkan mata karena kehangatan dan kenyamanan yang diberikan Ana. Setelah mereka sama-sama puas, Ana kemudian melepaskan ciumannya.
“Kau terlalu tampan dan terlalu berharga untuk melakukan hal konyol itu, Tuan,” ucap Ana. Dia kemudian bangkit dan beranjak pergi meninggalkan Alex yang masih duduk terpanah karena ciuman yang diberikan Ana. Sedangkan Marcel masih berdiri mematung karena melihat pemandangan menakjubkan antara sahabatnya dengan gadis cantik yang baru dikenalnya beberapa menit yang lalu.
“Siapa dia? Sorot matanya membuatku terenyuh. Aku yakin, suatu saat kita akan bertemu lagi,” batin Alex sambil memegangi bibirnya yang masih terasa bekas ciuman Ana.
***
Sinar matahari pagi masuk pada sela-sela jendela kamar Ana yang membuatnya terpaksa membuka matanya. Kepalanya masih terasa pusing karena terlalu banyak minum alkohol tadi malam.
“Ch. Bahkan meminum banyak alkohol tidak membuatku lupa dengan pria brengs*k yang sudah membuat ibuku meninggal. Huh,” ucap Ana sambil memegangi kepalanya yang pusing.
Ana beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi. Dia melihat dirinya sendiri yang acak-acakan di kaca wastafelnya.
“Lihat diriku, Bu. Bagaimana aku bisa bertahan tanpamu? Tapi bagaimanapun, kau tidak menginginkanku seperti ini, kan? Kau ingin aku bangkit, kan?” ucap Ana sambil meneteskan air mata.
“Bahkan pria setampan dia bisa menjadi pecundang saat mengalami hal yang sama sepertiku,” ucap Ana kembali ketika bayangan wajah Alex hadir samar-samar dalam cermin kacanya. Seketika dia memegang bibirnya karena teringat rasa ciuman mereka.
Beberapa bulan belakangan banyak hal yang menyakiti hati Ana dan merasa hidupnya telah hancur. Dia baru saja kehilangan ibu yang sangat dicintainya dan juga kehilangan pekerjaannya. Ibunya adalah belahan jiwanya, dia satu-satunya orang di dunia ini yang bisa mengerti dirinya dan selalu ada untuknya. Tapi, Tuhan berkehendak lain. Tuhan memisahkan dirinya dengan malaikatnya untuk selamanya. Hatinya semakin hancur karena dia harus menerima kenyataan jika ayahnya lah penyebab kematian ibunya. Ayahnya selingkuh dan menikah lagi, hal itu yang membuat ibunya merasa tertekan hingga akhirnya jatuh sakit dan meninggal. Ana adalah anak tunggal. Setelah ibunya pergi, dia memilih untuk hidup seorang diri. Berbagai masalah pelik yang dihadapinya membentuk Ana menjadi pribadi tangguh, mandiri, keras kepala dan susah membuka hati untuk orang lain.
“Setidaknya aku sudah berusaha melamar di banyak perusahaan. Ya, walaupun sampai sekarang belum ada hasilnya,” ucap Ana saat mengecek semua e-mail yang telah dikirimnya sambil menikmati kopi buatannya.
***
Alexander Danzoz adalah pria tampan yang punya jabatan penting di perusahaan milik papanya. Tapi, hubungannya dengan papanya tidak begitu baik semenjak dia menganggap bahwa papanya selama ini menelantarkan ibu kandungnya dan membiarkannya berjuang sendirian menghadapi penyakit kanker yang diderita hingga ibunya menyerah dan meninggal dunia. Hal itu membuat dia frustasi berhari-hari. Marcel, sahabatnya, prihatin dengan kondisi Alex yang semakin hari semakin buruk. Dia kemudian berinisiatif mengajak Alex untuk ke klub malam agar pikiran Alex bisa sedikit teralihkan.
Setelah beberapa jam menghabiskan waktu di klub, Alex belum bisa mengatasi depresinya hingga dia membuat kegaduhan di klub dengan melakukan aksi percobaan bunuh diri. Sampai akhirnya datanglah seorang wanita yang penuh dengan keberanian menghentikan aksi Alex tersebut.
“Siapa wanita itu? Sentuhan dan tatapan matanya membuatku penasaran padanya. Sayang aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas karena kemarin begitu gelap,” ucap Alex ketika dia bercermin sehabis membersihkan seluruh tubuhnya.
“Kenapa kau lemah sekali?!”
“Kau terlalu tampan dan terlalu berharga untuk melakukan hal konyol itu!”
Alex tergiang-ngiang dengan perkataan Ana. Dia terkesan karena Ana berhasil membangkitkan gairah hidupnya kembali. Alex berharap suatu saat dia bisa bertemu dengan Ana lagi.
“Aku tidak pernah melihat wanita itu di klub sebelumnya.” Alex masih penasaran dengan wanita yang telah berhasil membangkitkan gairah hidupnya itu.