Serangan Fajar

1462 Kata
Hari senin telah tiba, waktunya untuk beraktivitas kembali. Anastashia sudah di kantor sejak pukul enam pagi. Banyak yang harus dipersiapkannya karena kemarin malam Antoni mengabarinya bahwa Pak Robert meminta Alex dan Marcel untuk rapat dengannya dan Ana harus menyiapkan materi untuk rapat mereka. “Kau sudah di sini?” tanya Marcel yang saat itu baru saja tiba di kantor. “Pagi, Pak. Bapak mau kopi?” “Iya, Ana. Tolong antar ke ruangan saya. Alex sudah datang?” “Belum, Pak. Saya sudah menghubungi dari tadi tapi belum ada jawaban.” “Oke. Kamu hubungi terus sampai bisa.” “Siap, Pak.” Marcel menuju ruangannya dan Ana ke pantry membuatkan kopi untuk Marcel. Hari ini cukup tegang dari hari-hari sebelumnya, karena pimpinan dan para pemegang saham ingin mengadakan rapat karena tim audit dari pusat akan mengadakan kunjungan mendadak. “Silahkan kopinya, Pak.” “Baik, terimakasih. Bagaimana materinya? laporan sudah siap semua? Alex sudah bisa dihubungi?” “Laporan sudah siap Pak, tapi ada beberapa yang saya janggal dengan laporannya, karena data pengeluaran dan fisiknya tidak sesuai. Saya mencoba menghubungi bagian keuangan dan masih mereka kroscek datanya.” “Oke.” “Pak Alex sudah saya kirim pesan, tapi belum ada respon. Saya telepon juga tidak ada respon.” “Hm… Itu mereka sudah datang.” Ana menoleh ke arah pintu, sekat ruangan Marcel yang terbuat dari kaca bening membuat siapa saja yang melewati ruangannya terlihat dari dalam. Tampak Alex dan papanya dengan wajah sama-sama dingin dan tegang berjalan beriringan menuju ruangan papanya. “Kamu sudah siap? Bawa materi dan dokumennya, lalu kita ke ruangan pak Robert.” “Siap, Pak.” Setelah Ana membawa dokumennya, kemudian Marcel dan Ana berjalan beriringan menuju ruangan Robert. “Selamat pagi, Pak.” “Pagi Ana, Pagi Marcel. Silahkan duduk.” Robert mempersilahkan mereka berdua duduk, di sebelahnya sudah ada Alex disana. “Mana berkasnya?” tanya Alex pada Ana. “Ini, Pak.” “laporan pengeluaran dan laporan keuangannya?” “Ini, Pak.” Ana menunjukkan berkas yang lainnya. “Sudah kamu kroscek?” “Ada beberapa yang tidak sinkron antara laporan pengeluarannya dengan fisiknya.” “Kenapa bisa begitu?” tanya Alex. Saat itu Ana hanya terdiam dan sedikit melirik Marcel. Sejujurnya saat itu Ana masih belum menemukan alasannya. “Kenapa kau diam? Apa kau tidak tahu alasannya?” tanya Alex dengan penuh penghakiman. Mental Ana memang benar-benar diuji. Karena dia berada di posisi diantara orang-orang penting dan lebih parahnya, dia belum menyiapkan mental sepenuhnya karena ada beberapa hal yang tidak sinkron dari laporannya. “Sedang dicek oleh bagian keuangan, Pak.” Ana menjawab seadanya. “Bagaimana bisa kau kemari dengan berkas yang belum siap?!” Alex sedikit meninggikan nada bicaranya. Ana yang mendengar itu tertunduk dan menegang, dia sedikit meremas jari-jarinya. Marcel mengamati Ana sedangkan Robert sibuk membaca dokumen-dokumen yang ada di depannya. Ana merasa bahwa saat itu dia seperti seorang rakyat Korea Selatan yang berada diantara tentara Korea Utara. “Sudahlah, Lex. Jangan dilampiaskan semuanya pada Ana. Dia baru beberapa hari menggantikan Tania.” Marcel yang melihat Ana sudah pasrah, kemudian menenangkan Alex yang semakin meninggikan nada bicaranya. “Saya minta maaf, Pak.” Celetuk Ana memberanikan diri. “Tidak perlu minta maaf, Ana. Semua diluar kendali kita. Kita tunggu saja laporan dari bagian keuangan. Kamu pastikan jam sepuluh mereka sudah siap dengan laporannya ya, Ana.” Robert menetralkan suasana yang semakin tegang saat itu. “Kalau begitu kita bahas lainnya saja, dokumen-dokumen yang sudah disiapkan Ana. Alex, sedikit kendalikan emosimu. Jangan terfokus hanya pada kesalahan, masih banyak yang perlu dibahas.” Robert melanjutkan pembicarannya. Ketegangan Alex sudah mereda, dan Ana juga sudah lebih rilex. “Kapan tim audit datang kesini?” tanya Robert. “Mereka menjadwalkan hari Kamis pagi, Pak.” “Jam?” “Untuk Jamnya nanti mereka akan menghubungi lagi, saya pastikan nanti sore saya sudah mendapatkan informasi tentang jamnya.” “Oke kalau begitu. Ana, coba kamu telepon kepala keuangan untuk menghadap.” “Baik, Pak.” Sementara Ana menelepon bagian keuangan, Robert, Alex dan Marcel kembali berdiskusi. “Kenapa tim audit mendadak seperti ini, tidak biasanya mereka begitu?” gumam Marcel. “Dan yang aku tidak habis pikir, kenapa mereka mengaudit data dua tahun lalu? Padahal kita sudah setor secara rutin setahun sekali. Apa yang tidak kita ketahui dari mereka?” sahut Alex. “Hmm, brarti ada laporan yang mereka terima yang tidak riil. Hm.. apa kau sudah menghubungi sekretarismu yang sebelumnya?” tanya Robert pada Marcel dan Alex. Marcel dan Alex saling berpandangan mendengar pembicaraan Robert. Mereka seperti sedang menimbang-nimbang sesuatu. “Aku akan meminta Antoni menghubungi Tania,” ucap Alex. “Jangan dulu. Tania sudah bukan orang kita. Kita tanya pada Ana, apa Tania sudah mengoperkan semua pekerjaan padanya apa belum.” “Dari awal aku curiga dengannya,” ucap Alex. “Curiga kenapa?” tanya Marcel penasaran. “Entahlah.” Alex tidak membahasnya lagi. Karena memang selama ini Tania bekerja dengan kompeten. “Ini dokumen-dokumen yang Pak Alex perlukan, saya tadi mengeceknya sekilas. Data yang dialihkan bu Tania ke saya dengan dokumen ini memang kurang sinkron, Pak. Tapi maaf saya belum mengeceknya lebih mendalam,” jelas Ana. Ana sadar posisinya sekarang. Melihat Alex yang tadi begitu keras padanya, membuat dia semakin mengenali sifat Alex saat sedang bekerja. Ya, sifat yang perfeksionis, tidak boleh ada kesalahan, tepat, cepat dan agak temperamental jika semuanya tidak sesuai. Berbeda dengan Marcel yang lebih santai dan lebih dewasa menghadapi masalah. Mungkin itulah alasan papa Alex lebih memercayai Marcel yang lebih bisa mengendalikan emosi untuk menduduki jabatan direktur. Terdengar ketukan pintu dari luar. Margaret, Kepala Bagian Keuangan sudah tiba di depan ruangan Robert. Ana membukakan pintunya. “Selamat siang, Pak.” “Selamat siang, silahkan masuk,” ucap Robert. “Apa kau bisa menjelaskan tentang laporan pengeluaran dua tahun lalu? kenapa tim Audit ingin mengecek data-data dua tahun lalu, sedangkan dari laporan yang saya terima, kalian selalu tepat waktu melaporkan ke pusat setiap satu tahun sekali,” tanya Robert pada Margaret. Margaret sekilas melihat Alex, Marcel dan tatapannya berhenti di Anastashia sepersekian detik. Membuat Ana mengernyitkan dahi dan bertanya-tanya yang sebelumnya penasaran pada jawaban Margaret. “Kenapa Bu Margaret melihatku seperti itu?” batin Ana. “Laporannya sudah sesuai dan selalu kami laporkan tepat waktu, Pak,” jawab Margaret dengan tenang. “Lalu kenapa bisa ada yang tidak sinkron? Dan kenapa tim audit bersikeras meminta datanya?” tanya Alex. “Kami memberikan data yang riil, Pak,” jawab Margaret lagi. “Jelaskan,” sahut Marcel. Lalu Margaret menjelaskan dengan rinci semua hal yang dipertanyakan. Penjelasannya disimak oleh Robert, Alex, Marcel dan Juga Ana. “Oke, penjelasanmu bisa kami terima. Besok saat tim audit kemari, kau ikut mendampingi kami,” pinta Robert pada Margaret. “Siap, Pak. Kalau begitu, apakah ada yang perlu saya sampaikan lagi?” ucap Margaret. “Tidak, terima kasih. Kau boleh kembali ke ruanganmu,” jawab Robert. Margaret kemudian pamit keluar ruangan dan diantar oleh Ana. Sesampainya di depan pintu, Margaret mengucapkan salam pada Ana. “Selamat bekerja keras Ana,” ucap Margaret sambil tersenyum tipis. Ana yang mendengar itu, kembali mengernyitkan dahi. “Apa maksud dari ucapannya?” batin Ana. “Sudahlah, kita hadapi saja hari esok. Aku yakin semua akan baik-baik saja,” ucap Robert. “Tapi aku tidak ingin kita berbuat kesalahan dan mereka sadar pada akhirnya. Bagaimana dengan citra perusahaan yang selama ini mati-matian kita jaga?!” ucap Alex dengan nada tingginya. “Kau tidak perlu mengkhawatirkan yang belum terjadi, Lex. Semuanya sudah siap dan rapi. Hanya bagian ini saja yang harus kita bereskan,” ucap Marcel untuk menenangkan Alex yang masih tersulut emosi. “Kau benar, Marcel. Hm, sepertinya sudah cukup hari ini. Kita lanjutkan besok lagi. Kalian boleh kembali ke ruangan masing-masing,” ucap Robert. “Baik, Pak,” sahut Ana. Ana membereskan dokumen-dokumennya, sedangkan Marcel dan Alex masih duduk dikursinya dengan raut wajah yang banyak pikiran. Lima menit kemudian, mereka bertiga pamit untuk kembali ke ruangan. “Ana, tunggu sebentar. Kamu tetap disini. Ada hal yang perlu saya bicarakan.” Robert tiba-tiba menghentikan langkah Ana. Alex yang mendengar itu, turut menghentikan langkahnya. “Baik, Pak.” “Ada periu apa sama Ana? Berbicara padaku saja,” kata Alex pada papanya. “Bukan urusanmu, Lex. Kembalilah. Aku ingin berbicara padanya,” jawab Robert. “Tapi dia sekretarisku. Kau tidak berhak—“ Alex belum sempat melanjutkan bicaranya. “Apa aku tidak berhak dengan sekretarismu?” sahut Robert. Alex hanya memandang Ana yang bingung dengan tatapan tajam. Hari ini benar-benar hari yang menegangkan bagi Ana karena seharian menghadapi mereka bertiga. “Sudahlah Lex. Memangnya apa yang akan papamu lakukan pada Ana. Sudahlah. Mari kita kembali. pikiranmu sudah panas. Ayo kembali.” Marcel menarik tangan Alex yang saat itu masih menegang. Kemudian mereka berdua meninggalkan ruangan dan hanya Ana yang tertinggal.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN