BAB 1 : HANCURNYA KELUARGA MARVEEN
Keringat dingin tak henti – hentinya mengucur deras di pelipis Taka. Speedometer mobil sport yang dikendarainya hampir menyentuh angka 120 km/jam. Nafasnya masih memburu di tengah gelapnya malam yang kelabu. Sesekali mata nanarnya melirik spion tengah. Memastikan bahwa mobil hitam itu kehilangan jejaknya. Diliriknya Caleb yang duduk di kursi samping. Putra kecilnya yang masih berumur tujuh tahun itu tak henti – hentinya menutup wajah dengan tangan mungilnya. Bukan karena kecepatan mobil yang dikendarai ayahnya terlalu kencang. Tapi karena mobil hitam yang sengaja diceritakan ayahnya seperti hantu di film – film horor telah meneror pikiran polosnya.
“Ayah.. mobil itu tidak mengikuti kita, kan?” suara lirih Caleb yang menyayat hati mampu mencundangi jiwa seorang ayah yang sedang putus asa.
“Enggak, Nak. Kita hampir sampai rumah.” balas Taka berbohong. Nyatanya tujuan yang dilaluinya malah semakin jauh dari kediaman mewahnya.
“Aku ingin ketemu ibu..” pinta Caleb mengiba. Taka mencengkeram kemudi mobil erat – erat, berharap telinganya tidak sempat mendengar kalimat pilu itu.
Ditatapnya lagi Caleb kecil yang menegang. Lalu tiba – tiba sinar lampu mobil dari arah belakang membuyarkan rencananya untuk menenangkan si kecil. Sinar itu perlahan mendekat dan membesar, seiring dengan suara mesin mobil yang menderu. Jantung Taka berdebar sangat kencang. Sudut matanya sedikit meirik spion tengah.
Deg!
Jantungnya berdesir hebat melihat mobil yang dikira sudah kehilangan jejaknya ternyata ada di belakangnya. Dengan wajah pucat pasi dan nafas yang semakin tersengal, ia memutuskan untuk menginjak gas lebih dalam.
Namun, apa yang dilakukannya terbaca oleh mobil hitam itu. Dengan kecepatan berkali – kali lipat, mobil itu menyalip mobil Taka, lalu spontan berbalik arah yang menimbulkan suara desingan rem yang menyayat hati. Sedetik kemudian, mobil itu mengerem mendadak di tengah jembatan Sungai Putih, tepat 300 meter dari jarak Taka. Dengan kewarasan yang tersisa, kaki Taka menginjak rem sangat dalam, menghindari mobil yang menghadangnya layaknya siap beradu banteng.
“Siapa itu ayah?!” Caleb berteriak ketakutan.
“Bu- bukan siapa – siapa, nak. Pejamkan matamu sampai ayah menyuruhmu membukanya!” suara Taka bergetar hebat. Tatapannya tak berkilah pada mobil hitam yang beberapa hari lalu intens mengikutinya. Dilihatnya penuh tanda tanya, siapa pengendara dibalik mobil itu. `Belum juga sempat menemukan jawaban, sosok di balik mobil itu menyalakan mesin mobilnya kembali. Membuat sinar lampu mobil menyilaukan matanya. Hal yang tak ia sangka adalah, mobil itu langsung tancap gas, dan dengan suara yang beringas berjalan maju ke arah Taka. Taka yang terlambat menyadarinya langsung terbelalak tak percaya saat mobil hitam itu tau – tau sudah di depan matanya, dan membentur keras badan mobilnya. Membuat Caleb memekik ketakutan. Tidak cukup sampai di situ saja. Dengan nafsu yang memburu, mobil hitam itu mendorong mobil Taka ke pinggir jembatan Sungai Putih. Membuat Taka akhirnya menyerah dengan keadaan. Karena malaikat maut pun telah menyapanya. Tidak mungkin lagi menyelamatkan diri, karena mobil hitam itu semakin beringas mendorong mobilnya. Sekian detik kemudian, mobil Taka melayang jatuh ke sungai. Debur suara air memecah kesunyian malam saat mobil merah itu tenggelam jatuh ke dasar sungai. Malam itu menjadi akhir hidup seorang Taka Lesmana bersama putra kecilnya.
***
Seorang wanita berumur 40-an yang mengenakan blazer warna hitam berjalan mondar – mandir di di ruang tengah sebuah rumah mewah bergaya klasik. Atap rumah yang membumbung tinggi dan tangga keemasan yang meliuk sangat elegan memberikan kesan angkuh pada sang pemiliknya. Namun bukan wanita itu pemiliknya. Dia adalah Marsya, sekretaris pribadi ayah Rania Marveen yang sudah bekerja dengan keluarga terpandang itu selama 12 tahun. Wanita itu tampak cemas menunggu seseorang. Dilihatnya lagi jam tangan mewah yang melingkar di tangannya,
“Sial! Kenapa dia belum datang?”, serunya lirih. Tak sabar menunggu lima menit yang terasa lima jam, ia memutuskan menyalakan televisi dan merebahkan diri sejenak di sofa putih gading produksi luar negeri.
“Klik”, ditekannya remot televisi secara asal. Berita yang sedang viral berdesakan di seluruh stasiun televisi,
Sudah satu minggu berlalu, namun kematian Taka Lesmana dan putranya masih menjadi misteri. Adanya temuan pada kerusakan badan mobil yang dikendarai Taka belum mendapatkan titik terang yang berarti. Oleh karena itu, pihak polisi masih mendalami kasus ini lebih lanjut. Kematian Taka Lesmana, CEO PT DJAYA LESMANA, sekaligus menantu Roy Marveen yang sebulan lalu didakwa atas dugaan korupsi dana bansos, mengejutkan banyak pihak. Salah satu pengamat dari Universitas Indonesia, mengatakan bahwa ini bukan kecelakaan biasa, tapi ada dugaan pembunuhan di dalamnya. Benar kah-
“Klik”, ditekannya lagi dengan asal. Bahkan berita gosip selebriti pun dijejali berita tentang kematian Taka Lesmana.
Kabar mengejutkan datang lagi dari keluarga Marveen. Rania Marveen, istri Taka Lesmana yang tewas mengenaskan seminggu yang lalu, dan juga anak bungsu Roy Marveen, mengundurkan diri dari posisi produser serial tv “Kenangan Aruna”. Apakah kemunduran Rania berkaitan dengan perusahaan suaminya yang bangkrut? Atau karena tidak tahan menanggung malu karena reputasi keluarganya hancur?
“Klik” layar televisi kembali menghitam. Marsya menghelas nafas dalam –dalam. Kali ini bukan karena niat menunggunya yang mulai surut, tapi karena berita yang ngawur di televisi membuat dadanya semakin sesak. Meskipun dia jarang bertemu dengan Taka, tapi ia tahu seperti apa sosok menantu Roy Marveen itu. Sosok ramah yang disukai banyak karyawannya itu tewas dengan cara sangat brutal. Sangat tidak adil menurutnya.
“Mbak Marsya, Pak Ramli sudah datang,” Bik Nah, wanita paruh baya yang puluhan tahun menjadi asisten rumah tangga keluarga Marveen, mengagetkan lamunannya.
“Makasih ya, Bik” seru Marsya sembari mengangkat tubuhnya yang ramping dari sofa. Suara heels Marsya yang beradu dengan lantai marmer memecah kesunyian ruangan yang lengang. Buru – buru ia menuju pintu utama untuk segera menyambut Pak Ramli, pengacara Taka Lesmana yang akan segera membacakan surat wasiat untuk Rania.
“Sore, Pak Ramli.. Silahkan masuk,” seru Marsya setelah membuka pintu rumah yang menjulang tinggi. Wajahnya berseri – seri saat telapak tangannya disambut hangat oleh pria paruh baya itu dan juga asistennya.
“Mbak, apa nggak terburu – buru kalo saya membacakan surat wasiat sekarang?” tanya Pak Ramli. Wajahnya yang bersahaja menunjukkan rasa kecemasan dan ketidakenakan.
Marsya menghela nafas sebelum menjawab,
“Saya rasa Bu Rania akan mengerti, Pak.” jawabnya singkat. Wanita itu pun sebenarnya juga tidak yakin dengan jawabannya sendiri.
“Saya panggil Bu Rania dulu, ya..” Marsya mempersilahkan Pak Ramli dan asistennya untuk duduk di ruang tengah. Sekian detik kemudian ia menyuruh Bik Nah yang bersiaga di sudut ruang tengah untuk mengambil minuman. Bergegas mereka berjalan dengan perannya masing – masing. Suara heels Marsya semakin terdengar keras di sepanjang lorong menuju kamar Rania. Suara itu lenyap begitu saja di depan pintu kamar dengan ukiran khas eropa. Dibukanya pintu berwarna putih gading itu perlahan. Terlihat Rania yang masih mengenakan dress kemarin sore duduk di kursi sembari memeluk kedua kakinya yang terangkat.
“Ran.. Pak Ramli sudah datang..” ujar Marsya pelan.
Rania menoleh ke arah Marsya. Wajah cantiknya begitu tenggelam oleh kesedihan yang mendalam. Hidungnya yang memerah tidak bisa menyembunyikan fakta bahwa dia baru saja menangis.
“Kuburan suami dan anakku belum kering, kenapa malah membahas surat wasiat suamiku?” tanya Rania, suaranya terdengar begitu pilu.
“Bapak yang memintanya, Ran, supaya kamu segera tahu apa isi surat wasiat Mas Taka. Bapak masih berharap Taka punya uang simpanan yang tidak kita ketahui, untuk membungkam mulut sipir – sipir penjara itu. Apa kamu tega lihat bapak kamu lama di jeruji besi?” jelas Marsya. Wajahnya mengiba melihat Rania yang begitu berantakan. Sementara Rania hanya tersenyum sinis mendengarnya.
“Bagaimana aku tidak tega? Dia sudah melanggar prinsipnya untuk tidak mengambil uang rakyat!” suara Rania meninggi. Membuat Marsya menundukkan kepala. Mereka saling berdiam.
“Ayahmu dijebak.”
“Dijebak siapa? Dijebak oleh hawa nafsunya?” suara Rania mulai terisak. Tidak sanggup mengingat bahwa ayahnya yang idealis telah berubah semenjak menjadi anggota legislatif daerah.
“Setidaknya kamu temui Pak Ramli, dia udah jauh – jauh datang dari Makassar untuk menemuimu, Ran.” pinta Marsya mengiba. Sejenak kemudian mereka berdiam. Lama Rania merenungkan sesuatu. Rasa kehilangan, kebencian dan putus asa jadi satu. Dua bulan lalu, kehidupannya begitu sempurna - menjadi istri pengusaha sukses, punya anak yang lucu, jabatan ayah yang mentereng, dan pekerjaannya sebagai produser film yang menuai kesuksesan. Semuanya hilang dalam sekejap. Yang tersisa hanya darah Marveen yang masih mengalir di tubuhnya. Tapi percuma saja, semua orang tidak peduli dia keturunan Djaya Marveen, seorang pahlawan nasional. Yang mereka pedulikan hanyalah kekayaan keluarga yang pernah ia miliki. Rania menghela nafas dalam – dalam, berharap benang kusut di pikirannya tak lagi membuatnya kalut.
“Aku tahu seperti apa Taka, dia tidak pernah merahasiakan sesuatu padaku, termasuk harta yang dimilikinya!” seru Rania sengau. Diturunkan kedua kakinya dari kursi lalu mulai beranjak dari kursi. Bergegas ia keluar kamar dan menemui Pak Ramli, untuk membuktikan bahwa apa yang dikatakannya benar adanya.